
sesampainya di kamar itu, dika menghentikan langkah kakinya tepat di samping ranjang namun ia tidak langsung menurunkan tubuh vani yang berada di dalam gendongannya.
vani yang merasa langkah dika sudah berhenti pun mulai membuka mata karena merasa bingung mengapa dika hanya diam saja.
perlahan vani mengangkat wajahnya hendak melihat apa yang terjadi namun saat vani menatapnya, dika pun menoleh membuat pandangan mereka bertemu.
keduanya masih saling bertatapan, lalu secara perlahan dika merebahkan tubuh vani hingga mendarat dengan sempurna diatas ranjang.
tanpa sadar dika meletakkan kedua tangannya diatas ranjang dengan posisi menghapit tubuh gadis itu sedangkan tangan vani masih berada di pundak dika.
pandangan dika turun menatap bibir merah muda milik sekretarisnya itu dari jarak yang sangat dekat membuatnya sulit menahan hasrat yang bergejolak di dalam tubuhnya.
dika semakin mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak di antara mereka.
vani pun membalas tatapan yang sama bahkan memeluk tubuh dika dengan lebih erat.
aroma tubuh vani yang memabukkan membuat dika hampir kehilangan kesadarannya. ia terus bergerak mendekati tubuh gadis yang sedang berbaring itu.
beruntung akhirnya vani tersadar dan langsung melepaskan tangannya dari pundak dika lalu mengalihkan pandangan dari wajah bosnya itu.
detik itu juga dika sadar dan langsung menarik tubuhnya menjauh dari vani, ia berdiri kemudian berbalik badan langsung melangkah keluar dari dalam kamar tanpa mengucapkan apapun lagi.
"huh! hampir aja"
vani menghembuskan nafas lega karena merasa keberuntungan masih berpihak padanya hari ini.
apa yang akan terjadi jika tadi dirinya sampai kehilangan kesadaran pikirnya, vani bergidik ngeri membayangkannya.
meskipun ia sangat menyukai dika namun vani tidak akan menyerahkan kehormatannya pada pria yang bukan suaminya.
vani hanya akan memberikan mahkota itu pada suaminya kelak, siapapun orangnya yang pasti hanya suaminya yang berhak mengambilnya begitu pikirnya.
*
sore pun tiba, karena hari ini weekend yuli tidak lembur bekerja. ia akan pulang lebih awal jadi menelpon vani untuk menanyakan alamat baru.
sesampainya di alamat yang sudah vani berikan, yuli pun tercengang melihat rumah yang akan mereka tinggali itu.
"hah! enggak salah ini alamatnya?"
yuli bertanya pada diri sendiri sambil menatap pagar rumah yang menjulang tinggi itu.
terlihat rumah dengan tiga lantai yang super mewah di dalamnya.
"kok gede banget sih, ini rumah apa istana?"
yuli masih berada di luar pagar karena merasa takut jika dirinya akan salah alamat. ia pun kembali menelpon vani untuk memastikannya.
"harus di pastiin sekali lagi nih" ucapnya merogoh saku.
saat telpon sudah tersambung vani pun menjawabnya.
Yuli: halo kak!
Vani: hem,
Yuli: kak, ini udah bener gak sih alamatnya? lo enggak salah ngasih alamat kan ke gue?
Vani: iya bener dong yul, masa iya aku kasi kamu alamat palsu sih.
Yuli: tapi kenapa rumahnya gede banget kaya istana gini?
Vani: udah deh, kamu masuk aja dulu nanti aku jelasin.
Yuli : oh, oke deh.
tut! yuli mematikan sambungan telponnya.
"ternyata bener alamatnya, enggak salah sih gue" gumamnya.
yuli pun memutuskan untuk masuk ke dalam dengan menaiki sepeda motornya.
saat akan turun dari atas motor karena hendak membuka pagar rumah itu. ia pun di buat kaget oleh pagar yang terbuka dengan sendirinya.
"astagfirullah, hantu!"
yuli berpikir ada hantu yang membukakannya, namun setelah itu terlihat dua orang satpam yang ternyata membukakan pagar dari dalam.
"sore mbak, silahkan masuk"
sapa salah satu satpam sambil tersenyum.
'gila! ini rumah dinas dari bosnya kak vani, kenapa ada fasilitas satpam segala ya' batin yuli heran namun ia tetap tersenyum untuk menyapa para penjaga itu.
"terima kasih pak"
yuli tersenyum sambil melajukan motornya hingga sampai di depan pintu rumah.
setelah menghentikan motor di depan rumah itu yuli pun turun dan segera masuk ke dalam.
"Assalamualaikum" salamnya pelan.
yuli melangkah dengan hati hati memasuki rumah mewah itu, karena jujur saja ia masih takut jika dirinya akan salah masuk rumah.
__ADS_1
saat yuli masuk ke ruang tamu, ia melihat dika sedang tertidur di atas sofa dalam ruangan itu.
"huh! ternyata bener"
yuli bernafas lega karena ternyata dirinya tidak salah masuk rumah.
sedangkan ranty dan rara juga sedang istirahat di dalam salah satu kamar tamu disana.
yuli terus berjalan memasuki ruangan itu dan melihat dika yang masih terlelap sehingga tidak menyadari kedatangannya.
entah mengapa saat melihatnya pandangan yuli justru tertuju pada wajah tampan pria yang sedang tertidur itu.
memang benar tidak ada seorang wanita pun yang bisa mengabaikan begitu saja wajah tampan itu saat sedang berada di depan mata.
yuli menghentikan langkahnya tepat di samping meja lalu memuji ketampanan dika dari jarak yang cukup dekat.
"wah! gila, ternyata pak dika emang ganteng banget ya. apalagi kalo di liat pas tidur kaya gini, adem banget"
"huh!! pantesan aja kak vani yang biasanya anti cowok bisa klepek klepek sama pak dika"
yuli terus menatapnya seperti sedang terkena hipnotis saja.
setelah puas memandang dan mengagumi wajah tampan dika, akhirnya yuli pun kembali tersadar hendak segera mencari keberadaan kakaknya.
"ck! kok gue malah liatin muka pak dika terus sih, bukannya nyari kakak gue yang sok imut itu ada dimana"
yuli mengalihkan pandangannya lalu kembali berjalan hendak menyusuri setiap ruangan.
sungguh ketampanan dika sangat memikat kaum hawa hingga mereka bisa kehilangan kesadaran saat melihatnya.
"ck! yang mana sih kamarnya"
"gue chat lagi deh dia" yuli mengirim pesan.
setelah saling berbalas pesan, akhirnya yuli pun menemukan kamar vani.
ceklek!
"huh, akhirnya aku nemuin kamar kamu juga"
yuli bernafas lega setelah menemukan wajah cantik kakaknya berada di dalam kamar itu.
"susah ya?" vani menatap yuli.
"lumayan! oh ya kak, ini kenapa rumahnya bisa segede gini sih?" yuli duduk di tepi ranjang.
"aku juga enggak tau yul, aku aja kaget pas baru nyampe rumahnya semewah ini"
yuli menatap sekeliling kamar itu dengan seluruh isi di dalamnya.
"ck! kamu ngomong apa sih yul. ini kan rumah dinas dari perusahaan"
"hem!! kok aku enggak percaya ya kalo ini rumah dari kantor" yuli curiga sambil berpikir.
"aku juga enggak tau sih yul, tapi pak dika bilangnya emang gitu kan"
"iya sih tapi..."
"udah deh enggak usah terlalu di pikirin, lagian ini kan cuma untuk sementara sampe kaki aku sembuh doang"
"em iya deh, tapi kita bisa nikmatin tinggal di rumah segede ini walaupun sementara kan"
"terserah kamu deh!!" vani mengalihkan pandangannya
"ya udah gue mau mandi dulu ya gerah nih"
yuli menuju ruang ganti untuk mencari lemari pakaiannya.
"iya" vani mengangguk.
"lah! gue mandinya dimana sih?"
yuli menatap di dalam kamar itu juga ada beberapa ruangan lain.
"di dalam kamar mandi dong yuli masa di ruang ganti sih"
"iya tapi kamar mandinya yang mana?"
"yang itu kayanya"
vani menunjuk asal karena malas menanggapi ucapan yuli yang selalu iseng bertanya.
*
hari sudah hampir larut, setelah mereka selesai makan malam bersama akhirnya ranty dan dika pun pamit pulang.
"vani, mbak sama rara pamit pulang dulu ya"
ranty tersenyum menatap vani dan yuli juga.
"iya, makasih banyak ya mbak udah nemenin aku hari ini"
"iya sama sama. kamu cepat sembuh ya dan jaga kesehatan"
__ADS_1
"baik mbak" vani mengangguk.
"tante cantik cepet sembuh ya biar kita bisa main lagi" ujar rara tersenyum manis.
"iya sayang, makasih ya rara cantik udah mau nemenin tante hari ini. nanti kita main lagi kalo tante udah sembuh ya"
vani juga tersenyum menatap keponakan bosnya itu.
"oke tante" rara mengacungkan jempol.
"ya sudah kalo gitu, kami pulang dulu ya vani. ingat! kamu jangan memaksa kaki kamu buat jalan dulu sebelum ada anjuran dari dokter. saya akan antar kamu buat kontrol ke dokter lagi besok" ujar dika memberi perhatian.
"baik pak, terima kasih" vani mengangguk.
"yuli, kami pamit ya. tolong kamu jagain vani"
"baik pak, saya akan selalu jagain kak vani kok"
ujar yuli tersenyum menatap dika dan ranty.
"dah! tante cantik" rara melambaikan tangannya.
"dah! sayang" vani dan yuli juga membalasnya.
setelah dika dan ranty pulang, yuli kembali menggoda vani.
"wah! perhatian banget sih calon abang ipar" yuli melirik kakaknya.
"calon abang ipar, siapa?" tanya vani heran
"iya calon abang ipar aku dong yang barusan itu, dia enggak bolehin kamu jalan terus mau nemenin kontrol ke dokter segala uhhh! sweet banget ya"
"iya, soalnya kamu enggak pernah punya waktu buat nemenin aku, apalagi kontrol ke dokter"
vani menyindir adiknya yang selalu sibuk itu.
"hem iya deh maaf" yuli manyun.
"hehe enggak papa kok yul aku cuma bercanda"
"oh ya kak, sejak kapan kamu udah deket sama kakak ipar bos kamu itu, manggilnya udah pake mbak segala terus keliatannya kamu juga akrab banget sama keponakannya yang cantik itu" tanya yuli penasaran.
"iya kan kemaren itu aku udah pernah di ajak pak dika ke rumahnya terus ketemu sama ibu dan kakak iparnya juga"
"oh ya! sejak kapan kamu jadian sama pak dika, pake udah di kenalin ke keluarga segala lagi"
"ck! ishh bukan tau, pak dika ngajak aku ke rumahnya itu karena dia enggak tega liat aku sendirian di rumah makanya deh dia ngajak aku pulang ke rumahnya biar bisa istirahat"
"oh gitu, berarti kamu udah liat dong sebesar apa rumah keluarga pak dika itu?"
yuli membayangkannya karena jika untuk orang lain saja mereka memberikan rumah sebesar ini. apalagi rumah keluarga itu sendiri pastilah lebih besar pikirnya.
"iya udah sih. rumahnya emang lebih gede dari rumah ini malah rumah pak dika itu ada lift di dalamnya" ucap vani.
"oh ya? woh! pasti mereka beneran orang kaya"
"yahh, kenapa pake di tanya segala sih yul, ya udah jelas emang mereka orang kaya. kamu enggak liat kantor tempat aku kerja itu setinggi apa bangunannya?"
"iya juga sih kak, aku jadi merinding deh ngebayanginnya" yuli menggosok lengannya.
"ya enggak usah di bayangin lah yul buat apa juga kita ngebayangin harta kekayaan orang lain sih"
"hehe iya sih tapi...."
"tapi apa?"
"aku khawatir sama kamu, aku takut kamu terlanjur cinta sama orang kaya itu"
"ck! udah deh enggak usah bahas soal itu lagi, aku kan udah bilang sama kamu kalo aku juga sadar diri. kita sama mereka itu enggak mungkin bisa menyatu yul pokoknya beda segalanya deh"
"betul itu kak"
"ayo, kita istirahat aja aku capek"
"iya udah ayok kita tidur"
"iya tapi kamu gendong aku ya" vani nyengir.
"hah! gendong kamu?"
"plisss"
"ya aku mana kuat kak vani..."
"terus aku gimana mau tidurnya, kan aku enggak bisa jalan" vani manyun.
"ya kamu sih, keenakan di gendong mulu sama pak dika. kaki kamu kan cuma sebelah doang yang sakit"
"hehe iya kan aku juga pengen di gendong sama kamu"
"mana ada adek yang gendong kakaknya dimana mana juga kakak yang gendong adeknya tau"
"hehe biarin" vani nyengir polos.
__ADS_1