Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 257. Hilal jodoh


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bima mendorong ketua preman yang mengancam wanita muda pemilik warteg itu hingga jatuh ke lantai.


"Woy! Sialan lu!" ketua preman itu marah, dia kembali berdiri dan menghampiri Bima.


"Bos, biar kami yang urus!" kata Jack pada bosnya.


"Tidak usah, cecunguk kecil ini biar aku yang mengurusnya!" Bima tersenyum sinis, dia menantang preman itu untuk 3 lawan 1.


"Baiklah bos," jawab Jack patuh.


"Kalian bantu saja membersihkan warung," ucap Bima pada ketiga anak buahnya yang berpakaian serba hitam itu.


"Baik bos!" jawab Jack dan dua anak buah Bima yang lainnya patuh.


Wanita pemilik warteg itu ternyata adalah Fania, Fania terheran-heran kenapa Bima dan anak buahnya bisa ada di wartegnya?


"Hey! Sini lu!" kata si preman menantang Bima untuk berkelahi.


"Jangan banyak bacot ******, ayo keluar!" Bima menarik baju preman yang tubuhnya 2 kali lipat lebih besar darinya itu. Bima tidak gentar sama sekali.


Bima dan ketiga preman itu pergi ke halaman depan warteg milik Fania. Dia menghajar ketiga preman itu dengan tangannya sendiri tanpa bantuan siapapun. Hingga dalam beberapa detik, preman itu sudah berada di bawah kakinya.


"Mau gue patahin atau gue copot tangan Lo ini hah?!" Teriak Bima yang menarik tangan si ketua preman itu semakin kencang.


"Aduh...duh.. lepasin gue, tangan gue bisa patah!" Ujar si preman itu ketakutan pada ancaman Bima yang serius akan mematahkan tangannya.


"Kalau Lo takut kenapa Lo nantangin gue? Mau mati, Lo?!" Bima memelintir tangan kekar si preman itu.


"A-ampun....lepasin gue,"


"Gue bakal lepasin Lo, kalau Lo janji gak bakal datang bikin rusuh ke warteg ini lagi!"


"Sorry, gue gak bisa! Gue harus nagih hutang sama si Fania..." ucap preman itu keras kepala.


"Berapa hutangnya? Ngomong sama gue, berapa?!" tanya Bima pada preman itu.


"Dua-dua puluh juta." jawab si preman terbata-bata.


"Cuma segitu?" Bima meremehkan. Pria itu mengambil sesuatu didalam jaketnya, lalu dia menulis di dalam kertas itu dengan bolpoin. Bima melempar cek itu kepada wajah si preman. "Ini, cukup?"


Mata preman itu membulat ketika melihat cek nominal 20 juta di wajahnya. "20 juta bos?" kata salah satu anak buah si preman terperangah.

__ADS_1


"Iye dua puluh juta." Matanya hijau melihat angka nol yang banyak di cek itu


"Udah kan? Kalau lu, lu pada kelihatan sama gue...Lo bakal tau akibatnya!" Ancam Bima seraya menunjuk ke arah preman-preman itu.


"Kita janji gak bakal datang kesini dan gangguin lagi si Fania, thank you!" Kata preman itu sambil memegang tangannya yang kesakitan.


"Gue gak mau lihat muka lu lu pada lagi!" Bima menatap tajam ke arah tiga orang preman itu.


"Oke siap!"


Setelah para preman itu pergi, Bima melihat Fania sedang melihatnya dari belakang. Fania menghampirinya lalu marah-marah padanya. "Kenapa bapak malah memberikan uang itu?!"


"Supaya mereka pergi, lah." ucap Bima dengan wajah santainya.


Eh, tunggu...kok kayaknya cewek ini gak asing ya?


"Harusnya bapak biarkan saja mereka dan kenapa bapak membayar hutang saya?" Oceh Fania kesal.


"Aku kasih uang pada mereka supaya mereka gak gangguin makan siangku," ucap Bima menjelaskan dengan singkat.


"Apa?!" Fania tersentak kaget mendengar jawaban Bima.


Melihat wajah dokter Satria versi preman, rasanya kok aneh ya.


"Iya saya temannya Amayra," jawab Fania dengan wajah yang terlihat masih kesal.


"Oh gitu, ayo masuk! Aku lapar mau makan," ucap Bima cuek.


Fania dan Bima masuk kembali ke dalam warteg. Tak lupa Fania meminta maaf pada pengunjung yang sedang memesan makanan karena keributan itu. Setelah barang-barang disana sudah dirapikan oleh anak buah Bima, Fania langsung memasak makanan baru untuk Bima dan ketiga anak buahnya..


"Maaf dan terimakasih pak Bima, bapak susah menolong saya. Tapi saya masih belum bisa membayar uangnya untuk sekarang," ucap Fania sopan.


"Tadi kamu marah-marah, sekarang kamu baik lagi padaku. Heran deh sama wanita yang moodnya swing." Gerutu Bima sambil menyeruput kopi kesukaannya.


"Terus saya harus marah-marah sama bapak untuk hal yang sudah terjadi? Itu gak ada gunanya pak." Kata Fania yang jadi kesal lagi dibuatnya.


"Iya sih bener juga," jawab Bima cuek sambil memakan makanannya.


Ish, ini cowok beda banget ya sama dokter Satria walau wajah mereka sama.


"Mbak, 1 porsi iga bakarnya dong!" ujar seorang pengunjung pada Fania.


"Ah iya mbak," Fania langsung merubah wajahnya menjadi ramah saat berhadapan dengan pelanggan lain.

__ADS_1


Bima tersentak melihatnya, "Baru saja wajahnya marah padaku, cepat sekali dia merubah raut wajahnya itu."


"Iya bos, kok sama bos jutek amat ya! Padahal udah ditolongin juga." ucap Jack sambil tersenyum.


Fania ya namanya? Dia teman adik iparku.


Setelah kejadian itu, setiap hari Bima datang ke warteg Fania. Mereka semakin dekat karena urusan utang piutang, setiap hari Fania menyicil membayar utangnya pada Bima. Dari mulai seratus hingga lima ratus ribu, tergantung dengan banyaknya pengunjung yang datang ke wartegnya. Padahal Bima sebenarnya tidak mau menerima uang itu dan dia ikhlas membantu Fania.


*****


Siang itu, Rey baru saja pulang sekolah bersama Muin. Dia masuk ke dalam rumah Calabria sambil mengucap salam, dia melihat neneknya dan juga tantenya (Amayra )sedang bermain bersama si kembar di tengah rumah.


"Assalamualaikum Oma, Tante!" Sapa Rey sambil tersenyum lebar melihat Oma dan tantenya.


"Waalaikumsalam nak," jawab Amayra dan Nilam.


"Rey, maafin Oma ya...Oma gak jemput kamu, habisnya Dede Zayn nangis ditinggal Oma." ucap Nilam yang sedang menggendong Zayn di pangkuannya. Anak itu sedang bermanja-manja dengan Nilam dan tidak mau ditinggal.


"Hehe, gak apa-apa Oma."


"Rey, kamu ganti baju dulu ya, nanti kita makan siang bersama dan main sama Zayn Zahwa." Kata Amayra pada anak itu.


Rey memberi hormat pada Amayra. "Siap tante! Aku ke kamar dulu ya, Oma, Tante."


Rey langsung berlari menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas, Nilam menyuruh Rey untuk jalan pelan-pelan saja.


"Alhamdulillah ya ma, Rey sekarang terlihat ceria."


"Kamu benar May, apalagi kalau sudah main sama Zayn dan Zahwa," ucap Nilam sambil tersenyum.


"Abuwuuu...omwaa.."


Nilam dan Amayra tercekat saat mendengar Zayn yang jarang bicara itu mengucap kata omwa yang artinya Oma.


"May, kamu dengar apa itu?" tanya Nilam pada Amayra meyakinkan bahwa dia tidak salah dengar


"Iya ma, barusan Zayn bilang-"


"Omwaaa...omwaa.." Zayn si bayi mungil itu merentangkan kedua tangannya pada Nilam seolah ingin dipeluk oleh Nilam.


"Masya Allah, cucu Oma pintar sekali! Sudah bisa panggil Oma ya?" Nilam memeluk Zayn penuh kasih sayang. Dia gemas sekali pada anak itu.


Ketika sedang bermain dan bercanda bersama anak-anak, Amayra dan Nilam dikagetkan dengan hadirnya Bima ke rumah itu dengan Fania.

__ADS_1


...******...


__ADS_2