
Setelah mendapat keputusan dari dika, siang harinya mama ratih dan papa hardi pun kembali pulang. begitu juga dengan rangga yang langsung kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
seperti biasa dika hanya bisa bercerita kepada istrinya tentang semua keluh kesah di hatinya. meskipun tau vani tidak akan merespon ucapannya namun dika selalu percaya jika istrinya itu bisa mendengar segala ucapannya.
"sayang maafin aku ya, aku enggak punya pilihan lain lagi selain ngambil keputusan ini. aku harap kamu enggak bakal pergi ninggalin aku setelah kamu sadar nanti" dika mengecup punggung tangan istrinya sambil meneteskan air mata.
tak lama dika pun melihat air mata mengalir dari sudut mata istrinya yang sedang terpejam itu.
"sayang kamu nangis, pasti kamu bisa denger aku kan?" dika mengecup pipi vani lalu mengusap air mata di sudut mata istrinya itu.
setelah lelah mencurahkan isi hatinya dika pun kembali tersadar dari lamunannya kemudian berjalan mendekati box bayi lalu menggendong putranya yang ternyata sudah bangun. bayi mungil itu sedang diam sambil menatap wajah sang ayah yang terlihat sedih.
"anak papa pinter banget sih, udah bangun tapi enggak rewel. kamu haus ya, hem? sebentar papa buatin susu dulu ya sayang" dika tersenyum sambil meletakkan bayinya kembali dalam box karena ia akan membuatkan susu untuk putranya itu.
selama ini dika dengan telaten mengurus bayinya bahkan ia juga sudah belajar mengganti popok bayinya sendiri.
dika benar benar berusaha menjadi suami dan ayah yang baik siap siaga menjaga anak dan istrinya meskipun itu membuat dirinya sering kelelahan dan kurang beristirahat namun dika tidak merasa lelah selama masih bisa menatap anak dan istri tercintanya.
di kediaman wijaya mama ratih pun mengatakan tentang keputusan dika kepada arin. mendengar persetujuan dika akan pernikahan mereka adalah kabar yang sangat baik untuk arin karena membuatnya merasa sangat bahagia.
"arin, lusa kamu sama dika akan menikah kamu setuju kan?" tanya mama ratih kepada arin.
"maksud tante?" arin menjadi bingung.
"iya. kamu sama dika bakal nikah arin tapi untuk sekarang pernikahan kalian akan di lakukan sederhana aja karena vani masih belum sadar. kamu enggak papa kan?" tanya mama ratih kepada arin.
"em tante serius?"
"iya sayang"
"aku enggak keberatan kok tante, tapi emangnya mas dika udah setuju ya?" arin menatap mama ratih.
"kamu tenang aja dika udah setuju kok" mama ratih mengusap lembut lengan arin.
senyum mengembang di wajah arin saat mendengar keputusan itu. ia sangat bahagia karena sebentar lagi dirinya akan segera menikah dengan pria yang dicintainya.
"iya tante" arin mengangguk mama ratih pun pergi meninggalkan arin sendirian di sana.
"apa bener mas dika udah setuju nikah sama aku?"
arin tersenyum senang merasa bahagia tanpa memikirkan tentang dika yang tidak benar benar mencintai dirinya.
keesokan harinya arin kembali mendatangi dika di rumah sakit karena hendak menemui calon suaminya itu.
sesampainya di depan ruangan vani arin pun langsung membuka pintu ruangan lalu masuk kedalam.
ceklek...!
dika menoleh saat mendengar suara pintu terbuka lalu langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu itu.
"hai, selamat siang calon suamiku" arin tersenyum sambil melangkah mendekat sedangkan dika hanya menatapnya dengan wajah datar.
"oh ya aku denger kamu udah setuju tentang pernikahan kita mas jadi boleh dong aku panggil kamu sebagai calon suamiku?" arin sudah berdiri tepat di samping dika yang sedang duduk.
__ADS_1
"mau apa kamu kesini lagi" dika mengalihkan pandangan menatap arin dengan malas tanpa menjawab pertanyaan dari arin sebelumnya.
"enggak ada, aku cuma kangen aja jadi mau liat keadaan calon suamiku ini" arin hendak menyentuh wajah dika namun tangannya langsung di tepis oleh dika.
"ckk!!" dika mengalihkan pandangannya dari arin dengan malas. entah kenapa saat ini dika sangat kesal melihat arin padahal sebelumnya ia sangat perhatian kepada arin.
"aw!! mas dika sakit tau, jahat banget deh" dika menepis tangan arin saat hendak menyentuhnya.
"dengar ya arin, aku mau nikahin kamu cuma sampe anak ini lahir setelah itu kita pisah"
"kamu enggak bakal bisa pisah dari aku mas dika karena kita akan tetap bersama sampe kapan pun" arin berjalan mendekati box bayi.
"jangan pernah sentuh anakku" dika yang melihat arin hendak menggendong putranya pun melarang arin.
"loh kenapa, bukannya sebentar lagi dia akan jadi anakku juga?" arin tersenyum menatap bayi mungil itu.
"enggak, dia cuma anak aku sama vani aja" dika menjawab dengan ketus.
"oh ya? hem, okelah gak masalah lagian sebentar lagi kita juga bakal punya anak jadi aku enggak akan nyentuh dia" arin pun mengurungkan niatnya.
"lebih baik sekarang kamu pulang aja"
"em oke aku bakal pulang tapi kamu harus nyentuh anak kamu dulu mas, dia juga pengen di sayang sama papanya. liat kamu sayang banget sama anak kamu yang udah lahir tapi kamu enggak peduli sama anak kamu yang lain" arin kembali mendekat agar dika menyentuh perutnya.
"harus berapa kali aku bilang sama kamu kalau ini bukan anak aku arin"
"ini anak kamu mas dika kenapa sih kamu enggak mau ngakuin dia sebagai anak kamu juga"
"aku cuma bakal pulang kalo kamu mau nyentuh anak kita mas. dia juga butuh perhatian dari kamu"
"aku enggak mau!"
"kamu harus mau mas"
"enggak!!"
mereka terus berdebat seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar.
dari luar ruangan yuli dan hana datang karena hendak mengunjungi vani di jam istirahat seperti biasanya.
tidak sengaja kedua gadis itu pun mendengar suara dika yang sedang berdebat dengan seseorang di dalam ruangan vani. setelah beberapa saat mendengarkan yuli baru sadar jika wanita yang berada di dalam ruangan kakaknya itu adalah arin.
yuli dan hana pun terus mendengarkan perbincangan dika dengan arin dari balik pintu, suara mereka terdengar cukup jelas dari balik pintu ruangan.
"oke kalo kamu emang enggak mau nganggep anak aku ini sebagai anak kamu gak papa tapi apa kamu yakin kalo bayi ini adalah anak kamu?" arin menatap bayi mungil tampan yang ada di hadapannya sambil tersenyum miring lalu mengalihkan pandangannya kearah dika.
"apa maksud kamu!" tatap dika dengan tajam.
"maksud ku bukannya vani hamil waktu kamu kecelakaan dulu ya, liat deh mukanya mirip banget sama mas rangga kan apa kamu enggak curiga? jangan jangan..." ucapan arin langsung di timpali oleh dika yang semakin kesal.
"tutup mulut kamu arin!!! berani banget kamu datang dan nuduh istri aku kaya gitu" dika semakin kesal karena arin sudah memfitnah istrinya bahkan mencurigai rangga abang kandung yang sangat di percayainya juga.
ceklek!!
__ADS_1
yuli masuk ke dalam ruangan vani karena sudah tidak tahan mendengar fitnah arin tentang kakaknya, ia berjalan dengan langkah cepat mendekati arin dan langsung menampar wajah gadis itu.
Plakk...!!!!
"aw!!" ringis arin.
tangan yuli melayang begitu saja ke wajah arin karena merasa sangat kesal mendengar ucapan arin yang sudah menuduh kakaknya berselingkuh dengan abang iparnya sendiri.
"kenapa kamu nampar aku?" arin menatap yuli dengan tajam namun tatapan yuli lebih tajam kepadanya.
sedangkan hana langsung menggendong bayi vani yang terbangun karena merasa kaget mendengar suara teriakan arin. bayi mungil itu harus terbangun dari tidur siangnya yang nyenyak akibat pertengkaran dua wanita itu di dalam ruangan ibunya.
"ooek!! oeek!!"
"cup cup cup sayang jangan nangis ya" hana mencoba untuk menenangkan keponakannya dan membawanya ke sudut ruangan yang berbeda untuk menjauh dari arin dan yuli yang sedang bertengkar.
"sebenarnya udah lama banget sih gue pengen nyakar nyakar muka lo yang enggak seberapa itu tau enggak" yuli menunjuk wajah arin dengan emosinya.
"apa apaan sih kamu. ini enggak ada urusannya sama kamu ya" arin yang hendak menampar balik wajah yuli namun tangannya langsung di tahan oleh yuli.
"berani lo sama gue?" yuli mencengkram dengan kuat tangan arin hingga ia merasa kesakitan.
"aw, lepasin!!" kesal arin menarik tangannya dari genggaman tangan yuli.
"heh,,,, dengar ya lo pelakor!!! ini bakal jadi urusan gue juga karena lo berani ngusik kehormatan kakak gue ngerti!! gue enggak terima kalo elo fitnah kakak gue kayak gitu"
"apaan sih kamu datang datang nampar orang lain"
"heh, lo itu emang orang kampung ya arin tapi please deh otak lo jangan ikut kampungan juga. emangnya lo enggak pernah sekolah atau gimana sih!!. kalo anak kakak gue mirip sama pamannya, itu hal yang wajar tau enggak lo karena mereka punya hubungan darah. yang enggak wajar itu kalo anak kakak gue miripnya sama elo!!! itu enggak mungkin!" yuli masih melotot ke arah arin.
arin hanya terdiam menatap kemarahan yuli padanya, ia merasa sedikit takut melihat singa betina itu mengamuk di hadapannya.
"atas dasar apa lo fitnah kakak gue kaya gitu hah!! kalo emang kak vani mau selingkuh ngapain juga dulu dia nolak lamaran cowok lain dan milih nikah sama bang dika, lagian elo itu enggak tau gimana ceritanya mereka bersatu dulu mending mulut lo itu diem sebelum gue jahit tau gak!!" geram yuli.
"aku emang ngomong berdasarkan apa yang aku liat sekarang kok" arin masih membela diri.
sedangkan dika hanya diam menatap kedua wanita yang berbeda sifat itu sedang bertengkar tanpa berniat untuk melerainya.
"emang apa yang lo liat hah! ucapan lo itu enggak masuk akal tau enggak. kak vani tuh udah hamil dari sebelum bang dika kecelakaan, kalo elo enggak percaya tanya sendiri tuh sama orangnya dan jangan lupa lo juga bisa hitung sendiri kan berapa bulan yang lalu lo datang ke dalam keluarga ini buat ngerusak kebahagiaan pernikahan kakak gue" yuli memicingkan matanya.
arin hanya terdiam tidak mau menjawabnya bahkan ia pun tidak ingat kapan dirinya masuk dalam kehidupan keluarga yang kaya raya itu.
"atau jangan jangan emang anak lo itu lagi yang bukan anaknya bang dika" yuli melirik arin dan perutnya.
"jaga ya ucapan kamu!!" arin menunjuk wajah yuli dengan tatapan tajam dan kesal.
"hhh! kita liat aja nanti anak lo itu mirip sama siapa" yuli tersenyum miring sambil menepis tangan arin yang berada dekat dengan wajahnya.
"ck!" arin langsung berjalan keluar dari dalam ruangan vani setelah menatap dika yang bahkan tidak mau menatap dirinya.
setelah arin pergi yuli kembali menatap dika yang sudah kembali duduk di samping bankar vani. ia hendak protes pada abang iparnya itu namun yuli merasa iba saat melihat kesedihan di wajah dika.
yuli tidak tega jika harus membahas tentang arin lagi yang membuat dika semakin bingung. akhirnya yuli dan hana hanya fokus pada keponakan mereka saja dan setelah itu mereka pun kembali ke butik untuk bekerja.
__ADS_1