
πππ
"Non, nona Mayra gak apa-apa?" tanya Dewi sambil membantu wanita hamil itu untuk berdiri. Disisi lain Amayra berada di dalam kebingungan.
Dia bingung dengan perkataan perkataan pedas dari ibu mertua dan orang-orang di sekitarnya. Haruskah dia menjelaskan semuanya ataukah dia diam saja dihina seperti ini? Kalau dia bicara, dia pasti akan dianggap tidak patuh dan membangkang pada ibu mertuanya. Tapi jauh di dalam hatinya, dia gemas ingin meluruskan kesalahpahaman orang-orang padanya. Bahwa dia adalah korban dan bukan wanita penggoda seperti yang dikatakan orang-orang diluar sana.
Ya Allah aku harus bagaimana? Ayah.. apa yang harus aku lakukan yah? Haruskah aku diam saja? Aku tidak mau menimbulkan masalah untuk kak Satria dan keluarga ini.
"Ughh..," Amayra memegang perutnya, dia meringis kesakitan.
"Non, non kenapa non?" Dewi memegang tangan Amayra, dia terlihat mencemaskan nya.
"Gak apa-apa bi," jawab Amayra, sambil melangkah pergi kembali ke dapur.
Baiklah, untuk saat ini aku lebih baik diam saja dulu.
Daripada berada disana membuat telinga dan hatinya sakit, lebih baik Amayra menghindar dari semua pembicaraan buruk mereka. Amayra mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan rumah di dapur.
Bi Dewi merasa kasihan pada Amayra yang disuruh suruh terus oleh ibu mertuanya. Amayra menurut saja, karena dia tau bahwa dirinya hanya orang baru di rumah itu.
"Non, udah non..biar saya saja yang mengerjakan cuciannya," Dewi melihat Antara mencuci dengan tangan dan bukan dengan mesin cuci. Karena itu adalah perintah Nilam.
"Gak apa-apa bi, tenang saja. Aku sudah biasa mengerjakan nya kok,"
"Bukan begitu non, non kan lagi hamil muda. Non pasti capek, apalagi tadi non terus muntah-muntah." Dewi cemas pada wanita yang masih mencuci di hari yang sudah sore itu.
Kemana tuan muda Satria, tuan besar, sama nona Anna? Kenapa mereka belum pulang? Kalau non Mayra dibiarkan sendirian terus, nyonya besar akan terus menyiksanya. Dewi berharap agar Satria, Anna dan tuan besarnya cepat pulang untuk bisa menolong Amayra.
"Aku sudah merasa lebih baik Bi, nanti bibi bantu aku jemur saja ya!" ujar Amayra sambil tersenyum ikhlas melakukan semua yang di perintahkan ibu mertuanya.
"I-iya non," jawab Dewi dengan kening yang berkerut.
Padahal mesin cuci baik-baik saja, kenapa nyonya meminta nona Amayra mencuci baju dengan tangan.
Ketika sedang mencuci baju, Amayra melihat cincin pernikahan nya. Hatinya kembali sedih teringat dirinya yang sudah menjadi seorang istri. Kemana kehidupan sekolahnya yang dulu? Semuanya sudah hancur karena pernikahan.
May, sadar May.. sadarlah.. kamu udah gak bisa seperti dulu. batin Amayra sakit hati.
****
Satria sendiri sedang sibuk di rumah sakit, dia cukup populer dikalangan suster dan dokter wanita yang berada di rumah sakit itu. Usia muda Satria dan karirnya yang cemerlang.
"Sayang banget ya dokter Satria, dia harus nikah muda," ucap seorang wanita berpakaian suster yang sedang duduk di ruang tunggu.
__ADS_1
"Iya, katanya dia menikahi wanita yang sudah hamil. Dan katanya juga, gadis itu hamil sama pria lain!" kata seorang suster membicarakan tentang Amayra dan Satria.
"Kasihan banget nasibnya. Ngomong-ngomong kenapa sih dia menikah sama gadis itu?" tanya seorang suster penasaran.
"Katanya untuk bertanggungjawab atas kesalahan pria lain itu. Yang jelas bukan karena cinta, lah."
Kalau begitu, aku masih ada kesempatan dong ya? Untuk mendapatkan hati Satria. batin seorang wanita cantik dengan setelan jas dokter begitu mendengar pembicaraan pada suster disana.
Satria berada di ruangannya, dia mendapatkan banyak pasien pada hari itu. Sebagai dokter bedah, dia banyak melakukan operasi yang kadang terjadwal dan mendadak.
"Haah.. akhirnya aku bisa sedikit bernafas," Satria menghela napas panjang. Dia baru saja keluar dari ruang operasi bersama dokter senior lainnya.
"Kerja bagus dokter Satria!" ucap seorang dokter berkacamata dengan tangan yang memeluk bahu Satria. Pria itu tersenyum dan memuji kinerja Satria sebagai dokter muda.
"Iya, terimakasih dokter Chandra." Satria membungkuk hormat di depan seniornya itu.
"Saya dengar kamu sudah menikah ya kemarin? Kenapa kamu tidak ambil cuti?"tanya dokter Candra keheranan.
"Maafkan saya pak, tapi tidak perlu. Lagi pula.."
"Lagipula apa?" tanya dokter Candra sambil menatap Satria yang kebingungan.
Lagipula pernikahan ku dengan teman keponakan ku itu, itu tidak penting. Lebih penting nyawa pasien ku dibandingkan dirinya. Tentu saja kata-kata itu diucapkan oleh Satria di dalam hati.
"Ah begitu ya? Kalau begitu semangat ya! Oh ya mohon bimbingannya juga untuk anak saya,"
"Apa maksud Dokter?" tanya Satria yang tidak paham apa maksud ucapan dokter Candra.
"Clara sayang, ayo masuk!" dokter Candra menoleh ke arah pintu yang terbuka itu. Terlihat lah seorang gadis berjalan ke arah sana, gadis cantik dengan senyuman ramah nya. Gadis berambut pendek dengan memakai setelan jas putih dan kulit putih bersih.
Dokter Candra memperkenalkan Clara kepada Satria, dan mulai kini Clara akan bekerja dibawah pengawasan Satria.
****
Sore susah berganti malam, Anna baru pulang dari sekolah setelah dia di hukum membersihkan taman sekolah karena berkelahi dengan Reina and the geng.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam non Anna, sudah pulang?" Sambut Dewi yang sedang membereskan bekas makanan di meja.
"Bi, dimana Mayra?" begitu pulang dia langsung menanyakan Amayra.
"Non.. Mayra dia.."
__ADS_1
"Dia pasti di kamarnya ya?" tebak Anna.
Pasti Mayra lagi sedih sekarang, ketika di sekolah aku terus memikirkan bagaimana perasaannya. Dia pasti belum terbiasa di rumah ini, apalagi sikap Oma padanya terakhir kali. Tapi, Oma gak akan berbuat macam-macam sama Amayra kan?
Dewi terlihat gelagapan saat ditanyakan tentang Amayra. Anna langsung mencari Amayra ke kamar Satria yang berada di lantai dua. "Kok gak ada ya?" tidak ada siapapun disana.
"Anna, kamu baru pulang sayang?" sambut Nilam kepada cucu perempuan nya yang masih memakai baju seragam putih abu nya.
"Iya Oma, Mayra ada dimana ya?" Anna langsung menanyakan keberadaan Amayra pada neneknya.
"Hemph! Baru pulang kamu sudah menanyakan gadis kampung itu!" Nilam terlihat tidak senang karena Anna menanyakan menantunya.
"Oma kok ngomongnya gitu sih? Amayra lagi hamil cucu Oma lho, Oma masih mau bersikap begini? Oma, Amayra anak yang baik dan Sholehah," Anna berusaha bicara baik-baik pada Oma nya untuk menerima Amayra
"Hmphh" Nilam menolak ucapan cucunya yang memuji Amayra. Baginya gadis itu adalah pembawa aib di dalam keluarga Calabria. Sebuah sampah yang harus dibuang ke tempat sampah, dan Nilam seperti memungut sampah ke dalam rumahnya.
Anna tidak bertanya lebih banyak pada Nilam, dia memutuskan untuk mencari Amayra sendiri. Dan dia menemukan wanita itu sedang menyetrika baju di ruang pembantu. Wajahnya pucat dan berkeringat.
"May.. apa yang kamu lakukan disini?!!" Anna terkejut mendapati suami om nya berada di tempat pembantu dan sedang mengerjakan pekerjaan pembantu.
"Anna? Kamu sudah pulang?" Amayra tersenyum di wajah pucat nya.
"Ka-kamu! Jangan lakukan ini lagi!" Anna langsung mencabut setrikaan itu dan meminta Amayra menghentikan aktivitas nya.
"Ta-tapi aku belum selesai, An.."
"Siapa yang menyuruh kamu melakukan semua ini May?!" tanya Anna sedikit membentak sahabat nya. Anna prihatin dengan keadaan Amayra.
"Gak ada, gak ada yang nyuruh., aku melakukan nya atas kemauan ku sendiri," jawab Amayra berbohong.
"May jangan bohong, pasti Oma yang suruh kan?" Sudah bisa menebak, kalau Nilam yang meminta Amayra menyetrika baju sebanyak itu sendirian.
"I-itu.."
Ya Allah kepala ku pusing sekali..apa yang terjadi denganku?
Brugh!
"Astagfirullah May!" Anna terkejut melihat Amayra jatuh pingsan. Tubuhnya terbaring di lantai tidak sadarkan diri.
...---***---...
Mohon maaf readers! Up nya malam banget, author lagi kurang sehat nih..π₯Ίπ₯Ί insyaallah besok up nya sore an ya jam 2.. Doakan author sehat kembali.
__ADS_1
Makasih untuk yang kasih vote, like, komen dan gift nya..π₯Ίπ