
tidak terasa hari berlalu begitu cepat, bulan pun berganti kini semua berjalan dengan baik dan normal sebagaimana seharusnya.
sering bertemu dan saling berkomunikasi dalam beberapa bulan terakhir ternyata membuat benih cinta tumbuh di antara dokter radit dan arin. cinta seorang dokter kepada pasiennya, memang cukup jarang terjadi namun kebaikan hati arin sepertinya mampu menarik perhatian dokter muda itu.
kedekatan di antara keduanya pun di sambut baik oleh papa hardi dan mama ratih yang sudah menganggap arin seperti putri mereka sendiri. mama ratih sangat setuju jika dokter radit akan menjadi pendamping hidup arin.
papa hardi dan mama ratih sudah lama mengenal dokter radit yang merupakan seorang pria baik dari keluarga yang baik pula sehingga mereka yakin dokter radit pasti akan membahagiakan putri mereka begitu pikirnya.
terlihat di kediaman utama keluarga wijaya arin baru saja pulang dari pekerjaan barunya.
arin mengembangkan bakat seni yang ia miliki di sebuah galeri miliknya.
saat ini arin diantar pulang oleh dokter radit seperti biasa.
jika dokter radit memiliki waktu luang maka ia akan menyempatkan waktu untuk mengantar atau menjemput pujaan hatinya itu di tempat kerja.
sejak arin dinyatakan sembuh dari depresi yang pernah ia alami. hubungan di antara keduanya pun semakin dekat bahkan kini mereka sudah menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih.
dokter radit pun sering mengajak arin pergi di hari libur agar arin tidak merasa bosan.
arin turun dari dalam mobil yang di ikuti oleh dokter radit juga. mereka berjalan mendekati pintu masuk rumah.
"makasih ya dokter radit udah anterin aku pulang" arin tersenyum menatap radit namun langsung menundukkan pandangannya.
"iya sama sama arin. ya udah kalau gitu aku langsung pamit aja ya"
"oh, enggak mampir dulu dok?" tanya arin menawarkan.
"em, lain kali aja ya soalnya aku masih harus balik ke rumah sakit nih" dokter radit menatap jam di pergelangan tangannya.
"oh iya udah kalau gitu. hati hati ya dokter radit"
"iya" dokter radit mengangguk.
dokter radit melambaikan tangan kepada arin setelah ia kembali masuk kedalam mobilnya.
arin pun membalas dengan melambaikan tangannya juga sambil tersenyum menganggukkan kepala.
hubungan itu terus berlanjut dan semakin dekat setiap hari hingga akhirnya setelah satu tahun menjalani kedekatan bersama. dokter radit memutuskan untuk menikahi arin.
dalam sebuah makan malam romantis yang sudah radit siapkan itu ia melamar arin secara pribadi.
arin yang polos sebenarnya tidak tahu tentang rencana dokter radit ingin melamar dirinya. ia berpikir jika mereka hanya akan makan malam seperti biasanya.
hingga setelah mereka sampai di tempat yang sudah di hias dengan indah itu. dokter radit berlutut di hadapan arin sambil memegang kotak cincin di tangannya.
"maukah kamu menjadi pendamping hidup ku untuk selamanya arin?" dokter radit menatap arin.
__ADS_1
arin yang bingung harus menjawab apa pun akhirnya menganggukkan kepala menerimanya. ia benar benar tidak menyangka jika dokter radit akan melamar dirinya secepat ini.
setelah radit melamar arin secara pribadi di malam itu. beberapa hari kemudian ia pun meminta kedua orang tuanya untuk segera melamar arin dengan pertemuan keluarga namun saat mendengar permintaan putranya kedua orang tua radit tidak setuju dengan pilihan putra mereka itu.
karena bagaimana pun juga masalah yang pernah terjadi di antara arin dengan dika menjadi masa lalu yang buruk dimata semua orang. meskipun ray sudah melakukan sebuah klarifikasi di hadapan media untuk membersihkan nama baik bosnya namun tetap saja tidak dapat kembali membersihkan nama baik arin sebagai wanita yang pernah hamil di luar nikah.
"radit, memangnya tidak ada gadis lain ya. mama tau arin sudah seperti putri di keluarga wijaya tapi tetap saja dia punya masa lalu yang buruk. arin pernah hamil tanpa memiliki seorang suami" ujar mama radit mengingatkan masa lalu dari calon istrinya yang bahkan radit sendiri masih mengingat semuanya dengan jelas.
"benar itu nak, kamu putra kami satu satunya dan kamu juga masih berstatus single radit. papa yakin kamu bisa mendapatkan seorang gadis yang lebih baik darinya" papa dokter radit pun ikut menasehati putranya itu.
"mama papa, semua orang pasti punya masa lalu kan? mereka juga berhak buat berubah dan punya masa depan yang lebih baik lagi" radit tetap pada keputusannya.
"iya tapi kan...." ucapan mama menggantung karena radit langsung menimpalinya.
"pa ma, kalau tuan dan nyonya wijaya sendiri yang datang menginginkan pernikahan ini secepatnya di langsungkan. apa mama sama papa juga akan menolaknya?" radit pun membuat mama dan papanya terdiam.
"radit, kamu tau kan keluarga wijaya sangat berjasa untuk keluarga kita. berkat kebaikan hati mereka juga kita bisa memiliki semua ini. papa sama mama enggak akan menolaknya lagi nak." ujar papa radit.
"baiklah radit mama sama papa setuju asalkan kamu bahagia. mama harap suatu hari nanti kamu enggak akan pernah menyesali keputusan ini nak" ujar mama akhirnya.
"mama sama papa jangan khawatir ya radit tau kok apa yang terbaik buat radit" radit meyakinkan orang tuanya.
meskipun kedua orang tua radit keberatan dengan pernikahan itu namun akhirnya mereka menyetujui keinginan putra tunggal mereka untuk menikah dengan gadis pilihannya. keduanya tidak bisa menolak keinginan radit terlebih lagi mereka akan menjadi besan dari keluarga wijaya yang terpandang.
akhir pekan itu juga radit dan orang tuanya mendatangi kediaman mewah keluarga wijaya untuk segera melamar arin secara resmi. rangga dan dika serta anak dan istri mereka masing masing pun turut hadir dalam acara lamaran keluarga itu tak terkecuali ray juga hadir.
beberapa minggu setelah lamaran keluarga itu akhirnya resepsi pernikahan radit dan arin pun di gelar di sebuah gedung dengan mengundang semua kerabat serta rekan kerja radit. begitu juga keluarga besar wijaya yang turut hadir bersama rekan bisnis maupun karyawan lainnya.
saat ini di kediaman dika dengan keluarga kecilnya yang bahagia itu. vani dan kedua adiknya sedang melakukan persiapan untuk menghadiri acara resepsi pernikahan arin dan dokter radit. ketiganya masih sibuk berdandan dan mempercantik diri masing masing dengan gaun yang sudah di miliki.
"sayang ganteng banget sih anak papa"
dika memuji wajah tampan putranya lalu menggendong raffa yang sudah mulai bisa berjalan dalam beberapa bulan terakhir. meskipun masih sedikit tertatih namun raffa sudah bisa berjalan sendiri.
"sini sayang cium papa" emuach
dalam pelukan dika terus mengecupi pipi bulat putranya, raffa pun tersenyum saat menatap wajah papanya yang sedang menggendong tubuhnya itu.
"papa, papa, mama ckckck!"
raffa terus berceloteh seperti sedang berbicara meskipun ucapannya masih belum bisa di pahami oleh papanya.
"iya sayang. anak papa ganteng banget kaya papa" dika tersenyum menatap putranya yang terus tertawa.
raffa terlihat sangat bahagia saat sedang bersama dengan papanya karena dika selalu memuji ketampanan putranya yang mirip dengan dirinya itu.
sedangkan vani masih bersiap di dalam kamarnya. terlihat ia sudah memakai gaun mewah berwarna senada dengan kemeja suaminya yaitu warna peach.
__ADS_1
penampilan vani terlihat sangat anggun dan cantik dengan tubuh langsing yang di milikinya.
saat ini vani sedang menatap pantulan dirinya di dalam cermin besar yang menampakkan seluruh tubuhnya dari bagian atas hingga ke bawah itu.
"hem, kayanya udah semua deh" ujar vani sambil memperhatikan penampilannya.
dari arah belakang tiba tiba saja dika memeluk tubuh vani lalu meletakkan dagu di atas pundak istrinya itu.
"hem, kamu cantik banget sih sayang" bisik dika di telinga vani lalu mengecup daun telinga hinga pundak istrinya itu membuat vani merasa geli.
"ck, jangan mulai deh mas" vani pun langsung berbalik menghadap suaminya agar dika tidak melanjutkan perbuatannya itu.
vani meletakkan kedua tangan di dada suaminya hendak merapikan kemeja serta jas yang dika kenakan meskipun sebenarnya pakaian suaminya itu sudah sangat rapi.
"emangnya kenapa sih?" dika masih berusaha mengecup bibir istrinya namun dengan gerakan cepat vani langsung menahan bibir suaminya yang sudah manyun itu dengan jari agar tidak mengecupnya.
"stop!!!! jangan dong sayang nanti lipstik aku berantakan lagi tau. entar kita bisa telat datang ke acara pernikahan arin" ujar vani menahannya.
"dikitttt aja sayang" dika terus membujuk istrinya.
"enggak, aku enggak percaya. entar kamu keterusan lagi"
"janji enggak lama sayang" dika mengikuti langkah istrinya yang berjalan hendak mengambil tas kecil di atas ranjang.
"ssstttt!!!! mendingan sekarang kita pergi, ayo sayang" vani menggandeng lengan dika lalu mengajaknya berjalan keluar dari dalam kamar mereka menemui kedua adiknya.
dika yang sudah di gandeng oleh istrinya itu pun hanya pasrah mengikuti langkah vani membawanya keluar dari dalam kamar mereka.
"afa sayang! ayo kita berangkat sekarang" ajak vani pada anaknya yang sedang berada di dalam gendongan hana.
"wah!!!! kak vani kamu cantik banget deh" puji hana.
"oh iya cantik banget kak, kalo gitu nih kamu gendong ya baby raffa soalnya kami berdua mau tebar pesona disana" yuli sambil menyerahkan baby raffa ke dalam gendongan vani agar kedua gadis itu bisa menikmati pestanya
"emuach, anak mama udah ganteng ya" vani mengecup pipi putranya yang tersenyum di dalam pelukannya itu.
"ma,,ma,,"
"iya dong sayang kan mirip sama papanya" gemas dika.
"oh iya, ya udah kalo gitu kamu aja yang gendong afa ya mas" vani pun mengalihkan gendongan pada suaminya.
"anak papa kan udah gede nih jadi udah bisa jalan sendiri dong" dika menurunkan raffa dari gendongannya lalu memegangi tangan putranya agar mau berjalan sendiri.
"ayo hana kita keluar sekarang" ajak yuli menarik tangan adiknya keluar dari dalam rumah.
"iya kak"
__ADS_1
hana dan yuli berjalan keluar dari dalam rumah hendak menuju mobil yang di ikuti oleh vani dan dika berjalan di belakang.