
Ceklek!
dika membuka pintu kamarnya secara perlahan berjalan masuk ke dalam. ia melihat istrinya sedang duduk sambil menyusui putra mereka yang terbangun dari tidurnya karena merasa lapar.
"sayang kok kalian belum tidur bukannya tadi raffa udah tidur ya?" tanya dika berjalan mendekati istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menyusui bayinya itu.
"em, iya tadi raffa nangis jadi kebangun mas kayanya dia haus banget deh" vani terus menatap bayinya.
"oh ya, anak papa haus ya hem...?" dika menoel noel pipi anaknya yang sedang menyusu itu.
"mas kamu jangan gangguin raffa dong dia masih ngantuk nih" vani yang lelah ingin segera tidur setelah bayinya kembali tidur nanti. sebenarnya dirinya lah yang sudah mengantuk.
"pantesan ya, dari dulu bang rangga tuh suka banget gangguin rara sampe nangis" ujar dika tersenyum jahil.
"ih maksud kamu apa mas, kamu juga mau gangguin raffa terus sampe dia nangis gitu?" ucap vani manyun.
"iya enggak sih sayang, maunya gangguin mamanya aja deh" dika tersenyum sambil memeluk pinggang istrinya dari samping.
"ingat loh kamu masih harus puasa sebulan lagi mas"
"masa sih? lama banget deh. ya tapi enggak papa kok aku kan emang udah sering puasa selama ini karena kamu cuek terus sama aku sayang" dika mengingat sikap istrinya belakangan ini.
"emangnya salah siapa?" vani melirik suaminya.
"iya salah aku sih"
"maafin aku ya mas" ucapan vani membuat dika merasa bingung.
"kenapa kamu yang minta maaf sih sayang. harusnya kan aku yang minta maaf sama kamu karena aku yang salah, maafin aku ya. aku mohon kasih aku kesempatan, aku janji enggak bakal pernah kecewain kamu lagi" dika menatap mata vani sambil menggenggam tangan istrinya
"kalo aku enggak kasih kamu kesempatan mana mungkin aku masih disini sama kamu mas" vani tersenyum.
"em bener juga sih, makasih ya sayang. aku janji bakal selalu jagain kalian. kamu sama raffa adalah satu satunya kebahagiaan buat aku" dika mengecup kening vani lalu memeluk tubuh istrinya dari samping.
"iya mas, aku juga minta maaf ya karena selama ini udah enggak percaya sama suami aku sendiri" vani menatap dengan mata yang berkaca kaca.
"kamu kenapa bilang kaya gitu sayang. maksud kamu apa?" tanya dika lembut menatap istrinya.
"em, enggak papa kok mas. oh ya ini tolong kamu gendong raffa taruh ke dalam box ya soalnya udah pulas tidurnya. aku juga udah ngantuk banget nih ayo kita istirahat" vani mengalihkan pembicaraan mereka.
"okay deh sayang"
setelah menidurkan bayinya ke dalam box yang berada di samping ranjang mereka dika pun naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di samping istrinya yang masih duduk bersandar.
"mas, kamu capek ya?" tanya vani sambil mengusap lembut pucuk kepala suaminya.
"enggak kok sayang, emangnya kenapa kok kamu nanya kaya gitu?" dika balik bertanya.
"iya, karena selama aku belum sadar di rumah sakit kan kamu yang selalu jagain kami berdua sendirian disana" ujar vani karena yuli sudah menceritakan semua kepadanya.
"aku enggak ngerasa capek kok sayang, kan itu emang udah jadi tanggung jawab aku sebagai seorang suami dan ayah buat kamu sama anak kita. malah aku bersyukur banget karena kamu udah mau ngelahirin anak kita dengan taruhan nyawa. makasih ya sayang" dika menatap wajah istrinya yang tepat berada di atas wajahnya.
vani tersenyum sambil mengangguk kemudian ia semakin menundukkan wajah mendekat pada wajah suaminya.
emmuch! emmuch! emmuch!
vani mengecup seluruh bagian wajah dika dari mulai kening dan kedua pipi suaminya.
dika tersenyum tidak menyangka akan mendapat banyak cinta dari sang istri yang belakangan ini selalu terlihat cuek kepadanya.
__ADS_1
vani pun mengecup bagian bibir dika untuk menunjukkan rasa sayang pada suaminya itu.
tidak ingin menyiakan kesempatan dika pun langsung menahan dengan memeluk tubuh istrinya memperdalam ciuman mereka.
vani akhirnya ikut berbaring di samping tubuh suaminya sambil terus membalas ciuman yang ia rindukan itu.
-
beberapa hari kemudian dika sudah kembali bekerja di kantor seperti biasanya sedangkan vani stay di rumah untuk menjaga bayi mereka.
di dalam ruang kerjanya rangga sedang duduk berhadapan dengan ray. mereka sedang membahas tentang proses untuk merekrut sekretaris baru karena jadwal pekerjaan rangga yang semakin padat namun ray tidak bisa selalu bersamanya.
"gimana menurut bapak tentang beberapa calon karyawan yang sudah saya pilih?" tanya ray kepada rangga.
"em, kalo dari beberapa pilihan yang lo rekomendasikan ini sih. gue paling tertarik dengan kinerja yang bernama naya. gimana menurut lo ray?" tanya rangga meminta pendapat.
"hem, iya sepertinya dia yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada. baiklah bos saya akan memanggilnya untuk bekerja sama dengan kita"
"hem, bagus segera lakukan"
"oh ya bos, gimana dengan nasib karin dan raka. mereka masih berada di tahanan kita sekarang, kapan bos sama dika punya waktu buat nemuin mereka?" tanya ray karena bahkan sampai sekarang rangga masih melupakannya.
"oh itu, gue pikir lebih baik kita enggak usah bilang deh sama dika. soalnya gue takut dia bakal kebawa emosi kalo sampe tau tentang raka"
"terus apa yang harus kami lakukan kepada mereka berdua bos?" tanya ray ingin mendapat keputusan.
"em, minta aja anak buah lo buat ngasih pelajaran dan rasa jera setelah itu serahkan mereka ke polisi" rangga memberi keputusan.
"apa bos yakin mau lepasin mereka gitu aja?"
"hei, siapa yang bilang kita bakal lepasin mereka gitu aja kan tadi gue dah bilang serahin mereka ke polisi!!!" rangga mengulangi ucapannya.
"oke bos, kalo gitu akan saya laksanakan" ray pun beranjak dan keluar dari dalam rungan rangga.
menjelang sore hari saat dika masih sibuk bekerja di dalam ruangannya. tiba tiba saja mama ratih datang ke kantor niatnya menemui dika hendak membicarakan sesuatu dengan putranya itu.
sesampainya di depan pintu ruangan dika mama ratih langsung masuk tanpa mengetuk pintu dahulu.
cklekk...! pintu terbuka.
mama ratih melihat dika yang masih duduk di atas kursi kerjanya pun berjalan mendekati meja.
dika terlihat sangat serius menatap layar di hadapannya sambil memegang sebuah file di tangan sehingga tidak menyadari kedatangan mamanya itu.
"dika,,," panggil mama ratih saat berjalan mendekat.
"eh mama, ayo duduk dulu ma" dika mempersilahkan ibunya untuk duduk di kursi yang berada di hadapannya.
"iya sayang" mama ratih tersenyum lalu duduk di kursi.
"oh iya. ada apa ma kok tumben nih?" tanya dika menatap mamanya.
tidak biasanya dika melihat mamanya datang ke kantor secara tiba tiba terlebih lagi tanpa memberinya kabar lebih dulu seperti biasanya.
"mama mau ngomong sesuatu sama kamu" mama ratih menatap dika dengan serius.
"emangnya mama mau ngomong apa kok kayanya penting banget?" dika kembali fokus dengan pekerjaannya.
"em, gini sayang mama bingung sama arin soalnya belakangan ini dia enggak mau ke dokter buat check up kandungan terus dia juga enggak mau makan atau minum susu hamil. arin maunya kamu yang nemenin dia ke dokter katanya, dia juga pengen kamu perhatiin keadaannya sesekali di rumah" keluh mama ratih pada putranya.
__ADS_1
mendengar keluhan mamanya tentang arin dika pun menghentikan pekerjaannya lalu menatap mama ratih dengan lekat.
"tapi ma, aku enggak bisa sekarang mama kan tau aku baru aja baikan sama vani. aku enggak mau nanti vani marah lagi sama aku dan buat hubungan kami memburuk lagi ma" dika dengan tatapan memohon kepada mamanya.
"iya mama tau dika, tapi coba kamu izin dan ngomong baik baik sama vani ya. seenggaknya sampe anak kamu itu lahir, kalo kaya gini keadaannya mama juga bingung harus berbuat apa nak. mama yakin vani pasti ngerti"
"liat nanti deh ma, dika bakal coba" dika pun bersandar dikursinya sambil memikirkan hal itu.
"ya udah kalo gitu mama pulang dulu ya" mama ratih pamit lalu keluar dari dalam ruangan dika.
setelah kepulangan mamanya dika kembali merasa frustasi dengan keadaannya.
"aarrghh! kenapa jadi kaya gini sih" dika menghempaskan file di tangannya lalu memijat pelipis matanya karena merasa pusing.
dika tidak bisa kembali fokus bekerja dan memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya.
"mendingan pulang ajalah, percuma juga disini kalo aku enggak bisa fokus kerjanya" dika beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari dalam ruangannya.
dika pulang dengan menaiki mobilnya sendiri karena ray masih harus menyelesaikan pekerjaan di kantor terlebih saat itu memang belum jam pulang kantor.
sesampainya di rumah, dika pun langsung berjalan menuju kamarnya hendak beristirahat karena merasa lelah sendiri dengan pikirannya saat itu.
Ceklek....!
dika membuka pintu kamarnya secara perlahan, ia melihat istri dan anaknya yang sedang tertidur di atas ranjang.
setelah meletakkan tas kerjanya di atas meja dika pun langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
selesai mandi dan mengganti pakaiannya, secara perlahan dika naik ke atas ranjang lalu berbaring di samping tubuh istrinya yang sedang tertidur dika pun ikut terlelap sambil memeluk tubuh istrinya itu.
Satu jam kemudian vani terbangun karena mendengar suara tangisan raffa. ia merasa ada tangan yang sedang melingkar ditubuhnya.
vani pun mengalihkan pandangan dan melihat ternyata suaminya sudah pulang bekerja. ia tersenyum menatap wajah tampan suaminya yang sedang tertidur itu, namun juga merasa heran kenapa suaminya itu sudah pulang dari kantor lebih awal.
"mas dika, tumben udah pulang masih jam segini" gumam vani bingung namun ia segera menyingkirkan tangan suaminya yang sedang memeluk tubuhnya itu lalu bangkit dan menggendong raffa yang sedang menangis.
"cup, cup, cup....! affa ngompol ya, kita ganti popok dulu ya sayang" vani menenangkan bayinya.
vani dengan telaten mengganti popok yang sudah basah lalu duduk di tepi ranjang sambil menyusui bayinya. ia pun fokus menatap wajah bayi mungilnya yang sedang lahap menyusu.
"sayang, kamu manis banget sih kaya mama" vani tersenyum mengelus lembut dahi bayinya.
saat vani masih fokus memandangi wajah bayinya tiba tiba saja dika memeluk pundaknya dari belakang.
"manis dan ganteng kaya papanya dong iyakan sayang?"
"mas kamu udah bangun?"
vani merasakan geli di bagian leher belakang karena dika terus mengecupnya.
"hem" dika terus melakukan apa yang diinginkannya.
"mas, geli tau" vani mencoba menghentikan suaminya karena hal itu mulai membuat tubuhnya bereaksi.
"geli tapi enak kan sayang" dika tersenyum jahil.
"hem" vani hanya tersenyum menanggapinya.
dika berhenti mengecup tengkuk istrinya lalu meletakkan dagunya di atas pundak vani sambil menatap wajah bayinya yang sedang menyusu dengan lahap di bagian depan tubuh vani.
__ADS_1
dengan serius dika terus memperhatikan pergerakan mulut raffa yang sedang menghisap dan menyusu pada ibunya karena merasa lapar.
bibir mungil itu menyusu sambil memejamkan matanya yang mengantuk hal itu tak luput dari pandangan dika.