Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 250. Kita jodohkan saja


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Satria menoleh ke arah istrinya, "Apa sih maksud pertanyaan kamu itu? Memangnya aku gak tenang?"


Alhamdulillah, ternyata Iqbal udah menikah dan sudah punya anak juga.


"Kamu yang paling paham apa maksudku, mas." Amayra tersenyum melihat suaminya yang tidak mengaku cemburu. "Dasar, kamu jaim." bisiknya pada Satria.


"Ehem, wah ustad Iqbal ternyata sudah menikah ya...selamat atas pernikahan kalian, tapi kok gak undang-undang sih?" tanya Satria ramah pada Iqbal.


"Maaf semuanya, saya menikah saat di Mesir... disanalah saya bertemu istri saya. Pernikahannya pun tidak dilakukan dengan mewah, jadi maaf saya tidak mengundang bapak dan ibu semua." kata Iqbal pada semua orang disana.


"Tidak apa ustad Iqbal, yang penting pernikahannya sudah berjalan lancar ya...kami ucapkan selamat atas pernikahannya." kata Cakra sopan.


"Iya, selain terima kasih kami juga minta maaf karena tidak hadir dalam acara tersebut." Nilam juga ikut bicara dengan sopan.


"Tidak usah meminta maaf pak, Bu, saya yang harusnya meminta maaf karena tidak memberitahukan kabar bahagia ini." Iqbal tersenyum ramah, terlihat satu lesung di pipinya. Kulitnya yang sering hitam manis, membuat ustad muda itu terlihat sangat tampan.


Sikap Satria berubah drastis pada Iqbal, sebelum tau pria itu sudah menikah dan punya anak. Tadinya Satria bersikap cuek dan ketus pada Iqbal seolah memusuhinya, seolah Iqbal adalah ancaman. Tapi sekarang sikapnya ramah seolah mengajak pertemanan. Amayra tidak bicara apa-apa melihat semua itu, dia hanya tersenyum dengan tingkah suaminya.


Anna dan Ken melihat sikap ramah Satria, mereka berbisik-bisik. Ken mengatakan bahwa Satria yang sedang cemburu seperti anak remaja. "An, kamu benar...om Satria gemesin kalau udah cemburu. Padahal dulu aku ngira dia orangnya serem loh."


"Serem darimana? Om Satria itu dilihat dari luar emang dingin dan cuek, tapi hatinya lembut banget. Nah kalau om Bima, baru dia serem!"


"Iya kamu benar juga An, walau wajah mereka sama...tapi aura nya beda." Ken membenarkan ucapan


"Iya kan? Hahaha..." Anna tertawa kecil.


Iqbal dan keluarganya masih mengobrol bersama keluarga Calabria, selagi menunggu magrib datang. Setelah itu barulah, Iqbal, Fatimah dan putra mereka Rayhan akan pulang.


Selagi para pria mengobrol, para wanita juga mengobrol di tempat yang sam namun disisi yang lain. "Assalamualaikum ukhti,"


"Waalaikumsalam, Bu Fatimah." jawab Amayra dan Anna yang kebetulan berada didekat Fatimah dan anaknya.


"Maaf apa Bu Amayra keberatan jika saya menanyakan sesuatu?" Fatimah terlihat sungkan, entah apa yang akan dia tanyakan pada Amayra.


"Mau menanyakan apa Bu Fatimah? Silahkan saja tanyakan." kata Amayra mempersilahkan Fatimah untuk bertanya. Amayra disana sambil menggendong Zahwa.


"Sebenarnya...apa anda adalah cinta pertama suami saya?" Tanya Fatimah pada Amayra.


Amayra dan Anna tersedak mendengar pertanyaan Fatimah, mengapa Fatimah menanyakan hal itu?


"Ehm...itu..." Amayra tidak berani menjawab ya.


Mengapa istri kak Iqbal tiba-tiba bicara seperti ini padaku?


"Suami saya selalu bercerita tentang seorang wanita yang bernama Amayra Alifya Husna, katanya wanita itu adalah wanita yang baik hati dan sangat tabah. Ternyata selain tabah dan memiliki hati yang mulia, anda juga cantik."


"Maaf Bu Fatimah, tolong jangan salah paham...diantara saya dan kak Iqbal tidak terjadi apa-apa," ucap Amayra meminta maaf pada Fatimah.

__ADS_1


"Bu Amayra sepertinya ibu salah paham, saya mengatakan ini karena saya penasaran saja. Salah tidak salah paham atau apapun kok, hanya saya ingin tau seperti apa wanita yang pernah disukai oleh suami saya. Maaf jika pertanyaan saya menyinggung, tapi semua itu kan sudah masa lalu dan saya hanya ingin tahu saja." Fatimah menyunggingkan senyum yang indah dibibirnya. Dia menjelaskan bahwa dia tidak marah atau salah paham terhadap Amayra dan Iqbal, dia hanya ingin tahu saja seperti apa wanita yang selalu diceritakan oleh suaminya.


"Oh... begitu ya," Amayra merasa lega karena Fatimah tidak memiliki maksud apa-apa dengan menanyakan hal itu.


Ketika berada di dalam pembicaraan, Rayhan mendekati Amayra dan Zahwa. Anak laki-laki yang memiliki kulit putih dan bersih itu, melihat Zahwa dalam gendongan Amayra. "Cwantik... cwantik...Dwede cwantik." celetuk Rayhan yang bicaranya belum jelas.


"Ray? Dedenya cantik ya?" tanya Fatimah pada putranya itu.


"Wah...anak kecil sudah tau yang cantik ya," ucap Anna sambil mencubit gemas pipi Rayhan dan dia tersenyum.


"Hehe, Ray tidak pernah memuji cantik bahkan kepada saya. Tapi, dia memuji Zahwa katanya cwantik." Fatimah tersenyum melihat Zahwa yang berada di gendongan Amayra.


Bayi mungil cantik itu, membuka matanya dan menatap Rayhan. Rayhan memegang pipi Zahwa lalu mencubitnya karena gemas. "Owaaa...owwaaaa...."


Amayra, Anna dan Fatimah cemas mendengar Zahwa menangis. "Bu Amayra, maafkan anak saya...anak saya tidak bermaksud untuk membuat Zahwa menangis." Fatimah buru-buru menggendong Rayhan. "Nak, kamu gak boleh begitu! Lihat tuh, dedenya nangis kamu cubit," ucap Fatimah menegur Rayhan.


"Bu Fatimah, tidak apa-apa kok...jangan marahin Rayhan. Zahwa memang agak sensitif dan rewel, dipegang dikit dia nangis. Ini udah biasa kok," Amayra tersenyum sambil menimang-nimang Zahwa.


Owa...owaa...


Tangan kecil Rayhan menunjuk-nunjuk ke arah Zahwa yang sedang menangis dan gendongan ibunya. Rayhan turun dari pangkuan Fatimah, dia mendekati Zahwa lalu mengelus pipi bayi mungil itu dengan tangan kecilnya. Anna, Fatimah dan Amayra tersenyum melihat gemasnya tingkah Rayhan.


"Mwaaf...cwantik.." gumam Rayhan sambil menatap Zahwa.


"Ih! Gemoy banget dede Rayhan!" Anna gemas melihat Rayhan apalagi saat anak itu bicara maaf pada Zahwa.


"Kelihatannya Ray suka sama Zahwa, biasanya Ray cuek sama orang lain..." ucap Iqbal yang tiba-tiba datang berkumpul bersama para wanita itu. Dia datang bersama Satria juga.


Iqbal tersenyum dan langsung paham dengan ucapan anaknya"Oh gitu? Rayhan apain dede cantiknya?"


"Au...cubwitt! Auu.. gwemes.." Rayhan memeragakan tangannya seolah sedang mencubit.


Amayra mengelus tangan Ray, lalu berkata padanya. "Gak apa-apa, dede cantik gak apa-apa kok. Tuh, nangisnya berhenti." Amayra menenangkan Rayhan yang resah karena membuat Zahwa menangis. Rayhan menatap Zahwa dengan mata berkaca-kaca.


Jika Rey masih ada, mungkin dia sudah sebesar ini juga. Dia pasti sangat menggemaskan, ya Allah Rey...mama rindu.


"Ustad Iqbal, saya punya usul bagus nih!" Ucap Cakra tiba-tiba kepada Iqbal.


"Usul apa pak Cakra?"


"Gimana kalau kita jodohkan saja Zahwa dan Rayhan!" jawab Cakra sambil tersenyum.


Anaknya ustad Iqbal pasti baik juga, sama seperti ayah dan kakeknya. Ketika Zahwa dewasa, dia akan punya pria yang membimbingnya.


"Aduh, pa! Papa mikirnya kejauhan deh, Zahwa masih kecil pa!" Kata Satria pada papanya.


"Haha...jika mereka memang jodoh, saya setuju saja dengan perjodohan ini." Kata Iqbal sambil tertawa-tawa.


Sepertinya bagus juga kalau Ray dijodohkan dengan Zahwa, anak dari Amayra pasti akan seperti dirinya juga. Cantik, memiliki hati mulia, lemah lembut dan tentunya taat pada agama.

__ADS_1


"Tuh, ustad Iqbal aja setuju?" Cakra menoleh ke arah Satria.


Mereka yang ada disana tertawa-tawa membicarakan perjodohan kedua anak yang masih sangat kecil itu.


Setelah selesai shalat magrib, Iqbal, Fatimah dan anak mereka Rayhan. Pamit pulang pada keluarga Calabria. Rayhan yang menggemaskan, mencium tangan Cakra, Nilam, Satria, Amayra dan Ken dengan sopan. Mereka memuji sikap sopan Rayhan pada usia yang masih sangat muda itu. "Asswaalamu'alaikum.." ucap Rayhan sambil tersenyum, dia mengucapkan salam dengan cadelnya.


"Waalaikumsalam..." jawab semua keluarga Calabria bersamaan sambil tersenyum melihat Rayhan.


Rayhan kemudian mendekati Amayra yang sedang menggendong Zahwa. "Ada apa nak?" Amayra bertanya padanya.


Rayhan melambaikan tangannya pada Amayra, Amayra pun sedikit membungkukkan badannya. Rayhan mendekati Zahwa kemudian mengecup pipi Zahwa.


"Masya Allah..." ucap Iqbal dan Fatimah terkejut melihat anak mereka mencium pipi Zahwa. Begitu pula dengan keluarga Calabria, mereka tidak menyangka bahwa Rayhan akan sangat menyukai Zahwa.


"Dadwahhh..." Rayhan berpamitan pada bayi mungil itu. Zahwa tersenyum tipis, dia menatap Rayhan dan meraih pipi Rayhan. "Iyaa... nwanti datwang..agih..." ucap Rayhan.


Setelah itu, Fatimah menggendong Rayhan. Dia pun membawa anaknya masuk kedalam mobil, usai berpamitan. Iqbal juga ikut naik mobil. Mereka pun pergi dari rumah keluarga Calabria.


"Abi...umi suka deh sama Zahwa." celetuk Fatimah tiba-tiba.


"Apaan sih umi? Umi mau ikut ikutan jodohin Rayhan sama Zahwa?" Iqbal tersenyum pada istrinya, sambil menyetir mobil.


"Kenapa enggak, bi? Daripada jodohnya Rayhan gak jelas, mending jodohin aja sama Zahwa yang udah jelas gimana keluarganya. Pak Satria dan Bu Amayra, mereka adalah orang baik. Rayhan pasti akan bahagia, apalagi dia udah suka sama Zahwa."


"Iya umi benar, dokter Satria dan istrinya memang orang yang sangat baik. Abi juga senang kalau seandainya Ray berjodoh dengan Zahwa. Tapi, jodoh itu kehendak dari Allah..umi," ucap Iqbal menjelaskan pada istrinya.


"Iya umi tau kok, bi. Tapi gak ada salahnya kan kita jodohin anak kita sama Zahwa? Keluarga Calabria juga setuju."


"Ya deh umi, tapi kalau nanti mereka gak jodoh...umi jangan memaksakan kehendak ya!" Iqbal mengingatkan istrinya.


"Tentu saja Abi, umi paham kok...ya kita lihat saja kedepannya." Kata Fatimah sambil menggendong Rey dan tersenyum.


🍁🍁🍁


Malam itu usai shalat isya, Amayra dan Satria juga membicarakan tentang gemasnya Rayhan. Mereka juga setuju dengan rencana perjodohan Zahwa dan Rayhan. Menurut mereka, Zahwa akan terjamin jika memiliki jodoh seorang anak ustad.


Ketika sedang mengobrol sambil bermain bersama anak mereka di dalam kamar, tiba-tiba saja terdengar suara Nilam berteriak dari luar.


"Bram? Siapa pengemis ini? Kenapa kalian membawanya ke dalam rumah?!"


"May, itu suara mama kan?" tanya Satria pada istrinya.


"Iya mas, mama kenapa marah-marah gitu ya?" tanya Amayra cemas.


"Aku lihat dulu ya sayang, kamu disini aja sama si kembar. Boboin mereka ya," ucap Satria sambil mengelus kepala istrinya dibalik hijab instan berwarna merah.


Amayra mengangguk pelan, patuh pada ucapan suaminya.


...*****...

__ADS_1


Sambil nunggu up lagi mampir ke karya temanku yuk, seru banget loh ❤️❤️😍



__ADS_2