Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 111. Kami akan menikah


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Mas, tolong jangan bercanda.." Diana tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bram padanya yang mengajak menjalin hubungan.


"Diana aku tidak bercanda, aku serius. Setelah perceraian ku, aku memutuskan untuk hidup melajang selamanya, lalu aku bertemu kamu. Dan kehadiran kamu merubah segalanya. Selama aku bersama dengan kamu, aku merasa nyaman dan hatiku mulai tergerak. Aku selalu berdoa didalam setiap shalatku dan disanalah aku melihat kamu. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Hingga aku yakin, Allah memang mengirimkan kamu untukku."


Diana tersentak kaget mendengar ungkapan hati Bram, hatinya berdebar dan mulai luluh dengan apa yang dikatakannya. Dia tidak percaya, akan mendapatkan lagi pernyataan cinta setelah lama hidup menjanda. Dan pernyataan cinta yang menggetarkan hatinya itu, berasal dari Bram.


Seorang duda dengan kekuatan, kekuasaan dan ketampanan yang tiada tara. Diusianya yang sudah menginjak 31 tahun, Bram sudah terbilang matang dan sukses. Siapa wanita yang tidak mau dengan sosok pria seperti Bram? Selain ketampanannya yang bisa menggoda kaum hawa, dia juga memiliki kemampuan memimpin perusahaan di usianya yang masih muda, walaupun statusnya adalah seorang duda.


Tatapan Bram membuat Diana terhanyut oleh keadaan, dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Bram. Tapi dia malah menunjukkan wajah bingung.


"Lukanya sudah diperban, aku sarankan agar lukanya jangan terkena air dulu. Nanti bisa infeksi, hati-hati di jalan ya mas...sekali lagi terimakasih," ucap Diana dengan mata berkaca-kaca.


Bram tercekat, wanita itu berkata seolah mengusirnya. "Diana! Kamu menolakku atau bagaimana?Tolong berikan aku jawaban yang pasti," ucap Bram tidak mau diabaikan.


"Maafkan aku mas..."


"Maaf apa?"


"Berikan aku waktu untuk menjawabnya, kamu mengerti kan alasannya kenapa? Aku rasa terlalu cepat juga untuk kita menjalin hubungan," ucap Diana sambil memalingkan matanya dari mata pria itu yang menatap dirinya.


"Baiklah aku paham. Tapi, tolong jawab satu pertanyaan ku lagi dengan jujur," pinta Bram dengan sabar.


"Apa itu Mas?" tanya Diana.


"Apakah kamu punya perasaan padaku?" tanya Bram langsung pada intinya.


"A-ada Mas.." jawab Diana jujur dari dalam lubuk hatinya. Diana memegang dadanya dengan wajah gelisah.


Ya Allah, hatiku berdebar-debar saat mas Bram mengatakan cinta kepadaku.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terimakasih.. ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan," ucap Bram sambil tersenyum memandang wanita cantik itu. "Aku pulang ya, kalau ada apa-apa...hubungin aku." Kata Bram perhatian.


Diana mengangguk dengan wajah merah walau dia tidak menjawab, tapi Bram sudah tau bahwa Diana memiliki rasa yang sama dengannya. Hanya saja masih ada rasa takut didalam hatinya untuk memulai kembali sebuah hubungan setelah perpisahan yang dia alami sebelumnya. Bram paham akan perasaan Diana, karena Bram juga pernah mengalami hal yang sama.


Setelah Bram pergi dari rumah Diana dengan membawa mobilnya. Diana segera masuk ke dalam rumah. Dia melihat barang-barang berserakan di rumahnya.


Keesokan harinya, pagi itu Diana kedatangan orang-orang ke rumahnya yang membawa perabotan entah dari mana. "Maaf pak, tapi saya tidak membeli perabotan ini." Diana kebingungan.


"Maaf Bu, saya hanya mendapatkan perintah untuk membawa barang-barang ini ke rumah ibu," ucap supir pengangkut barang-barang itu.


Perabotan yang diangkut ke dalam rumahnya adalah perabotan yang hancur semalam karena perkelahian Bram dan Hans. Tak lama setelah barang-barang itu diletakkan di dalam rumah, datanglah bi Lulu ke rumah Diana untuk membantu Diana membereskan rumah. Dia datang atas perintah Bram. Diana tersentuh dengan perhatian yang diberikan Bram kepadanya.


...*****...


29 hari kemudian..


Terdengar suara gema takbir yang berkumandang.


Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd.


Artinya : "Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah,"


Sepulang dari shalat idul Fitri, Satria dan Harun pulang menemui Amayra di rumah. Mereka saling bermaafan di hari raya idul Fitri. "Ayah, maafkan May ya yah.."


"Ayah, maafkan Satria juga ya," Satria meminta maaf pada ayah mertuanya itu.


"Maafkan ayah juga ya nak," ucap Harun sambil menepuk bahu Satria dan Amayra


Mereka bertiga menangis lalu berpelukan satu sama lain. Mengucapkan syukur, karena mereka masih bisa dipertemukan pada Ramadhan tahun ini dalam keadaan keluarga yang masih lengkap.


Setelah itu Satria, Amayra, Rey dan Harun pergi ke rumah besar Calabria untuk bersilaturahmi bersama keluarga besar. Sesampai di rumah Calabria, untuk pertama kalinya Nilam menyambut Amayra, Satria dan Harun dengan ramah.

__ADS_1


Mereka bersalaman, saling bermaafan dengan hati yang lapang di hari raya bagi umat Islam itu. "Ayo semuanya duduk dulu, kita makan ketupat sama opor ayam!" ujar Nilam ramah. "Dewi, Lulu! Siapkan makanannya sekarang ya!" titah Nilam pada kedua asisten rumah tangganya.


"Ya, terimakasih Bu Nilam," jawab Harun dengan ramah pula. Nilam hanya tersenyum menanggapi ucapan terimakasih dari besannya itu.


Alhamdulillah rupanya Bu Nilam sudah berubah.


"Oh ya, kak Bram kemana? Kok gak kelihatan?" tanya Satria tidak melihat Bram berada disana.


"Bram masih ada di mesjid, tadi dia masih bersalaman dengan orang-orang disana," jelas Cakra sambil menyeruput air putih didalam gelas.


"Lalu Anna mana ma?"tanya Satria pada keponakannya itu.


"Aku disini!" Anna tersenyum lebar, dia berjalan turun menuruni tangga.


Anna langsung menghampiri Amayra yang sedang mengendong Rey dan memeluknya. "Aku kangen banget sama kamu, sama adikku yang imut juga,"


"Aku juga kangen sama kamu An," ucap Amayra sambil tersenyum, sudah dua bulan lebih Amayra tidak bertemu dengan Anna.


Ketika semua keluarga sedang berkumpul di ruang tengah sambil makan ketupat dan bercanda ria melihat Rey mencoba tengkurap diatas karpet. Bram datang bersama Diana sambil mengucap salam bersama, "Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab semua orang di ruang tengah.


Diana dan Bram datang bersamaan, mereka menyalami semua orang yang ada disana. Sambil berkata minal aidzin wal faizdin. Semua orang ramah pada Diana, kecuali Nilam yang menunjukkan raut wajah kurang senang akan kehadirannya.


"Kebetulan semuanya ada disini. Bram mau menyampaikan sesuatu pada kalian semua," Bram tersenyum bahagia memandang semua orang disana.


"Ada apa Bram? Sepertinya ini berita bahagia?" tanya Nilam melihat wajah cerah Bram.


"Benar ma, Kami sudah memutuskan bahwa kami akan menikah. Bram akan menikahi Diana," ucap Bram sambil menatap Diana yang duduk disebelah Amayra.


Mata semua orang melebar seketika, mendengar ucapan Bram. Terutama Nilam dan Cakra.

__ADS_1


...----******----...


__ADS_2