
...๐๐๐...
Menilai dari bagaimana Nilam berbicara, sudah pasti semua orang tau bahwa permintaan maafnya tidak tulus pada Amayra dan Satria. "Aku minta maaf, mama minta maaf pada kalian ya.. jangan pisahkan mama dari Rey.." Nilam mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada pasangan suami istri itu. Nilam menunjukkan wajah memelas di depan semua orang disana.
Satria mulai membuka mulutnya, namun Amayra mengisyaratkan suaminya untuk bungkam. Kali ini dia yang akan bicara.
"Mama jangan seperti ini," Amayra memegang tangan Nilam dan meminta wanita itu untuk berdiri.
"Kamu mau memaafkan mama kan, Amayra?" tanya Nilam dengan mata berkaca-kaca menatap wanita itu.
"Maaf ma, tapi saya gak bisa memaafkan mama sekarang. Saya bisa diam saja kalau saya yang dihina, tapi kalau ayah saya..saya tidak bisa diam saja ma. Mama sudah melukai hati ayah saya dan membuat ayah saya bersedih. Saya akan tetap pindah seperti apa yang sudah diperintahkan suami saya," Amayra menatap tegas pada ibu mertuanya. Dia tidak mau diinjak injak lagi oleh Nilam.
Ya Allah, maafkan hamba.. apa sikap hamba ini termasuk durhaka kepada orang tua?
"Allah saja maha pemaaf, kenapa kamu tidak? Sombong sekali kamu!" Nilam naik pitam setelah mendengar ucapan tegas dari menantunya itu.
"Cukup ma! Ini sudah keputusan Satria dan Amayra. Ini juga salah kamu, meminta maaf tidak tulus!" Hardik Cakra pada istrinya. Lama-lama dia yang bisa terkena serangan jantung akibat ulah istrinya.
Cakra membawa Nilam pergi dari sana. Satria juga berjalan mengandeng tangan Amayra untuk kembali ke kamar mereka. "Satria, Amayra, tunggu!"
Satria dan Amayra menoleh ke arah Bram yang memanggil mereka.
"Apa aku masih bisa bertemu dengan Rey meski kalian sudah pindah?" tanya Bram yang khawatir tidak bisa bertemu lagi dengan anaknya, karena Amayra juga melarang Nilam bertemu dengan cucunya. Padahal dia bisa saja mengeluarkan surat perjanjian yang dijadikannya sebagai alasan untuk mengancam Amayra untuk merebut Rey, tapi dia tidak membahas itu lagi. Dia ingin mendapatkan kepercayaan dan image baik dimata Amayra dan adik tirinya itu.
"Kakak masih bisa bertemu dengannya, saya juga tidak akan melarang. Asalkan kakak jangan melewati batas, bertemu dengan Rey saat ada suami saya dan saya dirumah," kata Amayra tegas. Satria tersenyum mendengar kata-kata istrinya, si polos itu mungkin sudah mulai dewasa.
"Ya, itu saja sudah cukup. Terimakasih Amayra, Satria.." ucap Bram sambil tersenyum lembut.
Amayra dan Satria merasa heran, kenapa Bram setuju begitu saja tanpa marah-marah seperti sebelumnya. Aneh saja, Bram yang mewarisi sikap emosional seperti Nilam, bisa bersikap tenang begini setelah operasinya.
Amayra dan Satria kembali ke kamar mereka. Begitu pula dengan Bram yang masih merasa pusing, dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Besok dia mengambil cuti, untuk menghadiri acara aqiqah Rey.
Sebelum tidur dia melihat buku menjadi pribadi yang lebih baik, dia membaca buku itu dengan seksama. Tamat membaca buku itu, Bram membaca buku ajari aku Islam dengan serius. Sampai akhirnya dia ketiduran di sofa karena begadang membaca buku. Padahal sebelumnya dia ingin beristirahat.
__ADS_1
...*****...
Keesokan harinya, ibu-ibu pengajian sudah berkumpul di rumah besar keluarga Calabria untuk menghadiri acara syukuran sekaligus aqiqah Rey. Anna yang baru datang tadi subuh, juga ikut bergabung. Dia memakai kerudung dan baju yang tertutup untuk menghadiri acara pengajian itu.
Fania sahabat baik Amayra juga datang kesana untuk memberikan selamat sekaligus hadiah untuk baby R. Suasana rumah terlihat hangat dengan banyak orang yang datang memberikan selamat, namun ketika banyak orang datang ke rumah dan menghampiri Amayra. Ibu dari baby R itu malah terlihat resah.
Apalagi ketika dia melihat ibu-ibu yang pernah menghinanya dulu. Ada rasa takut didalam hatinya. Teringat kejadian di sekolah, saat semua orang menghujat dirinya.
Istighfar May, tidak akan terjadi lagi hal-hal seperti itu.. tidak akan. Disini ada kak Satria dan yang lainnya.
Wanita itu mengelus-elus dadanya sambil menggendong Rey didalam kain batik yang dia lilitkan di tubuhnya. Amayra duduk sendirian dan melihat orang berlalu lalang disekitarnya. Sementara Satria dan Cakra sibuk menyambut para tamu.
Anna yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat keresahan di wajah Amayra, apalagi ketika dia menatap para tamu yang sudah hadir.
"May, ada apa?" tanya Anna sambil menepuk pundak Amayra.
"Eh.. gak apa-apa kak, eh An.." Amayra terlihat bingung dan tidak fokus.
"Aku.. aku gak apa-apa," jawabnya lemas.
"Apa kamu pegal? Sini, aku aja yang gendong Rey.." Anna merentangkan kedua tangannya.
"Gak apa-apa An...biar aku aja," Amayra kembali tersenyum.
Anna mengerutkan kening, dia sudah tau sikap temannya yang akan selalu bilang baik-baik saja ketika dia sedang resah atau ada masalah. Anna tidak memaksa Amayra untuk bercerita, dia hanya mengatakan hal-hal untuk menyemangatinya.
Setelah 15 menit menunggu, akhirnya pak ustadz yang akan memimpin acara telah hadir disana bersama seorang pria bertubuh tinggi, kulit sawo matang dan wajah tampan. Dia memakai peci berwarna putih.
"Assalamualaikum bapak Cakra dan bapak Satria," Dialah ustadz Arifin, yang telah banyak mengajarkan ilmu agama kepada Satria.
"Waalaikumsalam pak ustad, silahkan masuk pak," sambut Satria dan Cakra ramah pada dua orang itu.
"Oh ya dan ini-" Cakra melirik ke arah pria muda yang berdiri disamping ust. Arifin dengan senyuman ramah dan dua lesung di pipinya.
__ADS_1
"Perkenalkan ini anak saya, Iqbal." Ust. Arifin memperkenalkan Iqbal anaknya.
"Oh ini yang namanya Iqbal, anak bapak yang kuliah di Kairo itu?" tanya Satria sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Iqbal. Iqbal membalas jabatan tangan Satria dengan ramah.
"Benar pak Satria," jawab Ust. Arifin sambil tersenyum.
"Saya Iqbal pak, salam kenal," ucap Iqbal sopan.
"Saya Satria, selamat datang di rumah kami," sahutnya ramah.
Namanya Iqbal? Rasanya aku tidak asing dengan nama itu.
Iqbal dan ayahnya ust. Arifin masuk ke dalam rumah Calabria yang mewah. Mereka disambut hangat dengan penuh rasa hormat disana. Tidak mau berlama-lama, ustad Arifin langsung memberikan kalimat pembuka dan sedikit ceramah tentang Aqiqah. Ust. Arifin menyambut semua orang disana dengan hangat, tak lupa dia membaca bismillah di setiap akan melakukan sesuatu.
Aqiqah itu sendiri adalah proses pemotongan hewan sembelihan pada hari ketujuh setelah bayi dilahirkan. Aqiqah menjadi sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah dalam rangka penebusan seorang anak. Rasulullah shallallahu wa โalaihi wasallam bersabda
ุนููู ูุณูู - ููุงูู ยซ ููููู ุบููุงูู ู ุฑููููููุฉู ุจูุนููููููุชููู ุชูุฐูุจูุญู ุนููููู ููููู ู ุณูุงุจูุนููู ููููุญููููู ููููุณูู ููู
โSetiap anak tergadaikan dengan aqiqah nya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.โ (HR. Abu Daud, An Nasai, dan Ibnu Majah)
Hewan yang disembelih dalam aqiqah, ialah dua ekor kambing bagi anak laki-laki dan satu ekor kambing bagi anak perempuan. Selain mempersiapkan hewan untuk disembelih, ada juga doa-doa yang dibacakan saat prosesi aqiqah.
Prosesi yang harusnya dilakukan setelah 7 hari lahirnya Reyndra ke dunia, malah dilakukan pada hari ke 30 karena keadaan Reyndra yang masih kurang baik saat itu. Ketika selesai berceramah dan acara akan segera berlangsung, Amayra dan Rey menunjukkan diri didepan semua orang yang hadir disana.
Mata Amayra membulat melihat sosok kakak seniornya yang sedang duduk bersila di dekat ust. Arifin.
Lho? Kak Iqbal?
Iqbal ternganga dan langsung beranjak dari tempat duduk begitu melihat Amayra mengendong bayi, ada dihadapannya. Cinta pertamanya saat zaman SMA dulu.
Amayra?
...----****----...
__ADS_1