
pagi yang cerah pun datang matahari menyinari bumi dengan cahayanya yang menghangatkan.
pagi ini dika bersiap untuk berangkat ke kantor namun tidak seperti biasa ada istri yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya.
terlihat pagi ini dika merasa sangat kerepotan karena vani hanya cuek menatap dirinya yang sedang sibuk mencari pakaian dan dasinya kerjanya.
"sayang dasi aku yang warna navy dimana ya? kok enggak kelihatan"
dika membuka satu persatu pintu lemari dan laci untuk mencari dasinya namun masih tetap tidak menemukan apa yang sedang ia cari.
vani sudah jengah mendengar dika selalu bertanya bukan benar benar mencarinya. ia segera beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati lemari lalu mengambil dasi yang di cari oleh suaminya itu.
"ini"
vani memberikan dasi di tangannya tepat di hadapan wajah dika tanpa berniat untuk memakaikan dasi itu kepada suaminya seperti biasanya.
"makasih ya"
dika tersenyum mengambil dasi dari tangan istrinya lalu memakai sendiri karena ia tau jika vani tidak akan mau memakaikan dasi itu kepadanya.
setelah selesai memakai pakaian kerjanya dengan rapi dika pun mengajak vani segera turun ke lantai dasar untuk sarapan bersama dengan mama dan papanya juga.
vani yang merasa dirinya tidak mungkin terus menghindar pun akhirnya setuju dan turun bersama dengan suaminya.
kedua orang tua dika dan arin sudah berada di meja makan untuk mulai sarapan bersama.
vani duduk di samping kursi suaminya seperti biasa. ia juga terlihat biasa saja di hadapan semua orang yang ada disana namun aura dingin terpancar dari sorot matanya.
mama ratih yang melihat vani dan dika hanya diam saja mengerti jika hubungan anak dan menantunya itu sedang tidak baik baik saja setelah kejadian beberapa hari lalu.
"vani kamu harus makan yang banyak ya sayang biar bayi kamu juga sehat"
mama ratih memecahkan keheningan di antara mereka sambil tersenyum menatap vani.
"iya ma" vani tersenyum tipis.
sedangkan dika hanya berusaha untuk menyelesaikan makannya dengan cepat agar bisa segera pergi ke kantor.
baru kali ini dika melihat tatapan yang sangat dingin dari mata istrinya itu.
setelah selesai sarapan dika langsung berpamitan pada kedua orang tuanya untuk segera berangkat ke kantor.
dika pun mendekati istrinya hendak berpamitan seperti biasa namun saat hendak mengecup kening istrinya itu vani pun menahan tubuh dika agar tidak melakukannya. dika yang mengerti langsung menarik diri dari istrinya.
"aku berangkat ya sayang"
dika mengelus lembut pipi vani sambil tersenyum tanpa mengecup kening istrinya itu.
vani hanya menatap datar suaminya lalu mengangguk sambil mengucapkan kata iya dengan suara yang pelan dan samar terdengar oleh dika.
arin yang melihat sikap vani dingin kepada suaminya itu hanya tersenyum tipis
vani juga tidak berniat untuk mengantar dika hingga ke depan mobil lalu arin yang mengikuti langkah dika sampai ke depan rumah.
"mas dika" panggil arin
dika menghentikan langkahnya dan berbalik menatap arin.
arin melangkah mendekati dika lalu berhenti tepat di hadapan dika yang sedang berdiri menatapnya.
"ada apa?" ekspresi dika datar.
"hati hati ya mas"
arin membenarkan dasi di kerah baju dika dengan penuh perhatian.
"em" dika hanya mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
arin pun tersenyum sambil melambaikan tangan kepada dika yang tidak membalasnya.
dari dekat pintu ternyata vani sedang melihatnya namun ia hanya menatap datar kepada arin.
malam harinya seperti biasa dika selalu membuatkan susu hamil untuk istrinya.
"sayang ini susunya diminum dulu ya mumpung masih hangat"
dika menyerahkan segelas susu rasa coklat kepada istrinya.
"aku lagi enggak pengen minum susu" vani menolaknya.
__ADS_1
"sayang, aku tau kamu lagi marah sama aku enggak papa aku ngerti tapi aku mohon kamu jangan marah juga sama anak kita ya. kasian dia butuh nutrisi buat perkembangan tubuh dan otaknya jadi tolong susunya di minum ya"
dika terus membujuk vani dengan lembut agar istrinya mau meminum susunya.
tanpa bicara vani pun mengambil gelas berisi susu dari tangan dika dan langsung meminumnya sampai habis.
glek! glek! glek!!
"udah"
vani menyerahkan gelas yang sudah kosong kembali ke tangan dika.
"gitu dong sayang" dika tersenyum.
vani merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan langsung terlelap nyenyak karena sudah sangat mengantuk.
melihat vani yang sudah tidur dika menarik selimut untuk menyelimuti tubuh istrinya kemudian mengecup lembut kening dan perut vani bergantian.
"selamat tidur sayang"
dika berjalan menuju sofa hendak segera tidur karena besok harus pergi bekerja.
hari hari terus berganti namun vani dan dika masih tetap bersikap seperti orang asing di dalam satu kamar.
hari ini dika libur bekerja karena ia akan menemani istrinya untuk check up ke dokter kandungan.
saat ini vani sedang menjalani pemeriksaan detak jantung bayinya.
dika selalu berada di samping istrinya untuk menemani vani menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan calon bayi mereka.
"detak jantung bayi bapak normal, menandakan kalau bayi bapak dan ibu sehat. kalian bisa mendengarnya bukan?"
dokter kinan menjadi dokter kandungan vani selama ini.
"iya dok"
dika tersenyum bahagia mendengar suara detak jantung bayi mereka begitu juga vani yang sangat bersyukur karena sekarang bayinya sudah sehat kembali.
setelah selesai memeriksa detak jantung baby vani pun melakukan USG untuk melihat langsung bayinya.
dika dan vani menatap layar monitor dengan rasa haru hingga tak sadar meneteskan air mata saat melihat tubuh bayi mungil mereka terlihat cukup jelas pada layar itu.
vani hanya menatap mata suaminya dika pun membalas tatapan itu karena mengerti maksud dari tatapan istrinya.
"em, enggak usah deh dokter biar jadi kejutan aja buat kami saat dia lahir nanti yang penting sekarang kondisinya sehat dan baik. lagian laki laki atau perempuan itu sama aja, kami pasti akan sangat menyayanginya" ujar dika
dokter kinan tersenyum merasa tersentuh dengan jawaban dari dika. ia tahu selama masa kehamilan vani dika selalu menemani istrinya untuk check up kehamilan menandakan dika memang sangat mencintai istri dan anaknya.
di balik permasalahan yang sedang terjadi diantara mereka dokter kinan merasa jika itu hanyalah sebuah ujian rumah tangga dalam pernikahan vani dan dika yang sedang mereka jalani.
"saya sangat tersentuh melihat sikap dan perlakuan bapak kepada bu vani. sepertinya bapak sangat mencintai istri dan anak bapak"
dokter kinan mengutarakan apa yang dilihatnya
"saya memang sangat mencintai istri dan anak saya dok"
dika menatap istrinya namun vani hanya diam mendengar jawaban dari suaminya itu.
"saya sangat senang melihat ada seorang suami yang sangat memperhatikan istrinya. terutama di saat seorang istri sedang hamil karena pada masa masa itu terkadang cukup sulit bagi wanita untuk melaluinya. apalagi saat mendekati proses persalinan. para wanita hamil biasanya akan mengalami sulit tidur dengan nyenyak, bahkan sulit untuk bergerak bebas. belum lagi kekhawatirannya pada proses persalinan terkadang bisa membuat calon ibu mudah stres"
dokter kinan menjelaskan apa yang di rasakan oleh seorang wanita yang sedang hamil.
"saya harap bapak bisa selalu menjaga dan menemani istri bapak dengan baik selama melalui proses kehamilannya" tambah dokter kinan
"pasti dokter saya akan selalu menjaga mereka dengan sebaik mungkin"
dika menatap istrinya sambil tersenyum sedangkan vani tetap hanya terdiam.
setelah selesai melakukan serangkaian pemeriksaan kehamilan vani dan dika pun kembali pulang ke rumah.
sesampainya di rumah vani langsung masuk ke dalam kamarnya karena harus tetap beristirahat.
saat ini vani sedang duduk bersandar di atas ranjang empuknya.
"sayang aku seneng banget deh hari ini apalagi tadi kita bisa dengerin suara detak jantung baby"
dika tersenyum sambil mengusap usap perut istrinya.
"aku capek mau istirahat dulu"
__ADS_1
vani langsung merebahkan diri tanpa berniat untuk menjawab ucapan suaminya.
"ya udah sayang kamu istirahat aja sekarang ya kalo gitu aku mau ke bawah sebentar ya"
dika pun beranjak dari duduknya hendak melangkah keluar dari dalam kamar.
hari ini saat berada di rumah arin melihat dika yang sedang berjalan menuju ruang keluarga. dengan berjalan cepat ia menarik lengan dika dan mengajaknya sampai ke salah satu sudut ruangan.
"mas dika aku mau bicara sama kamu"
arin menarik tangan dika agar mau mengikuti langkahnya sampai di sudut ruangan.
"apa apaan sih kamu, aku bisa jalan sendiri"
dika menarik tangannya dari genggaman arin lalu berjalan mengikuti langkah arin.
"mas aku mau bicara"
arin menatap mata dika setelah melepas genggamannya.
"kamu mau bicara apa?" dika dengan malas menatap arin.
"apa maksud kamu mas, kenapa sekarang kamu malah cuekin aku setelah aku kasih semuanya ke kamu?"
arin kesal karena selama ini ia sudah diam menunggu dika untuk memberi keputusan atas dirinya namun dika selalu berusaha menghindar darinya.
"apa maksud kamu, aku enggak pernah nyentuh kamu" dika mengalihkan pandangannya.
"enggak pernah kamu bilang mas, kamu udah nikmatin sekarang kamu pura pura amnesia?"
"aku tau kamu emang sengaja ngerencanain ini semua biar aku pisah sama istriku kan" dika memicingkan mata.
"aku sengaja? ya enggak mungkinlah aku rela kehilangan kehormatan ku sendiri cuma biar kamu pisah sama dia"
"ya mungkin aja kalo emang kamu enggak sengaja terus kenapa waktu itu kamu malah senyum liat aku ada di samping kamu?"
"enggak. aku enggak senyum"
"kamu seneng karena aku ada di sana. iyakan?"
"kamu yang godain aku tau, terus kamu juga ngajak aku masuk ke dalam kamar itukan mas"
"apa sih arin bukannya kamu yang minta aku buat datang waktu itu jadi aku datang cuma mau mastiin kalo kamu baik baik aja di sana emangnya buat apa sih kamu ke hotel waktu itu?"
"aku enggak tau tapi kamu yang ngajak aku masuk ke dalam kamar itu"
mata arin mulai berkaca kaca mencoba mengingatnya.
"enggak arin. kamu pikir aku udah enggak waras ya! aku kan udah punya istri yang cantik di rumah ngapain juga aku ngelakuin itu sama kamu"
"aku enggak peduli mas aku cuma mau kamu tanggung jawab sekarang"
"tanggung jawab apa maksud kamu?"
"iya kamu harus nikahin aku mas"
"enggak arin, mana mungkin aku nikahin kamu. aku udah nikah sama wanita yang sangat aku cintai"
"terus gimana sama aku mas?" hiks! hiks arin menangis dengan derai air mata di pipinya.
"aku bakal ngasih apa pun yang kamu minta arin tapi aku mau kamu lupain semua tentang malam itu, tolong kamu menjauh dari rumah tangga ku"
dika menatap arin dengan sorot mata yang serius.
"enggak mas aku enggak mau, aku cinta sama kamu"
akhirnya arin mengungkap perasaan yang sesungguhnya kepada dika.
"aku enggak bisa arin karena aku sangat mencintai istri ku harusnya kamu cari tau siapa cowok yang udah ngelakuin itu ke kamu bukannya malah ikut nyalahin aku"
"tapi kan kamu cowok itu mas dika kenapa kamu enggak mau ngaku sih udah jelas jelas aku liat kamu ada di samping aku waktu itu"
"maaf arin tapi aku enggak bisa. aku enggak mau kehilangan wanita yang aku cintai"
"tapi bukannya kamu juga cinta sama aku mas"
arin pun menangis sambil memeluk tubuh dika.
ternyata sejak tadi dari kejauhan vani sudah melihat dika berbicara serius dengan arin namun ia tidak mendengar pembicaraan mereka dari tempatnya berdiri.
__ADS_1