
Satria berada di dalam ketakutan dan keraguan. Bukan dia meragukan perasaan Amayra terhadapnya, tapi dia meragukan perasaan Bram yang mungkin saja bisa berubah. Kini Bram sudah sendiri, pernikahan nya dan Alexis juga baru menikah siri. Hanya dengan kata talak dan surat pernyataan talak saja mereka sudah bercerai.
Lalu bagaimana dengan dirinya yang diibaratkan hanya menggantikan sang kakak untuk menikahi Amayra? Apakah kelak Amayra akan memilih ayah dari bayinya? Satria resah hati memikirkan semua ini.
Amayra memakai kembali kerudung nya dengan rapi, dia melihat sang suami melamun sambil memandang ke luar jendela. Amayra heran melihat suaminya melamun begitu, apa yang sedang dipikirkan Satria?
"Kak, kakak tidak usah mengantar ku pulang. Kakak masih ada operasi, kan?" Amayra menepuk bahu suaminya pelan-pelan.
"Operasi nya masih satu jam lagi, aku masih bisa mengantar kamu pulang. Yuk, aku antar!" Satria tersenyum, kemudian dia menggandeng tangan istrinya.
Amayra mendongak, mengerutkan keningnya. Dia heran karena Satria yang selalu kaku dan ingin menyembunyikan kemesraan di depan umum, kini mau menggandeng tangannya.
Mereka keluar dari ruangan Satria dan bertemu seorang suster penjaga. Satria izin keluar sebentar pada suster itu untuk mengantar istrinya pulang ke rumah.
Lagi-lagi mereka berpapasan dengan Bram di depan pintu keluar rumah sakit. Satria melihat kakak nya dengan malas, begitu pula dengan Amayra. Mereka tidak menyapa Bram dan berjalan melewati pria itu.
Suara kilat menandakan hujan akan segera turun, langit pun sudah terlihat mendung.
"Satria, Amayra! Kalian mau pulang?"
Pertanyaan Bram, membuat Amayra dan Satria menoleh ke arah pria itu.
"Iya kak," jawab Satria dingin.
"Naik mobil ku saja, akan aku antar,"
"Tidak perlu," jawab Satria cuek.
"Anna bilang kalau mobilmu ada di bengkel, masuklah ke dalam mobilku, aku akan mengantar kalian," Bram membukakan pintu mobilnya untuk Satria dan Amayra.
Kenapa mobilku harus berada di bengkel hari ini? Kenapa juga aku dan Mayra harus bertemu dengan kak Bram hari ini?
Satria menatap Bram dengan jengkel.
"Tidak usah repot-repot pak Bram, kami bisa naik taksi atau kendaraan lainnya," jawab Amayra dengan suara dingin nya.
Tiba-tiba saja air hujan menetes, semakin lama hujan itu semakin besar. Membuat Amayra, Satria dan Bram kehujanan.
__ADS_1
"Cepat masuk!" Seru Bram pada pasangan suami istri itu.
Dengan wajah enggan dan terpaksa, Satria meminta istrinya masuk ke dalam mobil kakak nya karena badan mereka sudah basah. Satria dan Amayra duduk di kursi belakang, sementara Bram ada di kursi kemudi.
"May, kamu gak apa-apa?" tanya Satria sambil mengusap basah di wajah Amayra dengan tisu yang ada di mobil itu.
"Aku gak apa-apa cuma basah dikit aja," jawab Amayra sambil mengambil nafas lalu membuangnya.
"Kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Satria cemas melihat istrinya seperti itu.
Mendengar pertanyaan Satria, membuat Bram menoleh ke kursi belakang. Lebih tepatnya melihat ke arah Amayra, dengan tatapan yang sama dengan tatapan Satria kepadanya.
"Aku cuma sedikit lelah, barusan habis lari-lari dikit..haahh..." Amayra berusaha mengatur napasnya. Tak sengaja matanya bertemu dengan mata Bram.
Kenapa pak Bram melihatku begitu?
"Ini minum dulu!" Bram menyodorkan sebotol air minum untuk Amayra. Satria langsung melotot pada Bram, dia tak suka melihat perhatian kakak nya pada sang istri.
"Eh.. gak usah," jawab Amayra sambil memandang suaminya yang terlihat marah itu.
Jangan egois Satria, Amayra membutuhkan minumnya sekarang.
"Masih baru," jawab Bram cuek.
"Oke. Ini May, minum ya.." Satria membukakan tutup botol air minuman itu, lalu memberikan nya pada sang istri.
"Makasih kak," Amayra tersenyum, kemudian dia mengambil air minum di botol itu.
Ha, lucu sekali! Satria yang cuek dan dingin bisa menjadi orang berbeda di depannya. Bram tersenyum sinis, dia mulai menginjak pedal gas dan memutar kemudi nya.
Hal itu membuat Amayra benar-benar tidak nyaman berada di dalam mobil bersama dengan kakak ipar dan suaminya. Apalagi Bram dan Satria tidak saling bicara, membuat suasana di dalam mobil menjadi dingin.
20 menit kemudian, mereka sampai di rumah Satria. Satria turun lebih dulu untuk mengambil payung, dia tak mau istrinya yang sedang hamil itu kehujanan lagi. "Jangan turun dulu dari mobil ya, aku ambil dulu payung!" Seru Satria sambil berlari masuk masuk ke dalam rumah untuk mengambil payung.
Kini hanya Amayra dan Bram yang berada di dalam mobil itu. Bram terlihat gugup di depan Amayra. Dia ingin mengajak wanita itu mengobrol, tapi apa yang bisa dijadikan bahan obrolan?
"Apa anak itu.. maksudku bayimu masih suka rewel?" tanya Bram sambil melihat perut buncit Amayra. Wanita itu tidak nyaman dengan pertanyaan Bram padanya.
__ADS_1
"Tidak," jawab Amayra singkat, ingin menghindari pembicaraan itu.
Mengapa dia bertanya seperti itu, seolah peduli kepadaku?
"Baguslah kalau begitu. Oh ya, aku bercerai dari Alexis," ucap Bram tiba-tiba mengungkit soal perceraian nya dengan Alexis.
"Lalu?" Amayra terpana mendengar ucapan Bram.
"Aku hanya memberitahumu, bukankah sebaiknya anak itu bersama dengan ayah kandungnya?" Bram mulai membahas ke arah yang lain.
Amayra terperanjat dan tercengang mendengar ucapan Bram, "Apa maksud bapak?"
"Satria bukanlah ayah bayimu, bukankah lebih baik kamu bersama denganku? Karena aku adalah ayah bayi itu," ucap Bram sambil menatap adik iparnya.
"Saya tidak paham apa maksud bapak bicara seperti ini! Tolong jangan melewati batasan anda!" Amayra menatap tajam ke arah Bram, dia terlihat emosi.
"Oke, mungkin ini terlalu terburu-buru. Aku seharusnya meminta maaf dulu sama kamu. Walau ini sangat terlambat, aku minta maaf atas kesalahan ku padamu, Amayra.." ucap Bram sambil menatap wanita itu penuh penyesalan.
"Pak Bram!" Teriak Amayra kesal.
"Cerai saja dengan Satria, lalu menikah denganku. Aku akan bertanggungjawab untukmu sekarang," ucap Bram serius.
"A-Apa maksud anda? Apa anda anggap pernikahan hanya main-main?" Amayra terperangah tak percaya dengan perkataan Bram.
"Bayi itu milikku ,kamu juga seharusnya bersamaku. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!"
"Saya tidak tau pikiran gila apa yang merasuki anda, sejak awal anda lah tidak mengakui keberadaan bayi ini. Lalu kenapa sekarang anda seperti ini? Apa anda sudah menyesal?" tanya Amayra dengan suara keras dan tidak lembut seperti biasanya.
"Anggap saja begitu, jadi bercerai saja dengan Satria.. lalu aku akan menikahi mu," ucap Bram santai.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bram dari tangan Amayra. Dengan penuh emosi, Amayra menatap pria itu.
"Istighfar! Jika anda bicara sekali lagi soal perceraian saya dan suami saya, saya tidak akan tinggal diam!" Seru Amayra marah.
Satria membuka pintu mobil itu, dia sudah bersiap dengan payung berwarna biru di tangannya. "May, ayo!"
Satria melihat istrinya sedang bertatapan dengan Bram.
__ADS_1
Ada apa dengan suasana ini?
...---***---...