
...🍁🍁🍁...
Diana tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia langsung pergi ke dalam kamarnya. Dia tidak mau suaminya melihat dirinya menangis. "Sayang.." Bram melihat istrinya masuk ke dalam kamar dengan kening berkerut.
Tak lama kemudian, Nilam keluar dari kamarnya setelah pembicaraannya dan Cakra tak berjalan lancar. Nilam keluar dari kamarnya dengan wajah kesal.
"Ma, mama kenapa? Pagi-pagi udah kesel gitu?" Tanya Bram melihat raut wajah mamanya yang kesal.
"Ini semua gara-gara ist-"
Cakra memotong ucapan istrinya dengan cepat, "Ma! Ayo kita turun untuk sarapan!" ajak Cakra sambil memegang tangan istrinya.
Nilam ini benar-benar deh. Mulutnya mulai gak bisa di rem lagi.
"Apaan sih papa?" Nilam menaikkan alisnya, menatap pada Cakra.
Cakra membawa istrinya buru-buru ke lantai bawah, dia tidak mau istrinya bicara yang tidak-tidak pada Bram ataupun Diana. Mereka berdua sampai di meja makan lebih dulu. Bi Lulu sedang menata makanan di meja makan.
"Ma, mama jangan gak boleh ngomong apa-apa sama Bram dan Diana. Awas kalau mama bilang yang enggak-enggak!" Cakra mengingatkan istrinya untuk menjaga ucapan. Dia berbicara setengah berbisik, takut Bram atau Diana yang ada diatas akan mendengar pembicaraan itu.
"Kenapa sih pa? Mama kan bicara juga demi kelangsungan keluarga kita dan kebahagiaan Bram juga. Kalau seandainya-"
Bram dan Diana terlihat sedang berjalan menuruni tangga. Cakra langsung mengisyaratkan pada Nilam untuk diam. Pria itu bahkan memelototinya.
Cakra dan Nilam duduk di meja makan, wajah Nilam tidak berubah. Wajah yang menunjukkan kesinisan dan kekesalan. Bram dan Diana bergabung bersama Cakra dan Nilam untuk sarapan. Tak lupa Diana mengatakan pada Lulu agar dia membawakan sarapan ke kamar Anna.
Suasana sarapan terasa dingin karena Diana tidak ceria seperti biasanya. Bram merasakan bahwa istrinya itu sedang bersedih, tapi dia tak tahu apa yang membuat Diana sedih. Nilam juga terlihat lebih pendiam dan tidak menunjukkan keramahan pada Diana seperti biasanya.
"Oh ya Ma, pa...nanti sore Satria sama Amayra akan datang kemari."
"Ya, lalu?" tanya Cakra.
"Mereka akan menginap dulu di rumah ini sementara waktu," ucap Bram memperjelas.
"Apa? Kenapa? Apa Satria ada perjalanan lagi keluar? Bukannya dia udah diangkat jadi dokter kepala?" Tanya Nilam dengan kening berkerut.
"Enggak Ma, Satria gak kemana-mana. Jadi, kemarin tuh ada kejadian di rumah mereka. Ada seseorang yang masuk ke rumah mereka dan meneror Amayra. Pagi hari tiba-tiba ada minyak tumpah dan hampir buat Mayra celaka, lalu tadi malam ada bangkai kucing di rumahnya dan Amayra di serang saat sendirian di rumah. Sekarang Amayra di rumah sakit,"
"Astagfirullahaladzim... terus gimana keadaan Amayra dan bayinya?" Tanya Nilam cemas.
Diana menundukkan kepalanya, dia sedih karena Nilam bersemangat menanyakan keadaan Amayra dan bayinya.
"Iya Bram, gimana keadaan Amayra dan gimana sama pelakunya?" tanya Cakra yang juga cemas pada keadaan Satria dan Amayra.
"Alhamdulillah Amayra sama bayinya selamat walau sempat pendarahan. Tapi dia harus bedrest, soal pelakunya itu... orang-orang Bram masih mencarinya." jelas Bram.
"Aduh.. ada-ada deh. Satria juga.. kok lengah banget sih, istrinya lagi hamil harusnya dijagain jangan ditinggal-tinggal. Kalau udah keguguran nanti berabe, gak semua orang bisa dikasih kepercayaan hamil dengan mudah."
Deg!
Diana benar-benar tidak nyaman mendengar ucapan Nilam. Dia menghentikan bibirnya yang sebelumnya melahap roti.
"Ma, hushh...jangan bicara sembarangan Ma!" Cakra meminta istrinya untuk diam.
Diana, jangan baper...batin Diana berusaha berdamai dengan hatinya agar dia tidak terbawa perasaan.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bram pada istrinya itu.
"Aku gak apa-apa Mas." jawaban Diana tetap sama, selalu tidak apa-apa dan dia juga tersenyum.
Diana kenapa ya? Daritadi kok dia diam saja, matanya juga sembab kayak habis nangis.
Nilam beranjak dari tempat duduknya karena dia sudah selesai sarapan,"Ya udah Pa, mama mau lihat Anna dulu. Nanti siang mama mau ke rumah sakit jenguk Amayra."
"Iya Ma, papa juga mau ke kantor." ucap Cakra berpamitan pada istrinya.
Cakra pergi ke kantor bersama pak Muin supir pribadinya, sementara Bram pergi satu mobil bersama istrinya. Dia mengantar istrinya ke rumah sakit sebelum dia pergi bekerja ke kantor.
"Mas, aku berangkat kerja dulu ya Mas." Diana tersenyum seraya berpamitan pada suaminya. Dia mencium punggung tangan Bram.
"Hati-hati sayang. Aku juga berangkat kerja dulu," jawab Bram sambil membalas mengecup kening sang istri dengan lembut.
Diana tersenyum, "Iya Mas.. kamu juga hati-hati ya."
Seusai mengucapkan salam, Diana masuk ke dalam rumah sakit. Dia berjalan ke lorong tempatnya bekerja, di depan ruang rawat Amayra dia melihat dua pria berpakaian hitam-hitam berdiri tegak.
"Selamat pagi nyonya Presdir." sapa kedua orang itu sambil membungkukkan setengah badan didepan Diana.
"Hehe.. selamat pagi juga." Diana menyapa balik kedua pria yang berdiri tegap disana.
Oh ya mereka kan orang-orangnya mas Bram. Aku ini istri seorang CEO, tapi kok aku merasa aneh yang dipanggil nyonya Presdir.
Kedua pria itu langsung bergeser saat Diana akan masuk ke dalam ruang tempat Amayra di rawat. Diana merasa canggung dengan perlakuan itu.
"Oh ya, apa Satria ada didalam?" tanya Diana pada kedua bodyguard itu.
"Tuan Satria sedang pergi ke ruangan Dokter." jawab salah seorang pria pada Diana.
KLAK!
Diana membuka pintu ruangan itu, Amayra sedang sendirian disana dan duduk diatas ranjang. "Assalamualaikum May,"
"Waalaikumsalam kak," Amayra tersenyum lembut, menyambut kedatangan Diana.
"Gimana keadaan kamu? Ada yang sakit?" Tanya Diana sambil menepuk bahu Amayra.
"Alhamdulillah udah gak ada yang sakit kok. Hanya saja tubuhku agak lemas" jelas Amayra sambil memegang perutnya.
"Kamu udah sarapan?" tanya Diana perhatian.
Amayra mengangguk, "Tadi...aku sama Mas Satria sarapan bareng disini. Terus mas Satria pergi dulu ke ruangannya."
"Alhamdulillah kalau kamu udah sarapan, apa dokter Mira udah ngecek keadaan kamu?" tanya Diana sambil memegang pergelangan tangan Amayra. Dia sedang mengecek keadaan wanita hamil itu.
"Belum," jawabnya singkat.
"Alhamdulillah...kamu udah gak apa-apa kok. Nanti di periksa lagi sama dokter Mira ya, aku mau ke ruanganku dulu." ucap Diana sambil tersenyum.
"Iya kak makasih ya."
Setelah Amayra keluar dari rumah sakit, dia dan suaminya tinggal di rumah Calabria bersama Nilam, Cakra, Diana, Bram dan Anna. Karena disana akan banyak orang yang menjaganya. Nilam juga menerima Amayra dengan senang hati.
__ADS_1
Dia sangat memperhatikan Amayra, walau Amayra sedang mengandung anak Satria. Anak dari anak tirinya bukan anak dari anak kandungnya. Perhatian Nilam pada Amayra membuat Diana agak iri. Karena Nilam tidak pernah perhatian lagi padanya.
"Mayra, kamu mau kemana?" tanya Nilam melihat Amayra yang membawa tas gendongnya.
"May mau ke kampus Ma." jawab wanita hamil itu sambil melihat ke arah Nilam yang sedang duduk di sofa depan rumah.
"Bukannya tadi kamu udah ke kampus ya? Kenapa balik lagi?" tanya Nilam.
"Ah... May lupa masih ada kelas, Ma."
"Oh gitu. Tunggu disini sebentar ya," ucap Nilam sambil tersenyum.
Wanita paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya, dia masuk ke dalam rumah. Beberapa detik kemudian, Nilam kembali ke teras sambil membawa dua toples ditangannya.
"Apa ini ma?" tanya Amayra sambil melihat ke arah toples berwarna ungu yang dipegang oleh Nilam.
"Mama tadi buat kue coklat banyak banget. Ini kamu bawa aja ke kampus, siapa tau kamu lapar dan bisa jadi cemilan. Oh ya, bagi sama Anna juga ya." kata Nilam sambil tersenyum ramah pada Amayra.
"Alhamdulillah makasih ya ma.. jazakalloh Khoiron katsiro.." ucap Amayra sambil mengambil toples itu dari tangan Nilam.
Tanpa mereka sadari, ada yang melihat kedekatan mereka dengan perasaan sedih. Diana berdiri tak jauh dari Nilam dan Amayra.
Kenapa mama selalu memperhatikan Amayra dan tidak memperhatikanku? Bahkan mama gak pernah kasih kue buatannya, untukku.
Diana jadi galau karenanya, dia yang baru lelah pulang kerja. Langsung masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa mengucap salam. Nilam melihat Diana dengan sinis. "Dasar tidak sopan! Apa dia gak lihat aku disini?" Gerutu Nilam kesal.
"Astagfirullah... ma jangan marah. Mungkin kak Diana emang gak lihat kita karena kak Diana lagi buru-buru." ucap Amayra sambil melihat ke arah Diana yang masuk rumah.
Kak Diana kenapa ya?
Amayra tidak tahu harus beralasan apa lagi untuk membela Diana. Rasanya tidak mungkin jika Diana tidak melihat keberadaannya dan Nilam disana.
"Walaupun dia buru-buru, harusnya dia tetap bersikap sopan dong. Ngucapin salam atau nyala kek, emang dasar gak sopan. Gak punya orang tua sih!" Nilam berkata ketus dan membawa asal usul Diana yang sudah ditinggalkan kedua orang tuanya sejak kecil.
"Astagfirullah Ma.. istighfar.. gak boleh ngomong gitu. Kalau kak Diana dengar, hatinya akan terluka."
Ya Allah semoga tak terjadi apa-apa sama kak Dian dan mama.
"Ah.. ya sudah. Kamu kan mau berangkat ke kampus, pergi saja sana!" Kata Nilam mendesis kesal. Sikap ketusnya itu kembali.
Emang benar deh, si Diana kudu dikasih pelajaran.
Sore itu Amayra kembali ke kampus, dia ditemani salah satu bodyguard yang diperintahkan Bram untuk menjaga Amayra. Bodyguard itu juga bertugas sebagai supir pribadinya.
"Pak Sandy, gak apa-apa sampai sini aja antarnya pak." kata Amayra pada Sandy untuk menunggu di mobil saja.
"Maaf non, saya diperintahkan tuan Satria dan pak presdir untuk menjaga nona." kata Sandy sambil berdiri tegap.
"Tapi pak, disini banyak orang. Saya gak apa-apa kok, banyak teman saya disini."
Sandy tetap berdiri tegak, dia mengikuti Amayra dari belakang. Amayra mendesis kesal, dia memegang kepalanya. "Astagfirullahaladzim,"
"Non? Non kenapa? Apa Non pusing?" tanya Sandy dengan kening berkerut menatap ke arah Amayra.
"Iya, saya pusing sama bapak!" Gerutu Amayra kesal.
__ADS_1
Huh! Lama-lama bisa stress aku...mas Satria sama kak Bram kenapa protektifnya dibawa kemana-mana sih? Pokoknya besok aku harus bisa buat pak Sandy berhenti mengikuti aku.
...----*****----...