Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 95. Dokter jutek


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setelah hampir 15 menit menggendong Rey, Bram sampai lupa waktu untuk bekerja. Akhirnya dia menyerahkan kembali Rey pada Amayra, dia berpamitan pada Amayra dan anaknya.


"Sepertinya aku harus segera pergi. Makasih ya sudah mengizinkan aku bertemu dengan Rey," ucap Bram sambil tersenyum lembut.


"Iya kak sama-sama," jawab Amayra sambil menggendong Rey kembali.


"Aku boleh kan kesini lagi melihat Rey?" tanya Bram.


"Boleh, tapi lain kali kalau kakak mau kesini melihat Rey... harus ada kak Satria juga," ucap Amayra tegas pada kakak iparnya itu. Dia tidak mau ada gosip yang bisa menimbulkan fitnah antara dia dan Bram.


"Oke, aku paham. Jaga diri kamu baik-baik, Rey juga ya. Semoga kalian sehat selalu," ucap Bram sambil tersenyum, mendoakan dengan setulus hatinya untuk Amayra dan Rey.


"Aamiin, kakak juga sehat selalu." Amayra menjawab balik doa dari Bram.


Bram pergi dari rumah Amayra untuk pergi bekerja, hatinya senang karena sudah bertemu dengan Rey. "Nah sekarang semangat pergi kerja. Semangat Bram!"


Bram tersenyum sendiri, di dalam perjalanannya menuju ke kantor. Dia melihat seorang wanita berambut pendek sedang kebingungan dan mengotak-atik mobilnya yang terlihat mogok. Ketika wanita itu berbalik ke arah Bram, Bram langsung memberhentikan mobilnya. "Itu kan..."


Bram pun keluar dari mobilnya, dia menghampiri wanita itu. Dia adalah Diana, yang akan berangkat kerja tapi mobilnya mogok. Melihat sosok Bram mendekatinya, Diana sama sekali tidak menyambut ramah pria itu.


"Apa mobil dokter Diana, mogok?" tanya Bram sambil melihat ke arah mobil sedan berwarna putih itu.


"Kalau sudah tau kenapa tanya?" jawabnya jutek.


"Kenapa ya dokter Diana seperti punya dendam pada saya? Padahal saya berniat membantu lho?" Bram mengheran karena Diana selalu bersikap jutek kepadanya.


"Gak dibantu juga gak apa-apa," ucap Diana sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya memutar kemana-mana.


Aku gak akan percaya sama pria manipulatif seperti dia. Diana ingat jelas bagaimana Bram mengancam Amayra dan selalu berusaha memisahkan hubungan Amayra dan Satria.


Pria itu melihat jam ditangannya, "Jam berapa mulai jadwal praktek anda?" tanya Bram.


"Ah? Kenapa anda tanya-tanya?" tanya Diana sinis.


"Jawab saja," ucap Bram tegas sambil menatap wanita itu dengan tajam.


"Jam 8," jawab Diana singkat.


"Dimana tas anda?" tanya Bram dengan bahasa yang formal.


"Didalam mobil," jawab Diana.

__ADS_1


"Ambil tas anda, lalu pergi dengan saya!" Seru Bram.


"Maksud anda apa pak Bram? Siapa juga yang mau pergi dengan anda?" tanya Diana setengah mengomeli Bram.


Presdir Calabria grup itu merogoh sesuatu di jas hitamnya, dia mengambil ponsel disana kemudian menelpon seseorang. "Halo pak Muin, tolong ya.. ada mobil teman saya yang mogok, tempatnya dijalan kenanga."


Diana melihat Bram dengan heran, dia fokus pada wajah Bram yang tampan. Hidungnya yang mancung juga kulitnya bersih.


Pria menyebalkan ini, ternyata dia tampan juga. Ah Diana, apa yang kamu pikirkan?


Setelah berbicara dengan seseorang di telepon, Bram kembali menyimpan ponselnya di dalam saku jas. "Ayo cepat, nanti anda terlambat dokter Diana!" seru Bram mengajak Diana untuk pergi bersamanya.


"Ta-tapi saya, saya mau menunggu taksi saja. Mobil saya bagaimana?" tanya Diana kebingungan dengan ajakan Bram.


"Anda tidak dengar? Mobil anda akan diurus oleh supir di rumah saya. Dan kalau anda menunggu taksi disini, tidak akan ada yang lewat. Mereka sedang demo, cepatlah saya bisa terlambat!" kata Bram ketus.


Diana tadinya tidak mau ikut bersama Bram, tapi dia sudah terlambat. Pasien yang ingin memeriksakan anaknya yang sakit, atau check up kandungan, mungkin juga ada wanita yang akan melahirkan menunggunya di rumah sakit. Maka dia tak punya pilihan lain selain ikut bersama Bram.


Diana mengambil tas dan ponselnya yang berada didalam mobil sedan putih miliknya itu. Dia melangkahkan kaki menyebrang jalan, menuju ke mobil Bram. Dia langsung membuka pintu belakang mobil Bram.


"Dokter Diana!" suara Bram sedikit membentak wanita yang akan naik ke kursi belakang mobilnya. Bram melirik tajam kearah Diana.


"Apa sih pak? Kenapa anda membentak saya?" tanya Diana heran dan kesal karena Bram menyentaknya.


"Hey dokter jutek, saya bukan supir anda! Jadi anda harusnya duduk didepan dong, bukan di belakang!" Bram berterus terang mengatakan apa yang ada didalam hatinya dengan gusar.


Brak!


Dengan kesal dokter cantik berstatus janda itu menutup kembali pintu mobil Bram. "Haaahhh, jadi anda mau terlambat saja? Mau membuat pasien anda menunggu?" Bram menatap Diana yang akan melangkah pergi. "Jangan lupa, anda seorang dokter!" sambungnya tegas.


Diana terdiam ditempatnya, membatin, "Benar juga ya.. aku tidak boleh egois, aku seorang dokter kandungan dan anak. Nyawa ibu dan anak bisa saja bergantung kepadaku. Tapi, aku kesal sekali karena tidak ada yang bisa aku mintai tolong disini selain dirinya?"


Diana menuruti Bram, dia masuk ke dalam mobil Bram di kursi depan. Dengan wajah cuek, dia duduk disana sambil menggandeng tasnya. "Cepetan! Saya telat!" titah Diana pada Bram tanpa melihat ke arahnya.


"Kalau minta tolong, harus minta baik-baik." ucap Bram sambil menancap gas, tangannya memegang setir.


"Tolong ya pak Bram, mengendarai mobilnya agak cepat." ucap Diana dengan suara yang sedikit melembut.


Pria itu hanya menggelengkan kepala. Dia menyetir mobil dengan tempo cepat namun hati-hati. Di dalam perjalanan, Diana dan Bram mengobrol sedikit tentang Amayra dan Rey.


"Dokter Diana,"


"Ya?"

__ADS_1


"Kapan Rey dan Amayra check up?" tanya Bram penasaran dengan jadwal check up Amayra dan anaknya.


"Minggu depan. Kenapa?" jawabnya sembari bertanya. "Apa bapak mau menganggu lagi Amayra dan Satria?" tanya Diana curiga.


"Jadi seperti itu pemikiran dokter Diana pada saya selama ini. Biar saya luruskan, saya tidak memiliki perasaan seperti itu lagi pada Amayra. Dan meskipun ada, saya tidak akan menganggu rumah tangga adik saya. Saya merasa saya tidak pantas untuk mendapatkan wanita sebaik adik ipar saya," jelas Bram dengan senyuman pahit di wajahnya.


Diana memperhatikan raut wajah Bram yang terlihat jujur. Diana mencoba percaya pada Bram, kalau Bram sudah berubah. Terlihat di mobilnya ada gantungan berbentuk lafadz Allah, bahkan ada buku tentang Islam yang dia lihat di kursi belakang mobilnya. "Apa dia benar-benar ingin berhijrah?"


"Ehem baiklah, saya akan mencoba percaya. Namun, jika anda menganggu hubungan Satria dan adik saya...saya tidak akan tinggal diam!" ancamnya pada Bram, bahwa dia adalah orang pertama yang akan melawan Bram jika pria itu menganggu rumah tangga Amayra dan Satria.


Bram tersenyum tipis setengah tertawa,"Haa.. anda tidak cocok menjadi kakaknya," gumam Bram.


"Apa?" Diana mendongak, dia tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Bram.


"Sudahlah, tidak apa-apa."


Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan rumah sakit, Diana buru-buru keluar dari mobil Bram.Ketika Bram mulai menginjak gas, Diana memanggilnya. "Pak Bram, tunggu!"


"Ya?" Bram menaikan kakinya kembali, dia melihat ke arah Diana.


"Nomor ponsel anda!" Diana menyodorkan hpnya seraya meminta nomor ponsel Bram.


"Kenapa anda ingin nomor saya?" tanya Bram sambil tersenyum.


"Jangan kepedean ya pak Bram, saya meminta nomor anda karena saya ingin menanyakan perihal mobil saya!" Diana menggerutu kesal.


"Oh gitu ya? Oke." Bram tersenyum sambil mengambil ponsel Diana. Dia menulis nomornya disana. Hanya butuh beberapa detik untuk menulis nomornya di ponsel Diana.


Bram memanggil nomornya sendiri dengan nomor Diana. "Ini," Bram mengembalikan ponsel itu pada Diana.


"Makasih, saya pasti akan membayar kebaikan anda pak Bram!" Seru Diana sambil melangkah pergi.


"Tidak usah, saya ikhlas kok menolong dokter yang memiliki pekerjaan mulia. Saya juga bisa dapat pahalanya, jadi pahalanya dibagi dua saja," Bram menggoda Diana.


Jawaban Bram membuat Diana terpana, bagaimana bisa seorang Bram yang keras kepala bisa mengucapkan hal seperti itu. "Haha, enak saja. Pahalanya punya saya saja!"


"PFut..haha," Bram tertawa, setelah bercanda gurau sedikit dengan Diana. Si dokter yang dia panggil jutek itu.


Ternyata bicara dengan si CEO menyebalkan, enak juga ya.


"Ya udah, saya pergi dulu ya.. Assalamualaikum,"


...----*****----...

__ADS_1


Hai Readers, maaf ya Minggu ini up nya sore atau malam. Karena author lagi sibuk di rumah 🤭 kalau udah lewat Minggu ini, insyaallah up nya tepat waktu lagi.


Author mau up lagi nih, tapi mana suaranya?


__ADS_2