Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 267. Aku mau pulang


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Zahwa menggeleng-gelengkan kepalanya di dalam ruangan berdebu minim cahaya dan tidak ada jalan keluar itu. Pikirannya juga negatif terhadap keluarganya, mana mungkin mereka mencari Zahwa yang dianggap biang rusuh.


Bahkan perkataan Zayn tadi pagi terngiang di telinganya, wajar saja kan kalau anak kecil baper dan sensitif?


"Mau papa, mama atau kak Zayn gak cari aku...aku harus keluar dari sini," gumam Zahwa yang lalu berkeliling melihat-lihat celah untuk keluar dari sana.


Namun semua jendela di tutup kayu dan di paku, jadinya Zahwa tidak bisa keluar dari sana. Hanya pintu satu satunya jalan keluar. Akal cerdik Zahwa mulai bereaksi saat melihat ada pemukul besi, niatnya ingin memukul gagang pintu itu agar dia bisa keluar. Namun, saat Zahwa akan melakukannya terdengar suara gagang pintu yang akan dibuka.


"Apa itu..."


Gadis kecil itu kembali meletakkan pemukul besi di belakang tubuhnya, dia kembali duduk dengan patuh. Benar saja, bapak-bapak itu kembali dengan membawa sekotak makanan fried chicken dan satu cup minuman yang enak. Darimana si bapak itu dapat uang untuk membeli makanan mahal bermerek itu ya? Zahwa mulai berpikir keras! Apakah mencuri?


"Tiara, ini bapak bawakan makanan buat kamu...kamu kan suka makan fried chicken sama minuman ini. Ayo dimakan nak,"


Zahwa menelan ludah melihat makanan itu, apalagi ayam goreng adalah makanan favoritnya. Ya dia memang lapar karena ini waktunya jam makan siang. Tanpa takut apapun, Zahwa memakan makanan yang tampak baru dan hangat itu. Zahwa langsung melahap makanan itu dengan semangat.


"Bapak gak makan?" Tanya Zahwa pada si bapak itu, dia menyadari bahwa sedari tadi si bapak hanya melihatnya makan saja sambil tersenyum.


"Bapak udah makan kok, nak. Kamu tenang saja ya. Tiara, bapak senang sekali karena kamu sudah kembali pulang ke rumah...jangan tinggalkan bapak lagi ya nak?"


Zahwa melihat mata berkaca-kaca si bapak itu, dia merasa iba karena kesedihannya. Apa yang membuat si bapak menjadi gila? Apa karena ditinggal anaknya atau bagaimana? Entahlah Zahwa juga tak tahu.


"....."


"Kamu gak akan meninggalkan bapak lagi kan? Jawab bapak, TIARA!" teriak si bapak itu yang tiba-tiba saja membuat Zahwa menghentikan makannya dan tubuhnya bergetar.


"I-iya pak," jawab Zahwa gugup.


Bapak ini jahat...mama, papa, kak Zayn...aku mau pulang. Zahwa mulai ketakutan dengan perubahan sikap si bapak itu.


Raut wajah si bapak kembali melembut, dia mengusap kepala Zahwa yang ditutupin hijab berwarna putih. "Makan yang banyak ya nak," kata pria itu pada Zahwa.


Mau makan pun Zahwa jadi ragu, bibirnya gemetar ketakutan.


Aku harus kuat, aku harus keluar dari sini... aku gak boleh takut, Allah bersamaku.


"Kenapa kamu gak makan? Ayo makan, katanya lapar?"


"Aku udah gak lapar pak," nafsu makan Zahwa menghilang, dia menggeser kotak berisi nasi dan ayam goreng itu.


Tiba-tiba saja, si bapak menyumpalkan nasi ke mulut Zahwa dengan paksa. "Hmphh!! Hmphh!!" Zahwa menolaknya, namun pria itu memaksa Zahwa.


"Makan! Gue udah beliin ini mahal-mahal buat Lo! Abisin! Abisin!" Teriak si bapak itu sambil memaksa Zahwa menghabiskan makanannya.


Aku mau pulang...


*****


Di rumah besar Calabria.


Semua orang sudah berkumpul disana setelah mendengar Zahwa diculik. Semua orang menjadi panik, termasuk Nilam dan Cakra. "Gimana bisa Zahwa diculik? Apa disana gak ada penjaga sekolah atau gimana? Keamanan sekolah itu kan yang terbaik! Kok bisa kecolongan sih?" Cakra emosi karena cucunya diculik oleh orang gila, katanya.


"Katanya orang-orang disana udah mencoba menghentikan orang gila itu, tapi dia bawa senjata dan orang itu kabur naik kendaraan." Kata Nilam yang sudah mendengar cerita dari Amayra.


"Ini semua gara-gara Zayn, gara-gara Zayn...Zahwa ilang, hiks...hiks..." Zayn terus menangis, tak biasanya Zayn cengeng seperti ini.


Zahwa maafin aku, tolong kamu kembali. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Ya Allah, semoga Zahwa baik-baik aja.


Nilam menenangkan Zayn yang terus menangis, sementara Amayra sedang menelpon Satria dan dia memberitahukan pada suaminya tentang Zahwa yang diculik.


Satria sendiri baru keluar dari ruang operasi, dia baru melihat ponselnya tepat saat Amayra menelpon.

__ADS_1


"Assalamualaikum, mas.."


["Waalaikumsalam.. ada apa May? Suara kamu kok gitu?"] Satria merasakan ada yang berbeda dari suara Amayra.


"Mas...anak kita Zahwa--"


["Zahwa kenapa lagi? Apa dia berantem sama Zayn?"] Satria menebak begitu karena biasanya Amayra menelepon Ketika Zahwa dan Zayn bertengkar dan dia tidak bisa mengendalikannya.


"Mas...Zahwa diculik mas," ucap Amayra sambil menahan tangisnya, mempertahankan ketenangan sekuat tenaga.


["May, kamu jangan bercanda deh."]


"Aku serius mas, Zahwa di culik mas...sekarang Zahwa lagi dicari sama polisi, dia belum ketemu."


Satria mendengar suara istrinya yang sama sekali tidak menunjukkan candaan. Apalagi dia mendengar suara Zayn menangis.


["Kamu dimana sekarang? Udah telpon kak Bima?"]


"Aku di rumah mama, papa sama Zayn juga, aku udah telpon kak Bima. Syukurlah dia masih ada di Jakarta, kak Bima sama anak buahnya akan bantu cari Zahwa." jelas Amayra sambil menyeka air matanya sendiri. Dia mencemaskan Zahwa.


["Oke, aku akan segera pulang setelah memeriksa pasien. Kamu tenang ya sayang,"] Satria berusaha menenangkan Amayra dengan kata-kata.


"Iya mas,"


Setelah pembicaraan singkat dengan istrinya itu, Satria segera menyelesaikan tugasnya lebih awal di rumah sakit. Usai melakukan operasi kecil pada pasiennya, Satria menitipkan pasiennya pada salah satu dokter senior di sana, lalu dia izin pulang lebih dulu.


****


Rey baru saja pulang dari rumah temannya, mengerjakan tugas kelompok. Dia pulang terlambat, tidak seperti biasanya jam 12 atau jam satu siang. Dia pulang jam 3 sore saat waktu Ashar.


"Assalamualaikum," tak lupa Rey mengucapkan salam saat dia akan masuk ke dalam rumah. Anak itu memakai seragam putih biru, khas anak SMP.


"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang sedang duduk di kursi itu dengan lesu.


Kenapa ya semua orang? Tante Amayra sama Zayn juga kok ada disini?


Rey menghampiri semua orang dan mencium tangan mereka dengan sopan. Rey melihat wajah semua orang terlihat sedih, apalagi Amayra dan Zayn.


Mata Zayn bahkan terlihat sembab, anak itu memeluk tas Zahwa. Dia terdiam dan tidak bicara apapun, padahal biasanya kalau ada Rey, Zayn akan menyapanya.


"Zayn, kamu kenapa? Ini tas Zahwa, kan?" Tanya Rey sambil duduk jongkok didepan Zayn.


"......" Zayn tidak bersuara.


"Rey, tolong bujuk adik kamu...dia tidak mau makan dari tadi." Kata Amayra pada Rey yang selalu bisa diandalkan layaknya kakak tertua.


"Aku gak mau makan ma, aku gak mau makan sebelum Zahwa ketemu!" Seru Zayn keras kepala.


"Kamu harus makan, kalau tidak kamu sakit nak!" Amayra meminta anaknya untuk makan.


"Gimana aku bisa makan, aku juga gak tau Zahwa makan apa enggak!" Zayn sedih.


"Zahwa... kenapa memangnya? Tante Amayra, Zahwa kemana?" Rey merasa ada yang salah dengan semua orang, terutama Zayn.


"Zahwa diculik," jawab Amayra sedih saat mengatakan.


"Apa? Zahwa diculik!!" Kedua mata Rey membulat, dia sangat terkejut dengan jawaban Amayra. Bahwa Zahwa di culik, dalam hati dia terus mengucap istighfar beberapa kali.


Zahwa di culik? Astagfirullahaladzim...gimana bisa?


"Rey, Tante bisa minta tolong sama kamu kan? Tolong ajak Zayn makan dan shalat," ucap Amayra memohon bantuan pada Rey.


"Iya Tante." Rey patuh. "Zayn, ikut kakak yuk? Kita shalat ashar lalu makan...kita berdoa pada Allah untuk keselamatan Zahwa." Bujuk Rey pada Zayn.

__ADS_1


Anak itu masih tetap menggeleng, namun Rey tidak menyerah. Dia tetap berusaha membujuk Rey, setelah bujukan beberapa kali. Akhirnya Zayn mau menurut dan mengikuti kakaknya itu, Amayra berterimakasih pada Rey.


Amayra pun pergi ke dapur, dia menyiapkan makanan untuk Rey dan Zayn. Dengan hati yang tidak tenang karena Zahwa, dia memasak sambil menangis.


"Non, biar bibi aja yang terusin makanannya." Kata Lulu sambil mengambil spatula dari tangan Amayra, dia melihat masakan itu hampir gosong.


Kasihan non Amayra dari tadi nangis terus.


"Ya Allah...bi maaf ya?" Amayra menyeka air matanya.


"Gak apa-apa non, non duduk saja ya." Lulu tersenyum dan mengambil alih memasak.


Amayra terdiam, dia memikirkan Zahwa dan dia sangat merasa bersalah karena tadi pagi sudah memarahi Zahwa. "Maafin mama sayang, mama gak bermaksud marahin kamu...maafin mama." gumam Amayra merasa bersalah.


Satria, Bima dan Bram datang bersamaan, mereka membicarakan tentang Zahwa. Bima mendengar dari keterangan anak buahnya, bahwa ada kemungkinan Zahwa di culik oleh orang gila yang sudah banyak menculik anak perempuan.


"Jadi maksud kakak, orang yang menculik Zahwa mengalami gangguan jiwa?" Tanya Satria pada Bima.


"Iya, orang itu juga buronan polisi dan pasien rumah sakit jiwa yang kabut. Anak-anak yang diculiknya tidak ditemukan...dia selalu berhasil menyamar dan ada kemungkinan dia juga psikopat."


Ucapan Bima tentang psikopat itu, sontak membuat semua orang tercengang. Apalagi Amayra yang dari tadi terus menghela nafasnya. Tubuh Amayra gemetar, dia takut terjadi sesuatu pada putrinya.


"Mas...gimana ini, Zahwa--" tatap Amayra sambil mencengkram tangan Satria dengan erat.


"Kamu tenanglah sayang, Zahwa pasti akan ditemukan! Aku, kak Bima dan Kak Bram akan mencari Zahwa."


Ya Allah, semoga Zahwa baik-baik saja.


"Mas, tolong segera temukan Zahwa...tolong mas.." pinta Amayra pada suaminya.


Satria mengecup kening istrinya, guna memudarkan rasa khawatir pada wajah istrinya. "Aku cari Zahwa dulu, kamu di rumah jaga Zayn ya..."


Wanita itu mengangguk-angguk patuh.


Rey melihat Satria, Bima, Bram dan anak buah Bima juga anggota polisi bergegas mencari lagi keberadaan Zahwa. Dia ingin ikut mencari Zahwa, namun Bram melarangnya sebab dia harus menjaga Zayn, adiknya di rumah. Rey hanya bisa patuh, walau hatinya sangat cemas pada Zahwa.


****


Tak terasa hari sudah sangat malam, Amayra dan Zayn memutuskan menginap di rumah Calabria karena perintah dari Satria. Ibu dan anak itu belum bisa tidur, matanya masih terbuka lebar meski mereka sudah ngantuk.


"Zayn, kenapa kamu gak tidur nak?" Amayra mengelus rambut anaknya dengan lembut.


"Ma, aku gak bisa tidur. Zahwa belum ketemu, Zahwa diculik gara-gara aku yang bicara sembarangan," ucap Zayn sedih.


"Ini bukan salah kamu sayang," hibur Amayra pada putranya itu.


"Mama jangan hibur aku, udah jelas aku yang salah. Kalau aja aku gak marah sama Zahwa dan bicara sembarangan, Zahwa gak akan pulang duluan dan dia gak akan hilang di culik."


Masih saja Zayn merasa bersalah, lalu tiba-tiba saja Zayn memegang punggungnya.


"Ahh....Zahwa!"


"Zayn, kamu kenapa?" Amayra panik mendengar anaknya yang tiba-tiba saja merintih kesakitan dan memanggil Zahwa.


"Tiba-tiba punggungku sakit ma, kayak ada yang mukul!" Keluh Zayn kesakitan tanpa sebab.


Amayra terlihat semakin cemas pada Zahwa, seperti ada firasat tidak benar.


****


Di tempat Zahwa di sekap, si bapak gila memukul Zahwa dengan balok kayu. Gadis kecil itu terkapar lemah tak berdaya di atas lantai keras dan dingin.


"Beraninya kamu mau kabur dari bapak?!!"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2