Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 154


__ADS_3

sesampainya di rumah, vani dan kedua adiknya langsung masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat. dika menggendong raffa agar tidur di atas ranjang lalu mengecup kening putranya itu.


vani yang merasa lelah pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tepat di samping raffa.


"sayang, kamu ganti baju dulu dong emangnya enggak gerah ya tidur pake baju kaya gitu?" dika melihat istrinya yang enggan membuka mata lagi.


"males sayang entar juga ada kamu yang bakal bukain semuanya pas aku lagi tidur kaya biasa" ucapan vani membuat senyuman di wajah dika mengembang.


"kamu tau aja deh sayang" dika pun langsung mendekati istrinya sambil tersenyum penuh arti.


"tapi kamu jangan ganggu tidur aku ya mas" vani memberi peringatan membuat dika bingung.


"katanya boleh di bukain tapi enggak boleh di ganggu tuh gimana sih maksudnya?" dika bertanya sambil berjalan menuju kamar mandi hendak mengganti pakaian.


setelah selesai mengganti pakaiannya dika kembali dengan membawa piyama untuk istrinya juga.


"sayang nih bajunya kamu ganti dulu biar tidurnya makin nyenyak" dika berbaring di samping raffa sambil mengecek ponselnya.


"em, iya deh" vani bangkit dengan malas berusaha untuk mengganti pakaiannya.


dika tersenyum melihat istrinya yang sedang kesulitan membuka resleting gaun karena matanya sudah sangat mengantuk.


"sayang bantuin dong" minta vani kepada dika.


"em,,, kalo aku bantuin kamu, aku dapat apa sayang?" dika tersenyum jahil sambil mendekati istrinya


"hem, terserah kamu deh mas mau ngapain aja" vani hanya pasrah dengan kelakuan suaminya membuat dika semakin bersemangat menggodanya.


"nah gitu dong sayang, kita buat adeknya raffa ya. minggu depan kan raffa ulang tahun jadi hadiahnya punya adek baru" ucapan dika membuat vani membuka matanya lebar.


"em, jangan dulu deh mas raffa kan masih kecil"


vani mengira ucapan suaminya itu serius padahal dika hanya menggodanya saja karena sebenarnya dika pun ingin menjaga agar istrinya tidak hamil secepatnya.


mengingat vani yang melahirkan dengan jalur caesar serta kesulitannya saat sedang hamil membuat dika tidak tega terlebih lagi istrinya itu sampai mengalami koma setelah melahirkan putra pertama mereka.


"aku cuma bercanda sayang serius banget sih kamu, aku tau kok kamu pasti masih takut kan buat hamil lagi" dika menatap mata istrinya.


"enggak kok mas, aku enggak bakal takut selama kamu ada di samping aku"


cup! vani mengecup kening dan kedua pipi dika dengan mesra lalu ia juga berulang kali mengecup lembut bibir suaminya.


"kamu yang mulai ya sayang"


dika tersenyum semirk lalu dengan cepat melepaskan gaun yang di pakai oleh istrinya dan langsung membuang gaun mahal itu ke lantai begitu saja.


"sayang itu kan gaun yang kamu kasih ke aku"


vani hanya menatap gaun yang baru dika berikan kepada dirinya pagi tadi di buang begitu saja oleh suaminya itu padahal setiap barang pemberian dika selalu vani jaga karena tau semua barang barang yang dika beli pasti harganya mahal.


"aku bakal kasih semuanya buat kamu sayang, gaun itu enggak terlalu penting" bisik dika.


dengan perlahan dika merebahkan tubuh di atas ranjang tepat di samping raffa yang sudah tertidur pulas. mereka bahkan bergerak dengan perlahan agar raffa tidak terbangun dari tidur nyenyaknya.


keesokan harinya terlihat dika sedang bersiap hendak berangkat ke kantor. vani sedang membantu suaminya untuk merapikan pakaian.


"oh ya sayang katanya kemarin kamu mau jelasin sesuatu gitu, tentang apa sih?" tanya dika masih penasaran.

__ADS_1


mereka berdiri saling berhadapan dengan tangan dika yang memeluk pinggang istrinya.


"oh itu tentang yuli sama mas ray"


"em, maksudnya? emang kenapa sama mereka?"


"kamu tau enggak kalo yuli tuh suka sama mas ray" jawaban vani membuat dika tertawa.


"ppfftt!! hahaha kamu serius sayang, yuli jatuh cinta sama ray?" ckckck dika tertawa karena merasa tidak percaya.


"emang kenapa sih mas, bagus dong kalo mereka jodoh kan mas ray cowok yang baik sama kaya kamu sayang"


vani mencubit gemas kedua pipi suaminya seperti anak kecil.


"ya lebih baik aku dong"


"iya iya deh"


"em, emangnya kamu setuju kalo yuli nikah sama ray yang aneh itu?"


"aneh gimana sih maksudnya mas?"


"ya aneh lah, dia kan enggak pernah jatuh cinta sayang entar kalo dia enggak sayang sama yuli gimana?"


"iya kan aku bilang kalo mereka jodoh mas, kalo enggak ya udah sih enggak papa juga"


"em, iya sih sayang"


"lagian mas ray itu bukan enggak pernah jatuh cinta mas tapi ya belum aja, nanti pasti bakal jatuh cinta terus mereka nikah deh kaya kita"


vani memeluk lengan suaminya dengan manja sambil mengusapnya lembut.


"iya nih pengennya peluk kamu terus" vani terus memeluk suaminya.


"em, ya udah gimana kalo hari ini aku enggak usah ke kantor ya. meluk kamu seharian aja di rumah pasti enak lagian cuacanya mendung mendukung nih sayang" dika memainkan alisnya.


"ih! itu sih maunya kamu mas, pokoknya hari ini kamu tetap harus kerja lagian udah sering banget kamu enggak ngantor belakangan ini tau. sebagai bos harusnya kamu itu kasih contoh yang baik buat karyawan kamu dong"


"kamu takut banget sih aku jatuh miskin. cuma karena enggak kerja satu hari doang suami kamu ini enggak bakalan jadi miskin sayang" ujar dika yang tidak di izinkan libur oleh istrinya.


"ya iya dong mas, hari ini doang satu hari dari kemaren udah berapa hari coba. entar kalo kamu jatuh miskin mau ngasih makan anak sama istri pake apa hayo?" vani menggoda suaminya.


"iya pake cinta lah sayang, kan aku cinta sama kamu hehe"


"apaan sih mas, mana bisa hidup cuma makan cinta"


"kamu juga cinta sama aku kan?" dika memeluk istrinya.


"iya iya aku cinta sama kamu tapi beli beras sama sayur tuh enggak bisa pake cinta doang tau"


vani melepaskan pelukan suaminya lalu menggendong putranya keluar dari dalam kamar.


saat ini di meja makan vani sedang menemani suaminya sarapan bersama dengan kedua adiknya juga.


kebetulan ray datang lebih awal hari ini lalu vani pun menawarkan untuk sarapan bersama dengan mereka.


dengan senang hati ray pun langsung setuju setelah mendapat persetujuan juga dari dika, ray duduk dan ikut bergabung bersama yang lainnya di meja makan itu.

__ADS_1


di sela sarapan mereka, vani bertanya satu hal kepada ray.


"em, oh ya mas ray aku boleh nanya sesuatu gak?" vani menatap sekretaris dari suaminya itu.


"iya, tentu boleh. mau nanya apa?" ray pun penasaran dengan pertanyaan yang akan vani ajukan kepadanya. sedangkan yang lainnya hanya menyimak pembicaraan mereka saja.


"sebenernya tipe wanita ideal mas ray itu kaya apa sih, kok kayanya susah banget gitu nemuinnya?"


vani bertanya dengan santai, sebenarnya tujuan dari ucapannya itu adalah untuk mengetahui perasaan ray terhadap adiknya apakah yuli masuk dalam kriteria wanita ray atau tidak.


"em,,,, gimana ya? sebenarnya aku enggak terlalu milih tipe sih, cuma emang karena lebih sering sibuk kerja jadi cewek cewek tuh enggak ada yang bisa mengerti sama kesibukan aku" jawab ray apa adanya.


"oh jadi akhirnya cewek cewek ninggalin mas ray itu karena mas ray enggak pernah punya waktu buat mereka gitu?"


"ya gitu deh"


vani menatap tajam ke arah suaminya, seakan sedang menyalahkan dika yang terlalu banyak memberi pekerjaan kepada ray sehingga tidak memiliki waktu untuk pribadinya sendiri.


"itu enggak bener sayang, emang ray nya aja yang enggak pernah punya pacar selama ini terus dia kalo di deketin cewek juga galak banget gimana ada yang mau deket sama dia coba" dika membela diri karena tidak mau istrinya malah menyalahkan dirinya.


"em, tapi pasti mas ray punya tipe karakter orangnya kan?" vani masih penasaran.


"iya kalo karakter sih simple aja cewek yang kaya kamu ginilah. udah cantik, pintar, jago masak, kalem lembut cowok mana sih yang bakal nolak " ray tersenyum menatap vani.


mendengar jawaban dari ray itu membuat yuli tersedak minumannya sendiri.


"uhuk!! uhuk!!!" sepertinya yuli sangat syok saat mendengarnya.


"ya ampun kak yuli, pelan pelan dong kalo minum" hana yang berada di samping yuli langsung memgusap pelan punggung kakaknya itu.


"maaf ya" yuli hanya tersenyum tipis.


"heh!! apa apaan maksud lo? cewek kaya kamu"


dika tidak terima jika karakter wanita yang ray sebutkan adalah wanita yang sama seperti istrinya bahkan ray menyebut seperti kamu kepada vani yang membuat dika semakin kesal.


"emang apa? gue bilang gue suka cewek kaya istri lo, terus salahnya dimana" ray sengaja membuat dika semakin kesal.


"huhh! bener bener minta di pecat nih orang" kesal dika namun ray hanya tersenyum jahil.


vani menatap kedua pria itu secara bergantian dengan bingung niatnya ingin tau bagaimana perasaan ray kepada yuli malah mereka yang bertengkar pikirnya.


"hei, kamu ngapain malah natap dia kaya gitu hem? kamu seneng ya dia suka sama kamu?" dika jadi kesal pada istrinya karena mendapati vani sedang menatap ray.


"ya ampun sayang kamu jangan marah marah gitu dong, mas ray kan cuma bilang sukanya sama tipe cewek kaya aku bukan suka sama aku. lagian aku tuh sukanya cuma sama kamu doang tau enggak ada yang lain"


vani tersenyum sambil mengusap usap lengan suaminya agar tidak kesal lagi.


"tau tuh aneh banget suami kamu. apa salahnya coba punya tipe cewek yang sama, yang penting kan enggak mencintai satu wanita yang sama" ray melirik dika yang masih menatapnya dengan tajam.


"berisik lo" kesal dika.


"bucin banget lo" balas ray.


"terserah gue lah"


'ya ampun ternyata selama ini tipe wanita idaman pak ray itu yang kaya kak vani. cewek yang cantik, pintar bisnis, jago masak, ngomong juga lembut, fashionnya feminin sedangkan gue meskipun dari kecil bareng kak vani terus tapi karakter kita justru bertolak belakang banget' batin yuli memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"udah dong kalian jangan debat terus, sana gih pergi ke kantor entar telat lagi" ujar vani pada kedua pria di sampingnya itu.


setelah menyelesaikan sarapan mereka akhirnya dika dan ray pun berangkat ke kantor bersama. setelah suaminya itu berpamitan untuk berangkat ke kantor seperti biasa vani selalu mengantar dika hingga ke depan pintu.


__ADS_2