
malam harinya di kediaman wijaya ranty sedang gelisah menanti kepulangan suaminya.
"mas rangga kok belum pulang ya. mana handphone nya enggak aktif lagi" ranty khawatir.
"mama, papa dimana kok belum pulang sih?" tanya rara yang melihat mamanya sedang khawatir.
"iya sayang. kita tunggu aja ya mungkin sebentar lagi papa sampe" ucap ranty kepada putrinya.
"aku telpon ray aja deh"
ranty menatap ponselnya dan segera menghubungi ray.
setelah telpon terhubung ray pun langsung menjawab telpon dari ranty.
Ray: halo nyonya ada yang bisa saya bantu?
Ranty: ray kamu lagi sama mas rangga kan?
Ray: bukannya pak rangga sudah pulang dari tadi nyonya?
Ranty: enggak ray mas rangga tuh belum pulang. ya ampun ray terus dimana ya.
"Ray: baiklah nyonya saya akan segera melacak keberadaan pak rangga kalau begitu.
Ranty: iya iya. kamu tolong cari tau ya.
ranty mematikan sambungan ponselnya. ia semakin merasa khawatir karena suaminya tidak sedang bersama dengan sekretarisnya itu.
saat ini ranty sedang menemani rara yang akhirnya sudah tertidur karena menunggu kepulangan papanya itu.
tidak lama kemudian rangga pun pulang dengan wajah lelahnya. ia masuk ke dalam kamar dan langsung duduk bersandar di atas sofa panjang disana.
ranty yang melihat suaminya pulang dengan keadaan berantakan pun langsung mendekat hendak bertanya.
"mas kamu dari mana aja sih kenapa baru pulang jam segini. kata ray kamu udah pulang dari tadi sore"
"sayang, kamu jangan marah marah gitu dong"
rangga menarik lengan istrinya hingga ranty terjatuh di atas pangkuannya.
rangga mengecup bagian pundak ranty dengan lembut dan menghirup aroma parfum di tubuh istrinya.
"mas, kamu mabok ya?"
"enggak, aku cuma capek sayang kamu tau enggak"
rangga kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.
"iya tapi kamu dari mana aja mas soalnya ray tadi tuh bilang..."
"sstt!! kamu kok malah sebut ray mulu sih sayang kan ada aku disini, besok aku pecat aja dia deh biar kamu enggak sebut sebut nama dia lagi" ucap rangga malas.
"kamu nih aneh banget ya mas, aku kan nanya kamu dari mana tapi kamu cuma jawab capek. iya aku tau kamu capek mas tapi....."
"sstt! kalo kamu udah tau mendingan kamu diem dulu ya nanti aku jelasin, sekarang aku mau mandi dulu"
rangga pun beranjak dan melangkah ke kamar mandi.
dengan tidak sabar ranty tetap menunggu rangga sampai selesai mandi karena dirinya yang masih penasaran akan penjelasan dari suaminya itu.
setelah rangga selesai dengan mandinya. ia pun langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya disana tanpa melihat lagi ke arah istrinya yang sudah sejak tadi menunggu dirinya itu.
"ih!! ngeselin banget deh mas rangga, aku udah nungguin dari tadi juga tapi dia malah tidur gitu aja" gumam ranty mengomel lalu mendekati sisi ranjang.
"mas ranggaaa!!" teriak ranty yang membuat rangga langsung menutup mulut istrinya itu dengan tangannya.
"sstt!!! kamu ngapain teriak sih sayang? kamu enggak liat ya anak kita lagi tidur"
rangga balik mengomel kepada istrinya itu.
"kamu yang apa apaan sih mas. emang kamu enggak liat aku udah nungguin kamu dari tadi tapi kamu malah cuekin aku. kamu kan masih hutang sebuah penjelasan ke aku"
"iya iya sayang ku cinta ku. maaf ya istriku"
rangga memeluk istrinya yang sedang ngambek.
"aku enggak maafin" ranty sudah ngambek.
"iya deh aku ceritain sayang"
rangga menghadap dekat dengan istrinya setelah melepaskan pelukannya.
ranty yang terlihat cuek namun penasaran dengan cerita dari suaminya itu pun tidak mau menoleh.
"jadi tadi tuh waktu jam pulang kerja aku ketemu sama temen lama terus mereka ngajak buat kumpul bareng ya udah deh aku ikut kumpul sebentar bareng mereka sayang gitu" ucap rangga bercerita.
"oh, jadi dari tadi kamu itu lagi seneng seneng sama temen temen kamu terus enggak ngabarin aku. kamu biarin aku khawatir di rumah sendirian gitu?"
ranty melipat tangannya di dada.
"iya maaf sayang tadi tuh handphone aku lobet " rangga beralasan untuk membela diri.
__ADS_1
"hem, terus tadi kamu juga pulang marah marah sama aku karena aku nanyain kamu. kamu bilang kalo kamu lagi capek, oh jadi karena itu capeknya?"
tatapan ranty menyelidik kepada suaminya.
"hehe, maaf ya sayang" nyengir rangga
"enggak mau. pokonya malam ini kamu tidur di luar mas, aku mau tidur berdua aja sama rara"
ranty menarik lengan suaminya dan berjalan menuju pintu kamar lalu mendorong rangga keluar dari dalam kamarnya.
"eh eh sayang,,"
"nih buat kamu"
ranty memberikan sebuah bantal kepada suaminya agar rangga tidur di luar untuk memberi rangga pelajaran karena sudah membuat dirinya merasa khawatir.
"sayang, kan aku cuma kumpul bareng teman lama aja. serius enggak ada yang aneh aneh"
rangga masih mencoba untuk memberi alasan.
"iya temen lama kamu pasti ada yang cewek kan"
"tapi kan itu cuma temen sayang terus mereka juga semuanya udah pada punya suami. lebih banyak temen cowoknya juga"
"pokoknya tidur di luar" ranty segera menutup pintu kamarnya setelah rangga keluar dengan terpaksa.
brak!! pintu tertutup.
"sayang, sayang! jangan gini dong plisss! sayang. aku minta maaf ya aku janji bakal kabarin kamu dulu kalo kapan kapan mau kumpul sama temen lagi sayang"
rangga terus mengetuk pintu kamarnya namun ranty tidak mau mendengarkannya.
"huh! sial banget sih gue udah ketemu sama temen kaya mereka itu"
omel rangga kesal kepada temannya yang jauh entah dimana.
setelah beberapa minggu berlibur di london akhirnya dika dan vani memutuskan untuk kembali pulang ke tanah air.
benar apa yang sudah rangga katakan sebelumnya jika dika tidak akan mungkin pergi berlibur selama tiga bulan lamanya. karena banyaknya pekerjaan yang tidak dapat dika tinggalkan lebih lama lagi ditambah rangga yang juga sangat paham bagaimana kebiasaan adiknya itu.
menjelang siang hari pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di bandara tanah air dengan selamat. kepulangan dika dan vani itu sudah di tunggu oleh ray yang langsung menjemput mereka di bandara.
"selamat siang pak, apa kabar? apakah perjalanan bapak dan ibu menyenangkan?"
ray bertanya kepada bos sekaligus sahabatnya itu sambil membukakan pintu mobil bagian belakang.
"hem baik, yang pasti semuanya berjalan lancar ray dan perjalanan kami sangat menyenangkan. terima kasih"
"sama sama pak"
ray menutup pintu mobil lalu berjalan masuk ke bagian jok depan melajukan mobil menuju kediaman keluarga wijaya.
sesampainya di rumah kepulangan vani dan dika sudah di sambut oleh teriakan dan celotehan dari keponakan kesayangan mereka siapa lagi kalau bukan rara.
"assalamualaikum" vani dan dika mengucap salam.
"walaikumsalam"
ranty dan rara menyambut kepulangan mereka.
"om! tante!"
rara berlari ke dalam pelukan pasangan yang baru pulang dari berlibur itu.
"rara sayang"
vani dan dika menyambut pelukan rara bersamaan.
"hai tuan putri ku"
dika pun langsung menggendong tuan putri kecilnya itu.
"om sama tante lama banget sih pulangnya. rara udah kangen banget tau" rara memanyunkan bibirnya.
"maaf ya sayang"
vani membelai rambut rara yang berada dalam gendongan suaminya.
"oh iya om punya sesuatu buat rara mau enggak?"
dika memberikan sesuatu agar rara tidak ngambek lagi.
"mau dong om" rara pun bersemangat.
"yuk kita masuk"
ranty mengajak mereka berjalan masuk kedalam rumah secara bersamaan.
"ayo mbak"
"gimana perjalanan kalian semuanya lancarkan?"
__ADS_1
ranty menatap kedua adik iparnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"semuanya baik kok mbak"
mereka mengangguk bersamaan.
"syukurlah kalo gitu" ranty pun tersenyum.
beberapa bulan sudah berlalu hari hari vani dan dika kembali berjalan normal seperti biasanya yaitu bekerja di kantor.
hanya saja yang membuatnya berbeda adalah sekarang dika sudah menikah.
setiap hari dika pergi bekerja dan pulang tepat waktu dengan di sambut senyuman manis oleh pujaan hatinya.
kini dika sangat bahagia menjalani hari harinya sebagai seorang suami dari wanita yang sangat dicintainya itu.
dika sudah jarang sekali melakukan lembur di kantor atau nongkrong di kafe bersama teman lamanya karena ia tau bahwa ada bidadari hatinya di rumah yang sekarang selalu menunggu kepulangannya.
sebelumnya dika meminta vani untuk berhenti bekerja agar istrinya memiliki banyak waktu untuk beristirahat dan bisa fokus kepada dirinya saja.
memang terkesan egois namun dika tidak ingin melihat istrinya itu kelelahan jika harus bekerja di siang hari dan lembur di malam hari karena perbuatannya sendiri.
dika berpikir dirinya masih sanggup untuk membiayai semua kebutuhan istrinya maka vani tidak perlu capek bekerja lagi.
sedangkan rangga serta anak dan istrinya sudah kembali ke london sejak beberapa minggu yang lalu.
meskipun awalnya rara menangis dan menolak untuk pergi karena tidak ingin tinggal jauh dari om kesayangannya itu.
dika dan vani terus membujuk rara untuk ikut bersama kedua orangtuanya dengan mengatakan jika mereka akan sering berkunjung ke london menemui rara nantinya hingga akhirnya membuat rara setuju untuk ikut pergi.
malam ini vani dan dika sedang berada di atas ranjang hendak tidur.
"mas" panggil vani
"hem" dika sudah memejamkan matanya.
"aku boleh kerja lagi enggak?"
pertanyaan vani membuat dika kembali membuka mata namun ia tidak menoleh untuk menatap istrinya itu.
"enggak"
dika menjawab singkat lalu kembali memejamkan matanya.
"kenapa?" tanya vani bingung.
"sayang kerja itu capek, aku enggak mau kalo nantinya kamu kecapekan"
dika memiringkan tubuhnya agar menghadap ke arah vani lalu memeluk istrinya dari samping.
"tapi aku bosen di rumah terus sendirian mas" kesah vani dengan wajah yang sedih.
"em, kamu bisa main setiap hari ke kantor kan terus kamu juga bisa shoping setiap hari sayang. hitung hitung kamu bantuin aku buat habisin uanglah. masa aku capek capek kerja setiap hari uangnya enggak kamu habisin sih sayang"
dika tersenyum sambil mencubit gemas hidung istrinya.
"ih mas, buat apa juga aku habisin uang kamu. aku enggak suka shopping lagian kamu juga sering banget beliin aku barang barang keluaran terbaru buat apalagi aku pergi shoping setiap hari" vani manyun.
"atau kamu bisa main ke rumah yuli setiap hari kan" dika kembali memberi saran.
"mas yuli itu kan kerja jadi dia juga enggak ada di rumah"
"kan ada hana sayang"
"hana juga kerja mas"
"masa sih, kamu tau dari mana?"
"mereka kan juga sering chat buat kasih kabar ke aku"
"oh kalo gitu kamu bisa nemenin aku di kantor kan"
"aku enggak mau ah nemenin kamu di kantor lagi kaya kemaren kamu malah enggak bisa fokus kerja kalo aku ada di sana"
"ya udah apa bedanya sayang kalo kamu kerja itu artinya kamu juga bakalan datang ke kantor kan jadi lebih baik kamu temenin aku aja di kantor oke"
"iya beda dong mas lagian kan aku tuh bukan mau kerja di kantor kamu"
"apa! bukan di kantor? jadi kamu mau kerja dimana?"
dika membelalakkan matanya.
"iya di tempat lain dong"
"enggak bisa sayang kamu enggak boleh kerja di perusahaan lain selain wijaya grouptitik"
"tapi kenapa mas?"
"iya yang benar aja dong sayang kamu ini kan nyonya wijaya yang punya perusahaan terbesar di kota ini. masa iya kamu mau kerja di perusahaan lain yang kemungkinan juga itu adalah perusahaan saingan dari perusahaan suami kamu sendiri sih"
dika menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan keinginan dari istrinya itu.
__ADS_1