Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 172


__ADS_3

setelah melihat ibu dan anak itu benar benar tidur dika pun kembali membuka mata dan beranjak duduk dari tidurnya dengan lekat dika menatap wajah anak dan istrinya itu dari dekat.


tiba tiba bayangan itu muncul lagi membuat dika merasa sangat pusing.


"aakkhh"


dika berusaha untuk meraba obat di dalam laci di samping ranjangnya lalu meminumnya untuk meredakan rasa sakit di kepalanya.


'siapa sebenarnya bayangan seorang wanita dan anak kecil yang selalu muncul tiba tiba itu?' batin dika lalu ia kembali menatap ibu dan anak yang sedang tertidur di hadapannya itu.


"akkhh...." teriak dika.


"sshh!" kepalanya semakin terasa pusing karena memikirkan hal itu.


"mas dika kamu kenapa?" vani terbangun karena mendengar suara teriakan dika yang sedang kesakitan.


"sshhh, aakkhhh!!! sakit" dika terus memegangi kepalanya yang sakit dengan kedua tangannya.


"mas kamu tahan ya aku panggil mas rangga dulu"


vani dengan cemas beranjak dari tidurnya hendak keluar memanggil rangga namun dika mencegahnya.


"vani jangan!! hhh! sshh" dika menahan tangan vani agar tidak pergi.


"tapi mas, kamu kesakitan"


"jangan pergi, aku baik baik aja" dika tetap menahan rasa sakitnya.


vani kembali duduk di samping dika lalu memeluk tubuh suaminya itu dengan erat karena sudah tidak tahan lagi melihat keadaan dika yang seperti ini.


"mas, aku mohon kamu jangan nolak ya aku enggak sanggup liat kamu kesakitan kaya gini" hiks! hiks!


vani menangis di dalam pelukan suaminya hingga suaranya tidak begitu jelas terdengar.


"lepas!!! hhh! hhh!" dengan perlahan dika mendorong tubuh vani agar melepaskan pelukannya.


"lepasin" dika mendorong tubuh vani menjauh.


hal itu membuat vani merasa sedih karena dika menolak pelukan darinya.


sebenarnya bukan karena dika tidak ingin di peluk oleh vani namun harum tubuh vani membuatnya tidak dapat mengontrol diri sejak beberapa hari terakhir.


tubuh vani sangat menguji imannya namun dika tidak ingin sampai khilaf dan akan menyakiti seorang wanita.


"maaf" vani menarik diri dari dalam pelukan suaminya.


dika langsung berjalan keluar dari dalam kamarnya setelah melihat raffa sudah tertidur pulas.


brak! suara pintu tertutup setelah dika keluar.


'mas dika, kenapa kamu selalu ngejauhin aku. kenapa kamu enggak pernah nyoba buat nerima aku lagi mas. udah delapan bulan terakhir ini kamu ngelupain aku sama anak kita. apa mungkin masih ada harapan buat aku, kalo kamu bakalan ingat sama kami kaya dulu lagi?' batin vani sambil kembali menumpahkan air matanya.


'apa semua penantian ini cuma sia sia aja mas' kesedihan menyelimuti hati vani namun ia harus tetap bertahan demi anaknya.


setelah lelah menangis vani kembali berbaring di samping putranya sambil terus berpikir apakah dika akan kembali mengingat mereka dalam hidupnya atau tidak.


jujur saja vani sangat merindukan suaminya itu. ia ingin dika kembali menjadi seperti dulu lagi yaitu suami yang selalu menyayangi dan memanjakan dirinya. vani rindu dengan sikap dan belaian lembut dari suaminya. keinginan itu adalah hal yang wajar ia rasakan saat ini


selama ini vani selalu menunggu bulan berganti bulan hingga hampir satu tahun lamanya namun dika masih saja betah melupakan istri dan anaknya.


terkadang membuat vani ingin menyerah saja namun cintanya selalu mengalahkan rasa lelahnya. putranya adalah satu satunya semangat yang vani miliki selama ini.


terlihat dika masuk ke dalam ruangan kerjanya untuk menenangkan diri. pikirannya di penuhi dengan bayangan bayangan istrinya itu. entah perasaan aneh apa yang ia rasakan pada vani membuatnya merasa tidak karuan.

__ADS_1


setelah merasa lebih tenang dika pun kembali ke dalam kamarnya. ia melihat vani yang sudah terlelap di samping putranya.


dika berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, ia menatap ibu dan anak yang sedang terlelap dengan pulas di atas ranjangnya itu.


"apa sebenarnya hubungan di antara kita, kenapa aku merasa begitu dekat dengan kalian?" batin dika.


tangan dika bergerak mengusap rambut ibu dan anak itu dengan lembut.


setelah puas menatap wajah keduanya dika menyadari sesuatu dari wajah putranya itu. wajah yang terlihat mirip dengannya bagaimana mungkin tidak ia sadari.


akhirnya dika ikut berbaring di samping raffa memeluknya sesuai permintaan putranya itu.


hari hari vani masih berlanjut sebagai sekretaris dari suaminya sendiri. ia semakin menjaga dika lebih ketat karena rissa selalu berusaha untuk mendekati suaminya.


tak jarang vani selalu mengikuti setiap langkah kemana pun kaki suaminya itu pergi. terlebih lagi saat dika pergi bersama dengan rissa. meskipun dika sudah melarangnya namun vani tetap mengikutinya.


lama kelamaan dika benar benar merasa semakin jengah dengan sikap sekretarisnya itu. menurut dika sebagai seorang sekretaris vani terlalu berlebihan dalam mengikuti setiap pergerakannya.


hari ini vani sedang menerima telepon dari adiknya yuli yang selalu rutin menanyakan kabarnya setiap saat.


di dalam sambungan telponnya vani bercerita tentang kesulitan yang di alaminya belakangan ini kepada yuli.


Yuli: jadi bang dika punya pacar lagi ya kak?


Vani: ish! bukan pacar baru yuli, tapi teman lama dari masa lalunya. vani berusaha untuk sabar menjawab pertanyaan adiknya yang random itu.


meskipun terkadang saat berbicara dengan yuli semakin menambah pusing di kepala vani namun ia tetap senang karena bisa bercanda dengan adiknya itu.


Yuli: oh mantan bang dika balik lagi.


Vani: terserahhh. jawab vani malas.


Yuli: haha kamu marah kak?


Vani: enggak kok.


Vani: okay. oh ya emang kamu kerja apa disana yul?


Yuli: mau tidur. haha


Vani: dasar tuyul.


Yuli: pokoknya kamu tetap semangat ya kak dan kamu enggak boleh kalah sama cewek cewek eceran di pinggir jalan itu


Vani: eceran?


Yuli: bye kak. emuachhh..!!!


tut!!! yuli mematikan sambungan teleponnya.


"aneh banget deh nih anak" vani menggelengkan kepalanya.


suatu malam sepulang dari kantor vani melihat dika yang hendak mengantar rissa pulang terlebih dahulu.


"mas dika mau kemana ya?"


vani yang merasa tidak enak dengan perasaannya pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti laju mobil dika secara diam diam.


"pak ikutin mobil pak dika itu ya" minta vani kepada supir pribadinya.


"baik nyonya"


selama ini vani selalu pergi menggunakan mobil pribadi serta supir yang setia mengantar dirinya kemana pun.

__ADS_1


sebenarnya vani bisa menyetir mobil sendirian namun jika pergi bersama supir akan lebih memudahkannya. sebab selama ini pun dika selalu memintanya untuk pergi dengan supir pribadi saja agar ada yang menjaga dirinya ketika berada di jalan.


mobil vani berhenti tepat di sebrang jalan sebuah cafe tua. cafe itu berada di tempat yang sepi namun terlihat sangat ramai di bagian dalamnya.


mobil dika masuk dan parkir di halaman cafe itu. cafe yang terlihat mewah dengan halaman yang luas.


tidak lama terlihat dika dan rissa keluar dari dalam mobil dan bergandengan tangan mesra berjalan masuk ke dalam cafe itu.


hal itu membuat vani merasa cemburu karena bukannya menolak dika justru tersenyum menatap rissa yang sedang memeluk lengannya dengan mesra itu.


"ih! dasar mas dika genit banget sih. huh...!" gumam vani kesal. tangannya meremas gaun yang sedang ia pakai menahan kesalnya.


"kenapa cafe itu keliatan rame banget ya?"


vani bertanya tanya dengan bingung karena cafe itu tidak terlihat seperti sebuah cafe pada umumnya namun justru terlihat seperti club malam dengan lampu berwarna.


"mungkin cafe itu sudah di booking untuk sebuah acara nyonya. sepertinya anak anak muda sedang melakukan party disana" ujar supir pribadi mendengar kebingungan vani itu.


"em, iya bener juga sih tapi buat apa ya mas dika ikut bukannya dia enggak suka acara semacam itu ya?"


'apa kamu ngelakuin demi rissa mas?'


mata vani mulai berkaca kaca menahan rasa sesak di dalam dadanya.


"nyonya apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya supir karena merasa nyonyanya itu menjadi sedih.


"enggak pak, saya mau nunggu disini"


"baik nyonya"


vani memutuskan untuk menunggu disana saja. cukup lama vani menunggu di dalam mobil namun dika tidak kunjung keluar dari dalam cafe itu. hingga vani dan supir itu pun merasa mengantuk.


tepatnya pukul 22:00 malam akhirnya dika dan rissa terlihat keluar dari dalam cafe itu namun anehnya vani melihat dika sedang berjalan dengan sempoyongan.


tubuh dika di rangkul oleh dua orang pria untuk berjalan menuju mobil dan rissa pun menyusul dari belakang. berulang kali dika terlihat seperti berusaha memberontak namun ia tidak berdaya.


melihat hal itu vani merasa sangat khawatir dengan keadaan suaminya.


"apa mas dika mabok ya?" vani menyakini jika suaminya itu pasti terlalu banyak minum.


akhirnya mobil dika melaju dengan empat orang di dalamnya. salah satu pria terlihat duduk di bagian jok belakang mobil bersama dengan dika dan yang satunya masuk ke bagian depan untuk menyetir mobil dengan rissa yang duduk di samping supir.


vani takut jika rissa akan melukai suaminya atau akan menculik suaminya itu.


"pak, ayo kita ikuti lagi mobil pak dika" minta vani kepada supirnya.


"baik nyonya" mobil vani pun terus berjalan mengikuti mobil dika yang berada di depan mobilnya.


akhirnya mobil dika kembali masuk dan berhenti di dalam parkiran sebuah hotel.


melihat mobil suaminya berhenti di parkiran hotel vani pun merasa lega. ia bersyukur karena ternyata rissa tidak menculik suaminya itu dengan membawanya ke dalam hutan atau tempat yang sepi lainnya.


"hotel! buat apa ya mereka kesini?" vani kembali bingung.


namun tiba tiba saja vani kembali berpikir bagaimana jika rissa dan teman temannya itu akan melukai dika di dalam kamar hotel itu. seperti kebanyakkan berita di televisi adanya kasus pembunuhan berencana yang di buat seolah olah kasus bunuh diri.


"enggak! aku harus ikutin mereka"


brak! vani keluar dari dalam mobil.


"pak tunggu sampai saya kembali ya"


"baik nyonya" supir pun mengangguk setuju.

__ADS_1


dengan berhati hati vani terus mengikuti langkah ke empat orang itu. hampir saja vani kehilangan jejak mereka saat liftnya berjalan lebih lama namun beruntung vani sudah mengetahui nomor kamar yang sudah mereka pesan.


vani menunduk dan berbalik badan ketika dua pria itu berjalan melewati dirinya. sepertinya mereka akan segera keluar dari hotel itu setelah mengantarkan rissa dan dika menuju salah satu kamar yang berada di sana.


__ADS_2