Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 144


__ADS_3

Sesampainya di rumah, dika langsung berjalan menuju kamarnya namun tidak mendapati vani dan bayinya ada di dalam kamar.


dika pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri baru setelah itu ia akan mencari keberadaan istri dan bayinya di dalam kamar lain.


setelah selesai mandi dika keluar dari dalam kamarnya lalu melangkah cepat menuju kamar putranya yang berada di samping kamarnya.


ceklek!


setelah membuka pintu kamar itu, dika melihat istrinya sedang duduk di tepi ranjang sambil menyusui bayi mereka.


kedua adik iparnya juga berada di sana sedang menonton drama kesukaan mereka. yuli dan hana yang sedang duduk di atas sofa dalam kamar itu pun menoleh saat melihat kedatangan dika.


dika berjalan masuk mendekati vani lalu mengecup kening istri dan anaknya itu secara bergantian sambil tersenyum.


"emuach, hai sayang papa" dika duduk di samping istrinya.


rupanya hal manis itu tidak luput dari pandangan mata kedua adik iparnya. yuli dan hana yang sejak tadi memperhatikan kedatangan dika pun melihat keharmonisan keluarga kecil yang bahagia itu.


"aduh, romantisnya..." hana kagum saat melihat betapa manisnya sikap pasangan yang bahagia di hadapannya itu sedangkan yuli justru berkomentar sebaliknya.


"ya ampun bang dika, ada orang kali di sini bukan patung di kurangin dikit dong sweetnya kalo di depan kita. entar kita berdua ikutan diabetes lagi liat kemanisannya" ujar yuli julid namun tidak pernah di hiraukan oleh dika.


"iri aja bilang kak yul"bhana menanggapi sambil terkikik.


"kalo iya emangnya kenapa, lo mau minjemin pacar lo buat gue?" yuli melirik adiknya.


"ih aku kan enggak punya pacar kak, kalo pun ada enggak bakal aku pinjemin juga buat kakak kale!!" ejek hana.


"iya kalo gitu diem aja dong kamu enggak usah ikutan" sambung yuli.


alhasil kedua gadis itu pun meneruskan perdebatan mereka yang tidak jelas.


melihat perdebatan di antara kedua adiknya itu vani dan dika pun hanya menggelengkan kepala karena sudah sering melihatnya.


"oh ya mas, kamu kok udah pulang?" vani menatap dika.


"iya sayang aku pulang karena tadi di kantor aku dapat kabar kalo arin kecelakaan dan sekarang keadaannya masih kritis di rumah sakit" jelas dika.


"apa!!!! arin kecelakaan mas?"


"em" dika mengangguk.


yuli dan hana yang awalnya masih berdebat pun ikut kaget saat mendengar ucapan dika.


"apa!!! serius bang dika?" mereka serentak bertanya.


"iya, tadi aku udah ke rumah sakit sebentar buat liat keadaan arin sayang. maksudnya aku mau kesana lagi karena mama sama papa masih disana jagain arin"


"kalo gitu aku ikut ya mas" vani hendak berdiri namun kedua pundaknya langsung di tahan oleh dika.


"enggak sayang kamu enggak usah ikut ya, raffa kan masih bayi jadi dia enggak boleh ikut ke rumah sakit kasian. lagian kondisi kamu juga belum bener bener pulih. aku minta kamu sama raffa tetap di rumah aja ya. aku bakalan kabarin kamu terus kok kalo ada perkembangan tentang arin"


dika melarang vani untuk ikut karena kondisinya masih belum pulih pasca melahirkan bayi mereka beberapa minggu yang lalu.


"tapi mas aku juga khawatir, padahal tadi pagi arin tuh masih baik baik aja. kok bisa sih"


"kamu enggak usah khawatir ya sayang arin pasti bakal baik baik aja kok"


"iya kak vani, bang dika bener tuh kamu di rumah aja ya jagain raffa bareng hana. biar aku yang ikut ke rumah sakit buat liat keadaan arin" bujuk yuli akhirnya vani setuju.


"terus gimana keadaan bayi arin mas?"


"arin keguguran sayang"


"arin keguguran? ya ampun arin kasian banget"


vani syok saat mendengarnya padahal baru saja pagi tadi mereka kembali berdebat tentang ayah dari bayi yang tidak berdosa itu namun sekarang bayi malang itu sudah pergi untuk selamanya.


saat vani masih merasa syok karena mendengar kabar kecelakaan arin dika pun kembali memberinya kabar buruk tentang kematian raka.

__ADS_1


"oh iya sayang, tadi aku juga dapat kabar dari bang rangga sama ray kalo raka udah meninggal tadi siang karena kena tembakan di tubuhnya"


"apa!!!! mas raka meninggal?"


vani kaget dengan nada suara tinggi membuat raffa yang tadinya sudah tertidur di atas pangkuannya itu kembali menangis karena kaget.


"oeeekekkk,,,,oeeekekkk" tangis raffa pecah.


"cup...! cup...! cup...! sayang, maafin mama ya. mama enggak sengaja buat raffa nangis" vani berusaha untuk menenangkan bayinya yang sedang menangis.


"ya ampun kak vani kaget sih boleh tapi jangan lebay juga dong kagetnya sampe raffa nangis gitu"


"kak yuli ya wajarlah kak vani kaget, walau gimanapun kan mereka pernah deket jadi... hehe" ucapan hana terputus karena melihat tatapan tajam yuli kepadanya.


secara bersamaan mereka menatap wajah dika yang sejak tadi hanya terlihat datar.


setelah raffa tenang dan kembali tertidur vani meletakkan putranya ke dalam box bayi agar tidurnya tidak terganggu lagi karena pembicaraan mereka.


vani kembali duduk di tepi ranjang mendekati suaminya.


"maaf ya mas tadi aku cuma reflek aja" vani mengusap lengan suaminya agar tidak ngambek.


"iya enggak papa kok, emangnya kamu kenapa sih sayang kok segitunya banget"


"em,,, iya enggak papa sih mas. aku cuma kaget karena..." vani menggantung ucapannya.


"karena apa sayang? karena dia pernah jadi mantan kamu gitu" dika mengalihkan pandangannya dengan malas.


"cie, ada yang cemburu" yuli berbisik di dekat hana dengan suara yang dapat di dengar oleh sepasang suami istri itu.


"bukan gitu mas, kamu kok mikirnya gitu sih"


"iya terus...?"


"em, kamu tau enggak mas"


"enggak tau"


"ppfftt" yuli dan hana menahan tawa.


"tau apa?" tanya dika ulang.


"tau kalo sebenarnya mas raka adalah ayah biologis dari bayi yang di kandung arin tapi sekarang mereka berdua udah pergi selamanya"


vani menjelaskan dengan pandangan sedih namun ketiganya malah melongo mendengarnya.


"apa!!!!" dika dan kedua adik iparnya kaget bersamaan membuat vani tersadar dan kembali menatap mereka.


"jadi maksudnya selama ini kamu udah tau kalo bayi yang di kandung arin itu bukan anak aku?" dika memegang kedua pundak istrinya.


"em" vani mengangguk polos.


"hah! seriusan?" yuli ikut bingung.


"iya mas, emangnya kenapa? apa kamu berharapnya kalo bayi itu beneran anak kamu ya"


vani balik bertanya membuat dika terdiam memelas.


"ya bukan gitu sayang, kalo kamu udah tau kebenarannya kenapa kamu enggak cerita sama aku atau keluarga yang lain juga"


"aku cuma mau arin sendiri yang bakal ngomong jujur ke semua orang mas, lagian aku enggak punya bukti apapun yang bisa buktiin ucapan aku itu bener"


"emangnya sejak kapan dan dari mana kamu tau tentang ayah bayi itu sayang?"


"iya kamu tau dari mana kak?" yuli juga ikut penasaran.


"waktu aku di culik, aku denger mas raka sendiri yang bilang kalo anak di dalam kandungan arin itu adalah anaknya"


ucapan vani itu membuat dika semakin bingung dengan jalan pikiran istrinya sendiri.

__ADS_1


"jadi kamu juga tau kalo raka adalah orang yang nyulik kamu waktu itu. kenapa kamu enggak bilang juga sama aku sih vani..!!!!"


dika geram sampai menyebut nama istrinya yang selalu ia panggil dengan sebutan sayang itu.


"ppffftt" kedua adiknya menahan tawa mendengar perdebatan sepasang suami istri yang absrud itu.


"iya kamu enggak pernah nanya kan mas?" ujar vani polos.


membuat dika terdiam karena memang ia tidak pernah bertanya kepada istrinya, dika takut jika bertanya maka vani akan merasa trauma dengan penculikan itu.


dika hanya menyerahkan semua masalahnya penculikan kepada ray saja karena dirinya yakin semua akan beres di tangan sekretarisnya itu.


"huhh!!!!" ingin rasanya berkomentar namun yuli dan hana yang mendengar jawaban vani hanya menghembuskan nafas dengan pasrah. pasalnya mereka memang tidak pernah bertanya dan itu benar adanya.


"iya udah deh, puteri raja ku ini emang enggak pernah salah" pasrah dika menjawabnya.


"iya emang benerkan" hehe nyengir vani dengan polosnya.


"hem, kalo gitu aku mau balik ke rumah sakit lagi ya sayang" dika sambil memegang kedua pipi vani.


"em, tapi nanti malam kamu pulang kan...?" vani menatap mata dika serius.


"belum tau, emang kenapa kamu kangen ya kalo enggak pulang. iyakan hem?" dika tersenyum menggoda istrinya.


vani mengangguk pelan, mereka saling berpandangan sambil tersenyum.


"ehem...! ehem....!" yuli dan hana sengaja berdehem untuk mengganggu pasutri yang sedang bertatapan sambil tersenyum mencurigakan itu.


"jangan sampe nih ada adegan kiss kissan lagi iya kan han" yuli berbisik dengan suara keras pada adiknya.


"bener kak, tapi kan romantis banget tau. kaya lagi nonton drama secara langsung gitu"


hana tersenyum sambil membayangkan hal romantis itu terjadi pada dirinya membuat yuli merasa jengah dengan kepolosan adiknya yang sebenarnya tidak sepolos itu.


"heh! emang dasar ya lo" yuli memutar bola matanya.


"em iya, raffa kangen sama papanya" vani akhirnya mengalihkan tatapannya.


"raffa atau mamanya yang kangen sama papa hem?" dika terus menggoda vani dan mengabaikan dua adik iparnya yang sejak tadi menatap kesal.


vani hanya tersenyum menatap suaminya yang sengaja membuat kedua adiknya itu merasa kesal.


"haishh, udah dong bang dika kita berangkat sekarang aja ke rumah sakitnya. makin gerah disini kayanya AC nya mati deh"


yuli mengajak dika pergi agar mengakhiri drama romantis pasutri itu. yuli pun melangkah keluar dari dalam kamar yang sudah membuat dirinya gerah itu.


"hem, ganggu aja deh lo yul. makanya nikah dong biar enggak jomblo terus" ujar dika yang masih di dengar oleh yuli namun ia hanya meneruskan langkah keluar dan mengabaikan ucapan abang iparnya itu.


"udah dong mas. kamu jahil banget deh" vani tersenyum pada suaminya.


"ya udah deh sayang aku pergi ya. oh ya hana, tolong kamu jagain kakak kamu sama raffa di rumah ya" dika menatap hana.


"ahsiyap bang" hana pun mengangguk.


"i love you sayang" emuach dika kembali mengecup kening istrinya dengan cepat sebelum ia keluar dari dalam kamar putranya.


"hati hati ya sayang"


setelah kepergian dika, vani kembali mengalihkan pandangannya menatap hana dengan tersenyum canggung dan di balas senyum juga oleh hana.


dika dan yuli pun akhirnya pergi ke rumah sakit hanya berdua karena kondisi vani yang tidak mungkin untuk ikut.


di rumahnya rangga juga mengabarkan tentang keadaan arin pada istrinya, sekaligus mereka juga bersiap hendak pergi kembali ke rumah sakit karena ranty dan rara akan ikut melihat keadaan arin di rumah sakit.


"mas, kalo gitu aku sama rara ikut ya" ujar ranty setelah mendengar cerita dari suaminya.


"iya sayang, sekarang kita siap siap dulu ya"


"iya mas" ranty mengangguk.

__ADS_1


setelah selesai bersiap rangga dan ranty pun langsung menuju rumah sakit dengan mengajak rara juga.


__ADS_2