
menjelang larut malam terlihat yuli masih berada di jalan sedang menaiki motornya hendak pulang seorang diri.
sialnya tiba tiba saja motor itu malah mogok hingga yuli harus turun dan mendorong motornya untuk mencari bengkel terdekat namun sayang bukannya bengkel yang ditemukan justru sekarang ia berada di jalanan yang sepi.
"hadeuhh!!! capek banget sih gue dari tadi dorong nih motor tapi enggak nemu ada bengkel di sini. mana ini jalannya sepi banget lagi"
yuli merinding menatap sekelilingnya yang sepi dan gelap ia takut jika akan ada hantu yang datang.
tidak lama bukan hantu yang datang menghampiri dirinya namun justru ada dua orang pria tidak dikenal mendekat dan mengganggu yuli yang sedang mendorong motornya.
"hai cantik lagi ngapain sendirian, kenapa motornya nih?" tanya salah satu dari pria itu.
"lagi piknik bang, ya ini lagi mogok motornya emang enggak lihat apa saya capek dorongnya"
yuli tidak terlalu menanggapi ucapan pria itu dan terus berjalan mendorong motornya secepat mungkin meskipun sebenarnya ia tidak bisa berjalan cepat karena motornya yang berat.
kedua pria itu menaiki motornya dengan berjalan pelan mengikuti yuli dari samping.
"kalau gitu abang bantu ya" tawar salah satu pria itu turun dari atas motornya.
"enggak usah bang makasih, saya bisa sendiri kok" yuli terus mendorong motornya.
"eh eh, tunggu dulu dong. kok buru buru sih neng" pria itu tersenyum sambil memegang tangan yuli yang sedang mendorong motornya.
"ishh! apaan sih. jangan pegang pegang saya dong" yuli kesal dan menepis tangan pria itu, sudah capek masih di ganggu pula begitu pikirnya.
"eh sombong banget ya si neng cantik, sini biar abang bantuin"
pria yang satunya pun ikut turun dari atas motor hendak mengganggu juga karena merasa kesal terus di ganggu oleh kedua pria itu yuli pun menghentikan langkahnya yang sedang mendorong motor lalu ia menurunkan standar motornya dan berbalik badan dengan emosi.
"ishh! jangan ganggu saya dong" yuli berkacak pinggang.
"jangan galak gitu dong cantik" pria itu hendak menyentuh wajah yuli.
"ck!" yuli menepis tangan pria itu.
"ayo kita seneng seneng cantik" kedua pria itu menarik tangan yuli dan ingin membawanya ke arah semak di balik pepohonan disana.
"lepasin!!!"
"ayo ikut kami"
"ih! bugh...! bugh...!"
yuli menendang bagian sensitif kedua pria itu hingga membuat mereka kesakitan dan melepaskan genggaman tangan mereka dari lengan yuli.
dengan cepat yuli pun berlari menuju tempat yang aman hendak menjauh dari kedua pria itu namun tempat sepi itu terasa panjang jika di jalani.
"heh! jangan kabur lo, ayo kejar"
kedua pria itu langsung mengejar yuli membuat mereka harus berlari saling mengejar di sepanjang jalan.
kebetulan saja dari arah yang berbeda mobil ray sedang melintasi jalanan sepi itu. ray melihat ada seorang wanita yang sedang berlari di jalanan dari balik kaca mobilnya.
"eh siapa tuh cewek, aneh banget tengah malam gini lari lari di jalanan. kaya enggak ada pagi aja buat olahraga" ujar ray mengomentari apa yang ia lihat.
"eh tapi bentar deh, itu cewek kaya enggak asing mukanya"
ray kembali berpikir dan terus memperhatikan wajah wanita yang berlari semakin mendekati mobilnya itu.
"ah! benerkan itu yuli si cewek aneh, adek sepupunya vani istrinya si dika sahabat gue sekaligus bos gue juga yang sama anehnya" ujar ray menyebut semua nama orang orang yang berhubungan dengannya dan yuli.
tidak lama ray juga melihat ada dua orang pria asing sedang mengejar yuli dari arah belakang.
__ADS_1
"siapa tuh yang ngejar yuli dari belakang, dekoleptor?? oh....." ray baru tersadar jika dirinya harus segera menolong yuli dari kejaran pria asing itu pikirnya.
"tolong!" yuli terus berlari sekuat tenaga.
ray pun membuka sebelah pintu mobil saat yuli sudah berlari semakin mendekat kearah mobilnya itu.
merasa panik dan lelah yuli pun langsung masuk kedalam mobil itu tanpa berpikir panjang karena merasa itu adalah sebuah pertolongan untuknya.
brak!! pintu mobil tertutup.
setelah yuli masuk ray pun langsung melajukan mobilnya dengan cepat menjauh dari tempat itu.
"huh!!! untung aja, capek banget gue lari lari tengah malam" omel yuli bersandar dengan wajah penuh keringat.
ray menyodorkan botol air mineral di sampingnya lalu dengan cepat yuli langsung mengambil botol air mineral itu dan meminumnya tanpa berkata sepatah katapun.
"glek...glek...glek..!!" yuli meminum air di dalam botol itu sampai habis separuhnya.
"ahh seger! makasih ya udah nolongin aku.." yuli menoleh ke samping dan melihat ternyata seseorang yang sudah menolongnya adalah ray.
"pak ray! jadi bapak yang udah nolong saya?"
"bukan, mungkin orang lain yang idah nolong kamu" jawab ray ketus sambil terus fokus menyetir mobil menghadap ke arah depan.
"hehe makasih ya pak ray. oh iya itu motor saya, yah!! pasti motor saya bakal di ambil sama dua begal itu"
yuli menatap keluar dari balik kaca saat mobil ray melewati motornya yang sedang mogok di pinggir jalan. ia merasa sangat sedih mengingat motor kesayangannya itu.
"ngapain sih kamu masih mikirin motor butut kaya gitu, udah butut sering mogok lagi" ucap ray kepada yuli.
"eh, bapak jangan sembarangan ya ngatain motor saya itu butut. jelek jelek begitu banyak kenangan indahnya tau, itukan motor kesayangan saya yang saya dapat dari hasil kerja keras saya sendiri dulu" omel yuli protes tidak terima jika ray menghina motor kesayangannya itu.
"jangan terlalu sering mengingat kenangan yang lalu yuli karena itu enggak baik dan hanya akan buat kamu enggak bisa fokus menatap masa depan"
"hah!! maksud bapak apa? enggak nyambung banget deh"
"iya karena sekarang kamu udah bisa pergi kemana pun dengan menggunakan mobil tapi kenapa kamu masih aja milih buat naik motor butut. kalo mogok kaya tadi pasti bakal bahayain diri kamu sendiri kan"
"hah! mau naik mobil siapa pak, saya kan enggak punya mobil?"
"mobil dika kan banyak di dalam garasi, kamu tinggal pilih dan bawa yang mana pun kamu suka dia enggak bakal ngelarang kok"
"iya tapi itukan bukan mobil saya pak, lagian saya enggak bisa bawa mobil sendiri"
"iya kamu belajar nyetir dong. kamu harus belajar biar bisa pergi kemana pun tanpa merepotkan orang lain lagi" ray sedikit menoleh lalu kembali fokus.
"em, nanti deh pak saya tanya bang dika dulu boleh atau enggak"
"dika pasti bakal izinin"
"yakin banget"
"yakin dong"
"tapi saya masih berharap motor saya balik lagi" yuli murung dengan wajah sedih.
"kamu tenang aja, saya udah bereskan semua masalah motor kamu dan besok motor itu bakal ada dalam garasi rumah kamu" ujar ray membuat yuli kembali tersenyum.
"wah!! serius pak?"
"hem"
"uh! makasi banyak ya pak ray yang ganteng dan baik hati jadi makin jatuh cinta deh" sangking bahagianya yuli sampai keceplosan.
__ADS_1
"em!" yuli menutup mulut sambil membelalakkan matanya karena kaget sendiri dengan ucapannya.
"apa?" tanya ray yang pura pura tidak mendengarnya.
'upss, mampus gue pake keceplosan lagi' batin yuli yang sedang menutup mulutnya dengan telapak tangan itu.
"hem, enggak papa pak itu saya sangkin senengnya sampe enggak tau ngucapin apa aja tadi. hehe" yuli nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan canggung.
"em, baiklah" ray mengangguk anggukan kepalanya hanya mengabaikan ucapan aneh dari yuli.
"oh iya bapak dari mana mau kemana ya. kok jam segini masih berkeliaran di jalanan?" tanya yuli curiga.
"em, saya dari kantor mau pulang" jawab ray apa adanya.
"masa sih sampe selarut ini. perasaan bang dika selalu pulang tepat waktu deh" yuli meletakkan tangannya di dagu sambil berpikir.
"iya, abang ipar kamu yang bucin itu selalu pulang tepat waktu makanya tadi dia juga pulang sebelum jam kantor buat saya harus lembur ngerjain semuanya sendirian" ray kesal mengingat bosnya itu hingga membuat dirinya harus pulang sampai larut malam seperti ini.
"haha yang sabar ya pak ray, namanya juga bos emang suka begitu. makanya bapak dong yang jadi bosnya"
"hhhh! iya saya juga mau jadi bosnya, tapi kenyataan tidak seindah ekspektasi"
"haha iya juga sih pak"
"oh, iya kamu sendiri dari mana, tengah malam gini baru pulang?" tanya ray kepada yuli.
"em, itu.... tadi pas mau pulang kerja saya baring di dalam ruangan kak vani sebentar pak tapi malah saya ketiduran disana sampe malam"
belakangan ini yuli memang selalu pergi dan pulang butik sendirian karena setelah vani melahirkan yuli meminta hana untuk menemani vani agar tidak merasa kesepian saat menjaga raffa di rumah.
"saya kesel sama karyawan di butik kenapa coba enggak ada yang bangunin saya pas jam pulang kerja" omel yuli memarahi karyawannya dari kejauhan.
"emang salah siapa, kamu sendiri yang tidur sore hari kan. lagian enggak bakal ada yang berani bangunin kamu kalo lagi tidur. kamu kan kaya singa" haha tawa ray.
"hehe iya salah saya sendiri sih" yuli mengusap tengkuknya sambil nyengir kuda.
"jangan terlalu banyak menyalahkan orang lain yuli enggak baik tau"
"ih, iya deh iya maaf pak ray"
"ngapain minta maaf sama saya"
"tau ah" mereka akhirnya terdiam.
sesampainya di depan rumah, yuli pun langsung turun dari dalam mobil ray.
"sekali lagi makasih banyak ya pak ray udah nolongin saya terus ngantar saya pulang juga hari ini" yuli menatap ray dari luar pintu mobil.
"iya sama sama. kalo gitu saya pulang dulu ya"
"em" yuli melambaikan tangan sambil tersenyum.
"bye" ray pun membalasnya dengan melambaikan tangan juga pada yuli.
ray melajukan mobilnya hendak segera pulang setelah memastikan yuli sudah masuk ke dalam rumahnya.
yuli menutup pintu sambil tersenyum bahagia mengingat pertemuan dirinya dengan ray baru saja. entah mengapa belakangan ini ia merasa senang dan antusias jika melihat ray ada di dekatnya.
setelah tersadar yuli pun menatap sekelilingnya, melihat tidak ada orang lain yang masih terbangun karena rumah sudah sepi.
yuli bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mendapati hana juga sudah tertidur pulas di atas ranjang.
"huh! udah tidur juga"
__ADS_1
yuli pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan diri terlebih dahulu.
setelah selesai mandi yuli naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di samping hana yang sudah terlelap. sebelum tertidur yuli kembali tersenyum mengingat wajah tampan ray hingga ia terlelap.