
setelah selesai dari toilet yuli dan hana hendak bergegas kembali menuju tempat dimana vani dan dika menunggu namun langkah keduanya terhenti saat melihat seseorang yang mereka kenali.
"eh, bentar deh! itu arin bukan sih?"
yuli bertanya kepada hana karena tidak sengaja melihat arin sedang berada di mall yang sama dengan mereka.
"em, kayanya iya deh kak" jawab hana sambil berpikir.
"ngapain ya dia ke mall sendirian?" tanya yuli penasaran.
"enggak punya temen kali kak"
hana menebak dengan polos.
"eh, kita samperin yuk" ajak yuli menarik tangan hana.
"eh enggak usah kak yul enggak penting banget deh. mendingan sekarang kita pulang aja kasian kak vani udah kecapekan nungguin lagian dia kan harus istirahat"
hana kembali menarik tangan yuli ke arah yang berbeda.
"iya juga sih, ayo deh"
yuli akhirnya mengikuti hana untuk kembali.
di dalam resto vani yang mendapat pertanyaan dari suaminya pun hanya terdiam menatap dika.
"sayang?"
dika menyentuh pundak vani karena istrinya itu hanya terdiam mematung menatap dirinya.
"em, aku... aku...."
"kak vani! maaf ya kita lama, ayo kita pulang sekarang"
yuli dan hana datang menghampiri keduanya di sana.
"em, iya ayo kita pulang sekarang"
vani dengan cepat beranjak dari duduknya lalu berjalan lebih dulu karena sengaja ingin menghindari pertanyaan suaminya untuk pulang agar bisa beristirahat sedangkan dika hanya diam melihat vani mengabaikan pertanyaan darinya itu.
"ayo bang dika kita pulang emang abang masih mau disini"
pertanyaan yuli pun menyadarkan dika dari lamunannya.
"em iya ayo"
akhirnya mereka pun kembali pulang ke rumah.
saat arin sedang berjalan sendirian di dekat toilet tiba tiba saja ada seseorang yang langsung membekap mulutnya dari belakang lalu membawanya masuk ke dalam salah satu ruang ganti yang kosong.
"hemp!! lepasin"
arin memberontak dan mencoba untuk melepaskan diri.
"sstt!! diam enggak lo" raka menutup mulut arin.
"kamu siapa?"
arin panik karena takut jika raka akan menyakiti dirinya.
"heh, bisa bisanya lo nanya gue ini siapa"
raka kesal karena arin tidak mengenali dirinya.
"aku enggak kenal sama kamu"
arin mendorong tubuh raka yang berdiri terlalu dekat dengannya.
"sombong banget lo cewek kampung!"
raka semakin kesal ia tidak habis pikir karena arin tidak mengenali dirinya atau mungkin arin hanya berpura pura tidak mengenalinya pikir raka.
__ADS_1
"cukup raka!"
karin datang dengan langkah santai mendekati arin dan raka yang sedang berada di dalam ruangan itu.
"kamu?"
arin menatap karin dan langsung mengingat jika mereka sudah pernah bertemu sebelumnya namun arin lupa dimana mereka pernah bertemu.
"kamu masih ingat siapa aku?"
karin tersenyum licik menatap arin karena saat ini mereka bertiga sudah berdiri saling berhadapan.
"kamu orang yang pernah maksa aku buat minum minuman beralkohol waktu itu kan?" arin merasa yakin.
"hhh bener! ternyata ingatan kamu bagus juga" karin tersenyum.
"mau apa kamu!! dasar wanita licik kamu yang udah buat aku mabuk sampe aku kehilangan kehormatan ku waktu itu sekarang aku harus menanggung malu karena hamil di luar nikah" arin menunjuk karin dengan kesal.
"heh, kamu bilang aku wanita licik? hh! harusnya kamu itu berterima kasih sama kami berdua karena berkat kami kamu bakal nikah sama dika cowok yang kamu cintai"
karin menepis tunjukan arin yang menyalahkannya.
"untuk apa aku harus berterima kasih sama kalian berdua yang udah buat hidup ku berantakan?"
arin kesal lalu mengalihkan wajahnya.
"heh! dengar ya cewek kampung kalo bukan karena kami berdua kamu enggak bakal bisa nikah sama dika. sebentar lagi kamu akan jadi nyoya muda di keluarga wijaya dan itu semua berkat bantuan dari kami"
karin menatap tajam ke arah arin yang takut.
"terus kalian mau apa dariku?"
"iya kami mau kamu jangan jadi kacang yang lupa kulitnya dong. kamu harus nurut semua keinginan kami yaitu kamu harus bagi apapun yang kamu dapat dari status baru kamu nantinya ke kami"
karin mengutarakan maksudnya. ia ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkannya dengan memanfaatkan arin.
"untuk apa aku harus melakukan itu?"
raka mengancam arin.
"kebohongan apa maksud kalian?"
"dasar bodch! ya jelas tentang anak yang ada di dalam perut lo itu" karin menunjuk perut arin dengan kesal.
"maksud kalian, apa hubungannya sama anak ku?"
arin semakin di buat bingung ia khawatir jika raka dan karin akan menyakiti dirinya atau calon bayi di dalam kandungannya itu.
"heh, jangan pura pura bodoh ya lo! gue tau bayi yang ada di dalam perut lo itu bukan anaknya dika"
"apa maksud kalian, anak ini memang anaknya mas dika kenapa kalian menuduhku bohong" arin menyangkalnya.
"hei jangan terlalu yakin dulu sama apa yang kamu liat. mana mungkin dika mau nyentuh cewek kampung kaya kamu sedangkan aku aja di tolak sama dia"
karin merasa kesal kembali mengingat penolakan dika kepadanya.
"apa maksud kamu?" hiks! hiks!
arin menangis dan merasa bingung namun juga tidak bisa menerima ucapan karin yang mengatakan jika anaknya itu bukan anak dika.
"kamu memang cewek bodch arin, kamu bahkan enggak tau siapa ayah biologis dari anak kamu sendiri"
karin berbalik badan menatap raka yang berada tepat di belakangnya.
"kalo anak ini bukan anak mas dika terus siapa ayahnya?"
arin terlihat semakin bodoh dengan pertanyaannya sendiri.
"hh! kamu nanya ke kami siapa ayahnya? enggak salah ya kamu nanya ke kami siapa ayah dari anak kamu sendiri, kamu itu ibunya satu satunya orang yang seharusnya tau siapa ayah dari anaknya sendiri"
karin tersenyum miring lalu memeluk tubuh raka yang berada di hadapannya itu.
__ADS_1
"aku enggak tau, aku enggak bisa ingat apapun waktu aku enggak sadar. aku cuma ingat kalo mas dika yang ada di samping ku setelah aku sadar dari pengaruh alkohol"
arin frustasi sambil menutup wajahnya sendiri.
"sayang, dia memang cewek bodch dia enggak tau siapa pria yang menyentuhnya waktu itu" bisik karin pada raka.
"udahlah sayang ayo kita pulang aja"
raka memeluk karin sambil menatap tajam pada arin.
"udahlah arin enggak penting juga kamu tau siapa ayah dari bayi itu yang penting sekarang semua orang tau kalo dika adalah ayahnya dan dika yang bakal tanggung jawab nikahin kamu. anak kamu akan jadi pewaris dari keluarga wijaya yang kaya raya dan kamu juga akan menikah sama pria yang kamu cintai. hidup kamu akan sempurna asalkan kamu ngikutin permintaan kami setelah itu vani bakalan tersingkir dengan sendirinya"
karin tersenyum karena sudah berhasil membuat vani menderita dengan kehilangan pria yang dicintainya.
"apa ini semua rencana kalian, apa tujuan kalian sebenarnya?" arin menghapus air matanya.
"hem pertanyaan yang bagus itu cukup menarik untuk di bahas sekarang" karin tersenyum.
"semua ini emang udah rencana kami tujuannya tentu buat misahin dika sama vani jadi bonusnya adalah kami mau setelah menikah sama dika kamu harus mengeruk habis hartanya lalu membaginya ke kami"
karin sudah tergila gila dengan kekayaan mungkin hanya harta saja yang ada di pikirannya saat ini.
"apa! gimana caranya?"
arin bingung karena itu hal yang tidak mungkin baginya.
"kamu tenang aja kami bakal mengatur semua rencana selanjutnya kamu tinggal menjalankan peran yang udah kami buat"
"tapi..." arin merasa ragu.
"udahlah arin kamu enggak punya pilihan lain selain setuju. lagian aku tau gimana orangnya dika dia enggak terlalu peduli soal harta karena dika bahkan bisa menghabiskan semua uangnya demi orang yang di sayanginya kalo kamu bisa ngambil hatinya itu akan memudahkan rencana kita"
"tapi...." arin masih saja berniat untuk menolak.
"heh!! enggak ada tapi tapian lagi lo harus setuju kalo enggak elo harus siap siap di tendang keluar dari rumah mewah itu karena kebohongan lo" raka mengancam arin.
"ayo sayang kita pulang"
raka mengajak karin keluar dari dalam ruangan itu dan meninggalkan arin sendirian.
arin masih bingung sambil termenung di dalam sana untuk beberapa waktu setelah tersadar dari lamunannya arin pun bergegas keluar juga dari ruangan itu dan segera pulang ke rumahnya.
raka dan karin masuk kedalam mobil dan memutuskan untuk segera kembali pulang ke apartemen.
"kamu yakin cewek kampung itu akan ada di pihak kita?"
raka merasa ragu menatap karin.
"kamu tenang aja sayang dia enggak mungkin nolak, kamu tau kan dia enggak punya pilihan lain selain jadi boneka kita" karin tersenyum
"hem" raka menatap kearah depan sambil terus fokus melajukan mobilnya.
"udahlah sayang jangan terlalu di pikirin mendingan malam ini kita seneng seneng lagi di dalam apartemen kamu oke"
karin mengelus pipi raka dengan manja.
raka tersenyum mendengar kata bersenang senang meskipun ia juga bingung karena tidak tau apa tujuan dan keinginannya sendiri.
"ya udah sayang kalo itu yang kamu mau" senyum raka.
"kamu sendiri, apa rencana kamu setelah vani sama dika resmi pisah nanti. apa kamu mau ngejar cinta vani lagi?"
karin memasang wajah murung karena perasaannya sedih jika harus kehilangan raka.
"entahlah aku juga enggak yakin kalo vani mau balikan sama aku walaupun dia udah pisah dari dika nanti. dulu aja waktu kami masih pacaran vani enggak bisa berpaling dari dika apalagi sekarang setelah punya anak dari dika"
"hh! kamu bener raka, itulah alasannya aku juga enggak mengharap dika kembali karena dia enggak bisa mencintai wanita lain selain istrinya itu"
karin masih merasa kesal mengingat karena seharusnya saat ini dirinya lah yang menjadi istri dika dan menyandang gelar sebagai nyonya wijaya karena dengan gelar itu maka ia bisa hidup dengan nyaman dan tentunya bergelimang harta dan kemewahan namun semuanya sirna setelah kehadiran vani sehingga membuatnya sangat membenci wanita baik itu.
'apa benar aku masih mencintai vani? tapi setelah karin hadir dalam hidup ku, aku merasa enggak kesepian lagi sekarang' batin raka berpikir.
__ADS_1