Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 178. Gara-gara rujak


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Kenapa jadi aku yang bingung ya? Aku kasih tau gak ya, kalau Amayra lagi hamil?


"An, kenapa Lo berlebihan banget? Amayra cuma makan nanas sama minum soda doang kok!" Kata Anton keheranan. Dia ikut protes dengan sikap Anna yang dinilainya berlebihan.


"Ehh.. Amayra gak boleh makan dan minum itu karena...karena..." Anna celingukan kesana-kemari, mencari alasan yang tepat. "Karena aku mau tukeran makanan sama Amayra!" Seru Anna sambil mengambil semua nanas yang tersisa beberapa biji lagi dan soda yang hanya tinggal setengahnya lagi.


Anna menggantikan makanan dan minuman itu dengan kentang goreng dan jus mangga yang dipesannya.


Aduh, adek bayi.. semoga kamu gak kenapa-napa didalam sana.


"Tapi aku mau itu..."


Aku pengen banget nanas sama soda. Kenapa Anna malah ngambil semuanya?


Amayra mengerutkan keningnya, dia menatap nanas dan soda yang diambil Anna dengan sedih. Matanya berkaca-kaca, melihat Anna menghabiskan semua nanasnya.


"Eh.. May, kamu nangis?" Lisa melirik ke arah temannya yang menangis melihat Anna sedang meneguk semua sodanya didalam botol sampai habis.


"Enggak.." Amayra mengusap air mata yang menggenang di bawah matanya itu. Dia sangat menginginkan nanas.


"Lo mau nanas? Gue pesenin lagi deh!" Kata Ken yang peduli pada Amayra. "Lagian kenapa sih An, Lo ambil makanan punya orang? Ckckck.. orangnya nangis kan?" Ken menggelengkan kepala sambil beranjak dari tempat duduknya, dia berencana pergi ke meja pemesanan makanan.


"Gak boleh! Gak boleh pesan lagi Ken," Anna memegang tangan Ken seraya menahannya untuk pergi.


Udah susah-susah aku ngambil Nanas sama soda ini. Ken malah mau pesenin lagi. Maafin aku ya May.. kamu pasti lagi ngidam. Tapi kami gak boleh makan ini.


"Apa maksud Lo?" Ken menatap pada Anna.


Deg!


Kenapa jantungku berdebar kencang gini dipegang oleh Anna?

__ADS_1


"Duduk aja! Jangan kemana-mana," Anna meminta Ken untuk duduk saja. Sementara Amayra terlihat sedih karena tidak bisa menghabiskan makanan dan minuman yang dia inginkan itu.


"Anna jahat.." gumam Amayra pelan dengan bibir mengerucut.


Dalam hati, Anna terus meminta maaf pada Amayra karena perbuatannya. Dia ingin memberitahu Amayra tentang kehamilannya, tapi dia belum mendapatkan persetujuan dari Satria.


Sepulang dari sana, Amayra dijemput oleh Satria. Anna diantar pulang oleh Ken dan Anton mengantar pulang Lisa. Mereka berjalan ke tempat mereka masing-masing.


Satria dan Amayra membawa baju-baju mereka di rumah besar Calabria, mereka berpamitan pada Cakra dan Nilam bahwa mereka akan kembali ke rumah yang sudah lama mereka tinggalkan.


"Kalian yakin mau kembali ke rumah?" tanya Cakra pada pasangan suami istri itu.


"Lebih baik kamu disini dulu May," ucap Nilam masih cemas pada menantunya.


"May udah gak apa-apa kok. Kita mau pulang aja, udah lama rumah kosong Ma, pa." jelas Amayra singkat.


"Ya sudah kalau kamu sudah merasa baikan. Kalau ada apa-apa, telpon papa atau mama ya?" Cakra tersenyum sambil memegang baju Amayra.


Rumah yang penuh dengan kenangan Rey didalamnya. Dalam perjalanan, Satria masih sempat-sempatnya menatap Amayra walau dia sedang menyetir.


"May, kamu benaran gak apa-apa kita pulang ke rumah?"


"Aku beneran gak apa-apa kok, Mas." jawab Amayra sambil menatap keluar jendela.


"Ya sudah." sahut Satria sambil memegang setir kemudi.


Apa moodnya sedang tidak baik ya? Kenapa dia terus melihat ke luar jendela? Pas aku jemput dia pulang, wajahnya juga kelihatan suram seperti sedang kesal.


Amayra menghela nafas, kemudian dia tercekat melihat seorang tukang rujak ditanggung yang ada dipinggir jalan. Satria memperhatikan istrinya melihat ke arah luar terus.


"May, kenapa kamu lihat keluar terus?"


"Aku pengen rujak," jawabnya dengan suara lemas.

__ADS_1


"Buah? Oh...itu." Satria yang peka, langsung menepikan mobilnya disamping tukang rujak yang sedang duduk di pinggir jalan itu.


Keduanya keluar dari mobil dan memesan rujak pada pria tua itu. Pria yang memakai topi dan ada handuk kecil di lehernya. "Pak, rujaknya satu ya! Yang asam pedas, pake banget!"


"Ya neng," jawab si tukang rujak sambil tersenyum. Dia senang karena Amayra membeli rujaknya.


"Pak, rujaknya jangan pakai pedas." Kata Satria meralat pesanan Amayra.


"Gak pakai pedes gak enak dong Mas," protes Amayra sebal.


"Ya udah pedesnya dikit aja pak, jangan pake nanas." Ucap Satria berpesan pada si bapak itu.


"Iya pak!" jawab tukang rujak sambil memotong buah.


"Gak pake nanas gak seger dong! Pak pake nanas ya, semua buah masukin!" Lagi-lagi wanita itu membantah.


"Sayang...jangan pakai nanas," ucap Satria sambil menatap istrinya dengan tajam.


"Pake pak!" kata Amayra tetap ngotot.


Satria tetap tegas, walaupun Amayra kesal padanya. Dia harus menjaga calon anak yang ada diperut istrinya.


Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil setelah membeli rujak. "Huh!" Amayra mendesis kesal.


"Sayang maaf ya, nanas gak baik buat kesehatan rahim kamu. Kamu bisa makan buah lain selain itu," ucap Satria lembut.


"Tau ah! Orang lagi pengen nanas, dilarang-larang. Anna juga sama, dia larang aku makan nanas." gerutu wanita itu kesal.


Ya ampun Satria, anakmu ada didalam sana. Sabar Sat, ya Allah Gusti.


Gara-gara rujak yang tidak sesuai keinginannya. Amayra marah pada Satria.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2