
awalnya rangga dan ranty memang sengaja menunda kehadiran anak kedua karena mereka tidak ingin jika rara akan merasa kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya apalagi saat itu rara masih kecil.
hingga akhirnya dua tahun terakhir mereka memutuskan untuk kembali memiliki keturunan karena rara yang selalu menginginkan seorang adik untuk menemaninya bermain.
namun rangga dan ranty tidak menyangka saat mengikuti program hamil mereka justru di kejutkan dengan adanya kista yang tumbuh di rahim ranty hingga membuat mereka harus mengikuti serangkaian pengobatan secara medis.
keduanya juga tidak pernah menceritakan hal itu kepada orang tua mereka atau pun keluarga yang lain termasuk adiknya karena tidak ingin melihat keluarga khawatir terutama kedua orang tua mereka.
rangga dan ranty pun menjalani pengobatan dengan baik tanpa sepengetahuan keluarga lainnya karena dokter bisa menjamin jika ranty pasti akan sembuh dan bisa kembali hamil setelah sembuh.
pengobatan itu tidak berjalan dengan cukup lancar karena dokter mengatakan jika ranty harus segera melakukan operasi untuk mengangkat kista di dalam rahimnya.
hingga akhirnya semua keluarga tetap harus mengetahui tentang keadaan ranty yang sebenarnya.
kurang lebih setahun yang lalu ranty sudah melakukan operasi pengangkatan kista di dalam rahimnya.
beberapa bulan terakhir dokter memang menyatakan bahwa ranty sudah sembuh dari penyakitnya hanya saja belum mengizinkan untuk segera hamil kembali karena bekas operasi sebelumnya masih membutuhkan waktu jika ranty ingin hamil kembali.
saat mengetahui jika dirinya sedang sakit ranty merasa sangat terpuruk pada saat itu. ia sempat berpikir untuk pergi dari hidup rangga karena merasa dirinya bukanlah seorang istri yang terbaik untuk suaminya itu.
namun rangga meyakinkan ranty untuk tetap berada di sampingnya. saling melengkapi hingga hari tua mereka nanti. rangga sangat mencintai istrinya itu sejak saat pertama mereka bertemu.
hanya ranty yang mampu membuat rangga jatuh hati kepadanya padahal dulu banyak sekali wanita cantik yang dekat dengannya namun ranty selain cantik juga seorang wanita yang mandiri dan memiliki sifat dewasa keibuan.
sejak masih menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih hanya ranty satu satunya wanita yang mengerti dengan segala kesibukan rangga. ranty tetap menemani rangga dalam keadaan apapun. meskipun rangga yang cerewet itu sering marah marah tidak jelas di hadapannya ketika ia sedang memiliki banyak pekerjaan namun ranty tetap sabar.
ranty selalu mengerti keadaan kekasihnya itu meskipun sering kali rangga melupakan janjinya untuk mengajak ranty makan atau sekedar menikmati waktu luang berdua.
jika libur bekerja ranty tidak akan meminta rangga untuk mengajaknya jalan jalan melainkan dirinya akan meminta rangga untuk beristirahat saja karena ia tau rangga pasti sangat lelah.
mereka selalu berusaha untuk mengerti satu sama lain termasuk rangga yang juga selalu menyayangi istrinya.
setelah pagi yang indah itu berakhir vani dan dika pun harus kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
saat ini keduanya sudah selesai mengganti pakaian mereka. dika pun duduk di atas sofa sambil memegangi perutnya yang sudah benar benar keroncongan.
"hhh, beneran lapar lagi" gumam dika sambil melirik istrinya yang sedang berjalan mendekatinya.
"kamu lagi ngapain mas?"
vani pun duduk di samping suaminya itu.
"lagi pesen makanan sayang aku laper banget nih" dika fokus menatap ponselnya.
"oh jadi kamu enggak kenyang habis makan aku mas"
vani pun santai menyalakan televisi di hadapan mereka.
"iya beda dong sayang"
dika masih fokus memilih menu yang ingin di pesannya.
"masa sih, tadi aku mau buatin sarapan buat kamu tapi kamunya enggak mau. kamu bilang enggak perlu sayang aku maunya makan kamu aja" ejek vani pada suaminya.
"iya itukan tadi sayang sekarang aku berubah pikiran"
dika merasa sedikit kesal karena vani terus menggodanya.
"ppffttt! iya deh"
"emangnya kamu enggak laper sayang?"
dika melihat vani yang terlihat santai.
"em,, aku pengen spaghetti buatan kamu kaya kemarin mas" vani tersenyum menatap dika.
"nih, aku udah pesenin buat kamu karena sekarang aku lagi mager banget sayang"
dika menunjukkan layar ponselnya yang sudah memesan makanan untuk mereka.
"tapi itu kan bukan buatan kamu mas ya beda dong"
vani memanyunkan bibirnya.
"iya iya kapan kapan aku masakin lagi buat kamu tapi enggak sekarang ya"
dika pun tersenyum membujuk istrinya.
"ih, kamu enggak sayang lagi ya sama aku masa enggak mau buatin permintaan istrinya sih" vani cemberut.
"ya terserah deh yang penting sekarang kamu udah punya aku jadi kamu enggak bakal bisa pergi lagi dari hidupku"
dika tersenyum licik penuh kemenangan.
__ADS_1
"ish! dasar semua cowok sama aja"
vani menyandarkan tubuhnya sambil menonton tv.
"hehe, aku lagi mager nih sayang nanti aja ya kalo aku lagi rajin baru deh aku masakin buat kamu lagi oke" bujuk dika.
"tau ah aku ngambek"
"iya enggak papa sih kalau kamu mau ngambek berarti entar malam kita enggak jadi deh perginya"
dika mengancam istrinya secara halus tersenyum semirk
"ih mas dika jangan di batalin dong iya deh aku enggak ngambek lagi nih"
vani pun memeluk lengan suaminya agar dika tidak membatalkan acara jalan jalannya malam ini
"nah, gitu dong ini baru istriku yang cantik"
dika memeluk istrinya.
"dasar curang" vani masih kesal.
"itu namanya cerdas sayang"
"hem"
"kamu cantik banget sih kalo lagi ngambek kaya gini, yuk ah satu ronde lagi sayang"
dika memainkan alis untuk menggoda istrinya.
"males aku masih capek, masa mau mandi tiga kali sih pagi ini" kesal vani atas permintaan suaminya itu.
"enggak boleh nolak suami sayang" bisik dika di dekat telinga vani sambil mengecupinya membuat vani bergidik.
ting!!
tidak lama makanan yang mereka pesan sebelumnya pun datang membuat dika harus menghentikan aksinya.
"ck! siapa sih ganggu aja deh"
"sana ambilin dong mas, aku udah laper banget nih"
vani pun langsung mendorong tubuh suaminya menjauh agar dika segera pergi mengambil makanan yang datang.
"em, iya iya cepetan mas" vani terpaksa setuju agar dika segera pergi mengambil makanannya.
"nah gitu dong"
dika pun berjalan mengambil pesanannya lalu mereka memakan makanannya dengan lahap karena keduanya sudah merasa kelaparan sejak tadi.
sepertinya pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu itu membutuhkan banyak energi ekstra sejak mereka pergi berlibur di tempat romantis itu.
malam harinya vani dan dika sedang menikmati makan malam di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari apartemen mereka sambil memandang menara eiffel yang terlihat sangat indah dengan hiasan lampu lampunya dari kejauhan.
"mas indah banget ya"
vani dengan mata yang tidak berkedip memandang ke arah luar dari dinding kaca restoran itu.
"iya sayang indah banget"
dika pun tersenyum memandang ke arah wajah istrinya yang tepat berada di hadapannya itu.
"kamu kok malah liatin aku sih mas, yang indah itu kan menara eiffel yang ada disana"
vani menunjuk ke arah luar dengan suara pelan.
"em oh ya? tapi kamu keliatan lebih indah di mataku sayang"
dika menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya dengan lembut.
vani tersenyum malu dengan pujian dan sikap lembut suaminya yang sangat romantis baginya itu hingga wajahnya memerah menahannya.
"kamu bisa aja deh gombal"
"beneran sayang kamu lebih indah dari pada menara itu"
"hem makasih suamiku"
"sama sama istriku"
"kok kita jadi lebay gini sih mas" haha
"enggak papa dong emang siapa yang ngelarang"
__ADS_1
"em enggak ada sih"
vani tetap tersenyum malu sedangkan dika terus menatap istrinya sambil menggenggam tanganya.
di tempat berbeda yuli pulang dengan langkah kaki cepat masuk ke dalam rumah sambil menahan isak tangisnya.
"hana?"
yuli dengan setengah berlari masuk memeluk adiknya itu.
"hiks! hiks! hiks!" yuli menangis dalam pelukan hana.
"kak yuli kakak kenapa kok nangis?"
"gue kesel!"
yuli melepaskan pelukan dari hana lalu pergi masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan keras.
brakkk!
"lah kenapa sih? pulang pulang malah nangis"
hana semakin bingung ia pun ikut masuk kedalam kamar untuk memastikan keadaan kakaknya itu.
hana masuk ke dalam kamar dan melihat yuli sedang berbaring di atas ranjang sambil menangis.
"kakak kenapa?"
hana mendekati sisi ranjang namun yuli terus saja menangis dan menutup wajahnya dengan bantal.
"kapan kapan aku ceritainbsekarang tinggalin aku sendiri dulu ya" yuli tidak ingin di ganggu.
"em iya udah kalo kakak belum mau cerita" hana mengerti.
hana berjalan keluar dari dalam kamar sesuai permintaan kakaknya. ia membiarkan yuli untuk sendiri terlebih dahulu agar kakaknya itu dapat menenangkan diri.
setelah hana keluar yuli mengambil ponselnya ingin menelpon vani dan menceritakan semua kesedihannya.
karena saat ini rasanya yuli sangat ingin memeluk kakak yang selalu mengerti dirinya itu namun ia mengurungkan niatnya karena takut akan mengganggu vani dan dika mengingat saat ini di sana pasti sudah larut malam.
di kediaman mewah keluarga wijaya ranty dan rangga hendak tidur dan mereka sudah berada di atas ranjang sambil bersandar.
"mas" panggil ranty kepada suaminya.
"hem" sahut rangga yang masih fokus pada laptopnya sambil duduk bersandar di tempat tidur.
"besok kita ke dokter lagi?"
"buat apa sayang?"
"ikutan program hamil dong mas"
"belum waktunya sayang"
rangga sambil mengecek email masuk di laptopnya tanpa menoleh kepada ranty.
"apa salahnya ditanya lagi mas, kemarin itu dokter bilang cuma beberapa bulan kita harus nunda kan?"
"iya oke tapi enggak bisa besok aku lagi sibuk, atau kamu pergi sendirian aja ya"
"ih! enggak mau deh masa mau promil sendirian sih" ranty merebahkan tubuhnya lalu tidur.
"ya udah nanti mas atur waktu lagi ya sayang"
rangga menoleh namun ternyata sudah di tinggal tidur oleh istrinya.
"ck! hem masa gitu aja ngambek sih" gumam rangga yang masih di dengar oleh ranty.
"kamu tuh emang enggak peduli banget ya mas. kamu enggak ngerasain apa yang aku rasain ini ya. kenapa kamu cuek banget padahal aku lagi bahas soal anak" hiks!
ranty menangis di balik selimutnya.
"sayang aku bukan enggak peduli aku dengerin kok kamu lagi ngomong apa tapi kan aku lagi sibuk biasanya juga kamu ngerti" rangga akhirnya menoleh.
ranty hanya diam sambil terisak di dalam selimutnya, rangga pun menarik selimut itu dan langsung memeluk istrinya.
"maafin aku ya sayang aku salah karena terlalu sibuk sama kerjaan" rangga memeluk istrinya.
rangga memeluk istrinya itu hingga tangis ranty mereda.ia hanya diam sambil memeluk istrinya agar ranty merasa lebih tenang.
"hem, aku mau tidur" terdengar suara ranty yang sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"mau aku tidurin enggak?"
__ADS_1
rangga tersenyum kembali menggoda istrinya padahal ranty masih baru saja kesal kepadanya.