
di kediaman dokter radit, terlihat pasangan pengantin baru itu baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.
setelah menikmati malam indah yang panjang ternyata membuat tubuh mereka cukup lelah.
dokter radit membawa arin tinggal di rumah pribadinya. ia sengaja mengajak istrinya untuk tinggal di rumah yang berbeda dengan orang tuanya karena tau jika mama dan papanya belum bisa menerima kehadiran arin dengan baik.
radit tidak ingin hal itu akan membuat istrinya sedih maka ia memutuskan membeli rumah minimalis untuk mereka tinggal berdua serta anak anak mereka kelak.
"sayang, kamu udah bangun?" dokter radit melihat arin sudah duduk di atas ranjangnya.
"em, iya mas. maaf ya aku terlambat bangun hari ini" arin merasa tidak enak.
"kamu kok minta maaf sih sayang kan kamu enggak enggak salah"
"tapi kan harusnya aku bangun lebih awal mas"
"dengar ya sayang mulai hari ini kamu enggak usah terlalu capek kerja lagi, kan ada aku yang kerja buat kamu"
" tapi mas,,,"
"terus masalah kerjaan rumah kamu juga enggak usah pusing. entar ada servis home yang datang buat bersihin rumah setiap hari"
"em, terus aku harus ngapain dong di rumah mas?"
"iya kamu boleh ngelakuin apa pun yang kamu mau sayang" radit tersenyum.
"tapi aku boleh tetap pergi ke galeri aku kan mas?"
"iya boleh dong sayang. ya udah sekarang kita sarapan ya"
"aku mau mandi dulu ya mas"
arin pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"okay sayang aku tunggu di sini ya"
radit tersenyum sambil duduk di tepi ranjang.
setelah memastikan mobil suaminya pergi vani kembali masuk ke dalam rumah dan melihat yuli yang masih saja terdiam duduk di atas sofa padahal seharusnya adiknya itu juga sudah berangkat bekerja.
"yuli, kamu kenapa kok masih ngelamun disitu. emangnya enggak ke butik ya?" vani duduk di samping yuli sedangkan hana sedang bermain dengan raffa.
"iya, ini juga mau berangkat kok kak. aku pamit ya" yuli pun hendak berdiri.
"kamu kenapa kok enggak semangat gitu sih?" vani melihat adiknya yang murung.
"aku enggak papa kok kak, ya udah aku pergi dulu ya. bye..." yuli melambaikan tangannya sambil berjalan menuju pintu keluar sedangkan vani hanya menatap kepergian adiknya yang terlihat sedih itu.
siang harinya di dalam ruangan kerja vani yang berada di dalam butik terlihat yuli sedang duduk di atas kursi meja kerja kakaknya. ia semakin di buat frustasi karena mengingat ucapan ray pagi tadi.
yuli yang sedang duduk sendirian di dalam ruangan itu pun terus memikirkan setiap kata yang ray ucapkan mengenai tipe wanita idealnya.
"huh!" yuli menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu bertanya pada dirinya sendiri sekaligus juga menjawab pertanyaannya itu sendiri seperti orang aneh.
"hem, cantik? gue lumayan lah dandan dikit juga udah cantik" ujar yuli sambil bercermin.
"pinter bisnis? ya gue juga lumayan pinter kok, buktinya butik ini bisa berkembang baik saat gue yang ngelola." bangganya pada diri sendiri.
"jago masak? hem, gue bisa sih masak telur dadar tapi kayanya gue harus belajar masak makanan lain juga deh masa iya cuma bisa masak telur doang" yuli berniat akan belajar masak makanan yang lain demi memenuhi kriteria wanita yang ray sebutkan.
"lembut dan feminin? ini yang paling susah sih buat gue, sejak kapan gue bisa ngomong lembut dan kalem terus mana pakaian gue juga bisa kehitung yang sejenis gaun lagi kebanyakan sih pake celana"
yuli menopang dagu dengan tangannya lalu meletakkan di atas meja.
"hem! masa iya gue kemana mana harus pake dress sih kaya cewek banget gitu? ck! males banget gue" yuli benar benar frustasi hanya karena penampilannya yang berbeda dengan kakaknya itu.
beberapa hari kemudian tepatnya di hari libur yuli hendak meminta vani untuk membantunya belajar memasak di rumah, kebetulan saat ini waktu luang menjelang siang.
vani dan dika sedang berada di dalam kamar raffa untuk menemani putra mereka bermain disana.
setelah lelah bermain raffa pun merasa haus. ia berjalan dengan hati hati menuju ranjang lalu menarik ujung baju ibunya yang sedang berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponsel di tangannya.
"ma-ma" raffa menarik baju vani dari tepi ranjang.
__ADS_1
"iya sayang anak mama haus ya, mau nen?"
vani tersenyum lalu membawa putranya naik ke atas ranjang kemudian membaringkan tubuh raffa di sampingnya.
"sini sayang, ayo nen dulu" vani pun menyusui putranya itu.
"sayang, affa kan udah gede masa masih nen sih. affa kan udah mau ulang tahun besok jadi sekarang affa enggak boleh nen lagi ya! nennya buat papa aja."
dika mendekat hendak menggoda anaknya yang sedang menyusu sambil berbaring di samping istrinya juga.
dika menggelitik punggung putranya yang sedang tiduran dengan posisi miring itu hendak menganggu raffa yang sedang menyusu agar putranya merasa kesal.
raffa yang sudah mulai mengerti dengan ucapan papanya dan merasa terganggu dengan perbuatan papanya itu pun langsung berbalik badan dan memukul mukul wajah dika dengan tangannya.
"endak,,,endak,,,endak..." raffa mengoceh sambil memukuli wajah papanya yang selalu saja mengganggunya saat menyusu itu. meskipun pukulan itu tidak begitu kuat namun dika sengaja pura pura kesakitan menahannya.
"aduh! sakit sayang kok affa pukul papa sih?" dika masih saja mengajak anaknya berbicara.
"makanya papa tuh jangan gangguin affa dong, tuh kan affa jadi kesel sama papa. iya kan sayang?" vani ikut membela putranya.
"papa kan juga mau dong nennya masa affa doang yang boleh" dika terus menganggu putranya itu sekaligus juga mengganggu dan menggoda istrinya.
vani tertawa saat dika juga ikut mengganggunya dengan memegang salah satu bagian dadanya saat raffa masih menyusu. hal itu sukses membuat raffa semakin kesal kepada papanya yang jahil itu.
"haha" tawa mereka renyah saling bercanda satu sama lain karena merasa di cuekin akhirnya raffa pun menangis.
"hheemm hhheemm" tangis raffa.
"ih kamu sih mas. suka benget deh gangguin affa liat nih affa jadi nangis kan cup cup sayang" vani memeluk putranya.
"huh! dasar affa cengeng banget" ejek dika tidak mau berhenti membuat anaknya kesal.
di tengah tengah candaan keluarga kecil yang bahagia itu. tiba tiba saja yuli langsung masuk ke dalam kamar raffa tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
ceklek!! pintu terbuka yuli melihat sepasang suami istri yang sedang bersenda gurau dengan mesranya di atas ranjang.
"kak vani,,, upss!!!" yuli langsung berbalik badan merasa canggung melihat dika dan vani berbaring di atas ranjang karena berpikir jika pasutri itu sedang melakukan sesuatu disana.
"eeyy! kamu ngapain disitu. emangnya kamu liat kami ini lagi ngapain yul?" ujar dika.
yuli kembali membuka mata lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir.
"hehe. emangnya lagi ngapain bang iya enggak tau sih"
yuli pun berbalik badan lalu berjalan masuk ke dalam kamar setelah dika beranjak duduk di tepi ranjang.
"oh ada raffa toh. hehe"
yuli merasa canggung karena sempat berpikir jika dirinya telah mengganggu kakak dan abang iparnya yang sedang bermesraan di dalam kamar itu.
"ada apa yul?" tanya vani menatap adiknya.
"em, gini kak. kamu ada waktu enggak?"
"buat apa?"
"tolong ajarin aku masak ya" minta yuli.
"hah! masak...?" ujar vani dan dika kaget secara bersamaan lalu mereka pun saling bertatapan.
"haha,,, sejak kapan kamu mau belajar masak yul?" dika tertawa mendengarnya sedangkan vani hanya tersenyum tipis menatap adiknya.
"ih! bang dika ngeselin banget sih bukannya mendukung gitu adeknya mau belajar masak" yuli memanyunkan bibirnya.
"hehe, oke oke. bagus dong kalo gitu emang bener kamu tuh harus pinter masak yul jadi entar kalo kamu udah nikah terus suami kamu pengen makan masakan kamu, kamu bisa masakin buat dia. iya kan enggak mungkin dia minta makanan kamu masakin air doang. hhh!"
dika pun memberi sedikit nasihat baik untuk adik iparnya itu karena jarang jarang loh mereka akur begini.
"iya, makanya ini juga mau belajar masak bang sama kakak ku tersayang" yuli mendekati vani yang juga sudah duduk di tepi ranjang setelah raffa tertidur.
"huh! ada maunya aja bilang kakak ku tersayang" gumam dika menggerutu.
"syirik aja deh bang dika" yuli mengacuhkan dika yang julid kepadanya.
__ADS_1
"mau ya kak?" yuli kembali membujuk kakaknya.
"hem, tapi kok tumben ya. apa karena sesuatu?" tanya vani curiga.
"atau jangan jangan yuli bentar lagi mau nikah yank" ujar dika kepada istrinya.
"ih bukan loh kak. aku tuh cuma pengen masak aja tau emangnya enggak boleh ya?" yuli memanyunkan bibirnya.
"iya deh iya. boleh kok, boleh banget malah. ya udah ayo kita ke dapur belajar masak" ajak vani kepada yuli.
"yeeii, makasih kak" senang yuli tersenyum.
"pura pura bahagia" gumam dika lagi.
"mas kamu di sini aja ya jagain raffa, entar kalo dia bangun terus enggak liat kita ada di sini bisa nangis lagi" vani menatap suaminya.
"iya kan ada hana sayang terus ada sri juga soalnya aku mau ke ruang kerja nih"
"mas, ini kan hari libur biasanya di suruh kerja aja malas. nah giliran hari libur kok malah mau kerja"
vani pun memicingkan mata.
"em, iya sayang nanti aku cuma sebentar aja kok" dika beralasan.
"ya udah terserah kamu deh. pokoknya kalo kamu pergi jangan lupa minta hana atau sri buat jagain raffa ya"
"siap sayang"
vani dan yuli berjalan keluar dari dalam kamar raffa menuju ruang dapur.
sesampainya di dapur yuli pun mulai belajar memasak dengan serius.
vani dengan sabar memperkenalkan nama dari bumbu bumbu dapur yang yuli sendiri belum hafal membedakan antara merica, ketumbar dan lain lain.
"liat nih" vani menunjukkan beberapa bumbu.
"wih banyak banget bumbunya"
"iya dong. yang ini namanya ketumbar nah kalo yang ini cengkeh, pala, merica, kayu manis, bunga lawang, daun salam, sereh dll"
"oh ini ketumbar, tapi mirip sih sama yang ini"
"itu merica"
"apa bedanya?"
"merica itu pedas"
"kalo ketumbar?"
"buat wangi"
"oh parfum"
"ck! kok parfum sih yul?"
"iya kan buat wangi"
"terserah deh"
"yang ini apa?"
"itu garam"
"ohh"
"ingat ya awas bumbunya jangan sampai ke tuker yuli" ujar vani mengingatkan.
"siap kak" yuli tersenyum dengan penuh semangat.
"emangnya kamu mau masak apa yul?" tanya vani kepada adiknya itu.
"ada deh kak" jawabnya hanya tersenyum.
__ADS_1