
keesokan harinya dika terbangun dari tidurnya karena merasakan ada seseorang yang sedang mengusap lembut bagian rambutnya.
"sayang kamu udah bangun?"
dika mengangkat kepalanya. ia menatap istrinya dengan masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
vani menanggapinya dengan tersenyum menganggukkan kepalanya.
"sebentar ya sayang, aku mau ke kamar mandi dulu"
dika beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju kamar mandi.
vani beralih menatap kedua pria yang sangat dikenalinya sedang terlelap di atas sofa.
vani pun tersenyum menatap langit langit di dalam ruangannya.
mengingat rangga dan ranty yang selalu menjaganya dan memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya.
rangga dan ray juga selalu menghiburnya dan sabar dengan sikap ke kanak kanakan vani selama ini.
vani sangat bersyukur mendapatkan begitu banyak kasih sayang dari keluarga barunya.
dika keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang lebih segar membuatnya kembali tampan maksimal.
vani selalu terpesona melihat wajah tampan suaminya itu meskipun setiap hari ia sudah melihatnya.
dika berjalan mendekat kearah vani dengan senyuman manisnya membuat vani merasa gemas.
"suami aku udah mandi ya, ganteng banget sih. sini cium dong"
vani dengan manja mengulurkan kedua tangannya ingin memeluk dika.
"enggak ah, kamu kan belum mandi sayang masih bau"
dika pun tersenyum jahil menggoda istrinya.
"ih, sayang papa kamu tega banget sih sama mama" vani sedih sambil memeluk perutnya.
entah kenapa saat ini hatinya sedang sangat sensitive padahal ia tau jika suaminya hanya bercanda namun vani tetap merasa sedih.
"eh, jangan sedih gitu dong sayang. aku kan cuma bercanda. sini cium"
dika memeluk lalu mengecup kening istrinya itu berkali kali karena merasa bersalah sudah membuat vani bersedih.
dika sangat mengerti jiak mood istrinya itu memang selalu berubah ubah semenjak kehamilannya.
vani belakangan ini semakin cengeng dan sering marah marah tidak jelas. padahal dulu vani sangatlah sabar dan mandiri. sekarang ia sangat bertingkah manja kepada suaminya.
"ehem, liat tuh adek gue dunia serasa milik berdua yang lain cuma ngontrak"
rangga terbangun karena mendengar drama antara sepasang suami istri itu.
"hem, syirik aja lo berdua"
dika menatap singkat pada keduanya lalu ia memegang kedua sisi wajah istrinya.
cup!
"maafin aku ya sayang"
dika mengecup singkat bibir istrinya yang membuat vani membelalakkan matanya kaget sekaligus merasa sangat malu. ia pun langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena dika melakukan itu di hadapan rangga dan ray disana.
padahal sebenarnya dika memang sengaja melakukannya agar rangga dan ray merasa kesal dengan ulahnya itu.
"mas, ih aku malu" vani menunduk
"ya ampun bos. pagi pagi gini gue udah liat pemandangan yang terlalu manis. takut diabetes gue"
ray langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu keluar.
"hem, bener bener ya lo dik. gue sih enggak masalah kasian nih ray yang jomblo sampe frustasi ngeliat loh ciuman. ppffttt,,," rangga menahan tawanya.
"biarin aja bang, biar dia cepat nyari cewek terus nikah biar enggak jomblo terus"
dika menoleh kebelakang melirik dan menyindir ray.
"makanya bos rangga. lo cepetan dong cari asisten baru biar gue enggak terlalu sibuk lagi sama semua kerjaan kalian berdua" ray menyindir balik.
"lah, kenapa jadi gue??" tanya rangga bingung.
"iya bener dong, gue kan asisten sekaligus sekretarisnya bos dika" ray menjawab.
"em ray, emang lo enggak mau berubah pikiran terus milih gue jadi bos tetap lo gitu?" tanya rangga menawarkan.
"em, enggak deh bos makasih gue enggak mau di tugasin pergi pulang london tiap bulan kalo jadi asisten lo. secara lo kan udah milih buat menetap di sini" ray menolak beserta alasannya.
"sebenarnya, gue emang mau nugasin lo sih buat ngurus perusahaan di london. kan lo juga adek gue jadi lo juga berhak buat megang salah satu dari perusahaan wijaya"
__ADS_1
jawaban rangga yang sudah bisa ditebak oleh ray.
"iya tapi kenapa lo enggak nyari sekretaris baru aja sih bos kan tugas kita jadi lebih ringan"
ray kembali bernegosiasi menawarkan kepada rangga.
"sebenarnya gue pengen sih nyari sekretaris baru lagi tapi,,"
"tapi apa bos?" tanya ray penasaran.
"gue takut..."
"takut apa sih bos?" tanya ray semakin bingung.
"gue takut aja entar kalo sampe dika jatuh cinta lagi sama sekretaris baru gue. sama kaya yang dulu dulu, lo ingatkan pertama sama karin terus sama vani dan nanti..."
rangga sengaja melirik adiknya sambil tersenyum jahil.
"heh, jangan fitnah ya lo bang. gue enggak pernah tuh jatuh cinta sama karin terus gue juga cuma cintanya sama vani doang titik"
dika merasa kesal dengan rangga yang menuduhnya jatuh cinta kepada semua sekretaris abangnya itu.
"hhh!! ya ampun dik, baper banget sih hidup lo gue kan cuma bercanda" rangga pun tertawa kecil.
"haha. kalo gitu buat jaga jaga gimana kalo lo cari sekretaris yang cowok aja lah bos. biar bos dika enggak melirik yang baru lagi"
ray pun sengaja ingin menggoda sahabatnya itu dengan tersenyum jahil.
"gue masih normal ya" dika semakin kesal.
"haha. bener juga sih tapi lo taukan ray nyari yang kaya lo itu susah banget malah enggak akan pernah ada"
"em, gimana kalo aku aja yang jadi sekretaris mas rangga ?"
permintaan vani membuat dika membelalakkan matanya.
"sayang,,,," tatap dika malas.
"aku kangen banget kerja deh mas. boleh ya"
vani memelas sedih dengan mata penuh harap karena ia sangat rindu bekerja lagi.
dika hanya terdiam tidak mau merespon permintaan dari istrinya itu.
"em, vani kayanya lebih baik kalo kamu mau kerja lagi nanti aja ya kalau baby kalian udah lahir"
"hem"
vani hanya terdiam mendengarkan ucapan rangga sambil menunduk sedih.
dika yang melihat vani bersedih itu pun tidak tega namun ia juga tidak bisa membiarkan vani untuk kembali bekerja karena khawatir dengan kandungan istrinya yang lemah.
setelah perbincangan itu berakhir terlihat mama ratih dan ranty kembali datang ke rumah sakit untuk melihat vani.
tidak ketinggalan yuli dan hana juga datang karena mereka merasa sangat khawatir dengan kondisi kakaknya itu.
ceklek!
mama ratih berjalan mendekati bankar vani.
"sayang, gimana keadaan kamu?"
"Alhamdullilah udah baik ma"
vani membalas pelukan dari mama mertuanya begitu juga ranty yang bergantian memeluk vani.
"kamu udah baikan kak" tanya yuli menyapa.
"iya udah yul. oh ya kak aida sama yang lain udah pada pulang ya?" tanya vani kepada adiknya.
"iya udah kak pagi banget tadi soalnya abang ipar harus kerja" jawab yuli.
"em, ya udah deh."
"kamu udah sarapan belum?" tanya yuli dan hana.
"belum" jawab vani
"loh kok belum sih?" tanya mereka bingung.
"em" vani hanya menunduk.
"kalian bertiga ini cowok, badan gede gede tapi jaga satu cewek aja enggak bisa!!"
mama ratih melotot memarahi ketiga pria di dalam ruangan itu yang merupakan putranya.
"iya kan kita udah jagain ma. liat vani enggak berkurang sedikit pun kan" rangga langsung membela diri.
__ADS_1
"kalau di jagain itu ya harus di kasih makan juga dong!!"
mama ratih menggelengkan kepalanya lalu membuka rantang yang sudah ranty siapkan untuk adik iparnya berisi bubur dan lauknya agar vani bisa segera makan.
"dika, kalian juga pasti belum sarapan kan. ini makanan buat kalian bertiga"
ranty menyerahkan makanan untuk suaminya dan adik iparnya juga.
"makasih ya mbak" dika menerima rantang makanan.
"iya" ranty mengangguk sambil tersenyum.
"ayo kamu makan dulu ya sayang"
mama ratih hendak menyuapi vani memakan bubur buatan kakak iparnya itu.
"makasih ya ma mbak"
vani menatap ranty lalu menerima suapan dari mama mertuanya itu.
vani memakan bubur dengan lahap hingga makanannya habis begitu juga dika dan rangga makan bersama ray di meja dalam ruangan itu.
menjelang sore hari vani merengek minta pulang kepada suaminya karena ia sudah merasa sangat bosan berada di rumah sakit.
"mas kita pulang sekarang ya"
vani memeluk lengan suaminya sambil merengek.
"iya iya sayang kita Izin dokter dulu ya"
dika pun menenangkan vani.
"ya udah. izin sekarang ya mas"
"iya sayang tapi kamu yakin kan udah enggak sakit lagi perutnya?"
"iya udah enggak sakit kok"
setelah mendapat persetujuan dari dokter mereka pun memutuskan untuk segera kembali pulang.
sesampainya di rumah utama ray dan rangga langsung masuk ke dalam ruangan cctv disana.
dika pun menyusul setelah memastikan vani beristirahat di dalam kamarnya.
ray bertugas mengecek semua cctv terutama rekaman kemarin. rangga dan dika pun mengamati di sampingnya.
"setelah saya mengecek seluruh cctv di setiap sudut ruangan menurut saya tidak ada satu pun yang terlihat janggal bos"
ray menatap satu persatu layar monitor di hadapannya dengan lebih teliti yang juga disaksikan oleh rangga dan dika secara langsung.
"benar, tidak ada yang terlihat mencurigakan"
rangga memperhatikan dengan teliti.
"mungkin emang makanannya enggak cocok ditubuh vani" ray menganalisa.
"bener, kalo gitu kita lupain aja masalah ini yang penting sekarang vani udah baik baik aja"
dika menatap rangga lalu ia melangkah keluar dari dalam ruangan khusus cctv itu.
setelah dika keluar dari dalam ruangan itu tiba tiba saja ray menghentikan langkah rangga yang juga hendak keluar dari dalam ruangan.
"tunggu!"
ray serius menatap salah satu layar serta memperlambat rekamannya.
"ada apa ray?" rangga kembali mendekat.
"liat bos ini bukannya gadis itu?" ray menunjuk monitor.
"hem, iya lo bener ini arin" rangga pun meyakini.
"apa mungkin...."
ray menatap rangga yang sedang menatapnya.
"awasi dia ray pastikan tidak ada sesuatu yang akan menyakiti vani lagi"
rangga pun melangkah keluar dari dalam ruangan itu
"baik pak" ray masih terus berpikir.
setelah beberapa hari berlalu kini rangga dan dika sudah kembali bekerja seperti biasanya di kantor.
keduanya kembali di sibukkan dengan pekerjaan masing masing.
kandungan vani kini sudah mendekati usia enam bulan ia juga sudah mulai mengikuti perkembangan butiknya.
__ADS_1
kini jumlah karyawannya semakin bertambah ramai pula para pengunjung di butik barunya itu.