Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 225


__ADS_3

malam ini di dalam kamarnya pasangan suami istri sedang menikmati hangatnya malam di atas ranjang yang empuk.


"sshh!! aakkhh!!"


lenguhan berat dika terdengar saat memacu tubuhnya di atas tubuh istrinya.


saat masih asik menikmati permainan bersama istrinya itu, berulang kali ponsel dika berdering di atas nakas tandanya ada panggilan masuk.


drt! drt! drt!


"mas tuh" tunjuk vani.


"ck! biarin aja sayang"


dika hanya mengabaikan saja karena aktivitasnya saat ini benar benar tidak bisa di ganggu gugat.


meskipun vani sudah memberi izin agar dika menjawab telpon lebih dulu namun dika tidak mau mendengarkannya dan memilih untuk melanjutkan permainan mereka saja.


"kamu yakin, gimana kalo penting?"


"enggak ada yang lebih penting dari pada kamu" bisik dika.


vani pun akhirnya ikut mengabaikan panggilan telepon di ponsel suaminya itu.


lenguhan panjang keluar dari bibir keduanya mengakhiri permainan malam itu.


dika mengecup kening istrinya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka lalu tidur sambil memeluk tubuh istrinya dari samping.


beberapa saat setelah mereka terlelap ponsel dika kembali berdering.


drt! drt! drt!


"haisshh!!! siapa sih dari tadi ganggu terus?"


dika merasa kesal lalu meraba ponselnya yang berada di atas nakas dan menjawab telpon itu tanpa melihat nama yang tertera lebih dulu.


"hem, halo" dika dengan malas menjawab telponnya.


"apa!!! oke oke saya kesana sekarang"


dika yang kaget langsung terduduk dari tidurnya saat mendengar kabar dari panggilan ponselnya itu


"emh!!! kenapa sayang?"


vani pun terbangun karena pergerakan dika yang kaget mengguncang ranjang mereka.


"em, e enggak ada apa apa kok sayang" dika tersenyum dengan canggung.


"kalo enggak ada apa apa kok kamu panik gitu sih mas?" vani menatap wajah suaminya.


"enggak kok sayang, ya udah sekarang kamu istirahat aja ya aku mau mandi dulu nih terus nanti aku juga mau keluar sebentar ya"


"lo mau kemana malam malam gini sayang?" tanya vani.


"aku mau nemuin ray sebentar ini masalah kerjaan kok sayang"


"jam segini??" vani heran karena hari sudah menjelang larut malam.


"iya sayang, sebentar aja kok" dika langsung beranjak.


"emangnya mas ray kenapa kok kamu kaya panik gitu sih?" vani curiga ada sesuatu.


"enggak ada apa apa aku cuma ada urusan sebentar perginya bareng ray, aku tadi kaget karena aku lupa kalo ada urusan malam ini. kamu sih selalu buat aku lupa segalanya sayang" gombal dika sebelum bergegas menuju kamar mandi.


"ada yang enggak beres. emhh, tapi aku ngantuk banget. capek mau tidur aja deh"


vani merasa curiga namun ia tetap melanjutkan tidurnya karena sudah merasa kelelahan.


setelah selesai mandi dika langsung memakai jaket dan mengambil ponsel serta kunci mobilnya di atas nakas lalu berjalan keluar dari dalam kamar dengan hati hati karena melihat istrinya yang sudah kembali terlelap.


dika langsung mengendarai mobilnya sendirian dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. ia merasa sangat khawatir dengan keadaan ray.


sebab dika mendapat kabar dari salah satu anak buahnya jika saat ini ray sedang berada di rumah sakit.


sesampainya di rumah sakit dika bersama dengan anak buah ray yang sebelumnya sedang menjaga ray di rumah sakit itu langsung menuju ruangan tempat ray di rawat.

__ADS_1


"dimana ray?" tanya dika sambil berjalan menuju ruangan.


"di ruangan sebelah sana pak" jawab anak buahnya menunjukkan sebuah ruangan.


saat membuka pintu ruangan itu dika melihat ray yang sudah sadar dan sedang duduk di atas bankar nya.


"ray, gimana keadaan lo? elo baik baik aja kan?"


"gue baik dika, jangan terlalu khawatir gitu tapi thanks ya lo udah perhatian sama gue" ray tersenyum.


"heh! jangan kepedean dulu lo. gue khawatir bukan karena gue takut lo kenapa napa"


dika membantah dan tidak membiarkan sahabatnya itu terlalu percaya diri.


"terus??"


"ya gue khawatir aja kalo lo sampe mati, terus ninggalin rahasia besar lo tentang istri simpanan itu kan bisa ribet urusannya sedangkan cuma gue yang tau tentang hal itu" dika menuturkan maksudnya.


"huh!! bisa enggak sih dika, lo itu enggak usah bahas tentang hal itu terus"


ray menghembuskan nafas panjangnya seakan lelah dengan hal ini.


"lagian emangnya kenapa sih lo sampe masuk rumah sakit?" tanya dika penasaran.


"hem, enggak papa gue cuma kecelakaan kecil aja"


ucapan ray itu tidak bisa di percaya oleh dika.


"yakin lo?"


"iya, tadi gue cuma mau keluar sebentar beliin makanan buat istri gue aja tapi mungkin gue udah ngantuk jadi nabrak pohon deh"


ray yang sebenarnya sedang menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya itu.


"istri lo yang mana nih?" tanya dika bingung.


"iya adek ipar lo lah" ray mengalihkan pandangannya.


"terus dia udah tau kalo lo ada di sini?" dika memastikan.


"enggak dan gue harap lo enggak usah kasih tau juga" pinta ray.


"gue minta lo bilang sama dia kalo kita lagi pergi bareng ya. gue enggak mau dia khawatir!"


"lo minta gue buat bohong lagi gitu?"


"dika please..!!" minta ray.


"mau sampai kapan ray? kalo elo udah mulai berbohong pasti bakal muncul kebohongan kebohongan lainnya buat nutupin kebohongan yang lain" dika mengingatkan.


"tapi ini udah terlanjur dika" ray malas berdebat.


"ini belum terlambat ray, akui kesalahan lo dan..."


"dan istri gue bakal kecewa sama gue terus mereka bakal ninggalin gue gitu?" ray menyela ucapan dika.


"terserah loh deh ray" dika hanya bisa pasrah.


"maafin gue ya dik, gue udah nyusahin lo dan buat lo harus terlibat dalam masalah yang gue hadapin ini"ray menyesal.


"ck! bukan gitu maksud gue ray santai ajalah kita masih temenan kok" dika menepuk lengan ray pelan.


"makasih ya gue boleh istirahat sekarang kan?"


"ya, istirahat aja gue mau pulang"


dika bangkit dari duduknya lalu ray mengangguk setuju.


dika berjalan keluar dari dalam ruangan ray sesampainya di depan pintu setelah dika keluar ia berbicara dengan anak buah ray.


"dengar! tolong perketat penjagaan di rumah ray karena malam ini dia tidak bisa pulang" ucap dika.


"baik pak" mereka mengangguk.


dika berjalan keluar dari rumah sakit itu dan melajukan mobilnya kembali pulang ke rumah.

__ADS_1


keesokan harinya dika sedang bersiap hendak segera berangkat ke kantor.


"mas, kamu pergi sendirian ya di mana mas ray? tumben dia enggak jemput kamu" tanya vani karena tak melihat ray


dika baru saja selesai sarapan dan hendak pergi ke kantor.


"oh iya sayang ray lagi sibuk" jawab dika singkat.


"mas kenapa sih kamu selalu buat mas ray sibuk terus belakangan ini, kasian tau yuli sama baby arka. dia sering curhat kalo mas ray selalu pulang larut malam ke rumah sampe enggak ada waktu buat main lagi sama baby arka" curhat vani kepada suaminya.


"loh kok jadi aku sih sayang kan kamu tau tugas ray dari dulu memang selalu banyak" dika meyakinkan istrinya.


"em iya juga sih mas ya udah kalo gitu kamu hati hati ya sayang" vani mengecup punggung tangan suaminya.


"oh iya jagoan papa dimana nih?" dika mencari keberadaan raffa karena belum melihat putranya itu pagi ini.


"affa udah pergi sekolah mas kamu sih lama banget"


"oh gitu, ya udah sayang aku pergi ya emuachhh! love you"


dika mengecup kening istrinya lalu mengusap lembut perut istrinya juga.


"love you to" vani melambaikan tangannya.


hari hari berlalu dengan begitu cepat, beberapa bulan kemudian vani pun mengadakan syukuran tujuh bulanan bayi keduanya.


papa hardi dan mama ratih sudah kembali pulang dari london untuk menyambut kelahiran cucu ke empat mereka.


keluarga wijaya sedang berkumpul di dalam kediaman dika, mereka hanya mengundang beberapa keluarga dan tetangga terdekatnya saja.


di dalam acara syukuran itu hana kembali bertemu dengan dimas hubungan di antara mereka masih tetap berlanjut sebagai teman. farel pun ikut datang di acara keluarga terpandang itu.


farel yang melihat dimas hanya diam menatap ke arah mereka pun langsung bertanya kepada hana


"sayang, liat deh mantan kamu liatin kita terus tuh. dia kenapa sih?" farel berbisik kepada hana.


"em, enggak tau yank udahlah enggak usah di liatin. aku ke sana dulu ya" hana berjalan mendekati kakaknya.


"kak yuli, kamu kenapa sih?"


hana yang melihat kakaknya itu hanya melamun sejak tadi pun menegurnya.


karena tidak mendapat jawaban hana pun mengikuti arah pandangan yuli yang tertuju kepada seorang wanita yang sedang berada di dekat ray.


ternyata ray mengajak naya untuk datang menghadiri acara syukuran calon bayi sahabatnya itu karena naya merasa bosan di rumah.


dika yang juga melihat naya datang di sana mengambil kesempatan untuk berbicara empat mata dengan sekretarisnya itu.


"ray! lo udah gila ya, lo ngapain bawa naya juga kesini?" bisik dika dengan suara sepelan mungkin.


"emangnya kenapa sih dik, kan lo sendiri yang bilang kalo gue harus bersikap adil sama keduanya. ya udah gue ajak naya juga lah kesini kasian dia di rumah terus"


"ya enggak gitu juga konsepnya ray. lo nyatuin dua istri dalam satu atap itu namanya"


"lo tenang aja, kan enggak ada yang tau"


"iya tapi lo yakin kan semua bakal aman?" dika menatap tajam.


"iya iya deh aman" ray pergi meninggalkan dika di sudut ruangan.


"mas kamu ngapain aja sih di sana?"


yuli menghampiri ray sambil menatap ke arah mantan kekasih suaminya itu.


"aku, habis nemuin temen lah sayang" ray beralasan.


"temen yang mana?" yuli dengan nada curiga.


"udah deh sayang jangan mulai" ray mendekat lalu tersenyum merangkul pinggang istrinya.


"ck! awas ya kamu macem macem"


"enggak mungkinlah sayang"


naya hanya diam diam menatap ke arah ray dan yuli yang sedang bergandengan mesra.

__ADS_1


acara berjalan dengan lancar para tamu saling bercerita satu sama lain termasuk arin dan dokter radit yang juga datang hendak memberikan ucapan selamat kepada dika dan vani.


akhirnya acara itu pun selesai, naya pulang dengan di antar oleh supir pribadi karena tidak mungkin ray mengantarnya pulang sedangkan yuli juga berada disana.


__ADS_2