Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 145


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit dika kembali masuk ke dalam ruangan arin. ia meminta papa dan mamanya untuk pulang saja agar bisa beristirahat karena dirinya yang akan menjaga arin di sana.


"papa sama mama pulang aja ya. biar dika yang jagain arin di sini" ujar dika pada kedua orang tuanya.


"iya mama sama papa pulang ya. rangga bakal nemenin dika di sini" sambung rangga juga meyakinkan mama dan papanya.


"ya udah papa sama mama pulang dulu ya. lagian mama kalian juga pasti udah capek" papa hardi mengangguk.


setelah mama dan papa hardi pulang, hanya ada dika dan yuli serta rangga family yang masih berjaga disana.


"ya ampun arin, kenapa bisa jadi kaya gini sih. oh ya dika apa pelaku tabrak larinya udah di temukan?" tanya mbak ranty kepada dika.


"masih di tangani oleh pihak berwajib mbak." jawab dika.


"emangnya arin lagi ngapain di jalanan sih kok bisa sampe ketabrak di jalan yang jauh dari rumah?" yuli penasaran.


"supir bilang, arin mau nemuin temannya di daerah itu tapi waktu dia mau nyeberang malah kecelakaan itu terjadi" jelas dika yang sebelumnya sudah bertanya pada supir.


"temen, emangnya dia punya teman ya?" tanya yuli aneh.


"yuli elo tuh ya julid banget deh. masa orang lain enggak boleh punya teman sih" rangga menanggapinya.


"hehe ya bukan gitu sih pak maksudnya"


"udah jangan berantem, lagian ini juga salah supir kamu dika kenapa dia enggak bawa mobilnya dekat ke arin aja kok malah arin yang harus nyebrang jalan coba" ranty ikut memberi pendapat.


"iya awalnya aku juga nyalahin supir mbak tapi dia bilang arin sendiri yang minta dia buat nunggu di sebrang jalan aja karena enggak mau supir ngikutin dia sampe di tempat tujuannya" dika menjelaskan pada ranty.


"loh emang kenapa enggak mau di ikutin kalo cuma mau ketemuan sama temen doang aneh banget sih" yuli kembali merasa aneh.


"ya udahlah mungkin ini udah jalannya kecelakaan itu harus terjadi. yang penting sekarang kita fokus buat kesembuhan arin aja"


rangga akhirnya melerai perbincangan yang membahas sebab terjadinya kecelakaan itu.


"iya"


semua orang akhirnya diam dan larut dalam pikiran masing masing.


menjelang malam hari rangga dan ranty memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


"dika, gue sama mbak lo pulang dulu ya. kasian rara udah ngantuk nih" ujar rangga pamit.


"oh iya bang. ya udah sekalian anterin yuli pulang juga ya" minta dika.


"oh okay deh" jawab rangga.


"eh, abang enggak pulang nih?" tanya yuli karena mengingat pesan dari kakaknya yang meminta dika untuk pulang.


"abang belum tau nih yul, kasian arin kalo enggak ada yang nemenin. kamu pulang duluan ya"


"oh okay lah bang kalo gitu aku pulang dulu ya"


"em" dika mengangguk.


akhirnya yuli pun pulang ikut dengan mobil rangga.


sesampainya yuli di rumah, vani melihat adiknya pulang sendirian tanpa ada suaminya yang seharusnya juga pulang bersama dengan adiknya itu.


"loh yuli, mas dika dimana kok enggak ikut pulang sama kamu?"

__ADS_1


"iya kak tadi aku tuh nebeng mobil pak rangga sama mbak ranty pulangnya. soalnya bang dika masih mau jagain arin yang enggak ada temennya di rumah sakit"


"oh gitu ya" vani hanya mengangguk mengerti.


"iya, kelihatannya kasian juga sih kak. arin enggak punya keluarga lagi bahkan temen juga enggak punya" yuli duduk di sofa lalu bersandar karena merasa lelah.


"iya sih yul, aku juga enggak tega liatnya"


vani pun duduk di samping adiknya sedangkan hana hanya mendengarkan cerita dari kedua kakaknya sambil duduk diam di sisi yang lain.


-


di rumah sakit dika hanya bisa duduk diam menatap arin yang sedang terbaring lemah di atas bankar.


sebenarnya dika merasa sedih melihat arin sakit seperti ini namun di sisi lain ia juga sangat kecewa pada arin karena ternyata gadis itu sudah membohonginya.


tidak! seharusnya dika tidak perlu merasa kecewa pada arin mengingat mereka memang tidak memiliki hubungan spesial selama ini.


hanya sebatas teman dika memperlakukan arin dengan baik semata mata demi untuk membalas kebaikan arin kepadanya.


menjelang tengah malam ray datang ke rumah sakit untuk menemui dika karena dirinya mendapat kabar dari yuli jika bosnya itu masih berada di rumah sakit.


cklekk....!


ray membuka pintu ruangan arin dan melihat dika sedang menahan rasa kantuknya sambil duduk di atas kursi yang berada di samping bankar.


"dika!" ray berjalan masuk mendekati bosnya.


"ray! lo ngapain kesini bukannya elo lagi capek ya?"


"enggak papa cuma mau liat lo aja"


"santai aja lah dik, gue ngerti kok keadaan lo sekarang lagian gue kesini juga mau minta lo buat pulang aja biar istirahat di rumah. gue yakin elo pasti capek biar gue yang jagain arin di sini. gue juga bakal minta penjaga lain buat nemenin"


"lo yakin?"


"gue yakinlah masa bercanda sih. udah mending lo pulang deh temenin istri lo di rumah"


"okay kalo lo maksa gue bakal pulang hehe. thanks ya ray" dika menepuk pelan bahu ray.


"oke sip" ray mengacungkan jempolnya.


dika pun berjalan keluar dari dalam ruangan arin bergegas kembali pulang ke rumahnya.


sesampainya di rumah dika langsung masuk ke dalam kamar lalu mengganti pakaiannya dengan piyama.


setelah itu dika mendekati bayinya yang sudah tertidur pulas di dalam box lalu mengecup kening mungilnya.


dika pun naik ke atas ranjang merebahkan diri di samping tubuh istrinya yang juga sudah terlelap lalu memeluknya dengan erat dari arah samping.


karena merasakan ada seseorang yang sedang memeluk tubuhnya vani pun terbangun dari tidurnya.


"mas dika?" vani membuka matanya lalu menepuk nepuk pipinya karena berpikir jika dirinya sedang bermimpi.


"em, iya ini aku sayang" dika masih bisa mendengar suara istrinya yang terbangun.


"kamu kok pulang sih mas terus siapa yang nemenin arin di rumah sakit?"


"ray yang jagain arin di rumah sakit sayang, dia minta aku buat pulang aja biar aku bisa kelonan sama kamu hehe" nyengir dika.

__ADS_1


"hem, mas ray yang minta kamu pulang atau kamu yang minta mas ray buat jagain arin karena kamu mau pulang mas?" vani yang tak percaya begitu saja.


"aku enggak bohong sayang. suami kamu ini serius loh, ya udah deh kalo kamu enggak percaya aku mau tidur aja capek tau" dika tetap memejamkan matanya.


"iya iya aku percaya kok mas" vani memeluk suaminya.


beberapa minggu berlalu, semenjak arin sudah sadar dika tidak pernah terlihat mengunjungi arin di kediaman orang tuanya lagi.


arin sudah sadar sejak satu minggu yang lalu namun saat ini ia masih harus dirawat di rumah utama keluarga wijaya.


saat sadar arin mengalami depresi karena telah kehilangan calon bayinya yang membuat arin merasa sangat sedih.


setelah kembali pulang ke rumah arin hanya berdiam diri dan menangis di dalam kamarnya. ia tidak ingin bertemu dengan siapapun kecuali dika namun dika justru tidak pernah datang untuk mengunjungi arin. hal itu membuat arin sangat sedih, ia merasa jika dirinya sudah kehilangan dika sepenuhnya.


saat ini hanya dokter radit yang di percaya oleh papa hardi untuk merawat arin. dokter radit sangat sabar dan selalu optimis jika arin bisa kembali sembuh seperti sebelumnya.


setiap hari dokter radit selalu datang untuk mengecek keadaan arin atau sekedar membujuk agar arin mau makan.


bukan tanpa alasan dika memilih untuk mengacuhkan arin yang keadaannya masih sakit namun ia sadar jika selama ini arin telah jatuh cinta kepadanya karena kebaikan serta perhatian yang selalu ia curahkan kepada gadis itu.


dika sengaja menghindar agar arin tidak mengharapkan cinta darinya lagi. ia berpikir mungkin dengan terciptanya jarak di antara mereka akan membuat rasa cinta arin kepada dirinya perlahan memudar.


di rumahnya terlihat vani sedang duduk di sofa sambil menemani dika yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"mas, kenapa kamu enggak mau jenguk arin di rumah mama? soalnya mama bilang arin selalu manggil nama kamu, dia mau kamu datang buat nemenin dia"


"enggaklah sayang, aku enggak mau arin jadi salah paham lagi karena semua perhatian yang aku kasih ke dia. selama ini arin ngiranya aku perhatian ke dia itu sebagai tanda cinta padahal aku cuma nganggep dia sebagai teman dan seorang adik perempuan"


"iya sih mas tapi kan kasian arin tuh enggak mau makan mungkin kalo kamu ada di sampingnya dia bisa lebih semangat buat cepat sembuh"


"iya kamu bener sayang tapi coba kamu pikirin deh, nanti setelah arin sembuh gimana? dia bakalan ngira aku mau ngerawat dia tuh karena aku juga cinta sama dia yang adanya perasaan arin ke aku bakal makin dalam terus kalo aku nolak dia, bisa aja arin makin depresi atau bahkan bisa melakukan hal hal nekad. kamu ngertikan maksud aku sayang"


"iya sih mas tapi,," vani masih saja merasa khawatir.


"ssstttt! udah kita jangan bahas tentang arin lagi ya, aku yakin kok arin bakal sembuh secara perlahan dengan bantuan dokter. aku ngelakuin ini demi kebaikan arin dan demi ngejaga keutuhan rumah tangga kita biar enggak ada kesalahpahaman lagi di antara kita sayang"


"em" akhirnya vani pun terdiam. ia mengerti akan keadaan suaminya dan tidak mungkin memaksa dika untuk terus memperhatikan keadaan arin.


di rumah utama keluarga wijaya arin kembali berteriak histeris memanggil nama dika ia juga berteriak memanggil bayinya.


"aakkhhh!!"


arin membuang semua barang yang ada di dekatnya. bahkan rela menyakiti dirinya sendiri membuat mama ratih ketakutan melihatnya.


"pa, arin enggak mau makan lagi mama udah coba buat bujuk tapi arin malah marah marah dan juga nangis" ujar mama ratih kepada suaminya.


"ya udah ma, nanti kita minta bantuan dari dokter radit aja ya" papa hardi menenangkan istrinya.


"tapi pa enggak enak lah, kita selalu ngerepotin dokter radit. dia kan juga sibuk di rumah sakit"


"ma, dokter radit kan udah pernah bilang kalo dia enggak keberatan lagian itu juga udah jadi tugas dan tanggung jawabnya sebagai dokter"


"arin pengen banget ketemu sama dika pa"


"tapi ma, kita enggak bisa maksa dika buat nemuin arin apalagi setelah semua yang terjadi mungkin sekarang dika pun merasakan hal yang sama kaya kita. merasa kecewa di bohongin arin selama ini"


papa hardi tidak ingin memaksa putranya untuk datang jika bukan keinginan dari dika sendiri.


"iya sih pa"

__ADS_1


jika dika memang ingin menemui arin maka dika pasti tau dimana ia bisa menemui arin begitu pikir papanya namun hingga sekarang dika tidak muncul untuk mengunjungi arin di rumah orang tuanya.


__ADS_2