
cukup lama vani menunggu jawaban telpon dari yuli hingga akhirnya tersambung.
"halo" terdengar suara yuli menjawab.
"halo yuli, kamu kemana aja sih di telpon dari tadi gada jawaban buat khawatir aja tau gak"
vani mengomel karena merasa khawatir.
"iya iya maaf kak, tadi aku tuh masih di jalan mau pulang jadi enggak kedengeran suara handphone. nih aku baru aja sampe di rumah" yuli memberi alasan.
"oh gitu"
"iya, emang ada apa kak? kok kamu belum pulang sih udah jam segini" yuli juga khawatir.
"em, sebenarnya aku mau ngabarin ke kamu kalo malam ini aku enggak bisa pulang jadi enggak usah di tungguin ya"
"loh kenapa kok enggak bisa pulang, emang kamu lagi dimana sekarang? bukannya tadi pagi kamu pergi bareng bos ganteng kamu ya. terus kalian juga cuma berdua, entar kalo dia macem macem sama kamu gimana atau kalian emang lagi berduaan ya hehe"
"ck! berduaan apa sih yul, orang ini aku lagi ada di rumah sak...." ucapan vani menggantung.
'em, kasi tau enggak ya? tapi nanti dia makin khawatir lagi kalo tau aku lagi ada di rumah sakit' batin vani
tidak berniat untuk memberi tahu kepada yuli tentang keadaan yang sebenarnya.
"lagi di rumah siapa kak?"
"em, lagi di rumah warga soalnya ada hujan badai disini yul jadi aku enggak bisa pulang deh" vani memberi alasan.
"hah! hujan badai? kamu ngaco ya, disini aja kekeringan dan enggak ada setetes air hujan pun yang turun. mana mungkin ada hujan badai disana kak ada ada aja deh! hayoo ngaku kamu lagi ada dimana sekarang?"
"ih, hujan lokal tau gak!!" vani malah kesal.
"masa sih" yuli masih tak percaya.
"ya udah terserah deh kalo kamu enggak percaya sama aku. terserah juga kamu mau mikirnya gimana, aku males banget debat sama kamu"
tut!! tut!!
vani langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak lalu ia menangis menutup wajah dengan kedua tangannya.
"hiks!!! hiks!! hiks!!!"
vani menunduk dengan wajah tertutup.
di rumah yuli pun merasa bingung dengan sikap kakaknya yang aneh itu karena vani terdengar kesal dan langsung mematikan telpon begitu saja padahal ia bermaksud hanya bercanda seperti biasanya.
"ck! kenapa sih kak vani malah marah marah, aneh banget deh kan biasanya juga kita sering bercandaan kaya gitu kehabisan obat tuh anak"
yuli kesal sendiri lalu melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan sembarang.
di rumah sakit dika yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan antara dua kakak beradik yang random itu pun di buat bingung karena vani tiba tiba saja menangis.
"kamu kenapa kok nangis. masih sakit lagi ya?"
dika merasa khawatir namun tidak ada jawaban apapun dari vani yang tetap menangis.
"dimana yang sakit, saya panggil dokter ya"
dika hendak pergi memanggil dokter namun tangannya langsung di tarik oleh vani.
"jangan pak, enggak perlu. saya enggak sakit kok" vani menghapus air matanya.
"terus kenapa kamu malah nangis?"
"saya enggak papa pak, saya cuma kesel sama diri saya sendiri" vani menunduk.
"kenapa kamu kesel sama diri kamu sendiri?" dika merasa bingung.
"karena saya bohong tapi yuli tau kalo saya lagi bohongin dia" vani manyun.
"ppffttt... haha. kamu lucu banget sih, itu namanya kamu enggak bisa bohong vani"
dika menertawai alasan kenapa vani menangis.
"ck! kenapa sih malah ketawa" decak vani.
"lagian kamu kenapa enggak jujur aja sih kalo kamu lagi ada di rumah sakit" dika memberi saran.
"saya enggak mau dia khawatir pak. apalagi ini sudah malam, saya enggak mau dia nekat nyusul saya kesini kalo tau saya lagi sakit"
"ya sudah, besok juga dia akan tau. lebih baik sekarang kamu istirahat ya biar besok kita bisa langsung pulang"
"em, iya pak"
vani mengangguk dan akhirnya tidur di atas bankar dengan dika yang tidur di atas kursi untuk menjaga vani.
keesokan harinya dika dan vani bersiap untuk pulang karena dokter sudah mengizinkannya.
__ADS_1
dika mendorong kursi roda vani lalu menggendongnya masuk ke dalam mobil.
"maaf ya pak saya ngerepotin bapak terus" vani merasa sungkan.
dika menatap wajah vani dari dekat karena ia sedang membantu gadis itu memakai seat belt di tubuhnya.
"kenapa kamu minta maaf, ini kan udah jadi tanggung jawab saya buat jagain kamu sampe kaki kamu sembuh"
dika tersenyum sambil menatap wajah vani.
"makasih pak"
vani menunduk karena merasa malu menatap wajah dika sedekat itu.
setelah keduanya duduk, dika pun melajukan mobilnya menuju pulang.
di dalam perjalanan hening tercipta karena vani merasa tubuhnya masih lemas.
"oh iya, bukannya adek kamu lagi kerja ya?" tanya dika memecah keheningan.
"iya pak" vani mengangguk.
"terus kalo sekarang kamu langsung pulang ke rumah otomatis enggak ada orang yang bakal jagain kamu kan?"
"iya sih pak tapi enggak papa saya bisa jaga diri sendiri kok"
"jangan dong, kalo nanti sampe terjadi sesuatu sama kamu di rumah gimana. pasti saya akan merasa lebih bersalah lagi ke kamu"
"terus gimana dong pak, saya enggak ada pilihan yang lain" vani menunduk.
"em, gimana kalo hari ini kamu pulang ke rumah saya aja dulu, disana akan ada yang jaga kamu. lagian kemaren mbak ranty sama rara juga pengen ketemu sama kamu katanya" dika tersenyum.
kebetulan dika ingin menepati janjinya kepada rara untuk mengajak vani main kerumahnya.
"mbak ranty?"
vani merasa bingung karena tidak mengenal sosok wanita yang dika sebutkan itu.
"iya mbak ranty, dia istrinya bang rangga dan rara itu putri mereka" dika menjelaskan.
"oh gitu. tapi saya makin ngerasa enggak enak pak kalo harus merepotkan bapak terus apalagi keluarga bapak juga" vani masih menolak.
"enggak merepotkan sama sekali vani, justru mama sama mbak ranty pasti senang kamu datang soalnya mereka pengen ketemu sama kamu katanya" bujuk dika.
"em, bapak serius?"
"iya serius"
vani akhirnya setuju karena merasa tidak enak jika terus menolaknya.
"nah, gitu dong"
dika tersenyum mendengar kata setuju vani. ia langsung melajukan mobilnya dengan penuh semangat menuju kediaman keluarga wijaya.
di dalam perjalanan vani hanya duduk diam bersandar sambil memejamkan mata karena masih merasakan denyut di kakinya setiap kali ia bergerak.
dika menatap ke arah samping dan melihat gadis itu tertidur pulas.
setelah menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di depan pintu gerbang rumah mewah milik keluarga wijaya.
vani di buat kagum dengan kemewahan dan kemegahan rumah itu yang bahkan sudah terlihat indah dari bagian luarnya saja.
gadis itu keluar dari dalam mobil dengan bantuan dika yang menggendongnya.
mereka memasuki rumah mewah itu bersama dengan dika yang mendorong kursi roda vani.
'wah! rumahnya gede banget' batin vani menatap sekelilingnya dengan kagum.
"Assalamualaikum"
keduanya memberi salam saat memasuki rumah bersama.
"Walaikumsalam"
ranty dan mama ratih serentak menjawab salam karena kebetulan mereka sedang duduk santai di dalam ruang tamu sambil menemani rara bermain.
"mama, mbak ranty "
dika menatap ibu dan kakak iparnya itu disana.
"om dika!!!"
rara langsung memeluk om kesayangannya itu.
"hai sayang" dika membalas pelukan rara.
"dika, kamu udah pulang?"
__ADS_1
ranty tersenyum lalu menatap ke arah vani karena melihat seorang wanita yang di bawa oleh adik iparnya itu.
"dika, siapa gadis cantik di samping kamu ini?" ranty menatap vani.
"em, dia vani mbak"
dika pun menatap ranty dan mamanya secara bergantian.
"oh, ini tante cantik yang kemaren rara bilang itu kan ma?" rara antusias menatap mama dan omnya.
"em, iya sayang" dika mengangguk.
"oh, jadi ini vani sekretaris baru dika di kantor itu ya?" ranty tersenyum senang.
"iya buk" vani pun mengangguk sungkan.
"loh kaki kamu kenapa vani?"
mama ratih dan ranty melihat secara bersamaan.
"em, ini..." vani bingung bagaimana menjelaskannya.
"vani mengalami kecelakaan kerja kemaren di proyek ma"
dika pun menjelaskan semua kronologi yang sudah terjadi sehingga kaki vani harus di gips kepada mama dan kakak iparnya, termasuk tentang vani mengalami kecelakaan itu karena menyelamatkan dirinya.
"ya ampun, terus gimana keadaan kaki vani sekarang?"
ranty dan mama ratih khawatir setelah mendengar cerita dari dika.
"Alhamdulillah sudah lebih baik buk" jawab vani.
"syukurlah kalian baik baik aja, vani makasih ya kamu udah nolongin dika dari kecelakaan tapi karena itu kaki kamu yang terluka" mama ratih menatap vani.
"saya baik baik aja kok buk, ini sudah lebih baik sekarang" vani tersenyum.
"ternyata bener yang cucu oma bilang kemarin ya kalo tante vani itu cantik dan baik hati juga" mama ratih memuji.
vani pun tersenyum malu mendengar pujian dari ibu bosnya itu.
"iya ma, cantik banget!!"
ranty melirik sambil mengedipkan matanya pada dika untuk menggoda adik iparnya itu.
dika yang melihat kakak iparnya itu sedang berusaha menggodanya pun hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangan dari para wanita di hadapannya.
"iya cantik luar dalam" puji mama ratih lagi membuat vani semakin menunduk malu.
"udah dong ma, kasian vani jadi malu sampe pipinya merah gitu"
sebenarnya ranty sedang menatap kearah dika karena adik iparnya itu terlihat salah tingkah.
"iya deh" mama ratih menghentikan pujiannya.
"em, oh iya ma hari ini vani istirahat disini ya. soalnya di rumah mereka lagi engga ada orang"
ujar dika menatap mama dan kakak iparnya untuk mengalihkan pembicaraan sebelumnya yang membuat suasana menjadi canggung.
"oh iya udah, enggak papa dong dika mama sama mbak ranty juga seneng banget kalo vani mau tinggal disini anggap aja rumah sendiri ya jadi kamu enggak usah sungkan sayang" mama ratih tersenyum menatap vani.
"em, terima kasih buk" vani tersenyum lalu kembali menunduk.
"wah, kalo gitu berarti nanti kita bisa main bareng dong tante cantik" rara tersenyum senang.
"iya sayang boleh banget, tapi mainnya nanti ya sekarang tante cantik harus istirahat dulu soalnya kaki tante kan lagi sakit"
ranty memberi pengertian kepada putrinya.
"iya ma. emangnya kaki tante kenapa kok di perban gitu sih, pasti sakit banget deh"
rara menatap kaki vani yang sedang di gips.
"ini enggak papa kok sayang"
vani tersenyum menatap rara yang menggemaskan karena mata bulatnya.
"kaki tante cantik sakit karena udah nolongin om dika kemarin di tempat kerjanya sayang jadi tante cantik harus istirahat dulu sekarang biar kakinya cepat sembuh"
"oh gitu, iya deh ma"
"pinter"
"huh!! om dika kenapa enggak jagain tante cantik sih, kok malah tante cantik yang jagain om dika" omel rara.
"iya iya, om minta maaf ya sayang. om janji deh mulai sekarang om yang bakal jagain tante cantik terus. oke"
dika mengacungkan jempolnya kepada ponakannya yang cerewet itu.
__ADS_1
"oke deh om"
rara membalas mengacungkan jempol juga dengan gemasnya.