Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 51. Surat Iqbal


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


HUP!


Deg!


Satria dengan gerakan cepatnya menopang tubuh istrinya. Dan menahan kursi itu dengan satu kakinya. Alhasil mereka berpelukan, tangan Amayra melingkar di tubuh kekar dokter bedah itu.


"Astagfirullah!" Ucapnya terkejut dan syok. "Haahh..,"


"Kamu ini! Mau ngapain sih pakai naik kursi segala?" Tanya Satria sambil mengangkat Amayra dan menurunkan nya ke lantai.


"Ma-maaf, tadi aku lihat debu dan aku membersihkan nya. Karena kaki ku gak sampai, jadi aku naik kursi deh," ucapnya sambil menunduk.


"Kan ada aku, kenapa kamu mengerjakan nya sendiri? Bagaimana kalau kamu jatuh dan bayi kamu kenapa-napa?" Satria mengoceh dengan wajah kesalnya.


"Ya, aku minta maaf kak."


Ternyata kak Satria juga peduli pada bayiku, padahal bayi ini bukan bayinya. Kak, bolehkah aku menganggap semua sikap kakak ini bukan. karena kasihan padaku, tapi karena kakak suka padaku?. Amayra berharap di dalam hatinya.


"Ya sudah, duduklah! Aku sudah siapkan minuman untuk kita," Satria mendesis kesal, berupaya mengendalikan emosinya.


Untunglah dia kenapa-napa, ya ampun jantungku rasanya mau copot!. Satria mengelus dada, Amayra yang akan jatuh tapi malah dia yang merasa lebih syok.


Mereka pun minum jus stoberi yang dibuat oleh Satria, bersama-sama. Amayra tersenyum senang karena dia menyukai jus yang dibuat oleh suaminya. Ternyata suaminya benar-benar pria yang mandiri. Selain pintar, Satria juga pekerja keras dan gerak cepat, Amayra semakin kagum pada pribadi suaminya. Dewasa, lembut, baik hati, dan pekerja keras.


Tak lama setelah meminum jus, terdengar suara adzan Zuhur berkumandang. Amayra segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dia masih malu-malu melepas hijab walau di depan suaminya, Satria pun mengingatkan sekali lagi pada Amayra kalau mereka ada suami istri dan tidak ada siapapun di rumah itu selain mereka berdua.


"Kakak, gak mau wudhu duluan?" tanya Amayra menawarkan Satria masuk lebih dulu.


"Aku bisa pergi ke kamar mandi lantai atas, kamar mandi kan gak cuma satu!" ucap Satria dengan mode cueknya.


"Ya, ya udah deh! Aku duluan ya!" Seru Amayra buru-buru, tanpa melihat ke arah suaminya.

__ADS_1


Amayra pun membuka hijabnya, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Cekret!


Begitu Amayra masuk ke dalam kamar mandi, Satria buru-buru membuat koper di kamarnya. Entah apa yang dia cari disana.


"Ah! Ini dia!" Satria tersenyum lebar begitu menemukan apa yang dia cari. Buku tata cara berwudhu dan shalat. Satria membuka buku itu untuk membaca doa berwudhu. "Apa? Doanya sebanyak ini? Aku pikir cuma doa niatnya saja! Ternyata ada banyak doa lainnya, doa saat membasuh tangan, doa saat membasuh muka dan anggota tubuh lainnya. Kalau banyak seperti ini, aku gak bisa menghapalkannya sekaligus untuk sekarang!" Satria membuka buku itu lembar demi lembar, mencoba mengingat apa yang dia ingat.


Setelah beberapa menit membaca, Satria tersenyum senang. Dia bersiap pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dengan hati yang mantap. Saat dia beranjak berdiri, tak sengaja dia melihat amplop putih polos jatuh dari baju Amayra. "Kenapa baju nya ada di koperku? Ah, dia pasti lupa menaruhnya. Lalu, amplop apa itu?" Gumam Satria yang kemudian mengambil amplop putih itu.


Satria melihat ada tulisan di depan amplop itu," Dari Iqbal untuk Amayra. Siapa Iqbal?". Pria itu menyimpan amplop itu di meja, namun dia penasaran ingin melihat isinya. Rasa penasaran Satria tak tertahan lagi, apalagi melihat nama si pengirim nya adalah pria.


Aku tau aku tidak boleh membuka nya, tapi aku kan suaminya. Dalam suami istri, tidak ada yang namanya privasi, bukankah begitu? Lagian aku membuka suratnya hanya untuk berjaga-jaga saja. Memastikan kalau istriku tidak punya hubungan dengan pria lain, walaupun aku tau itu tidak mungkin sih.


Pada akhirnya Satria membuka amplop itu, dia memegang secarik kertas berisi tulisan tangan yang sangat rapi. Satria iri melihat tulisan tangan Iqbal yang rapi dan indah, mirip dengan tulisan wanita. Mata Satria mulai fokus melihat isi surat itu dengan baik dan cepat, karena dia takut kalau Amayra akan segera keluar dari kamar mandi.


Assalamualaikum May..


Apa kabar? Kamu baik-baik saja kan? Aku dengar kalau kamu sedang hamil. Semoga kamu dan bayi kamu baik-baik saja, semoga kalian berada di dalam lindungan Allah SWT. May, aku selalu mendoakan kamu dari sini. Aku sudah dengar dari Fania dan Anna, kalau kamu menikah dengan om nya Anna tapi bukan dengan pria yang menghamili kamu.


May,


May, selama ini aku memendam rasa suka sama kamu. Aku sudah memiliki rencana setelah kamu lulus SMA, aku akan menemui orang tua kamu dan melamar kamu. Tapi, takdir Allah rupanya berkata lain. Walaupun begitu, aku masih tetap menyukai kamu sampai sekarang May.


Satria berhenti membaca dan mengerjapkan matanya beberapa kali begitu melihat kalimat yang tertera di bagian tengah surat itu.


"Bocah ini pasti sudah gila!" Pekik Satria kesal membaca surat cinta untuk istrinya itu, mungkin juga dia cemburu.


Mata Satria sudah kesal membacanya, begitu pula dengan hati dan pikiran nya yang ikut mendidih. Tapi, dia penasaran dan melanjutkan membaca surat itu.


May, aku-


"Kak Satria!" Seru Amayra memanggil suaminya, wanita itu sudah berdiri di depan pintu kamar. "Lho, kok kak Satria masih ada disini? Bukannya kak Satria mau mengambil air wudhu?" tanya Amayra heran melihat suaminya sedang duduk di atas ranjang.

__ADS_1


Buru-buru Satria menyembunyikan surat itu dibelakang tubuhnya, alhasil dia tak sempat membaca bagian akhir dari suratnya. "Ini aku mau kesana, aku lagi cari sajadah dulu di koper!" Satria beralasan mencari sajadah. Diam-diam dia memasukan kertas itu ke dalam amplop dan menyimpannya di bawah ranjang tanpa ketahuan Amayra.


"Iya kak, aku shalat duluan ya!" Amayra mengambil mukena nya yang berwarna putih diatas koper miliknya.


"Tunggu aku, kita shalat bersama! Aku gak akan lama, insyaallah aku sudah hapal semuanya!" Kata Satria tegas.


"Hapal? Hapal apa?" tanya Amayra keheranan.


"Ti-tidak apa-apa, aku akan segera kembali. Kamu jangan shalat dulu tanpa imam mu." Satria tersenyum manis, padahal dalam hatinya dia kesal setelah membaca surat cinta dari Iqbal.


Siapa pria yang bernama Iqbal ini? Apa dia teman sekolah nya dulu? Sebaya kah dengannya lebih tua? Atau kah dia sudah bekerja? Apa dia masih kuliah?. Satria kebingungan memikirkan pria bernama Iqbal ini.


"Baiklah kak, aku akan tunggu imam ku," Amayra menjawabnya sambil tersenyum.


****


Di rumah keluarga Calabria, Bram dibebaskan dari hukuman oleh Cakra. Dia sudah tidak berniat menjodohkan Bram lagi dengan Amayra, karena dia tau dari Anna kalau Satria menyukai Amayra dan akan bahagia bersama Amayra.


Posisi Bram dikembalikan seperti semula, fasilitas Bram juga dikembalikan.


"Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau Bram, papa tidak akan melarang kamu lagi. Kamu sudah dewasa, kamu pasti bisa membedakan mana yang baik dan buruk untuk kamu. Asalkan kamu bertanggungjawab pada perusahaan dan keputusan mu sendiri."


"Benarkah pah? Makasih banyak pa! Apa itu artinya aku bisa menikah dengan Alexis?" tanya Bram semangat.


"Silahkan, tapi ingatlah Bram.. keputusan yang kamu buat adalah untuk seumur hidup. Jangan sampai menyesal," Cakra menatap tajam ke arah putranya, dia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Bram.


Bram terdiam, tiba-tiba terngiang di kepalanya ucapan Amayra.


Jangan sampai bapak menyesal di kemudian hari!


...---***---...


Hai Readers! Maaf komennya gak terbalas semua, makasih lho untuk komen komennya yang membantu sangat untuk semangat🥰🥰 Buat yang nunggu TCC, masih review ya semoga ke up malam ini! 😍

__ADS_1


Jangan bosan ya kasih like, komen, gift ataupun vote nya 🥰🥰☺️


__ADS_2