Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 132


__ADS_3

tepat di jam istirahat yuli dan hana kembali datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan vani seperti biasanya. sedangkan ranty dan mama mertuanya sudah kembali pulang sebelum jam makan siang.


ceklek!


"bang dika gimana keadaan kak vani?" tanya yuli kepada dika setelah mereka sampai di dalam ruangan kakaknya.


"ya kaya yang kamu liat yul. belum ada perkembangan apapun masih sama kaya yang kemarin" jawab dika yang selalu berada di dalam ruangan istrinya itu.


"hem sabar ya bang dika mudah mudahan kak vani cepat sadar"


"iya makasih ya kalian berdua selalu datang buat jenguk vani" dika tersenyum.


"itu udah pasti dong bang kan dia kakak kami juga"


"eh liat deh kak baby lagi tidur gemes banget sih"


hana menatap keponakannya yang sedang tertidur di dalam box bayi itu.


"iya, jadi pengen deh" yuli ikut menatap juga.


"jadi pengen punya bayi juga kak yul?" hana melirik kakaknya sambil tersenyum jahil.


"em, iya pengen gendong baby lah" yuli pun mencoba untuk membantah ucapan adiknya dengan menggendong bayi yang masih tertidur itu karena merasa canggung dengan ucapannya sendiri.


"eh, baby kan lagi bobok kak. kok kamu malah ganggu sih dia lagi tidur nyenyak banget tau"


"iya enggak papa dong han kalo dia lagi tidur kaya gini kan gendongnya jadi lebih enak. soalnya baby diam aja enggak banyak gerak gerak"


"eh dasar ya kamu kak, mau enaknya aja"


"iya kalo bisa enak kenapa enggak. hehe"


"huh! dasar"


dika dan hana hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan yuli yang tidak mau ribet.


ya begitulah saat ini dika menjalani hari harinya di rumah sakit. terkadang dika juga harus bolak balik untuk melihat keadaan bayinya yang berada di dalam ruangan berbeda.


beruntung saat ini bayi mereka sudah berada di dalam ruangan yang sama dengan ibunya karena kondisi bayi sudah stabil dokter pun mengizinkan box bayi berada di dalam sana agar mempermudah dika untuk memantau keadaan keduanya. meskipun ada perawat yang selalu menjaga bayi mereka namun dika ingin mengawasi bayinya secara langsung.


sebenarnya dika sudah merasa bosan berada di rumah sakit bukan karena harus menjaga istri dan anaknya hanya saja dika jengah dengan tatapan para perawat wanita di sana membuat dirinya merasa tidak nyaman namun demi kesehatan anak dan istrinya dika pun mengabaikan saja.


hari terus berjalan namun dika masih harus berada di rumah sakit untuk menemani istrinya dan menjaga putranya.


suatu malam ketika semua orang sudah pulang untuk beristirahat di rumah masing masing dika kembali sendirian menjaga vani dan bayi mereka.


setelah memberi minum susu kepada putranya kini bayi mungil itu sudah tidur dengan pulas di dalam box bayi dika pun kembali duduk di samping bankar istrinya.

__ADS_1


"sayang bangun dong, emangnya kamu enggak capek ya tidur terus. liat deh anak kita udah sehat sekarang kata dokter besok dia udah boleh pulang loh" dika bercerita sambil menggenggam tangan vani dan sesekali mengecupnya.


"kalo kamu udah sadar nanti aku yakin deh kamu bakal seneng banget liat baby kita yang lucu itu sayang" dika tersenyum menatap wajah istrinya.


dika menatap sedih tubuh istrinya yang terlihat semakin kurus karena sudah hampir dua minggu vani tidak bangun dan tidak makan apapun.


di kediaman wijaya mama ratih dan papa hardi sedang berkumpul bersama rangga dan ranty di dalam ruang keluarga.


mereka duduk di atas sofa sambil menemani rara yang sedang bermain.


"rangga, mama sama papa lagi bingung banget nih,


"bingung kenapa ma?"


"gimana ya cara jelasin ke dika soal pernikahannya sama arin, kandungan arin kan makin gede jadi mama takut wartawan bakal tau terus gimana kalo vani enggak sadar sampe beberapa bulan kaya perkiraan dokter apa kita juga harus nunggu selama itu biar dika nikahin arin?" tanya mama ratih kepada putra sulungnya itu.


"tapi ma, dika kan enggak mungkin bisa nikah lagi tanpa persetujuan dari istrinya. vani harus tanda tangan surat persetujuan kalo dika boleh nikah lagi biar kita bisa urus surat pernikahan dika yang kedua" jawab rangga.


"iya sih tapi kan mereka bisa ijab kabul aja dulu biar sah nanti kalo vani udah sadar, baru kita urus suratnya nyusul" mama ratih berpendapat.


"maksud mama, dika sama arin nikah siri aja?" tanya rangga yang di angguki oleh mamanya sedangkan papa hardi dan ranty hanya mendengarkan karena mereka juga bingung dengan keadaan yang ada.


"tapi menurut aku dika pasti bakal nolak deh ma" ranty mengatakan pendapatnya.


"iya sayang tapi enggak ada pilihan lain kan?" papa hardi menimpali.


keesokan harinya tepat di siang hari arin pun memutuskan untuk datang ke rumah sakit seorang diri hendak menemui dika yang tidak pernah kembali pulang ke rumah.


ceklek!


setelah sampai di depan ruangan vani arin membuka pintu ruangan itu ia melihat dika yang sedang duduk di samping bankar sambil menemani istrinya seperti biasa.


melihat pintu ruangan yang terbuka dika pun mengalihkan pandangannya menatap arah pintu. ia melihat kedatangan arin dengan hanya meliriknya sekilas saja.


"mas dika aku mau bicara" arin mendekati dika.


"ada apa?" tanya dika tanpa menoleh pada arin ia tetap menatap kearah istrinya saja.


"kapan kita bakal nikah mas, bentar lagi anak kamu yang lain juga bakal lahir tapi kayanya kamu enggak peduli sama dia"


mendengar ucapan arin itu membuat dika merasa jengah hingga menghembuskan nafas berat sebelum menjawab.


"huh!!! udah berapa kali aku bilang sama kamu kalo anak itu bukan anak aku arin jadi kita enggak bakal nikah, kamu ngerti?" dika menahan suaranya karena tidak ingin sampai emosi atau membuat keributan disana.


"tapi ini memang anak kamu mas dika jadi kamu harus tanggung jawab" arin tetap pada pendiriannya.


"terserah kamulah arin tapi sekarang aku lagi enggak mau bahas soal ini jadi tolong lebih baik kamu pulang sekarang" dika tidak ingin kesabarannya semakin menipis.

__ADS_1


"oke aku bakal nunggu jawaban kamu secepatnya mas" arin berbalik badan dan melangkah keluar hendak pulang seperti permintaan dika karena tidak ingin membuat dika lebih marah jika dirinya terus berada disana.


setelah kepergian arin dari dalam ruangan istrinya itu dika pun meremas rambutnya dengan frustasi karena bingung dengan keadaannya sendiri.


"aarrghh!!!" dika mengacak acak rambutnya hingga berantakan namun bukan membuat dirinya terlihat jelek dengan penampilan acak acakan seperti itu justru dika akan membuat hati para gadis yang berantakan saat melihatnya seperti itu.


dika beralih menatap tubuh istrinya yang masih terbaring di atas bankar itu. vani tertidur dengan sangat pulas hingga ia enggan untuk bangun dari tidur panjangnya.


"sayang plis kamu bangun dong aku butuh kamu sayang. aku enggak tau harus gimana sekarang apa kamu juga bakal tetep maksa aku buat nikahin arin?" tanya dika kepada istrinya yang tidak akan merespon ucapannya itu.


"aku bingung nih sayang, kamu jangan tidur terus dong kaya gini. aku kangen sama kamu tau, aku kangen kamu marah marah lagi kaya dulu aku kangen semuanya tentang kamu" dika meletakkan tangan istrinya di pipinya.


keesokan harinya mama ratih dan papa hardi kembali datang ke rumah sakit bukan hanya sekedar ingin melihat keadaan vani dan cucu mereka namun juga hendak membahas tentang pernikahan dika dengan arin yang akan segera di langsungkan.


setelah melihat keadaan menantu dan cucunya, mama ratih pun mulai memberanikan diri untuk berbicara dengan putra bungsunya itu.


"dika, mama mau ngomong sesuatu"


"iya mama mau ngomong apa?" dika menatap mamanya.


"ini tentang arin" ucapan mama ratih membuat dika langsung mengerti kemana arah pembicaraan itu.


"apa mama mau aku nikahin dia sekarang?" tanya dika to the point.


"em, iya gimana pun kamu harus tetap tanggung jawab kan dika. jadi menurut mama cepat atau lambat itu sama aja kan sayang" mama ratih berbicara dengan suara yang lembut agar putranya tidak marah.


"aku enggak mau ma, apalagi vani belum sadar sekarang" dika pun langsung menolaknya.


"tapi dika, kalo vani sadar nanti dan liat kamu nikah sama arin itu pasti bakal lebih menyakitkan buat dia kan nak. jadi lebih baik kalian nikah sebelum vani sadar jadi setelah vani sadar nanti...." ucapan papa hardi terputus karena dika sendiri yang menyambung kalimat dari papanya itu.


"setelah vani sadar nanti dia bakal pergi ninggalin aku, iya gitu kan pa?" dika melengkapi ucapan papanya..


"bukan gitu nak, maksud papa..." papa hardi tidak mau melanjutkan ucapannya karena melihat wajah sedih putranya.


rangga yang baru sampai di rumah sakit pun tiba tiba saja masuk kedalam ruangan vani dan langsung menjawab ucapan adiknya itu.


"ini semua juga karena kesalahan yang lo buat sendiri kan dika jadi sebagai seorang pria sejati lo enggak bisa lari dari tanggung jawab" rangga berjalan mendekat.


"tapi lo tau kan bang vani masih belum sadar sekarang jadi gue enggak bakal mau nikah sebelum istri gue sadar" dika masih menolak.


"iya tapi kapan vani bakal sadar kita enggak tau dika bahkan dokter pun belum bisa mastiin keadaannya. sebentar lagi anak lo yang kedua bakal lahir dan dia enggak bakal punya ayah karena lo yang egois" rangga menatap adiknya serius.


"huh!! oke terserah kalian aja atur semuanya gue bakal nurut" dika akhirnya mengalah karena tidak ingin lagi berdebat.


"bagus, jangan buat masalah makin rumit" rangga pun mendekati vani lalu mengusap kening adik iparnya yang sudah seperti adik sendiri baginya itu.


sebenarnya rangga tidak ingin melihat dika berpisah dengan istrinya karena ia tau mereka sangat saling mencintai namun mau bagaimana lagi ini semua harus mereka jalani begitu pikirnya.

__ADS_1


rangga merupakan seorang yang tegas dalam mengambil suatu tindakan dan keputusan ia tidak suka plin plan atau tidak punya pendirian karena baginya sikap seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah.


__ADS_2