Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 118


__ADS_3

keesokan harinya vani dan dika yang sedang libur bekerja pun berkumpul bersama dengan kedua adiknya di dalam ruang keluarga sambil berbincang santai.


"kak vani bentar lagi kan baby udah mau lahir nih, kamu udah beli keperluan buat nyambut kelahirannya nanti?"


yuli menatap vani yang sejak tadi hanya diam diaman saja dengan suaminya itu.


"belum sih yul, cuma masih ada beberapa perlengkapan aja di rumah itu pun hadiah waktu acara tujuh bulanan kemarin"


vani menjawab sambil menatap ke arah suaminya.


"ya udah gimana kalo hari ini kita shoping sekalian beli beberapa keperluan bayi juga"


yuli bersemangat memberi saran kepada kakaknya.


"setuju!!" seru hana bersemangat.


"em, enggak deh aku lagi males pergi kemana pun"


vani justru terlihat tidak bersemangat.


"ayolah kak vani apa kamu enggak bosen di rumah terus kami berdua tuh pengen banget beliin baju bayi yang lucu buat keponakan kesayangan ini"


yuli tersenyum sambil mengelus lembut perut vani yang sudah sangat buncit itu karena kelahiran bayinya hanya tinggal beberapa minggu lagi.


"iya kak vani, aku juga pengen beliin sepatu bayi yang lucu kaya gini loh"


hana menunjukkan foto sepatu bayi lucu di dalam ponselnya kepada vani.


"em, ya udah kalian beli sendiri aja terus nanti kalian bisa kasih langsung waktu keponakan kalian ini udah lahir"


vani masih tetap beralasan karena ia benar benar tidak berniat untuk pergi kemana pun.


"kami pengen belinya bareng sama kamu kak ayolah"


hana dan yuli terus membujuk vani dengan mata berbinar penuh harap.


"ck! males ih"


"kak ayolah" rengek keduanya.


"iya iya deh nanti kita pergi" vani akhirnya setuju.


"yeii" sorak bahagia dari keduanya.


"tapi menurut aku sepatu bayinya bakal lebih lucu kalo warna pink"


vani mengomentari foto sepatu bayi yang di tunjukkan oleh hana tadi.


"warna pink? em, apa keponakan kami ini udah di pastiin bakal cewek ya kak?"


yuli tersenyum lebar membayangkan betapa lucunya anak perempuan jika memakai dress bayi.


"em belum sih cuma aku lebih suka warna pink aja"


vani menjawab dengan santai membuat yuli dan hana membelalakkan matanya.


"ih apa sih kak vani ada ada aja deh kalo nanti baby yang lahir cowok gimana? masa iya dia pake gaun sama sepatu warna pink sih" hana pun heran dengan pilihan kakaknya.


"iya tau nih, entar keponakan kita yang harusnya ganteng masa berubah jadi cantik lagi" timpal yuli.


"iya enggak papa dong lagian aku pengennya tuh anak cewek tau"


ekspresi vani datar menatap lurus ke depan sedangkan dari arah samping dika menatapnya dengan serius.


dika berpikir mungkin saat ini istrinya itu hanya sedang merasa kesal bercampur dengan sedih sehingga vani mengatakan hal seperti itu.


padahal selama ini mereka tidak pernah menentukan apakah ingin bayi laki laki atau bayi perempuan karena mereka akan tetap menyayangi bayi yang telah tuhan anugerahkan dengan apa adanya.


"eh, kamu jangan ngomong kaya gitu dong kak kamu harus tetep sayang mau cowok atau pun cewek nantinya"


yuli pun mengingatkan kakaknya.


"tau ah, mending sekarang kalian siap siap aja kalo emang mau pergi"


vani berbicara dengan ketus lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar.


dika hanya menatap kepergian istrinya yang sedang sedih itu dengan diam.


setelah yuli dan hana masuk ke dalam kamar mereka hendak bersiap dika pun menyusul istrinya masuk ke dalam kamar juga.


benar saja saat ini dika melihat vani sedang menghapus air matanya sambil bersiap juga.


"sayang kamu kenapa?" tanya dika dengan lembut.


"enggak usah nanya hal yang sama terus setiap hari mas, aku bosen dengernya mendingan kamu diem sekarang aku lagi enggak pengen debat sama kamu"


vani tidak mau menatap dika yang memperhatikannya sejak tadi.


dika pun diam karena melihat kesedihan di wajah istrinya ia tidak ingin menambah suasana buruk di hati istrinya jika terus bertanya.


menjelang siang hari mereka berempat pergi menuju mall terbesar di kota itu dengan dika yang menyetir mobil.


dika melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan karena hendak mengikuti keinginan kedua adik iparnya itu.


sesampainya di dalam mall mereka langsung berjalan menuju toko yang menjual perlengkapan bayi.

__ADS_1


yuli dan hana pun sangat bersemangat memilih baju maupun sepatu bayi yang lucu di sana.


sedangkan vani hanya terdiam dengan bingung menatap segala perlengkapan bayi disana yang semuanya terlihat lucu dan menarik di matanya.


melihat istrinya itu hanya berdiri diam saja di sana dika pun berjalan mendekat.


"sayang kamu mau beli yang mana buat anak kita?"


dika memegang kedua pundak istrinya dari belakang.


"aku bingung mas, semuanya bagus sama lucu juga"


vani sedang memegang dua pasang sepatu bayi di tangannya hendak memilih.


"ya udah kalo gitu kita beli semuanya aja sayang"


"kayanya itu enggak perlu deh mas"


vani hanya fokus mengamati perlengkapan di hadapannya.


"emangnya kenapa, ini semua kan buat anak kita sayang"


dika juga mengamati sepatu yang di lihat oleh istrinya itu.


"mas, pakaian bayi yang baru lahir itu kan cuma bisa di pake beberapa bulan aja. nanti kalo bayi kita udah makin gede semuanya enggak bakal muat lagi buat dia pake jadi sayang kan kalo cuma bisa di simpen"


"iya aku kan cuma ngasih saran dari pada kamu bingung milihnya sayang"


dika kembali merangkul pundak istrinya dari samping.


"saran kamu enggak masuk akal mas"


vani langsung melepaskan tangan dika dari pundaknya lalu ia kembali berjalan sambil melihat lihat perlengkapan yang lainnya.


"iya bisa aja sayang kita beli sama tokonya atau sama mall nya juga sekalian"


dika pun tersenyum sambil mengajak vani untuk bercanda karena istrinya itu selalu bersikap dingin kepadanya.


"emangnya buat apa mall di beli juga"


vani membuat dika merasa bingung.


"em iya juga sih buat apa ya sayang, lagian pemilik saham terbesar di mall ini kan juga bang rangga jadi buat apa kita beli lagi" hehe


dika pun berjalan melewati istrinya karena ia melihat ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari ujung sana.


vani hanya terdiam mendengarkannya sambil menatap datar kepergian suaminya itu.


'enggak semua bisa kamu miliki dengan uang yang kamu punya mas' batin vani menatap suaminya dengan dingin.


dika kembali datang menghampiri istrinya sambil memperlihatkan apa yang sudah ia temukan.


"iya mas, ini lucu tapi yang Ini juga lucu sih..."


vani bingung memilih perlengkapan bayi yang sedang ia pegang dengan yang di tunjukkan oleh suaminya.


"ya udah kita beli keduanya aja ya sayang"


dika langsung meletakkan kedua barang itu dalam troli yang di bawanya lalu kembali berjalan mengamati yang lainnya.


vani hanya membiarkan suaminya membawa kedua benda itu karena ia juga memang menyukai keduanya.


setelah suaminya pergi sekarang yuli yang menggangu dirinya membuat vani merasa jengah.


"kak vani sini, liat deh bagus banget kan"


yuli menarik lengan vani agar mendekat.


"ada apa sih yuli"


vani mengikuti langkah adiknya lalu melihat yuli menunjuk stroller bayi di hadapan mereka.


"ini loh kak"


"iya bagus sih tapi pasti mahal"


vani hanya melirik saja dan langsung meninggalkannya karena tidak berniat untuk membeli stroller itu.


"apa! mahal katanya?" gumam yuli bingung sendiri dengan ucapan kakaknya karena ia berpikir bahkan harga stroller bayi itu tidak akan membuat uang dika berkurang.


"kenapa sih kak kok bengong"


hana menghampiri yuli yang sedang bingung.


"han, aneh banget ya padahal kan dia bakal ngelahirin anak dari seorang radika wijaya yang kekayaannya aja enggak bisa gue hitung pake jari sendirian masa bilang harga stroller ini mahal sih" adu yuli pada adiknya.


"emang harganya berapa kak?"


hana penasaran lalu melihat stroller yang terlihat mewah dan bagus itu.


"ini harganya liat deh di bandrol" yuli pun menunjukkan.


"apa! em, lumayan banget sih ini harganya soalnya aku enggak punya uang sebanyak itu kak" hehe


hana nyengir melihat harga ratusan juta itu.

__ADS_1


"sama sih aku juga, makanya aku minta dia yang beli aja hehe" yuli pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"mungkin kak vani bingung entar bawanya ke kampung susah kak kan kak vani mau...."


hana tidak meneruskan ucapannya karena yuli menyentuh lengannya.


"ssstttt!! ada bang dika tuh" gumam yuli melirik.


hana pun langsung terdiam saat melihat dika datang menghampiri mereka.


"hai yuli kalian udah siap belanjanya?"


dika bertanya karena melihat kedua adik iparnya itu hanya berdiri diam di sana.


"eh bang dika em, ini udah selesai kok hehe" yuli tersenyum canggung.


"oh bagus deh bentar lagi kita pulang ya"


dika hanya tersenyum seperti biasanya.


"em itu loh bang dika, kak yuli pengen beliin ini buat baby tapi dia enggak punya uang katanya"


hana pun mengadu sambil menunjuk stroller bayi itu kepada dika.


"ihh hanaaa" gumam yuli dengan suara geram sambil mencubit kecil punggung adiknya.


"hehem" nyengir hana.


"oh ya kenapa tadi enggak minta kakak kalian buat beliin?"


karena tadi dika melihat jika vani baru saja melewatinya.


"em katanya sih mahal bang"


setelah mengucapkannya hana langsung bergegas pergi karena takut mendapat cubitan dari kakaknya lagi.


"eh! tuh anak emang bocor, kaya ember" gumam yuli menatap kepergian hana lalu ia tersenyum canggung melihat ke arah dika.


dika hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum melihat kelakuan dua adik iparnya yang aneh itu.


setelah selesai berbelanja mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama terlebih dahulu di salah satu resto di dalam mall itu.


"sayang, kok makanannya enggak di habisin sih?"


dika menatap vani yang tidak menghabiskan makanannya padahal tadi istrinya itu sangat menginginkannya.


"em, enggak papa mas aku udah kenyang" jawab vani.


"oh gitu ya" dika pun mengangguk mengerti.


"eh, kita mau ke toilet bentar ya kak"


yuli hendak mengajak hana untuk menemaninya pergi ke toilet setelah mereka menyelesaikan makan siangnya.


"oke tapi jangan lama lama ya soalnya aku udah capek banget nih dari tadi muter muter milih belanjaan pengen cepat pulang biar istirahat" vani menatap kedua adiknya.


"oke deh"


yuli dan hana mengangguk lalu melangkah bersama.


tinggallah vani dan dika hanya berdua di sana, dika yang melihat istrinya kelelahan pun kembali mendekat.


"sayang kamu capek ya?" dika menatap istrinya.


"em" vani hanya mengangguk.


"aku pijitin ya sayang"


dika memegang lengan vani lalu memijit pelan bagian lengan istrinya itu sambil tersenyum.


"makasih ya mas tapi kamu enggak usah kaya gini, enggak enak di lihatin orang lain"


vani tersenyum tipis lalu menghentikan pijitan dari tangan suaminya.


"iya kan kita enggak ganggu orang lain sih sayang"


"iya tapi enggak usah mas"


"ya udah deh" dika akhirnya mengalah.


beberapa menit berlalu vani hanya diam karena sudah merasa bosan menunggu adiknya yang pergi terlalu lama.


"sayang aku boleh nanya sesuatu enggak ke kamu?"


dika menatap istrinya yang hanya diam saja itu.


"mau nanya apa mas?" vani pun menatap dika.


"kamu jawab yang jujur ya" minta dika.


"em" vani mengangguk pelan.


"apa sekarang perasaan kamu ke aku udah berubah sayang?"


dika dengan sendu bertanya karena merasa jika sekarang istrinya sudah tidak mencintai dirinya lagi seperti dulu.

__ADS_1


dika tahu vani memang sudah merasa kecewa dan sakit hati namun ia hanya ingin mendengar jawaban langsung dari istrinya.


__ADS_2