
dari arah pintu terdengar suara vani yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerja suaminya.
"mas, kamu apain luna?"
vani yang baru saja masuk ke dalam ruangan dika pun melihat luna sedang menangis dan berlutut di hadapan suaminya itu.
"sayang! enggak ada apa apa kok, kamu kenapa kesini?" dika tersenyum menatap istrinya.
"luna kamu ngapain di sini?" vani malah menatap luna.
"saya..." luna bingung harus menjawab apa.
"udahlah abaiin aja dia sayang, kamu ngapain kesini?" dika merangkul pundak istrinya.
"emangnya enggak boleh ya aku kesini? aku kan kangen sama kamu mas"
vani dengan manja memeluk suaminya tepat di hadapan luna yang sedang menangis.
"oh ya? aku kan enggak kemana mana hari ini sayang"
"tapi aku kangen" vani menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya sambil mengusapnya lembut.
"em, iya aku juga kangen sayang kalo gitu ayo kita ke kamar aja" dika menggendong tubuh istrinya lalu berjalan keluar meninggalkan luna sendirian di dalam ruangan kerjanya itu.
"ck! pak dika sama bu vani pasti sengaja deh mesra mesraan di depan aku"
luna merasa kesal lalu ikut keluar dari dalam ruangan itu.
sesampainya di dalam kamar dika merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.
"sayang, kamu serius kangennya siang siang gini?" dika memainkan alis matanya.
"ish! iya enggak lah mas. aku kan cuma bercanda" vani mematahkan semangat suaminya.
"huh! udah feeling" dika duduk dengan pasrah di tepi ranjangnya.
"mas, kamu pecat luna ya?" vani menatap suaminya.
"em" dika mengangguk singkat.
"tapi mas, kalo kamu pecat luna nanti affa bisa ngambek loh. soalnya kan anak kita udah terbiasa sama luna mas"
vani menggenggam tangan suaminya berusaha untuk membujuk dika agar tidak memecat luna.
"terus kamu mau aku biarin luna dengan kelakuannya yang kaya gitu sayang?"
"mas emangnya luna salah apa? apa tentang kecurigaan hana waktu itu?"
"bukan cuma sekedar kecurigaan sayang tapi itu faktanya karena aku udah liat dari CCTV di dekat pintu kamar kita"
"mas itu cuma kebetulan aja kok lagian menurut aku hal itu bukan sepenuhnya kesalahan luna. kamu sama aku juga ikutan salah karena waktu itu kita lupa buat ngunci pintu kamar sampe sampe suara haram kamu keluar dari dalam ruangan kamar mas"
"bukan suara haram sayang, tapi suara seksi kamu yang sampe kedengeran dari luar" dika menolak faktanya.
"ih! enggak ngaku banget sih, kalo suara kamu sendiri yang paling kuat kedengarannya"
vani juga tidak mau kalah berdebat dengan suaminya meskipun hanya sekedar candaan.
"iya tapi bukan berarti dia bisa bersikap lancang cuma karena kita lupa nutup pintu kan" dika tetap pada keputusannya.
"kan itu enggak sengaja mas sama halnya kaya kamu yang sering nonton film dewasa" vani membuat dika melotot kearahnya.
"apaan sih sayang apa hubungannya coba" dika memelas
"iya ada deh pokoknya kamu jangan pecat luna ya mas cuma karena kesalahan sepele kaya gitu"
__ADS_1
"sepele kamu bilang?"
"iya kan cuma liat sebentar doang"
"ck! terserah kamu deh sayang kalo itu udah jadi keputusan kamu"
dika yang tidak bisa menolak keinginan istrinya itu pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"mas!! mas dika tunggu!!" vani mengejar langkah suaminya yang hendak keluar dari dalam kamar mereka.
"ada apa lagi sih sayang?" dika berbalik badan menghadap istrinya.
"kamu enggak keberatan kan kalo aku pertahanin luna buat kerja disini mas?"
vani ingin memastikan jika suaminya tidak akan marah dengan keputusannya itu.
"iya, aku kan udah bilang terserah kamu"
"iya tapi aku enggak mau jawaban yang pasrah kaya gitu mas kamu kan suami aku jadi aku harus ngikutin semua keputusan dari kamu sebagai pemimpin sekarang tolong jawab jujur apa yang jadi keputusan kamu mas"
"oke, kita pecat luna" keputusan singkat dika.
"duh!! mas jangan dong" vani kembali menolak.
"katanya kamu mau dengerin keputusan aku gimana sih"
"iya tapi tolong kamu pertimbangin lagi dong mas kasihan luna, kasih dia kesempatan sekali lagi ya" vani membujuk.
"iya tapi aku malu sayang" dika mengeluhkan kesahnya.
"lagian kenapa harus malu sih mas kamu kan ngelakuin hal itu sama istri kamu sendiri bukan sama istri orang lain emangnya kamu malu ya kalo ngelakuin itu bareng aku" vani memanyunkan bibirnya.
cup!! dika mengecup bibir mungil istrinya yang manyun itu dengan gemas.
"aku enggak malu sayang, aku juga enggak malu kok kalo harus ngelakuin itu di depan dia bareng kamu tapi itu kan hal yang enggak pantas menurut aku"
"kamu bilang wajar sayang? astagfirullah! kamu yang aneh tau enggak. aku enggak mau ya kalo sampe ada masalah dalam rumah tangga kita lagi kaya dulu. aku enggak mau lama lama dia bakal jadi suka sama aku jadi kalo perlu kita enggak usah punya asisten cewek lagi dirumah ini. kecuali umurnya udah 50 tahun ke atas biar enggak mungkin jatuh hati sama aku. sama suami kamu yang ganteng ini" dika berbicara ngegas kepada istrinya.
"wah!!! wah!!! suami ku ini muji diri sendiri ya. lagian kalo kamu enggak tergoda sama cewek lain juga enggak bakal ada masalah di rumah tangga kita mas terus tadi kamu bilang asisten usia 50 tahun ke atas maksudnya kamu mau nyuruh orang tua bersih bersih dan kerja berat gitu. jangankan ngepel mas mungkin si nenek juga udah susah buat jalan. emang kamu mau jadi anak durhaka karena mempekerjakan orang tua yang harusnya kamu hormati"
"jadi aku harus gimana sayang lagian kan bukan aku yang tergoda sama mereka tapi mereka yang tergoda liat aku" dika masih dengan kepedean tingkat akhiratnya.
"udah deh mas aku enggak mau debat lagi sama kamu aku capek tau enggak!"
vani malas melanjutkan perdebatan tidak jelas dengan suaminya itu.
"lagian kamu yang duluan sih" dika tak mau di salahkan.
"shh aw!! perut aku keram mas sakit!"
vani meringis memegangi perutnya sambil mencengkram kuat lengan suaminya.
"sayang, kamu enggak papa? aku panggil dokter ya" dika langsung merasa khawatir.
"enggak usah mas aku enggak butuh dokter sekarang aku cuma butuh istirahat aja" vani hendak kembali menuju ranjang.
"sayang maafin papa ya" dika mengelus sayang perut istrinya yang sudah terlihat membuncit itu.
"aku udah enggak papa kok mas aku baik baik aja"
vani berjalan tertatih dengab dika membantu istrinya berjalan sambil memegangi kedua pundaknya.
"sayang maafin aku ya" dika masih merasa bersalah.
"iya enggak papa aku juga salah mas" vani merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
di dalam kamarnya luna sedang mengemasi barang barangnya karena akan segera pergi dari rumah itu.
setelah vani merasa keadaannya sudah lebih baik, ia pun datang dan masuk ke dalam kamar luna.
tok! tok! tok!!
vani mengetuk pintu kamar luna yang sebenarnya sedang terbuka sebelum ia masuk.
"luna!" vani melihat luna yang sedang mengemas barangnya ke dalam tas besar.
"iya bu" luna pun menghentikan pekerjaannya lalu berbalik menghadap ke arah vani.
"kamu jangan pergi ya" vani mendekat lalu memegang lengan luna serta mengusapnya lembut.
"maksud ibu?" luna menatap vani yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"iya kamu jangan pergi ya affa sayang banget sama kamu, apapun yang di ucapin mas dika tadi jangan masukin ke dalam hati ya bisa kan kita lupain aja tentang masalah itu. semua yang lalu biarlah berlalu, kamu mau kan tetap kerja di sini jagain affa apalagi sebentar lagi adeknya afa juga mau launching nih. kalo enggak ada kamu gimana dong" vani tersenyum memelas mengelus perut buncitnya.
"ibu serius maksudnya saya enggak jadi di pecat buk?" luna tersenyum sumringah.
"iya. kamu itu udah kaya adek sendiri buat saya luna"
"makasih ya buk makasih banyak, saya janji enggak akan ulangi kesalahan itu lagi" luna mengecup punggung tangan vani mengucapkan terima kasihnya sambil menunduk.
"eh, jangan gini dong luna. kita kan sesama perempuan yang harus saling mengerti jadi jangan kaya gini ya. tolong kamu lupain aja masalah itu"
"makasih buk vani ibu baik banget, saya janji akan selalu jagain mas affa sama calon adeknya yang mau launching ini dengan baik buk"
"iya makasih ya kamu juga baik"
"Alhamdulilah" luna bersyukur karena tidak jadi di pecat.
"em, oh ya luna emangnya apa aja sih yang udah kamu liat waktu itu?" bisik vani karena penasaran.
"em itu buk, enggak ada kok saya cuma liat dikit buk hehe ternyata bapak itu macho banget ya buk"
luna menjawab malu malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"haha, kamu itu ada ada aja deh luna" vani menggelengkan kepalanya.
"em, maaf buk. aduh mulut ini kok keterusan sih"
luna menepuk pelan bibirnya sendiri karena merasa jika ucapannya itu tidak pantas ia katakan.
"ya udah kamu saya tinggal dulu ya karena saya harus istirahat lagi nih luna"
"iya buk sekali lagi makasih ya buk"
vani kembali masuk ke dalam kamar hendak melanjutkan istirahatnya setelah memastikan luna tidak pergi dari rumah itu.
"hem kayanya aku mau tidur siang dulu deh" vani merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
tidak lupa vani kembali mengatur suhu AC di dalam kamarnya agar lebih sejuk.
"nah sekarang lebih nyaman bisa bobok deh" vani langsung memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas.
di dalam ruang kerjanya dika yang berniat menenangkan pikirannya justru terlihat semakin kacau. ia merasa lelah hingga akhirnya memutuskan untuk beristirahat saja.
ceklek!
setelah membuka pintu kamarnya dika melihat istrinya yang juga sedang tidur di atas ranjang. ia bergerak dengan perlahan agar tidak menggangu tidur pulas istrinya lalu merebahkan tubuhnya di samping vani.
dika menatap wajah tidur istrinya dari arah samping sambil tersenyum.
"kamu gemesin banget sih"
__ADS_1
setelah puas menatap istrinya akhirnya dika bisa tertidur pulas sambil memeluk tubuh vani.