Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 87


__ADS_3

di dalam lift vani meringis karena dika menggenggam tangannya terlalu kuat.


"iya mas, pelan pelan dong tangan aku sakit nih"


"kamu ngapain sih deket deket sama jay"


dika kesal sambil melepaskan genggaman tangannya.


"siapa yang deket deket sih mas. aku tuh enggak sengaja ketemu sama mas jay di dekat taman tadi"


"enggak usah cari alasan sayang kamu mau aku hukum" dika menatap istrinya.


"kamu tuh kenapa sih mas, kenapa aku enggak boleh ngobrol sama temen aku sedangkan kamu boleh ngobrol sama banyak teman wanita kamu itu" vani kesal.


"aku enggak punya tuh teman wanita kamu jangan nuduh aku ya sayang" mereka terus berdebat.


"oh ya, terus aku percaya gitu"


"jadi kamu enggak percaya sama aku?"


"kamu juga enggak percaya sama aku. buktinya kamu nuduh aku deket deket sama cowok lain kamu pikir aku cewek apaan"


"tapi kamu itu istri aku.


"iya kamu juga suami aku. aku udah punya segalanya sama kamu buat apa aku cari yang lain apalagi sama cowok bawahan kamu sendiri. itu enggak mungkin mas"


"iya aku juga gitu, aku udah punya kamu jadi aku enggak butuh cewek lain.


"iya mungkin aja"


"sayang cukup!"


mereka terus berdebat hingga vani merasa lelah dan keram di perutnya.


"sshh!! aw!" ringis vani memegangi perutnya


"sayang kamu enggak papa?" dika merasa khawatir.


"lepasin mas ini semua karena kamu, perut aku jadi sakit"


vani menolak untuk di sentuh oleh suaminya.


"maaf sayang kita ke rumah sakit ya"


"enggak, aku baik baik aja. kamu tuh yang perlu ke rumah sakit mas periksa pikiran kamu yang aneh itu"


setelah mereka kembali masuk ke dalam ruangan dika vani perlahan duduk di sofa dan mengambil tasnya.


"sayang,,,"


"cukup mas. aku tau kamu sayang sama aku tapi aku enggak suka kamu over kaya gini. apalagi sampe batasin semua kehidupan aku. aku juga punya temen mas"


vani kesal lalu beranjak dan berjalan keluar dari dalam ruangan suaminya untuk kembali pulang.


"sayang, maafin aku sayang"


dika menyesal namun tidak di hiraukan oleh vani lagi ia pergi dengan rasa marahnya.


"ck! arrghh!"


dika memijat pelipisnya lalu duduk bersandar di atas sofa.


malam harinya dika pulang dengan wajah yang sangat lelah. perdebatannya dengan vani siang tadi membuat pekerjaannya terasa semakin melelahkan hari ini.


sesampainya di rumah dika melangkah dengan gontai menuju kamar lalu masuk ke dalam kamar mandi.


setelah selesai mengganti pakaiannya dika pun berjalan mendekati sisi ranjang dan menatap punggung istrinya yang sudah tidur membelakangi dirinya karena saat ini vani masih kesal kepadanya.


dika yang merasa lelah pun akhirnya langsung tertidur di samping istrinya tanpa menggangu tidur vani yang sudah nyenyak itu.


"maafin aku ya sayang" bisik dika mengecup pipi vani sebelum akhirnya ia tertidur pulas.


keesokan harinya setelah dika berangkat ke kantor vani pun bergegas pergi ke butik lalu mengajak kedua adiknya untuk pergi shoping seperti yang dikatakannya kemarin.


karena vani dan kedua adiknya akan pergi maka ia pun mengajak arin untuk ikut shoping bersama sedangkan butik ditutup karena hari ini waktunya untuk bersenang senang menghabiskan uang suaminya begitu pikirnya.


pertengkaran yang terjadi kemarin benar benar membuat pikiran vani kacau hingga ia berpikir untuk bersenang senang saja hari ini agar pikirannya kembali tenang.


di dalam perjalanan menuju mall hana dan yuli merasa ada yang aneh. tidak biasanya vani terlihat murung.


"kak vani, kakak beneran mau ngajak kita ngemall hari ini?"


"iya bener dong, kamu seneng enggak?"

__ADS_1


"seneng pake banget kak" jawab hana kegirangan.


"iya, apalagi kalo di traktir sepuasnya sama owner"


yuli melirik vani sambil tersenyum senang.


"tenang aja hari ini aku bakal traktir kalian sampe puas pake ini kartu ini"


vani menunjukkan sebuah kartu kredit di tangannya.


"wah!! apa itu kak?"


"ini kartu unlimited, kita bisa belanja sepuasnya beli apapun yang kita mau pake ini kartu ini"


"oh gitu siapa yang ngasih kak?"


"ini mas dika yang ngasih waktu awal nikah waktu itu tapi jarang banget aku pake soalnya aku jarang shoping"


"huh kalo aku yang di kasih pasti tiap hari bakal pergi shoping sepuasnya. iya kan han" yuli tersenyum.


"iya sih mas dika juga sering marah enggak jelas karena enggak ada tagihan yang masuk dari kartu ini"


"nah makanya kak kamu harus sering bayarin kita belanja pake kartu ini ya kak?" bujuk rayu yuli menggoda vani.


"iya, boleh sih soalnya dia ngomel ngomel gitu kalo aku berhemat pangkal kaya. gimana sih dia malah pengen istrinya boros aneh kan?" vani tak habis pikir.


"iya itu karena bang dika udah kaya kak jadi kamu enggak perlu berhemat lagi. kan bang dika itu udah kebanyakan duit makanya dia pengen kamu buat habisin duitnya" hehe


"em kamu tau dari mana?"


sisi positifnya kini vani sudah tidak terlalu murung lagi karena terus bercerita bersama adiknya itu.


"yee, kan kamu sendiri yang cerita waktu itu kalo bang dika juga punya perusahaan besar di london"


"iya sih, aku juga enggak tau seberapa kaya dia"


vani mengusap lembut perut buncitnya ia tidak ingin terlalu tahu hal lain dari harta suaminya.


sebenarnya vani tidak begitu ingin tau banyak tentang identitas seorang radika wijaya yang kini sudah menjadi suaminya itu namun yang vani tau suaminya adalah dika seorang pria lembut dan baik yang sangat ia cintai dan juga ayah dari calon bayinya.


sesampainya di mall mereka masuk dan memutuskan untuk berkeliling sejenak sambil berjalan jalan di dalam mall. mereka keluar masuk dari satu toko ke toko yang lainnya.


setelah beberapa jam berkeliling di dalam mall itu terlihat yuli dan hana sudah membawa beberapa buah paper bag di sisi kedua tangan mereka. yang berarti mereka sudah membeli cukup banyak barang sedangkan vani masih saja tidak menemukan sesuatu yang ingin di belinya.


"kak vani kamu beli apa sih itu?"


yuli heran melihat apa yang sedang vani pilih di tangannya.


"gelang ini lucu deh buat couple kalo aktif lampunya bisa hidup pas lagi deketan dalam jarak tertentu"


matanya sangat berbinar menatap gelang yang unik menurutnya itu.


"oh gitu jadi kamu mau bang dika juga make gelang itu?"


yuli merasa tak yakin.


"iya dong pasti dia seneng" vani tersenyum.


"hh! ya kali bang dika mau pake gelang se uwu itu?"


yuli bergumam pelan yang tidak di dengar lagi oleh vani.


"eh kalian udah selesai belanjanya?"


vani menatap kedua adiknya termasuk arin yang juga terlihat sudah membawa banyak paper bag di tangan mereka masing masing.


"udah nih kak"


hana tersenyum senang sambil mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan belanjaan itu.


"aku capek nih" yuli mengeluh lelah.


"ya udah, kalo gitu kita makan dulu ya"


vani mengajak setelah selesai membayar seluruh belanjaan ketiganya.


"ayo lets go!!!" yuli dan hana bersemangat.


dika melihat notifikasi di ponselnya karena ada tagihan yang masuk.


ternyata istrinya benar benar sedang shoping bersama dengan adik adiknya itu.


'hem jadi mereka beneran pergi shoping, bagus semoga aja istri ku seneng hari ini terus enggak marah lagi deh' batin dika tersenyum melihat notifikasi di ponselnya itu.

__ADS_1


dika pun berniat untuk mengirim pesan kepada istrinya.


di dalam mall keempat wanita itu berjalan memasuki salah satu resto lalu duduk setelah sampai di dalamnya.


mereka akan mengisi perut dan menyegarkan tenggorokan sebelum kembali melanjutkan shoping.


"kalian mau pesan apa aja?"


vani bertanya pada kedua adiknya sambil melihat lihat daftar menu di sana.


"apa aja deh kak yang penting kenyang"


yuli dan hana melihat nama makanan yang asing.


"kalo mbak?" vani juga menatap arin.


"em, terserah kamu aja deh vani aku pasti suka kalo kamu yang milihin buat aku"


arin menatap menu yang ada di sana.


sebenarnya arin bahkan tidak tau jenis makanan apa yang sedang di lihatnya. ia tidak tau apakah makanan itu akan enak menurutnya atau tidak.


"em, oke mbak. aku pesan beberapa jenis makanan yang beda aja ya buat kita biar kalian bisa milih mana yang enak atau enggak"vani tersenyum.


"oke" mereka mengangguk senang.


akhirnya mereka memesan makanan kesukaan masing masing kecuali arin. setelah makanan datang mereka pun langsung makan dengan lahap hingga menghabiskan semua makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.


"Alhamdulilah, semuanya enak banget"


yuli dan hana merasa senang setelah selesai makan.


"iya enggak ada yang mengecewakan"


"bagus deh makanannya enggak aneh aneh kaya waktu itu" gumam yuli memalingkan wajahnya mengingat makanan yang pernah ia makan bersama vani dulu.


"hhh! kamu masih ingat aja yul"


vani menggelengkan kepalanya.


"ya iya lah"


setelah selesai makan mereka masih setia duduk dan mengobrol santai sambil kembali memesan ice cream dan menikmatinya bersama.


vani mengecek ponselnya yang ternyata ada pesan masuk dari suaminya sedang menanyakan keadaannya.


Suamiku 💜


"sayang, kamu lagi ngapain? jangan sampe kecapekan ya kasian baby kita"


dalam pesannya dika tetap perhatian meskipun tau vani masih sedikit kesal kepadanya.


Istriku 💜


"iya mas ini lagi duduk sambil makan ice cream bareng yang lain aku enggak capek kok" balas vani apa adanya.


Suamiku 💜


udah makan?


Istriku 💜


udah mas, kamu juga jangan sampe telat makan ya sayang.


Suamiku 💜


oke sayang, kalau gitu have fun ya baby i love you..😘


Istriku 💜


iya sayang, love you too... 😘


setelah membalas pesan dari suaminya vani pun mengambil foto selfi dirinya di dalam ponsel lalu mengirimkannya pada dika.


cekrek!!!


send!


di dalam ruang kerja dika tersenyum menatap ponsel di tangannya karena melihat foto selfi istrinya yang baru saja vani kirim kepadanya dengan gaya berfoto dua jari senyum manis menghiasi bibir mungilnya itu.


"kamu gemesin banget sih sayang"


dika tersenyum sambil mengusap usap layar ponselnya karena ada foto bidadari hatinya itu di dalamnya.

__ADS_1


dika merasa lebih baik sekarang karena kini istrinya sudah tidak marah lagi kepadanya.


__ADS_2