Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 124


__ADS_3

vani yang mendengar percakapan dari ketiga orang di dalam ruangan itu pun terkejut. ia tidak menyangka jika selama ini arin berbohong kepada semua orang.


"apa! jadi selama ini arin bohong. anak itu bukan anak mas dika tapi anaknya mas raka" gumam vani tertegun.


sekarang vani tahu jika ternyata bayi yang ada di dalam kandungan arin itu bukan anak dari suaminya melainkan anak dari raka mantan kekasihnya dulu.


vani memundurkan langkahnya secara perlahan hendak mencari di mana letak pintu keluar utama karena dirinya harus segera pergi dari rumah asing itu namun saat vani sudah berada di depan pintu utama ia melihat banyak anak buah raka yang sedang berjaga di sana, vani pun kembali masuk ke dalam kamar yang sebelumnya karena dirinya tidak mungkin keluar dari pintu itu.


"apa yang harus aku lakuin sekarang ya"


vani bingung harus melakukan apa, dirinya harus segera pulang ke rumah namun ia tidak bisa lewat dari pintu utama karena banyak penjagaan.


saat vani sedang memikirkan cara untuk keluar dari rumah itu tiba tiba saja raka masuk kedalam kamarnya membuat vani merasa takut karena mengingat raka yang pernah melakukan kekerasan kepadanya dulu.


"hai sayang, kamu udah bangun?"


raka mendekati vani yang berada di sisi ranjang.


"mau apa kamu mas raka! jangan mendekat!"


vani dengan mata berkaca kaca dan tubuh yang mulai gemetar karena rasa takutnya pun menatap ke arah raka.


"tenanglah sayang, aku enggak akan nyakitin kamu kok aku cuma kangen sama kamu"


raka semakin mendekat lalu membelai wajah lembut wanita yang dicintainya itu.


"kamu jangan gila mas raka, aku udah nikah dan kamu bisa liat kan aku lagi hamil"


vani meneteskan air matanya menatap raka.


"iya, aku tau sayang maka dari itu aku sangat membenci ayah dari bayi ini"


raka menarik rambut vani lalu mendekatkan wajah mereka dan menatap vani dengan tajam.


"aw, sakit!! lepasin mas raka tolong jangan sakitin bayiku"


vani merasa sakit di bagian kepala karena raka menarik rambutnya.


"hh! kamu bahkan sangat menyayangi anak ini?" raka juga mencengkram dagu vani.


"semua ibu di dunia ini pasti sangat menyayangi anak mereka mas"


"oh ya? apa kamu juga bakal sayang sama anak ini kalo dia adalah anak ku"


raka melepaskan tangannya lalu membelai lembut rambut vani agar menghilangkan rasa sakit akibat perbuatannya.


"em, iya pasti mas" vani menganggukkan kepala.


"bohong!! kamu menyayangi anak ini karena dia adalah anak dari seorang radika wijaya. iya kan"


"bukan gitu mas, aku sayang sama dia sebagai seorang ibu bukan karena siapa ayahnya tapi karena dia adalah anak aku"


"terus kenapa kamu nolak buat nikah sama aku waktu itu vani? kenapa!!" teriak raka kepada vani.


"maafin aku mas raka, aku tau aku salah tapi aku enggak bisa maksain diri buat nerima kamu waktu itu karena aku enggak bisa cinta sama kamu" hiks! vani semakin menangis mengingatnya.


"kamu enggak bisa cinta sama aku karena kamu mau nikah sama dika iya kan, aku enggak nyangka ya ternyata gadis polos yang aku cintai dulu sebenarnya enggak sepolos yang aku pikir. aku tau kamu lebih milih nikahin dika dan ninggalin aku karena dia jauh lebih kaya raya dari pada aku iya kan?" raka menatap kesal mengingatnya.


"itu enggak bener mas raka, aku nikah sama mas dika karena cinta bukan karena harta" hiks!


"bohong!!"


tidak lama terlihat karin juga masuk kedalam kamar itu lalu berjalan mendekati vani dan raka yang sedang berada di tepi ranjang.


"udah pastilah raka gadis kampung ini nikahin dika karena hartanya secara dika kan berasal dari keluarga kaya raya sedangkan dia cuma gadis kampung yang pengen terkenal jadi dia nikahin dika biar dapat gelar nyonya wijaya dasar enggak tau malu" karin pun menatap vani dengan tajam.


"itu enggak bener!"


"itu kenyataannya!!"


"enggak!!"


"sayang denger! dika itu enggak sebaik yang kamu pikirin. dia udah khianatin dan selingkuhin kamu terus sekarang wanita itu juga lagi hamil anaknya dika jadi lebih baik kamu tinggalin dia dan kembali sama aku ya" raka memegang kedua tangan vani.

__ADS_1


"lepasin!! kamu yang jahat mas raka, tega banget kamu fitnah suamiku. aku udah tau kalo anak yang ada di dalam kandungan arin itu anak kamu bukan anak mas dika"


raka dan karin saling bertatapan karena mereka tidak menyangka jika vani sudah mengetahuinya.


"apa! aku? kamu jangan ngomong sesuatu yang enggak benar dong sayang. mana mungkin aku ngehamilin wanita kampungan itu" raka mencoba untuk menyangkalnya.


"aku enggak bohong, aku dengar sendiri pake telingaku waktu kalian bicara tadi"


"heh vani!! dengar ya kamu enggak bisa melawan ku, arin bakal tetap nikah sama dika dan kamu bakal ada disini sampe mereka resmi menikah nanti" karin menatap vani dengan tidak suka.


"enggak! suamiku enggak mungkin nikahin arin tanpa persetujuan dari aku" hiks!


"hh!! oh ya apa kamu lupa, kalo kamu sendiri yang udah maksa dika untuk bertanggung jawab dan nikahin arin waktu itu, kita liat aja siapa pemenangnya. ayo raka kita keluar dari sini"


karin mengajak raka keluar karena merasa tidak suka melihat raka berada di dalam kamar itu bersama vani.


"em ayo" raka mengangguk


"enggak! mas raka lepasin aku!" teriak vani namun raka tetap berjalan meninggalkannya.


"mas dika tolongin aku, aku mau pulang hiks! hiks!"


vani hanya bisa menangis dengan pilu disana.


di kantor tepat di dalam ruangannya dika merasa sangat gelisah. perasaannya tidak enak dan selalu tertuju kepada istrinya berulang kali dika mencoba untuk menelpon vani namun ponsel istrinya itu tidak aktif.


"vani, kamu dimana sayang kenapa handphonenya enggak aktif?" dika bertanya tanya dengan bingung.


akhirnya dika mencoba untuk menghubungi ponsel adik iparnya untuk menanyakan keadaan vani.


saat menjawab telpon yuli mengatakan kepada dika jika vani sedang tidak berada di butik sejak siang membuat dika semakin cemas kepada istrinya itu.


dika langsung beranjak lalu bergegas keluar dari dalam ruangannya untuk menemui ray.


"ray ikut gue sekarang kita harus cari vani tolong lo lacak keberadaannya dimana ya!"


dika keluar dari dalam ruangannya lalu mereka berjalan menuju lift hendak segera turun ke lantai dasar.


"loh emangnya vani dimana bukannya dia lagi di butik ya?"


"dari tadi perasaan gue enggak enak kepikiran sama vani terus, yuli juga bilang kalo vani enggak ada di butik dari siang dia pergi tapi belum balik gue telpon handphonenya juga enggak aktif makanya gue khawatir banget nih" dika semakin panik.


"tenang bos kita cari bareng bareng ya soalnya handphone vani juga enggak terdeteksi" ray mencoba menenangkan dika.


"hem iya" dika mengangguk.


"dika, kalian lagi ngapain disini?"


rangga yang kebetulan sedang lewat pun bertanya karena melihat dika dan ray sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang serius.


"vani hilang bos, kita lagi mau nyari dia sekarang"


ray menatap rangga.


"apa!!! vani hilang, hilang dimana?"


rangga membelalakkan mata karena kaget.


"kalo kita tau vani ada dimana, itu namanya dia enggak hilang bos"


ray menatap rangga dengan aneh karena di saat seperti ini bosnya itu selalu mendadak bodoh.


"oh iya bener" rangga menyadari pertanyaan anehnya.


"kelamaan lo berdua"


dika yang tidak sabar pun bergegas pergi meninggalkan keduanya. rangga dan ray langsung mengikuti langkah cepat dika menuju lift.


sesampainya di parkiran ray dan dika masuk ke dalam mobil masing masing sedangkan rangga memilih untuk ikut mobil dika meninggalkan mobilnya di parkiran kantor.


mereka melajukan mobil menuju butik hendak bertanya lebih jelas kepada yuli tentang kemana vani pergi.


sesampainya di parkiran butik dika langsung keluar dari dalam mobilnya dan melangkah masuk ingin menemui yuli di dalam sana.

__ADS_1


"yuli!!" teriak dika mencari keberadaan adik iparnya.


karyawan lain dan para pengunjung di butik menatap aneh pada dika yang sedang berteriak memanggil yuli.


"maaf pak dika, mbak yuli ada di lantai atas"


salah satu karyawan di butiknya yang bernama sarah pun menghampiri dika.


"panggilkan dia sekarang!"


"baik pak"


sarah langsung bergegas pergi hendak memanggil yuli.


"lama banget, telpon aja deh"


dika menelpon yuli dalam panik karena merasa terlalu lama untuk menunggu, ia baru menyadari jika dirinya bisa langsung menelpon yuli saja tidak perlu menyuruh orang lain untuk memanggilnya.


di dalam ruangan yuli pun langsung menjawab telpon dari abang iparnya itu.


"ya halo!"


"yuli, turun lo sekarang juga!"


dika langsung mematikan teleponnya setelah mengatakan hal itu.


yuli merasa bingung mengapa dika memanggilnya dengan sebutan yang berbeda.


"eh, kenapa lagi nih orang?"


merasa bingung yuli pun bergegas turun ke lantai dasar.


di luar ruangan sarah baru saja sampai di lantai dua karena menaiki satu persatu anak tangga dengan berlari membuat nafasnya tidak beraturan.


"huh! huh! huh!! eh, mbak yuli mbak di cariin pak dika tuh di bawah" sarah berpapasan dengan yuli di luar ruangan.


"iya udah tau"


yuli terus melangkah turun untuk menemui abang iparnya yang aneh itu.


sesampainya di lantai dasar yuli menghampiri dika yang sudah menunggunya.


"ada apa sih bang?" yuli setelah ia sampai di hadapan dika.


"dimana vani?" dika beranjak dari duduknya.


"kan tadi aku udah bilang, kak vani belum balik sampe sekarang bang" yuli hanya mengatakan hal yang sama.


"iya tapi tadi dia perginya kemana?" dika tidak sabar.


"em, katanya sih mau ke taman dekat sini"


"kenapa kamu enggak ikut untuk menjaganya?" ray menatap yuli.


"tadi aku mau ikutin tapi dia ngelarang soalnya enggak ada yang jagain butik" yuli menjelaskan jika vani menolak.


"ya udah, kalo gitu kita ke taman itu sekarang" rangga menatap adiknya.


"iya" dika mengangguk


"eh, aku ikut ya, aku juga khawatir sama kak vani soalnya" yuli ingin ikut untuk mencari kakaknya.


"ya udah ayo ikut mobil saya" ray mengajak yuli untuk ikut dengan mobilnya saja.


yuli pun mengangguk lalu mereka bergegas hendak keluar menuju mobil di parkiran.


"kak yuli" panggil hana.


"hana kamu tunggu disini ya, sekalian jaga butik"


ujar yuli karena hana melihat mereka hendak pergi.


"iya kak" hana pun mengangguk setuju.

__ADS_1


mobil dika langsung melaju menuju taman terdekat dimana sebelumnya vani berada.


__ADS_2