
mama ratih dan papa hardi pun datang ke rumah sakit bersama ranty dan arin juga setelah mendengar kabar tentang vani.
sebelumnya ray langsung menghubungi papa hardi setelah mereka sampai di rumah sakit untuk mengabarkan kondisi vani agar mama dan papanya tidak cemas namun justru kondisi vani saat ini membuat mereka lebih cemas.
mama ratih baru saja datang dan melihat putranya sedang duduk menyedihkan di atas lantai sambil menangis. dika terlihat sangat rapuh beruntung rangga selalu berada di sisinya untuk menguatkan adiknya itu.
"dika sayang, gimana keadaan vani nak?"
mama ratih mendekat berlutut di samping dika menatap wajah sedih putranya yang sedang menangis itu namun dika hanya diam.
"jangan nangis ya sayang"
mama ratih menghapus sisa air mata di wajah tampan putra bungsunya.
melihat ibunya ikut berlutut di lantai rangga langsung meminta adiknya untuk bangkit.
"dika ayo berdiri duduk disini ya"
rangga memegang kedua pundak dika lalu membantunya berdiri dan membawa adiknya itu duduk di kursi tunggu yang berada dekat pintu ruang operasi.
melihat mama ratih duduk di sampingnya dika langsung memeluk ibunya sambil menangis seperti sewaktu masih kecil dulu.
mama ratih pun membalas pelukan dari putranya yang sedang sangat sedih itu.
"sabar ya sayang mama yakin vani pasti baik baik aja"
mama ratih mengusap usap punggung putranya.
"rangga ayo jelaskan"
papa hardi menatap rangga karena melihat dika tidak sanggup untuk menjelaskannya.
"jadi gini pa tadi dokter bilang kondisi vani sama bayinya lemah banget karena vani pendarahan jadi dokter minta dika buat milih salah satu siapa yang harus dika utamain keselamatan di antara anak sama istrinya" jelas rangga.
"apa!! harus milih salah satunya?"
mama ratih dan ranty pun kaget bersamaan dengan wajah khawatir dan sedih.
"terus?"
papa hardi ingin rangga menyelesaikan penjelasannya.
arin yang mendengar jika dika harus memilih salah satu di antara vani atau bayi mereka pun langsung menegakkan kepala dengan antusias karena ingin mendengar jawaban dari pilihan dika.
"dika milih ngutamain keselamatan vani dulu pa, tapi itu juga buat dika ngerasa bersalah banget sama bayinya" lanjut rangga.
mendengar penjelasan rangga itu membuat semangat arin pudar. sumringah di wajahnya menghilang karena bahkan dika lebih memilih untuk mengutamakan keselamatan vani dari pada darah dagingnya sendiri begitu pikirnya.
"dika keputusan kamu udah yang terbaik, kita semua juga sayang banget sama bayi kalian malah mama sama papa udah enggak sabar banget nunggu kelahiran cucu kami. mama pengen gendong dia di pelukan mama sama kaya kamu tapi mau gimana lagi takdir berkata lain jadi kamu jangan patah semangat ya"
mama ratih menyemangati putranya yang terlihat sangat terpuruk itu padahal mama ratih sendiri juga sangat sedih mendengarnya.
"iya, sekarang kita doain vani sama bayi kalian aja ya nak, semoga mereka selalu di beri keselamatan"
papa hardi mengusap pundak anak bungsunya itu.
dika hanya terdiam dan tertunduk lemas, kepalanya terasa sangat pusing di tambah keputusannya yang sangat sulit. seluruh tubuhnya lelah namun dika tidak mau beranjak dari duduknya karena ingin tetap menunggu dan menemani istrinya hingga proses operasi selesai.
__ADS_1
keluarga ikut menunggu proses persalinan vani bersama sama mereka terlihat duduk di kursi tunggu dalam diam karena sedang larut di dalam pikiran masing masing.
melihat yuli yang sedang duduk sendirian di salah satu kursi paling ujung ray pun mendekat untuk menemaninya.
"yuli, apa kamu udah ngabarin keluarga di kampung tentang keadaan vani?" tanya ray kepada yuli.
"udah pak, tapi ini kan udah larut malam jadi kemungkinan mereka akan sampai besok pagi" jawab yuli.
"hem, iya emang benar enggak mungkin datang malam ini juga karena udah larut banget" ray mengangguk.
"iya pak"
"oh ya. kamu juga yang sabar ya, kita doain aja semoga vani sama bayinya baik baik aja"
ray melihat yuli juga sangat sedih sejak tadi memikirkan keadaan kakaknya.
"iya makasih pak" yuli pun tersenyum tipis.
ray mengangguk sambil membalas senyum juga kepada yuli yang sudah menunduk.
suasana di ruang tunggu itu pun hening karena semua orang larut di dalam pikirannya masing masing bahkan sampai ada yang tertidur karena merasa lelah.
"hem, gimana sama pelaku penculikan vani ini ray?"
pertanyaan papa hardi memecah keheningan, ray pun mendekat hendak berbicara lebih detail mengenai penculikan vani.
"kami masih berusaha untuk mencari dalang dari penculikan vani ini om, karena saat kami datang mereka sudah kabur"
"terus siapa yang sudah kalian temui disana?" tanya papa hardi mulai curiga.
"jadi apa yang sudah kalian lakukan kepada mereka?"
papa hardi yakin jika ray pasti sudah melakukan sesuatu hal yang tidak di inginkan.
"em, kami sudah,,,, menghabisi mereka semua om" ray menjawab kebenarannya.
"huh!!!" papa hardi menghembuskan nafas berat.
"bereskan semua pekerjaanmu itu ray, hilangkan semua jejak apapun yang menuju pada kita dan tetap cari siapa pelaku sebenarnya karena mereka sudah berani menyakiti nyonya muda wijaya yang sedang mengandung calon pewaris keluarga ini"
"baik om, saya akan bereskan semuanya dan akan saya pastikan mereka mendapat balasan atas apa yang sudah mereka lakukan ini" ray mengangguk.
"makasih ray kamu udah bantu dika dalam keadaannya yang sedang terpuruk kaya gini" papa hardi menepuk pelan pundak ray.
"itu sudah menjadi tanggung jawab saya om karena pak dika bukan hanya bos saya namun juga sahabat saya"
"kami pun sudah menganggap kamu sebagai putra kami juga ray jadi jangan sungkan gitu"
"makasih om saya sangat bersyukur"
setelah lama menunggu di luar ruang operasi hingga dini hari mereka tertidur dengan posisi duduk di kursi tunggu kecuali dika yang masih tetap terjaga tidak bisa memejamkan mata karena masih sangat khawatir dengan keadaan istri dan anaknya.
sungguh dika merasa jika prosesnya sangat lama karena belum selesai juga hingga sekarang. akhirnya dika pun memutuskan untuk mencari musholla di dalam rumah sakit itu agar ia bisa memohon keselamatan anak dan istrinya kepada sang pemilik nyawa.
setelah selesai sholat dika kembali duduk di ruang tunggu sambil masih terus berdoa di dalam hati karena merasa belum tenang sebelum mengetahui hasilnya. dika benar benar takut untuk mendengar hasil yang akan dikatakan oleh dokter nantinya.
"kenapa belum selesai juga ya, apa yang mereka lakuin di dalam?"
__ADS_1
dika semakin gelisah dan sudah tidak sabar menantikan pintu ruangan itu terbuka sambil terus menatap ke arah pintunya.
"sabar dik, kita tunggu aja pasti bentar lagi selesai" rangga yang terbangun pun melihat adiknya gelisah.
sebenarnya tidak ada seorang pun yang bisa tidur nyenyak dengan posisi duduk seperti itu terlebih lagi perasaan khawatir yang mereka rasakan hanya saja saat kantuk menyerang tidak terasa perlahan mata pun terpejam untuk sekejap saja.
setelah operasi selesai dokter pun keluar dari ruangan itu dengan beberapa perawat yang mendampinginya.
dika langsung beranjak dari duduknya saat melihat dokter mendekat sudah tidak sabar ingin bertanya tentang keadaan istri dan anaknya membuat semua orang yang sebelumnya masih tidur juga ikut terbangun.
"dokter bagaimana operasinya?"
dika mendekati dokter yang sedang berjalan ke arahnya.
"selamat pak dika operasinya berjalan dengan lancar namun ada dua kabar yang harus saya sampaikan pada pihak keluarga tentang keadaan pasien. satu kabar baik dan satunya kabar yang kurang baik pak" ucap dokter saat berhadapan dengan dika.
mendengar dua kabar itu dika sangat penasaran ia harus siap mendengar kabar apapun tentang calon bayinya.
"apa kabar baik dan tidaknya dokter?"
"kabar baiknya kita sangat bersyukur karena anak dan istri bapak keduanya selamat"
"alhamdulilah" dika dan yang lainnya bersyukur secara bersamaan dengan perasaan haru saat mendengarnya.
"tapi kabar buruknya kondisi istri dan bayi bapak masih sangat kritis karena detak jantung bayi bapak sangat lemah. sebaiknya kita banyak berdoa agar kondisi keduanya cepat membaik" sambung dokter menjelaskan.
semua orang awalnya tersenyum saat mendengar kabar vani dan bayinya selamat namun senyum itu kembali memudar ketika dokter mengatakan jika kondisi keduanya masih dalam keadaan kritis dan bisa saja terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kepada keduanya namun setidaknya mereka masih bertahan dan memberi dika harapan jika anak dan istrinya akan kembali sehat.
"baik dokter apa saya sudah bisa melihat keadaan anak dan istri saya sekarang?" mata dika kembali berkaca kaca.
"bisa pak, tapi tunggu setelah istri dan anak bapak di pindah ke dalam ruang perawatan ya"
"iya baik dokter terima kasih" dika mengangguk.
"baik kalau begitu saya permisi pak"
setelah dokter itu pergi ada beberapa orang perawat mendorong bankar vani keluar dari dalam ruang operasi karena hendak segera di pindahkan ke dalam ruang perawatan.
vani terlihat masih tidak sadarkan diri, dika menatap sendu tubuh istrinya yang masih terbaring lemah tidak berdaya di atas bankar itu dengan selang infus di tangan dan alat bantu pernafasan di hidungnya.
"sebentar suster,,," tangan dika menahan bankar istrinya.
cup!
dika mengecup kening istrinya dengan lembut sambil berusaha menahan air matanya saat melihat keadaan vani yang masih lemah dan pucat.
setelah itu suster kembali mendorong bankar vani menuju ruang perawatan kemudian dari belakang bankar vani juga ada dua orang perawat menyusul dengan mendorong box inkubator bayi yang akan menuju ke ruangan khususnya.
bayi mereka berada di dalam box inkubator itu karena kondisinya yang masih sangat lemah.
dika pun menatap dengan lebih sendu keadaan bayinya yang berada di dalam box kaca itu. tidak terasa air matanya kembali menetes namun dika sangat bersyukur karena ia masih bisa melihat bayinya selamat meskipun dengan kondisi yang belum stabil.
"pak dika ayo ikut kami, bapak harus mengadzani bayi bapak terlebih dahulu" ucap suster kepada dika.
"baik suster"
dika mengangguk lalu berjalan mengikuti box bayinya dari belakang.
__ADS_1