
Setelah menyelesaikan urusan Clara yang kini berakhir di penjara bersama dengan dokter Candra. Amayra dan Satria bisa tidur nyenyak, terlebih lagi saat mendengar kabar bahagia tanggal pernikahan Anna dan Ken yang tinggal satu bulan lagi akan dilangsungkan.
"Woah, Anna selamat ya...anak gadis yang satu ini akhirnya mau melepas masa lajang." ucap Satria sambil tersenyum lebar.
"Hehe, iya om." Anna terlihat malu-malu saat diberi selamat oleh om nya itu. "Oh ya, om Bima kemana ya? Kok gak kelihatan?" Anna mencari Bima yang tidak terlihat sejak tadi pagi.
"Oh...Bima lagi ada urusan, nanti juga dia pilang kok." Jawab Satria menjelaskan.
Satria dan Amayra pamit lebih dulu untuk masuk ke dalam kamar dan menyudahi obrolan mereka karena Amayra yang lelah. Anna membantu Amayra untuk mendorong kursi roda om nya itu.
"Tante, biar Anna bantu ya!" Seru Anna sambil memegang pegangan kursi roda Satria.
"Ya udah, makasih ya Anna." Amayra tersenyum, dia memperbolehkan Anna untuk mendorong kursi roda suaminya.
Mereka bertiga pun berjalan menuju ke kamar yang ada di lantai bawah. Tak lama setelah mereka pergi, Nilam langsung berbicara pada Bram dan Diana tentang rumah sakit fertilitas yang selalu dia sebutkan.
"Bram, Diana!"
"Ya ma?" jawab Diana.
"Jangan lupa ya besok, kalian harus pergi ke rumah sakit fertilitas itu dan melakukan pemeriksaan!"
"Iya ma, Diana sama mas Bram akan pergi kesana seperti apa yang mama inginkan." ucap Diana sambil tersenyum tipis.
"Hah? Apa kamu bilang? Apa yang mama inginkan? Tidak, ini bukan demi mama tapi demi kalian berdua juga! Kamu jangan bilang seolah-olah kalian pergi karena mama, kalau kamu gak mau pergi ya udah jangan pergi aja...jangan munafik." kata Nilam pedas lagi pada menantunya yang bermaksud baik itu. Disertai dengan tatapan tajam pada Diana.
"Ma! Ucapan mama ini udah keterlaluan Lo, ma!" kata Bram kesal pada mamanya. "Maksud Diana tuh baik loh, dia mau nurutin permintaan konyol mama..." Bram membela istrinya itu.
"Bram, kok kamu jadi marah sih mama? Mama bicara seperti ini demi kebaikan kamu juga, kebaikan keluarga ini! Permintaan mama ini gak konyol." Nilam tidak mau disalahkan dan tidak mau kalah dari anaknya.
"Ma!"
Diana memegang tangan suaminya seraya menenangkan pria itu untuk tidak terbawa emosi. "Mas, udah ah... jangan ribut lagi aku nggak apa-apa kok. Jangan teriak-teriak sama orang tua, dosa mas...sabar mas." ucap Diana sembari berbisik ke telinga suaminya.
Diana benar, aku harus bersabar... bagaimanapun juga mama adalah orang tuaku. Aku gak boleh sampai membentak mama.
"Diana, kita ke kamar yuk." Bram mengajak istrinya ke kamar, dia ingin menghindari emosi pada ibunya.
"Iya mas."
Diana dan Bram menaiki tangga pergi ke lantai atas menuju ke kamar mereka.
__ADS_1
"Awas ya kalian jangan lupa besok!" Seru Nilam sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Ma, udahlah...mama bawel banget sih. Astagfirullah...ngelus dada papa sama kelakuan mama." ucap Cakra sambil mengusap dadanya.
"Papa selalu aja deh marah sama mama."
Pokoknya besok aku harus pastikan Diana dan Bram pergi ke rumah sakit itu, siapa tau mereka bohong cuma iya iya aja padahal gak pergi.
"Ma? Mama lagi mikirin apa? Apa rencana jahat lagi?" Cakra menatap curiga pada istrinya yang tiba-tiba melamun.
"Papa selalu aja suudzan sama mama, dosa tau pa suudzan terus sama orang!" Seru Nilam pada suaminya.
"Bukannya mama ya yang suka suudzan sama orang?" tanya Cakra sambil mendengus kesal.
Cakra meninggalkan Nilam dan pergi begitu saja ke kamar atas. Nilam mendengus kesal pada suaminya, dia menggerutu bahwa dirinya kesal dengan semua orang yang ada di rumah itu.
*****
🍀Kamar Satria dan Amayra🍀
Satria sudah berbaring diatas ranjang bersiap untuk tidur. Sementara istrinya masih berada didekat meja belajar, menulis sesuatu dikelasnya. "May, ayo tidur." ajak Satria pada istrinya.
"Daritadi kamu bilang sebentar lagi sebentar lagi, tapi masih belum selesai juga?" tanya Satria sambil cemberut.
"Ini sudah kok mas, ya ampun mas gak sabaran banget sih." Amayra tersenyum, dia melipat buku dan menyimpan bolpoin ke tempat seharusnya.
Kemudian dia naik ke atas ranjang, bersama suaminya. Dengan perhatian, walau keadaannya sedang lumpuh, dia memijat kaki istrinya.
"Mas...kenapa aku dipijat?" tanya Amayra merasa tidak enak.
"Kenapa? Apa pijatanku gak enak?" tanya Satria yang masih memijat kaki istrinya.
"Enggak mas, cuma aku gak enak aja. Masa mas mijitin aku sih? Harusnya aku yang pijitin mas." ucap Amayra tidak nyaman.
"Eh...emang gak boleh kalau suami pijitin istri? Apalagi istrinya lagi hamil besar, sudah lama juga aku tidak memijat kamu seperti ini. Maaf ya May, aku tidak menemani kamu selama satu Minggu ini..." Satria masih memijat kaki istrinya.
"Gak apa-apa mas, semua orang menemani dan menjagaku disini selama mas koma. Yang penting untukku sekarang kamu sudah kembali sehat."
"Iya, kamu tenang saja ya May. Aku akan rajin terapi agar cepat sembuh dan bisa berjalan kembali." ucap Satria.
"Santai saja mas, jangan buru-buru...yang penting kamu sehat jangan stress." Amayra memeluk suaminya dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Satria membalas pelukan istrinya, dia berharap dirinya agar segera sembuh dan bisa kembali seperti sedia kala. Namun Satria percaya bahwa semuanya akan bahagia, apalagi pernikahan Anna semakin dekat.
****
Keesokan harinya, pagi itu Bram dan Diana sudah berangkat bersama menuju ke rumah sakit fertilitas yang akan mereka kunjungi. Diam-diam Nilam mengikuti mereka bersama pak Muin.
Rumah sakit fertilitas itu berada cukup jauh dari wilayah Jakarta Utara, karena berada di Jakarta Selatan yang berlawanan arah. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lamanya, Bram dan Diana sampai di depan rumah sakit fertilitas itu. Nilam berada tepat dibelakangnya, namun mereka tidak menyadari karena Nilam bersembunyi.
"Diana sayang, kalau kamu tidak mau pergi...maka kita jangan pergi." Bram membujuk kembali Diana untuk tidak pergi kesana, jika dia memang tidak mau melakukan pemeriksaan.
"Gak mas, kita harus masuk ke dalam. Lagian pemeriksaannya gak akan lama kok." Diana sudah memantapkan hatinya untuk melakukan pemeriksaan.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah sakit bersama-sama. "Pak Muin, bapak tunggu disini...biar saya saja yang masuk ke dalam." ucap Nilam pada supirnya itu.
"Baik nyonya." jawab Muin patuh.
Nilam mengikuti Bram dan Diana masuk ke dalam gedung rumah sakit itu secara diam-diam. Pak Muin melihat Nilam masuk ke dalam sana. "Astagfirullah... nyonya Nilam benar-benar deh," Muin menghela nafas panjang.
Bram dan Diana melakukan pemeriksaan disebuah ruangan, sayangnya Nilam tidak bisa masuk ke dalam ruangan itu dan dia hanya menunggu di luar. Setelah menunggu hampir satu jam, Nilam melihat Diana dan Bram keluar dari ruangan itu. Nilam bersembunyi dengan mata menelisik ke arah Bram dan Diana.
"Mas!! Tunggu aku Mas!" Diana mengejar Bram yang terlihat sedih dan marah.
Kenapa Bram terlihat marah? Apa benar ada sesuatu?. Nilam mulai curiga.
"Lepaskan aku Diana!" Bram menepis tangan Diana.
"Mas, mungkin saja hasilnya salah! Mari kita coba lagi!"
"Mana mungkin salah? Kita sudah coba beberapa kali, hasilnya masih sama!" Bram memegang kepalanya dan tampak gusar.
"Mas..." lirih Diana cemas melihat suaminya.
"Diana kita gak bisa! Aku gak bisa lagi, aku tidak tahu..." Bram terlihat bingung, dia meninggalkan Diana dan berjalan lebih dulu dengan wajah marah.
Nilam terkejut, mendengar percakapan anak dan menantunya. Dia mulai berpikir yang bukan-bukan bahwa apa yang dia takutkan memang benar.
"Nah kan, apa yang aku takutkan ini benar terjadi... ternyata Diana memang ada apa-apa." gumam Nilam dengan wajah curiga menatap Bram dan Diana yang sudah pergi keluar dari rumah sakit.
...*****...
Ada Apakah dengan Diana dan Bram?
__ADS_1