Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 130. Berita Satria kembali pulang


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Di dalam ruang operasi, para dokter sedang melakukan operasi dengan serius. Berjuang untuk menyelamatkan nyawa pasiennya, terlihat keringat membasahi wajah dokter Candra dan bawahannya dokter Sandy.


Harun dalam kondisi terbaring diatas ranjang karena obat bius. Dan kedua dokter itu sibuk untuk mengoperasi tumor didalam kepalanya.


Di luar sana, Amayra terlihat resah menunggu sang ayah yang sedang di operasi. Kakinya tidak bisa diam dan terus mondar-mandir kesana kemari. Menunjukkan keresahan di dala hatinya. Disaat resah itulah Amayra baru teringat bahwa dia harus menghubungi seseorang di rumah keluarga suaminya, memberitahu mereka pada ayahnya tengah do operasi.


"May, duduklah.. apa kamu gak lelah? Udah hampir setengah jam loh kamu begitu?" kata Lisa yang khawatir pada temannya yang terus mondar-mandir didepan ruang operasi. "Ayah kamu akan baik-baik saja, May." Lisa menenangkan Amayra yang resah n


"Ah.. i-iya..ayahku akan baik baik saja" jawab Amayra sambil menggigit jarinya. Tiba-tiba saja dia tercengang tanpa sebab, "Astagfirullahaladzim!!"


"Kenapa May?"


"Aku lupa mengabari orang rumah untuk menjaga Rey," ucap Amayra panik sambil menghampiri Lisa yang sedang duduk di kursi.


"Oh.. ya udah kabarin dulu aja!" seru Lisa pada temannya.


"Tapi aku gak bawa hp. Lisa, boleh gak aku pinjam hp kamu sebentar?" tanya Amayra seraya meminta pinjam hp untuk menelpon orang rumah.


"Nih," Lisa menyerahkan ponselnya pada Amayra.


Ibu dari satu anak itu segera menelpon Bram karena dialah yang sedang menjaga Rey. Bram langsung mengangkat teleponnya, pria itu sedang bersama Diana mengasuh Rey di rumah.


"Rey, main sama mama Diana dulu ya.. Rey anak baik, anak pintar.." terdengar suara Diana sedang mengajak Rey bermain. Bayi itu sedang tengkurap sambil mencoba ngesot ke depan. "Haha, apa dia sudah mau merangkak? Lucu sekali," ucap Diana pada Rey yang sedang tengkurap itu.


"Halo, Walaikumsalam...ini kamu May? Kamu kemana aja? Kamu dimana? Kenapa perginya lama sekali?" tanya Bram sambil mengangkat ponselnya di telinga.


"Kak.. maaf aku di rumah sakit,"


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Bram langsung tercekat mendengarnya.


"Ayah sedang sakit kak, ayah sedang di ruang operasi.."


"Sebenarnya apa yang terjadi? Pak Harun di operasi? Operasi apa?" tanya Bram cemas.


"Aku akan ceritakan nanti. Aku cuma mau bilang, tolong bantu aku jaga Rey sampai operasinya selesai ya kak?" pinta Amayra pada Bram.

__ADS_1


"Kamu tenang aja, Rey baik kok.. dia gak rewel lagi main sama Diana. Oh ya, kamu di rumah sakit mana? Aku kesana!"


"Eh gak usah kak, aku disini sendiri aja.. kakak bantu aku jaga Rey," ucap wanita itu pada kakak iparnya.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, ini penting! Sekalian kita bertemu saja, kamu pasti akan senang mendengarnya." Ucap Bram.


Amayra paham dengan apa yang diucapkan Bram. Dia memberitahukan alamat rumah sakit tempat Harun di operasi kepadanya.


15 menit kemudian, Bram sampai di rumah sakit. Sementara Diana dan Nilam di rumah Calabria sedang menjaga Rey.


Setelah Bram sampai disana, Ken dan Lisa pamit pulang lebih dulu karena ada urusan.


"May, gimana keadaan ayah kamu?" tanya Bram pada Amayra dengan wajah cemas.


"Ayah masih didalam ruang operasi kak, baru setengah jam operasinya berlangsung." jelas wanita itu dengan wajah penuh keresahan.


Bram terlihat bingung, apa yang harus dia bicarakan lebih dulu. Kepulangan Satria atau menanyakan kondisi Harun. Bram pun memilih menanyakan kondisi Harun dulu. Amayra tidak tau bagaimana jelasnya, dia hanya tau dari Ken kalau ayahnya akan di operasi. Amayra tidak tau sama sekali bahwa ayahnya sakit, entah dari kapan dan bagaimana sakitnya.


Dia juga baru tahu kondisi ayahnya sekarang. Lalu tibalah pada berita yang akan membahagiakan untuk Amayra, Bram mulai membahasnya. Tentang kepulangan Satria.


"May, aku mah kasih tau kamu...kalau Satria sudah ada menelpon ke rumah!" kata Bram sambil tersenyum pada Amayra.


"Alhamdulillah Satria baik-baik saja dan besok dia akan kembali,"


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih sudah mengabulkan doa hamba. Suamiku baik-baik saja dan akan pulang satu Minggu lebih cepat dari sebelumnya... Syukron ya Allah.." tak hentinya wanita itu mengucap syukur bahagia, mendengar Satria baik-baik saja dan akan segera pulang.


Penantiannya kini akan berakhir dengan pertemuan indah didalam rindu menggebu, saat suaminya kembali. Dia sudah memikirkan rencana untuk menyambut Satria kembali pulang. Sudah ada rencana kejutan untuk kepulangan Satria nanti.


Namun, rencana tinggal rencana. Entah itu akan terjadi atau tidak. Mereka yang di luar sana tidak tahu, bahwa bahaya sedang mengancam nyawa Harun di dalam ruang operasi.


"Dokter, anda salah memotong bagian-"


"Dokter Sandy, anda dokter junior! Anda tidak tau apapun, jadi diam saja...saya tidak salah!" kata dokter Candra tegas dengan wajah yang tegang.


Mesin medis berbunyi tanpa jeda menggema di ruangan itu.


Tiiiiiiiitttttttttttttt

__ADS_1


Bunyi panjang yang menyeramkan di ruang operasi.


Tidak, aku tidak mungkin salah memotongnya. Ini bukan salahku! Sial, ini karena aku tidak konsentrasi.


Dokter Candra menggelengkan kepalanya, dia sepertinya telah memotong bagian yang salah entah dimana. Hal itu menyebabkan kondisi Harun menjadi kritis.


"Dokter! Tekanan darahnya menurun drastis," ucap seorang suster dengan wajah panik.


"Si-siapkan alat defibrillator, sekarang!" titah dokter Candra pada seorang suster disana.


"Baik dok!"


Dengan alat defibrillator di tangannya, dokter Candra mulai meletakkan alat itu ke dada pasien tepat di jantungnya.


"Satu.... dua.....tiga...."


Beberapa kali tubuh Harun yang tidak sadarkan diri itu mengejang kuat. Dokter Candra dan dokter Sandy, mulai resah karena Harun tidak kunjung membuka matanya. Mesin medis juga menunjukkan bahwa jantungnya telah berhenti berdetak.


Tidak ada tanda kehidupan pada pria paruh baya itu. Tubuhnya dingin sedingin es, wajahnya pucat pasi.


"Dokter!" teriak Dokter Sandy dengan wajah panik bercucuran keringat dingin. Bagi dokter Sandy, ini adalah operasi pertamanya. Dia takut kalau ini juga akan menjadi operasi terakhirnya kalau dia gagal.


Glek!


Dokter Candra menelan ludah, dia juga tegang karena ini adalah salahnya yang tidak fokus. Dia menatap layar monitor mesin medis dengan tatapan tajam.


"Satu.... dua.. tiga..." Kembali lagi dokter Candra mencoba membalikkan takdir. Dia menekankan defibrillator itu pada tubuh Harun.


Namun sayang, tidak ada lagi respon kehidupan pada tubuh Harun. Dia tetap membeku, dengan mata tertutup. "Waktu kematian, pukul 19.35 lebih 20 detik.." ucap dokter Candra sambil memandang jam ditangannya dengan resah.


Setelah 3 jam menunggu, dokter Candra keluar dari ruangan operasi dengan wajah muram dan kurang menyenangkan.


"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Amayra sambil menghampiri dokter Candra dengan cemas menanyakan kondisi ayahnya.


Dokter Candra mengambil napas dalam-dalam, dia bersiap mengatakan berita tentang Harun. "Maafkan saya, saya menyesal harus mengatakan ini. Operasinya tidak berhasil,"


Amayra dan Bram tersentak kaget mendengarnya. Mata mereka melebar, apa maksud tidak berhasil itu?

__ADS_1


...----****----...


__ADS_2