Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 189


__ADS_3

raffa masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya karena sejak tadi ia tidak melihat papa dan mamanya itu muncul di meja makan untuk menemaninya sarapan bersama.


"papa mama?"


"iya ada apa sayang ?"


dika berusaha bangkit dari tidurnya lalu duduk bersandar di atas ranjang saat melihat putranya datang.


"papa kenapa enggak pergi kerja hari ini?" tanya raffa yang tidak tahu jika papanya sedang sakit.


"papa lagi sakit sayang jadi papa harus libur kerja dulu deh" vani datang setelah selesai menelpon dokter.


"papa lagi sakit apa?" rafa mendekat kepada papanya lalu duduk di atas ranjang bersama dengan dika.


"kepala papa pusing nih sayang" dika memegangi kepalanya.


"biar afa cek dulu ya pa"


rafa meletakkan tangan mungilnya pada dahi dika untuk mengecek suhu tubuh papanya.


"enggak panas! papa juga enggak demam kok ma" ujar raffa saat merasakan suhu tubuh papanya yang normal.


"papa kan emang enggak lagi demam sayang" vani duduk di samping putranya itu.


"oh, papa pusing?" tanya raffa dengan wajah polosnya.


"iya sayang" dika bersikap manja dengan wajah memelas di hadapan putranya itu.


cup!! raffa mengecup kening dika untuk mengobati rasa pusing di kepala papanya.


"afa udah obatin, udah enggak sakit kan pa?" ujar raffa setelah mengecup kening papanya.


dika dan vani pun tersenyum melihat apa yang baru saja dilakukan oleh putra kesayangan mereka itu.


"iya sayang, papa udah sehat sekarang karena afa yang udah obatin papa. makasih ya sayang" emuach!


dika memeluk tubuh mungil putranya dan juga mengecup kening raffa.


"hehe iya pa"


"mama enggak di ajak nih pelukannya?"


vani memanyunkan bibir melihat dua lelaki yang sedang berpelukan dengan bahagia dihadapannya namun tidak mengajak dirinya untuk berpelukan juga


"sini ma, afa sama papa juga sayang banget mama"


raffa dan dika merentangkan tangan agar vani ikut masuk kedalam pelukan mereka.


"mama juga sayang banget sama kalian sayang. emuach! emuach....!!!"


vani pun memeluk kedua lelaki yang sangat ia sayangi itu lalu mengecup pipi keduanya.


tok! tok! tok!


"ehem...!"


saat keluarga kecil yang bahagia itu masih berpelukan, tiba tiba saja dari arah pintu hana muncul bersama dengan dokter radit.


dokter radit dan hana berdiri tepat di ambang pintu kamar membuat vani dan dika langsung melepaskan pelukan di antara mereka bertiga.


"hai dika! lo lagi sakit apa nih? gue liat kayanya lo baik baik aja deh muka lo juga keliatan bahagia banget gitu"


dokter radit berjalan masuk lalu meletakkan tas berisi obat obatan yang selalu ia bawa di tepi ranjang.


"sayang ikut bibi keluar yuk"


hana langsung mengajak raffa keluar dari dalam kamar papanya untuk bermain.


"iya bik ayo!" raffa ikut keluar dari dalam kamar.


dokter radit membuka tas dinasnya hendak mengambil tetoskop untuk mengecek kondisi jantung dika.


"ya, kalo gue tau lagi sakit apa pasti gue engga butuh dokter kaya lo buat meriksa kondisi gue radit"


dika menyahut dengan ketus sedangkan dokter radit hanya tersenyum membalasnya.


"mas, kamu jangan ngomong gitu dong"


vani merasa tidak enak kepada dokter radit atas ucapan dika lalu menegur suaminya itu dengan cara halus karena merasa ucapan dika terdengar tidak sopan.

__ADS_1


"haha! enggak papa kok vani santai aja ya, kita udah sering kok bercanda kaya gitu dari dulu"


dokter radit tertawa kecil sambil mengeluarkan alat alat kesehatan untuk memeriksa detak jantung dan tekanan darah pada pasien yang selalu ia bawa di dalam tasnya.


"iya sayang, aku cuma bercanda kok" dika memegang tangan istrinya.


dika berbaring agar dokter radit dapat dengan mudah memeriksa keadaannya.


dokter radit mendekat lalu duduk di tepi ranjang, ia mulai memeriksa bagian dada dan perut dika juga di lengan untuk mengecek tekanan darahnya.


"detak jantung lo sedikit lebih cepat dari ukuran normal gue rasa, mungkin karena ada vani disini tapi okelah itu enggak masalah"


dokter radit tersenyum membuat vani membelalakkan matanya bingung dengan jawaban dokter radit yang juga terkesan bercanda.


"kalo itu lo enggak perlu jelasin lagi gue udah tau kok, emang jantung gue ini selalu berdebar debar pake kecepatan ekstra kalo lagi berduaan bareng istri gue"


dika membuat vani merasa semakin malu namun juga sedikit kesal karena mereka justru bercanda dengan keadaan dika yang membuat dirinya khawatir.


"hhh! terserah, tapi kan sekarang lo enggak lagi berduaan sama vani doang ada gue kali disini" dokter radit kembali tertawa karena dika selalu membalas candaannya.


"ya berdua lah kan lo cuma gue anggap makhluk halus tak kasat mata doang disini"


ucapan dika semakin menohok membuat vani khawatir jika dokter radit akan sakit hati atas ucapan suaminya itu.


padahal kedekatan di antara dika dan dokter radit dulu sama halnya seperti kedekatan dika dengan ray saat ini hanya saja karena sudah jarang bertemu, di tambah juga kuliah di negara yang berbeda membuat mereka jarang berkomunikasi akhir akhir ini sehingga keduanya tidak terlihat seperti dua orang sahabat.


kini sejak pernikahan dokter radit dengan arin membuat hubungan mereka kembali akrab. dika dan radit sering bertemu saat acara keluarga maupun hal lain.


"tekanan darah lo cukup rendah, jadi gue saranin lo harus banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi"


"hhh! lo pikir selama ini makanan yang gue makan enggak bergizi gitu. asal lo tau aja ya semua makanan yang masuk ke dalam tubuh gue itu sangat bergizi malah lebih banyak gizinya daripada makanan yang lo makan" dika sedikit kesal ditambah dengan raut wajah sinis.


"oh gitu okelah, oh iya lo juga harus banyak istirahat jadi jangan lembur terus sampe subuh"


"maksud lo apa? lagian gue lembur sampe subuh juga bareng istri gue, enggak ada hubungannya sama lo jadi itu bukan urusan lo deh kayanya"


sepertinya dika memiliki mood yang sangat buruk hari ini namun dokter radit terus menggodanya.


vani hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya itu.


"haha! oke oke santai dik, itu memang bukan urusan gue cuma gue bosen aja kalo harus ngerawat pasien nyebelin kaya lo terus terusan" dokter radit tertawa.


"hhh! oke oke, lebih baik lo banyak istirahat dan jangan terlalu diforsir dulu tenaganya ya"


dokter radit mengemas kembali peralatan yang di bawanya.


"hem! iya" dika cuek tak mau melihat, entah mengapa ia ingin selalu marah belakangan ini.


"ya udah nih gue juga mau pergi"


dokter radit selesai mengemas peralatan yang ia bawa ke dalam tasnya.


"ya udah cepetan"


"vani, ini vitamin buat dika semoga keadaannya cepat membaik ya"


dokter radit memberikan beberapa obat obatan serta vitamin kepada vani untuk dika.


"baik dokter terima kasih"


"sama sama"


"em, dokter maafin mas dika ya kalo ucapannya tadi kasar ke dokter"


vani masih merasa tidak enak dan meminta maaf atas ucapan suaminya.


"iya enggak papa kok vani saya ngerti kayanya mood dika lagi enggak baik sekarang. dia lagi sakit jadi kamu juga harus memakluminya ya"


"baik dokter. sekali lagi terima kasih"


"sama sama kalo gitu saya permisi dulu ya" dokter radit melangkah keluar dari dalam kamar dika.


"iya dok, mari saya antar keluar" vani pun ikut mengantar dokter radit hingga depan pintu keluar rumahnya.


setelah dokter radit pulang vani kembali masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di tepi ranjang menatap suaminya yang sedang berbaring memejamkan mata.


"mas, kamu baik baik aja kan?" vani menggenggam tangan suaminya.


"hem"

__ADS_1


"aku keluar sebentar ya"


"enggak" dika melarangnya pergi.


"tapi mas aku cuma mau....."


"terserah kamu deh!"


dika menarik tangannya dari dalam genggaman vani lalu memiringkan tubuh membelakangi istrinya dengan tetap memejamkan mata.


vani yang membuat mood suaminya semakin berantakan hanya duduk terdiam menunggu hingga dika tertidur pulas.


siang hari dika terbangun dari tidurnya dan melihat vani sedang duduk disampingnya sambil memainkan ponsel.


dika tersenyum karena melihat istrinya masih berada di sana untuk menemani dirinya. ternyata vani benar benar tidak pergi dari sisinya selama ia tertidur.


"sayang?" panggil dika.


"mas, kamu udah bangun?" vani mengusap lembut rambut dika sambil tersenyum.


"em, aku laper" akhirnya dika merasa lapar.


"kamu laper, ya udah aku ambilin makanan dulu ya mas"


"em" dika pun mengangguk.


vani beranjak lalu berjalan keluar dari dalam kamarnya, saat vani masih mengambil makanan di dapur dika melihat ponsel istrinya itu bergetar di atas ranjang.


drt! drt! drt!


awalnya dika hanya mengabaikan saja namun telpon itu terus menerus berdering.


"ck! siapa sih?"


dika merasa penasaran lalu meraih ponsel di sampingnya itu dan melihat nama yang tertera di dalam layar.


"mas diki? siapa ya, gue kayanya pernah denger deh namanya tapi dimana ya"


dika berpikir cukup keras untuk mengingat nama yang pernah ia dengar sebelumnya namun tetap tidak bisa mengingatnya.


saat dika masih berusaha untuk mengingat nama pria itu, vani pun kembali masuk ke dalam kamar dengan nampan berisi makanan ditangannya.


dika yang melihat istrinya datang langsung meletakkan ponsel itu kembali di sampingnya.


"mas, ayo kamu makan dulu ya"


vani tersenyum lalu meletakkan nampan di atas nakas yang berada di samping ranjang mereka.


dika hanya mengangguk, vani duduk di samping suaminya yang juga sudah duduk bersandar di atas ranjang.


"mas aku suapin ya" tawar vani


"em" dika hanya mengangguk.


dengan sabar dan penuh perhatian vani menyuapi suaminya hingga semua makanan yang ia bawa habis tidak bersisa karena sepertinya dika sangat lapar.


"selesai" vani membersihkan bekas minum di bibir suaminya dengan tisu.


"makasih ya sayang" dika tersenyum namun pikirannya masih pada nama yang terlihat di ponsel istrinya.


"sama sama sayang" vani tersenyum manis.


"nih obat sama vitaminnya juga di minum ya mas" vani memberikan obat kepada suaminya.


"iya" dika mengangguk lalu meminum obatnya dan kembali bersandar di atas ranjang.


setelah mengembalikan nampan ke dapur vani kembali ke dalam kamar dan mengambil ponselnya di atas ranjang.


vani duduk di tepi ranjang sambil menemani dika yang juga sedang memegang ponsel di tangannya.


dika duduk bersandar sambil diam diam memperhatikan istrinya yang sejak tadi tersenyum menatap ponselnya.


"sayang, kamu kenapa sih kayanya dari tadi senyum senyum terus" dika tak bisa menahan rasa penasarannya.


"em, aku enggak papa kok mas cuma lagi baca komik lucu aja nih di handphone"


vani menatap suaminya lalu kembali mengalihkan pandangannya.


"oh gitu" dika hanya mengangguk namun tidak percaya dengan ucapan istrinya.

__ADS_1


dika merasa penasaran karena vani tidak membahas tentang seseorang yang sudah menelponnya tadi namun dika memilih untuk diam dan mengabaikannya, ia ingin tetap mempercayai istrinya dan berpikir mungkin hanya nama seorang kurir pengantar barang saja.


__ADS_2