Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 122. I Don't care


__ADS_3

...****...


Di basecamp Satria, Afrika..


Keberangkatan Satria ke Jakarta, terpaksa harus ditunda karena keadaan cuaca yang buruk. Ada badai ditengah panas, belum lagi banyak korban yang kelaparan disana.


Karena cuaca yang buruk, bandara internasional ditutup sementara dan membuat Satria tidak bisa pulang. Belum lagi sinyal telpon, internet semuanya terputus karena cuaca yang sangat tidak bersahabat.


"Astagfirullahaladzim, apa lagi ini? Ya Allah.. bagaimana keadaan May? Kenapa dia masuk rumah sakit? Aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa saat ini," gumam Satria sambil memegang kepalanya.


Untuk pertama kalinya, Satria merasa ponselnya tidak berguna. Satria stress dan resah memikirkan istri dan anaknya yang berada di Jakarta. Dia sedikit memiliki rasa penyesalan, kenapa dia setuju ikut ke Afrika jika rasanya sangat menyiksa seperti ini?


Clara yang mengetahui Satria tidak jadi pulang, dia senang kegirangan ditengah kegalauan Satria. Bahkan Tuhan pun berpihak padanya, pikirnya dalam hati. Dia masih punya banyak waktu untuk mendekati Satria.


...*****...


🍁Rumah sakit, Jakarta, ruang rawat Amayra..


Wanita itu membuka matanya perlahan-lahan, dia merasakan nyeri dibagian kepala. Dia melihat langit-langit berwarna putih dan lampu yang terang. Matanya mengerjap, melihat ke sekelilingnya.


"Eh..Lo...udah sadar? Kakak.. dia sudah sadar!" kata Ken dengan senyuman mengembang di bibirnya. Dia memberitahu Keisha yang sedang duduk di sofa, bahwa Amayra sudah sadar


"Berisik sekali," gumam Amayra dengan suara yang lemas.


Keisha buru-buru menghampiri Amayra, dia menghela napas lega karena Amayra sudah siuman setelah hampir satu jam dia tidak sadarkan diri.


"Aku panggil dokter dulu ya kak!"


Ken keluar dari ruangan itu dan buru-buru untuk memanggil dokter. Tak berselang lama, Ken datang membawa dokter Mira yang merawat Amayra sebelumnya. Dokter Mira memeriksa kondisi Amayra, mengecek nadi. Mata dan anggota tubuh yang lain. Disana juga ada Diana yang melihat pemeriksaan Amayra.


"Amayra, apa kamu bisa lihat saya? Ada berapa ini?"dokter Mira melambaikan dua jarinya.


"Itu dua," jawabnya.


"Oke, mata masih normal.. alhamdulillah. Apa kamu merasa mual atau pusing?" tanya dokter Mira pada Amayra.

__ADS_1


"Sa..saya sedikit pusing, tapi saya tidak mual." ucap Amayra lemas.


"Hem.. berarti kamu masih berada dalam pemantauan, jangan dulu pulang ya. Kita lakukan pemeriksaan kepala dulu, takutnya ada gegar otak. Tapi semoga saja tidak," ucap dokter Mira ramah.


"Gegar otak? Tapi dia gak akan hilang ingatan kan, dok?" tanya Ken heboh.


"Kenan!" bentak Keisha pada adiknya.


Kenan langsung bungkam, dia menunduk ketakutan ketika dibentak sang kakak.


"Maaf dok, tapi saya harus pulang sekarang...Rey menunggu saya di rumah," ucap Amayra lemas.


Ken tercekat mendengar nama Rey disebut, "Rey siapa ya? Apa adiknya? Atau pacarnya?"


"Eh, jangan May. Kamu kan masih sakit, dengarkan kata dokter ya?" bujuk Keisha pada Amayra.


"Aku udah gak apa-apa kok Kak, cuma sakit kepala aja. Nanti juga hilang," ucap Amayra sambil tersenyum di wajah pucatnya itu.


"May.. kamu jangan mikirin apa-apa dulu ya. Periksa dulu sama dokter Mira, istirahat dulu disini. Rey biar aku sama mas Bram yang bantu jagain ya,"


"Kalau kamu belum sembuh, gimana sama Rey? Ini demi Rey juga," ucapnya pada Amayra seraya menenangkan wanita itu.


Amayra tidak banyak bicara, kepalanya masih terasa sakit. Pikirannya ada pada Satria dan Rey yang berada di rumah. Namun dengan keadaan seperti itu, Amayra juga tidak bisa menjaga Rey dengan baik dan dia harus sembuh dulu.


Sore itu, Anton dan Lisa juga datang ke rumah sakit. Mereka menegur Ken yang sudah bersikap keterlaluan pada Amayra hingga wanita itu sampai masuk rumah sakit. Diana pamit pulang dulu untuk melihat keadaan Rey, sebelum Diana pulang. Amayra berpesan agar jangan memberi tahu hal ini pada ayahnya maupun Satria.


Ken meminta maaf atas kesalahannya karena dia tidak sengaja mendorong Amayra hingga membuat Amayra masuk rumah sakit. Amayra tidak terlalu menanggapi Ken, dia meminta Ken dan semua temannya untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.


Anton dan Lisa pulang lebih dulu, sementara Ken masih berada disana sebagai bentuk tanggungjawabnya karena sudah melukai Amayra.


"Kenapa kamu masih ada disini?" tanya Amayra malas.


"Lo gak lihat? Gue lagi jagain Lo," jawab Ken sambil duduk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"I Don't care dan aku gak mau kamu ada disini, mendingan kamu pergi! Aku mau sendirian," ucap Amayra mengusir pria itu dari sana.

__ADS_1


"Lo marah ya sama gue? Gue kan udah minta maaf, gue gak sengaja.." ucap Ken sambil menundukkan kepala seraya meminta maaf pada Amayra.


"Iya gak apa-apa, aku udah maafin kamu. Tapi kamu pergi dari sini,"


"Kenapa? Pintunya kan terbuka lebar, kalau kamu takut ada orang yang berprasangka buruk.. itu gak akan terjadi. Kak Keisha.. sebentar lagi juga kesini," ucap Ken sambil melihat pintu ruangan itu yang terbuka lebar.


"Bukan gitu, aku cuma gak suka aja lihat kamu disini." kata Amayra sebal, dia terang-terangan mengatakan ketidaksenangan atas keberadaan Ken disana.


Karena dia aku gak bisa pulang dan harus dirawat di rumah sakit. Aku jadi gak bisa ketemu Rey!


"Gue kan udah minta maaf, lagian kenapa sih Lo masih marah? Ternyata Lo pendendam ya, bukankah didalam Islam diajarkan kalau seorang muslim itu gak boleh menjadi orang yang pendendam?" Ken menyindir Amayra yang memakai jilbab tapi pendendam.


"Kenapa aku masih marah? Itu karena aku gak bisa pulang ke rumah dan ketemu sama Rey!" seru Amayra memudalkan kemarahannya.


"Oh jadi karena itu Lo ngotot pengen pulang? Emang siapa si Rey itu? Apa dia penting buat Lo?"


"Ya, dia adalah orang yang paling penting dalam hidup aku! Dan malam ini aku gak bisa pulang nemenin dia," gerutu gadis itu kesal.


Si Rey ini udah fiks, pasti adiknya. Kalau pacarnya gak mungkin minta ditemenin kan? Kalau suami? Masa iya?


Ken menebak seseorang bernama Rey ini adalah saudara Amayra bukan anaknya. "Oke sekali lagi, gue minta maaf...kan gue gak sengaja,"


"Huh!" Amayra memalingkan wajahnya, kemudian dia mengambil ponselnya yang ada di dalam atas. Dia melihat ponselnya mati, lalu dia mengambil charger.


Dengan sigap Ken menghampiri Amayra dan mengambil Charter, juga ponselnya. Amayra menatap kesal pada Ken. "Lo punya mulut kan? Ngomong dong, bilang.. kalau Lo mau charger hp!" kata Ken menyindir, dia mencharge ponsel Amayra tak jauh dari stopkontak yang ada disana.


"Terserah aku dong!" kata Amayra kesal.


Tak lama kemudian, Keisha datang sambil membawa makan malam. Dia berniat menginap di RS, meski Amayra melarangnya. Tengah malam itu, Amayra terbangun dan mual-mual.


"Uwekk.. uwekkk.."


Dia memuntahkan cairan putih ke lantai.


...----****----...

__ADS_1


__ADS_2