
...🍀🍀🍀...
Brugh!
Tubuh Bima terjatuh cukup keras ke lantai, ketika Bram menghajar Bima cukup keras. Dia memanggil pria itu sebagai penipu. "Bangun kamu penipu!" Bram mencengkram baju Bima dengan penuh amarah.
Jika mendengar ucapan Bram, dia sepertinya memang sudah tau jelas bahwa Bima bukanlah adiknya. Di belakang Bram juga ada Nilam dan Cakra. Mereka berdua menatap Bima dengan tatapan tidak percaya.
"Maafkan saya, pak Cakra...Bu Nilam dan pak Bram. Hanya itu yang bisa saya katakan saat ini." Bima meminta maaf pada keluarga Calabria, dia merasa bersalah karena sudah menipu semua orang disana. Hanya itu yang bisa dia ucapkan saat ini.
Cakra dan Nilam menatap Bima dengan bingung, pria yang terlihat seperti Satria itu berbicara seperti orang asing.
"Brengsek! Jadi akhirnya kamu mengaku juga? Kalau kamu bukan Satria?!" Bram masih mencengkram baju Bima. Dia berniat memukulinya lagi, namun dia menahannya karena disana adalah rumah sakit.
"Bram, tenanglah! Kita dengarkan dulu apa yang sebenarnya terjadi. Papa ingin mengajukan beberapa pertanyaan padanya." Cakra meminta Bram untuk menenangkan diri dari emosinya.
Cakra mendekati Bima, dia menatap pria itu memperhatikan setiap sudut wajahnya. Dia benar-benar salinan dari Satria. Bima menundukkan kepala saat Cakra memperhatikannya. "Boleh saya mengajukan beberapa pertanyaan sama kamu?" tanya Cakra pada Bima dengan lembut.
Bima hanya mengangguk. Dia tidak pernah merasa selemah ini di depan seseorang, apa ini karena ikatan darah diantara mereka?
"Apa kamu bukan Satria?"
"Ya saya bukan Satria."
Cakra tercekat mendengar pengakuan bima. Kemudian dia melanjutkan pertanyaannya yang diperuntukkan kepada Bima. "Apa kamu berpura-pura menjadi Satria yang amnesia?"
"Benar."
"Lalu bagaimana dengan Satria? Kenapa kamu berpura-pura menjadi dia?" tanya Cakra lembut. Dia ingin tau apa alasannya Bima menyamar menjadi Satria.
"Pa! Jangan tanyakan apa-apa lagi padanya. Sudah jelas jika orang ini penipu! Jangan bersikap lembut padanya pa!" Teriak Bram masih emosi pada Bima. Dia menatap Bima dengan penuh kebencian.
"Bram, kamu tenanglah dulu...pasti ada alasannya kenapa dia melakukan ini? Papa yakin kalau dia bukan orang jahat, ya kan? Kamu bukan orang jahat?" Cakra menatap Bima dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Iya pak."
Mengapa hatiku terasa sedih dengan tatapan dan sikap lembut pak Cakra padaku? Apa karena dia adalah papa kandungku?
"Nah, sekarang jelaskan semua kejadiannya. Saya ingin dengar semuanya." kata Cakra sambil menepuk bahu Bima dengan lembut.
"Baik pak." jawab Bima.
Bima, Cakra, Bram dan Nilam duduk di kursi depan ruang tunggu itu. Selagi menunggu Amayra yang masih berada di ruang UGD, mereka mendengarkan cerita Bima.
Dari mulai Bima mengetahui dari surat wasiat pamannya bahwa dia memiliki saudara kembar. Bima mengawasi keluarganya dari kejauhan, lalu dia menemukan ada seseorang yang berusaha mencelakai Amayra dan Satria. Kemudian Bima menceritakan kejadian di Purwakarta, dimana dia dan anak buahnya mengikuti Amayra dan Satria saat mereka kecelakaan. Bima juga yang menolong mereka berdua dari kecelakaan itu.
Dari sanalah Cakra mengetahui bahwa Bima adalah anaknya juga. "Jadi kamu dirawat oleh Arman, selama ini?" tanya Cakra dengan mata berkaca-kaca dia menatap Bima.
"Iya, om Arman yang merawat saya..."
Cakra memeluk Bima penuh kasih sayang, anak yang belum pernah dia "Ternyata kamu adalah anakku juga. Maafkan papa nak, papa tidak tau keberadaan kamu selama ini." Cakra menangis di pelukan Bima.
Jadi, dia adalah saudara kembar Satria. Pantas saja kepribadiannya dan Satria sangat bertolak belakang. Nilam membatin.
"Tidak pak, ini bukan salah bapak." ucap Bima sambil membalas pelukan hanya dari Cakra. Pelukan yang tidak pernah dia dapatkan dari seorang ayah, rasanya sangat berbeda dan hangat daripada pelukan pamannya.
"Jangan panggil aku bapak, panggil aku papa! Aku adalah papamu nak!" Cakra melepaskan pelukannya, dia menatap anaknya dengan tatapan tidak percaya.
"Papa..." lirih Bima sambil tersenyum tipis.
Aku punya papa.
"Jika kamu ada disini, bagaimana dengan Satria? Kamu bilang Satria baik-baik saja kan?" Tanya Nilam pada Bima.
"Iya, Satria masih hidup tapi keadaannya..." Bima terlihat sedih saat akan mengatakannya.
Bram, Cakra dan Nilam menatap Bima, menantikan apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh pria itu.
__ADS_1
Klak!
Dokter Mira dan Diana keluar dari ruangan UGD bersama para suster. Mereka membawa Amayra yang masih tidak sadarkan diri di atas ranjang pasien beroda untuk dipindahkan ke ruang rawat.
Terpasang selang oksigen di mulut Amayra dan selang infus. Wajahnya terlihat pucat pasi, dilihat dari sekilas Amayra tampak tak baik-baik saja.
Bram, Cakra, Nilam dan Bima langsung beranjak dari tempat duduk mereka dan menghampiri para dokter dan suster itu. Mereka juga melihat keadaan Amayra yang tidak sadarkan diri.
"Diana, bagaimana keadaannya?" tanya Bram yang mendahului semua anggota keluarganya yang lain.
"Alhamdulillah mas, tadi Amayra dan bayi didalam kandungannya sempat berada didalam keadaan kritis tapi sekarang Amayra sudah melewati masa kritis." Diana menjelaskan keadaan Amayra pada semua orang.
Cakra, Nilam, Bram dan Bima menghela nafas lega saat mendengarnya. Amayra pun dipindahkan ke ruang rawat untuk beristirahat.
"Jadi, Satria ada di rumah sakit Purwakarta? Rumah sakit waktu itu?" Cakra menanyakan keadaan Satria kepada Bima.
"Iya pak."
"Setelah Amayra siuman, kita semua akan kesana." ucap Cakra pada seluruh anggota keluarganya.
Amayra masih berada dalam keadaan tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Dokter Mira menjelaskan sebelumnya bahwa Amayra hampir kehilangan bayinya karena pendarahan. Beuntungnya, Amayra berhasil selamat dan dibawa ke rumah sakit tepat waktu.
"Syukurlah kamu dan anak kamu baik-baik saja, kalau terjadi sesuatu pada kamu dan anak kalian... bagaimana bisa aku menghadapi Satria?" tanya Bima. "Maafkan aku Amayra, maaf." Bima menyesal telah membohongi semua orang di keluarga Calabria terutama Amayra. Orang yang paling terluka dengan kebohongan Bima walau hanya empat hari saja bohongan itu berlangsung.
Bima memandang Amayra, tanpa sadar tangan Bima menyentuh wajah Amayra dan membelainya. Pria itu sedih melihat Amayra dalam keadaan tidak sadarkan diri. "Cepatlah siuman...kumohon..."
Tangan Bima beralih pada perut buncit Amayra dan mengelusnya. "Nak, kalian harus kuat...bukankah kalian ingin bertemu dengan papa kalian? Ayo bangunkan mama kalian..."
Ya Allah, perasaan apa yang aku miliki? Kenapa rasanya aneh? Kenapa aku takut untuk mempertemukan Amayra dan Satria? Apa ini... sebenarnya aku kenapa?
Entah dari mana timbulnya perasaan aneh itu, Bima merasa tidak rela jika Amayra dan Satria kembali bertemu.
...*****...
__ADS_1