Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 135


__ADS_3

Saat semua orang masih larut menatap momen haru antara ibu dan anak itu, pak penghulu pun bertanya membuyarkan lamunan masing masing.


"maaf pak bagaimana dengan acara ijab kabulnya. apakah mau di tunda atau di lanjutkan ya? karena saya masih harus menikahkan pasangan lain juga sebentar lagi" tanya pak penghulu menatap papa hardi dan mama ratih disana.


mendengar pertanyaan dari pak penghulu semua orang yang berada disana pun langsung menatap ke arah vani secara bersamaan terutama dika. tatapan dika sangat berharap jika istrinya akan membatalkan pernikahan itu.


"kenapa kamu natap aku kaya gitu?" tanya vani yang melihat tatapan dari suaminya itu.


dika hanya bisa terdiam karena ia tidak berani meminta persetujuan secara langsung dari istrinya atau pun meminta vani untuk membatalkan pernikahannya.


"apa masih butuh izin dari ku?" tanya vani datar karena mengerti akan keadaan disana lalu ia menunduk menatap wajah bayinya.


"pasti dong sayang, kan kamu yang berhak menentukan keputusannya" jawab mama ratih karena dika hanya diam.


"terus kenapa kamu mau nikah di saat aku belum sadar mas bukannya itu artinya persetujuan dariku udah enggak penting lagi buat kamu ya?" vani menatap wajah suaminya dengan mata berkaca kaca.


air mata vani menetes begitu saja membasahi pipi karena melihat suaminya akan menikahi wanita lain. ia menangis sambil memeluk bayinya, tidak menyangka jika suami dan keluarganya tega melakukan ini kepada dirinya.


mama dan papa mertuanya ingin dika menikah lagi tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu membuat vani merasa kecewa pada keluarga yang disayanginya itu.


"sayang maafin aku" dika hendak memeluk istrinya.


"lepasin aku mas" vani mendorong tubuh suaminya.


"aku bisa jelasin semuanya sayang. aku mohon jangan tinggalin aku" dika memelas.


"aku enggak butuh penjelasan dari kamu mas"


"sayang pliss"


"aku cuma mau kamu batalin pernikahan ini sekarang!"


vani memberi keputusan yang membuat dika bingung namun ia senang saat mendengarnya karena apa yang dika harapkan sejak awal pun terwujud. istrinya benar benar membatalkan pernikahan itu sesuai keinginannya dan dengan senang hati dika langsung mengangguk setuju.


"iya sayang, aku batalin pernikahan ini sekarang juga" dika mengangguk menatap istrinya.


"enggak mas dika, kamu enggak boleh lakuin ini sama aku" arin tidak menerima keputusan dari dika ia pun menangis sambil memegang lengan dika.


"jangan sentuh suamiku!!" vani menepis tangan arin dari lengan suaminya.


"aw!" arin terjatuh dan meringis kesakitan. sepertinya arin hanya berusaha untuk mendapatkan simpati dika saja.


mama ratih membantu arin untuk kembali berdiri serta menanyakan keadaannya.


"kamu enggak papa?" tanya mama ratih, arin pun hanya menggelengkan kepalanya.


"kamu itu wanita yang licik arin!! aku tau kamu memang pernah nyelamatin nyawa suamiku dulu dan aku sangat bersyukur untuk itu. aku udah bagi semua yang aku punya sama kamu termasuk berbagi kasih sayang dan perhatian dari suami dan juga keluargaku sebagai bentuk terima kasih ku ke kamu tapi bukan berarti kamu juga bisa milikin suamiku sepenuhnya. aku enggak bakal pernah mau berbagi suami sama siapapun termasuk sama kamu arin" vani meluapkan isi hatinya hingga membuat kepalanya terasa pusing dan akhirnya kembali jatuh pingsan.


sepertinya kondisi vani kembali drop karena terlalu banyak bicara dan menangis membuat dirinya merasa tertekan. akhirnya vani kembali pingsan beruntung dengan sigap rangga langsung mengambil bayi sebelum terjatuh dari dalam pelukan ibunya yang kembali tidak sadarkan diri itu.

__ADS_1


"sayang bangun!" dika menopang tubuh istrinya yang kembali pingsan lalu membaringkan tubuh vani di atas bankar seperti sebelumnya.


ranty pun sudah memanggil dokter agar memeriksa keadaan vani.


"ya ampun kak vani" hana menatap sedih pada kakaknya yang kembali pingsan padahal baru saja ia melihat vani tersadar.


"ini semua gara gara lo ya arin, karena elo kakak gue yang baru sadar jadi pingsan lagi sekarang" yuli menunjuk wajah arin dengan kesal.


"kamu kenapa nyalahin aku sih. ini semua kan salah vani sendiri, dia yang teriak teriak sampe pingsan bukan salah aku" arin membela diri.


"heh! lo bener bener cari masalah ya sama gue" yuli mendekati arin hendak kembali bertengkar.


"apaan sih kamu, aku enggak takut ya sama kamu"


"nyebelin banget sih nih orang, sini lo"


"stop!!!" suara tegas rangga melerai perdebatan itu dengan segera sebelum mereka benar benar saling menyerang.


"apa apaan sih kalian! ini rumah sakit jadi tolong kalian jangan buat keributan di sini" rangga menatap yuli dan arin secara bergantian.


kedua gadis itu hanya terdiam dengan wajah yang masih kesal satu sama lain.


"ray, tolong kamu ajak yuli keluar dari dalam ruangan ini dulu biar pikiran mereka bisa lebih tenang" rangga menatap ray dan langsung diangguki setuju oleh ray.


"baik bos, yuli ayo ikut saya" ajak ray menarik tangan yuli berjalan keluar dari dalam ruangan vani.


"lepasin harusnya dia yang keluar" tolak yuli


saat hendak berjalan ray pun memberi isyarat tatapan kepada anak buahnya agar segera keluar dari dalam ruangan itu. para ajudan pun keluar mengikuti langkah kaki bosnya yang sedang menarik gadis pemarah itu.


setelah ray dan yuli keluar dari dalam ruangan vani, rangga kembali menatap arin yang hanya terdiam dengan sisa air mata di pipinya.


"arin kamu duduk disana dulu ya, tenangin pikiran kamu" rangga menunjuk sofa.


arin pun mengangguk dan menuruti ucapan rangga. ia berjalan lalu duduk di atas sofa yang berada di dalam ruangan itu.


"maaf pak penghulu sepertinya pernikahan ini akan di tunda dulu untuk sekarang" papa hardi menatap pak penghulu yang sejak tadi sudah melihat masalah yang terjadi di dalam keluarganya itu.


"baiklah pak hardi tidak apa. saya mengerti, kalau begitu saya permisi dulu" pak penghulu pamit hendak pergi.


"baik pak penghulu, terima kasih atas pengertiannya" pak hardi mengangguk.


pak penghulu melangkah keluar dari dalam ruangan itu dengan rangga yang ikut berjalan mengantarkan pak penghulu hingga keluar ruangan.


mama ratih mendekati bankar vani. ia menatap sedih menantu bungsunya yang baru saja sadar itu namun sekarang vani kembali pingsan karena merasa tertekan.


"vani maafin mama ya nak. ini semua salah mama yang udah maksain dika buat nikah sama arin mama nyesel sayang, maafin mama ya" mama ratih pun menangis karena merasa menyesal.


"udah ma, mama sabar ya" papa hardi mengusap pundak istrinya.

__ADS_1


sedangkan hana yang berada di sudut ruangan itu pun masih sibuk menggendong keponakannya.


hana berusaha untuk menenangkan bayi yang masih saja menangis karena merasa terkejut saat mendengar teriakan dan tangisan ibunya sebelum kembali tidak sadarkan diri.


"cup...cup...cup...! sayang jangan nangis ya, ini susunya. kamu haus kan?" hana menyodorkan botol susu namun bayi mungil itu menolak dan tidak mau berhenti menangis


tak lama dokter datang untuk memeriksa keadaan vani yang kembali drop itu.


saat dokter masih memeriksa keadaan istrinya dika pun beralih melihat bayinya yang masih terus saja menangis.


dika langsung membuka jas yang sedang ia pakai lalu menarik lengan bajunya hingga ke bagian siku dan mendekat kepada hana untuk menggendong bayinya.


"hana sini biar abang aja yang gendong ya" dika meminta bayinya dari dalam gendongan adik iparnya itu.


"eh, iya bang. ini baby enggak mau berhenti nangis aku juga bingung" hana menyerahkan bayi dalam pelukannya itu kepada papanya.


"sini di gendong papa aja ya nak, tadi kamu kaget ya hem? maaf ya sayang" cup, cup, cup


dika mengecup serta memeluk putranya dengan lembut dan penuh sayang agar bayinya kembali merasa tenang.


setelah selesai memeriksa keadaan vani, dokter pun mengatakan jika saat ini kondisinya kembali drop akibat terlalu merasa tertekan.


vani harus beristirahat agar keadaannya lekas membaik dan kembali sadar.


di dalam ruangan itu dengan sangat sabar dika terus menggendong putra kecilnya hingga kembali tertidur di dalam pelukannya.


setelah melihat bayinya tertidur pulas dika pun kembali meletakkan bayi mungil itu ke dalam box kemudian ia duduk di samping bankar vani hendak menemani istrinya.


di sebuah kursi taman rumah sakit itu ray dan yuli sedang duduk bersebelahan.


"kamu kenapa sih. jangan terlalu mudah terbawa emosi dan suasana hati yang tidak baik" ray menatap yuli yang berada di sampingnya.


"saya kesel banget sama arin dari kemarin pak ray" jawab yuli dengan masih bernada kesal.


"em, memangnya ada apa kemarin?"


"iya, masa kemarin arin fitnah kak vani sih pak. dia bilang kalo kak vani selingkuh dari bang dika dan bayi mereka itu bukan anaknya bang dika, kan buat kesel aja dengernya. padahal nyatanya mereka yang selingkuh dari kakak ku tapi kenapa malah nuduh kakak ku yang selingkuh" gerutu yuli membuat wajahnya terlihat lucu.


"kamu sabar ya. saya tau ini enggak mudah buat vani dan termasuk kamu juga sebagai keluarga terdekatnya" ujar ray menenangkan yuli.


"lucunya bapak tau enggak siapa cowok yang arin tuduh jadi selingkuhan kak vani?"


"em, enggak tau emangnya siapa?"


"pak rangga, arin bilang karena muka bayi kak vani itu mirip sama pak rangga. aneh banget deh enggak masuk akal kan dia nuduh kakak saya begitu pak. udah jelas kalo pak rangga itu pamannya si bayi jadi menurut saya wajar aja kalo sedikit mirip. haisshh dasar"


"haha. iya aneh banget tapi lucu juga sih dia sampe segitunya buat nuduh vani. mana mungkin bos dika bakal percaya dengan hal itu karena dia sangat memahami karakter abangnya sendiri"


"iya kalo bang dika sampe percaya sama hal itu berarti otaknya udah parah banget sih pak atau mungkin dia juga lupa kali ya kapan buat babynya"hehe nyengir yuli dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


"hhhh, iya kalo bos dika emang parah sih yul orangnya tapi kalo menyangkut tentang istrinya kayanya dia enggak mungkin lupa deh"


__ADS_2