Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 64


__ADS_3

polisi mengikuti langkah ray untuk masuk ke dalam mobil masing masing lalu mobil polisi mengikuti mobil ray yang berjalan menuju kediaman wijaya.


mobil polisi akan mengikuti laju mobil ray dari belakang untuk mengiringinya sampai di lokasi kejadian itu.


wiu wiu wiu! sirinai mobil polisi terdengar di sepanjang jalan hingga berhenti tepat di halaman rumah keluarga wijaya mencuri perhatian banyak orang di sana karena hal itu. banyak pula yang penasaran kenapa mobil polisi masuk ke dalam kediaman keluarga wijaya.


mendengar suara mobil polisi berhenti tepat di depan rumahnya membuat vani berdiri dengan gemetar. ia takut jika sesuatu yang di khawatirkannya benar benar terjadi.


"maaf nyonya tuan ray datang bersama dengan beberapa orang polisi"


asisten yang sudah membuka pintu dan memberi tahu kepada vani.


"em" vani hanya mengangguk pelan mengiyakannya ucapan dari asisten rumahnya itu.


ray melangkah masuk kedalam ruang tamu dimana vani dan kedua adiknya itu sudah berdiri menunggu.


"vani...."


ucapan ray terhenti saat melihat wajah vani yang sudah sembab karena menangis.


"vani kamu kenapa?"


ray bertanya sebagai seorang sahabat dari suaminya itu.


"aku enggak papa. kenapa mas ray datang sama polisi?" tanya vani.


"em, ini tentang dika,,,"


ray bingung harus bagaimana mengatakannya.


"ada apa mas ray, apa yang terjadi sama mas dika?"


vani memegang tangan ray dengan tidak sabar menunggu jawaban.


perasaannya mengatakan jika kedatangan ray bersama dengan polisi ke dalam rumahnya itu ada hubungannya dengan perasaannya yang sudah tidak enak sejak sore tadi.


"pak dika, dika mengalami kecelakaan vani. mobilnya menabrak pembatas jembatan dan masuk ke dalam sungai yang berarus deras sekarang polisi disana udah mengevakuasi mobil dan jasad korban"


ucapan ray itu membuat dunia vani seketika runtuh.


"apa!! jasad korban?"


vani tertegun dengan air matanya yang mengalir deras.


"itu menurut info yang sudah saya dapat"


ray melihat vani mematung dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"apa maksud kamu mas ray, suamiku enggak mungkin meninggal, enggak mungkin hiks! hiks! hiks!"


"mas dika!"


vani menangis histeris hingga tubuhnya terasa lemah dan terduduk lemas dilantai.


"vani kamu tenang ya"


mata ray semakin berkaca kaca menatap vani yang begitu rapuh.


"kak vani kamu sabar ya"


yuli dan hana langsung memeluk kakaknya yang sedang menangis itu.


"itu enggak benar kan mas, itu pasti salah mas dika masih hidup dia enggak mungkin ninggalin aku. iya kan?"


vani menatap ray yang sedang berlutut di hadapannya karena vani sudah terduduk di lantai.


ray hanya terdiam tidak mampu menjawabnya. bagaimana pun ia mengerti betapa hancurnya perasaan vani saat ini.


"enggak, enggak mungkin,,,, mas dika!"


"sabar kak"


"mas dika kamu udah janji pasti pulang kan"


"mas ray bohong, dia bohong kan yul suamiku enggak mungkin ninggalin aku" hiks! vani masih terus terisak.


"pak ray apa info itu memang udah benar?"


yuli menatap ray sambil masih memeluk kakaknya.

__ADS_1


"em, saya akan memastikannya sekali lagi" ray hanya mengangguk


"mas dika,,,, mas dika,,,,"


vani terus memanggil nama suaminya sebelum ia benar benar tidak sadarkan diri.


"kak, kak vani bangun"


hana dan yuli begitu juga dengan ray panik melihat vani yang pingsan.


ray langsung mengangkat tubuh vani dan membawanya menuju kamar tamu terdekat lalu ia merebahkan tubuh vani di atas ranjang kamar itu.


"kak vani"


yuli dan hana mengikuti dan langsung duduk di tepi ranjang untuk menemani vani.


"kalian tolong jaga vani dulu ya saya harus pergi untuk melihat langsung ke tempat kejadian"


ray menatap kedua adik vani secara bergantian.


"baik pak, kami akan menjaga kak vani" yuli mengangguk.


ray melangkah keluar dari dalam rumah itu lalu kembali melajukan mobilnya untuk segera menuju ke tempat kejadian bersama dengan polisi dan beberapa orang orang kepercayaannya juga ikut.


sesampainya di lokasi kejadian ray pun melihat mobil yang sudah rusak parah dan ia semakin meyakini tentang kabar yang sudah di dengarnya.


melihat kerangka mobil ray percaya jika mobil itu memang milik dika karena ray hapal betul berapa plat mobil yang di pakai oleh dika.


sambil menatap mobil itu di hadapannya ray pun kembali mengingat ucapan sahabatnya saat di telpon pagi tadi.


'ray kalo gue gak bisa pulang malam ini tolong lo pastiin keadaan vani baik baik aja di sini ya sampe gue balik'


ucapan dika itu terus saja terngiang di dalam ingatan ray. apa maksudnya dika meminta ray untuk menjaga vani jika dirinya tidak bisa pulang malam ini pikirnya.


'dika gue enggak percaya lo pergi secepat ini?' batin ray tak terasa menitikkan air matanya.


ray langsung menghapus air matanya saat menyadari polisi datang mendekatinya.


"maaf pak, sebelumnya kami telah menemukan ini terselip di bagian jok mobil yang tenggelam"


polisi setempat menyerahkan sebuah kotak beserta dompet dan ponsel yang sudah rusak, barang barang yang di ketahui ray itu adalah milik bosnya.


"terima kasih pak"


ray menatap benda milik bosnya itu dengan tidak sadar air matanya kembali menetes.


"kami turut berduka cita pak, semoga keluarga yang di tinggalkan di beri ketabahan"


polisi itu ikut terharu melihat ray yang menangis di hadapannya.


"terima kasih pak" ray kembali menghapus air matanya.


"pak ray, mari kita menuju ke rumah sakit untuk melihat jasad korban"


polisi yang datang bersama ray mengajaknya pergi.


"baik pak ayo"


ray dan pihak polisi yang bersamanya itu pun segera bergegas menuju ke rumah sakit terdekat untuk melihat jasad korban kecelakaan yang sebelumnya sudah di bawa kesana dan kemungkinan juga akan langsung membawa jasad korban pulang ke kota mereka.


sesampainya di rumah sakit para perawat pria langsung membawa ray dan para polisi itu menuju ruang mayat untuk menunjukkan jasad korban yang baru saja datang.


"silahkan pak. ini dua orang jasad dari kecelakaan sore tadi" ucap perawat itu kepada ray.


"baik terima kasih" ray mengangguk.


dengan tangan yang gemetar ray pun mencoba untuk membuka kain penutup wajah jasad korban kecelakaan.


kain penutup yang pertama dibuka secara perlahan membuat detak jantung ray semakin tidak beraturan karena merasa tidak akan sanggup untuk melihatnya.


setelah kain penutup di buka ternyata jasad itu bukanlah dika melainkan jasad dari supir pribadi dika.


"huhh!!"


ray membuang nafas beratnya karena berpikir jika dirinya akan melihat jasad sahabatnya itu membuat dadanya terasa sangat sesak sejak tadi.


lanjut ray pun akan membuka kain penutup kedua dengan perasaan yang semakin tidak menentu dari sebelumnya. ia benar benar merasa takut untuk melihatnya.


bukannya takut karena akan melihat mayat namun ray benar benar takut untuk melihat dengan pasti jika bos sekaligus sahabatnya itu benar benar sudah pergi untuk selamanya.

__ADS_1


setelah ray membuka penutup kain yang kedua ia justru di buat bingung karena jasad kedua itu juga bukan jasad dari bosnya dika.


ray pun kembali menutupkan kain penutup jasad itu.


"maaf pak, tapi ini juga bukan jasad bos saya"


ray bertanya bingung pada polisi dan perawat disana.


"itu adalah jasad supir truk yang ugal ugalan di duga supir sedang mengantuk akibat perjalanan jauh dan tidak sempat untuk beristirahat pak"


salah satu polisi di sana menjelaskan.


"lalu dimana jasad korban yang satunya lagi pak?" tanya ray semakin bingung.


"tim kami masih terus mencari keberadaan jasad yang hilang pak atau kemungkinan jasad sudah hanyut terbawa arus sungai yang deras, mungkin juga di makan hewan air buas yang berada di dalam sungai"


ucapan polisi itu membuat ray terduduk lemas.


jika jasad dika tidak bisa di temukan maka keluarganya pasti akan semakin sedih karena mereka tidak dapat melihat jasad dika meskipun untuk yang terakhir kalinya begitu pikirnya.


"baik pak terima kasih"


ray pun berdiri hendak melakukan sesuatu namun ia juga masih bingung harus melakukan apa.


ray melangkah keluar dari dalam ruangan itu lalu menemui para ajudan yang ikut bersamanya.


"dengar!"


setelah tiba di luar ruangan ray menatap para ajudan disana lalu mereka berkumpul mendekati ray.


"iya pak" ajudan mendekat dan bersiap.


"kamu urus segala sesuatu yang bersangkutan dengan kita dalam kecelakaan ini"


ray menatap salah satu anak buahnya.


"baik pak"


"yang lain ikut saya"


kemudian ray mengajak anak buah yang lainnya untuk ikut bersamanya.


"baik pak"


mereka serentak mengangguk lalu mengikuti langkah ray.


ray langsung kembali ke lokasi kejadian tepatnya di sungai tempat dika mengalami kecelakaan itu.


"kalian cari bos dika ke seluruh penjuru kota ini termasuk ke setiap kota yang dilewati oleh aliran sungai ini. kalau perlu cari di seluruh aliran sungai ini sampai dimana pun. jangan lupa tanya kepada para penduduk dan warga di dekat sungai juga. lakukan pencarian dengan semaksimal mungkin kerahkan semua anak buah kalian untuk mencari keberadaan pak dika dan pastikan kita berhasil untuk menemukan pak dika dalam keadaan apapun meskipun kita hanya bisa menemukan jasadnya saja. kalian mengerti??" dengan tegas ray menyuruh anak buahnya.


"baik pak kami akan melakukannya dengan maksimal" jawab anak buah ray


"bagus"


mereka mulai berpencar untuk mencari jasad dika yang hilang. menghubungi rekan yang lainnya agar membantu mereka mencari di tempat tempat lain juga.


waktu terus berputar hingga larut malam. langit pun gelap gulita bahkan tidak ada cahaya bintang yang menerangi.


"ini sudah larut malam ayo istirahat, kita lanjutkan pencarian besok" ucap polisi dan ketua tim SAR di kota itu.


"baik pak"


mereka serentak berhenti mencari dan akan melanjutkan pencarian besok.


"maaf pak ini sudah sangat larut kami akan melanjutkan pencarian besok" ucap polisi setempat kepada ray.


"baik lah pak, kalau begitu terima kasih" ray mengangguk.


"baik kami permisi" mereka pun kembali pulang.


ray bingung harus mengatakan apa kepada vani sesampainya di rumah keluarga wijaya nanti.


"dengar! kami akan pulang sebentar untuk memberi kabar kepada keluarga pak dika. kalian bergantian dengan teman yang lain jangan hentikan pencarian sedikit pun. kita harus secepatnya menemukan pak dika dalam keadaan apapun mengerti?" ucap ray kepada anak buahnya.


"baik pak" jawab mereka serentak.


ray pun langsung melajukan mobil kembali menuju rumah dika untuk memberi tahu vani tentang informasi bahwa jasad dika belum bisa ditemukan.


"dika sebenarnya lo ada di mana sih?" gumam ray bingung dengan keadaannya namun ia harus tetap konsentrasi saat menyetir.

__ADS_1


__ADS_2