Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 41. Masya Allah


__ADS_3

****


Rambutku? Kenapa rambutku..? Dimana handuk nya?. Amayra memegang kepalanya dengan takut, matanya melirik kesana kemari entah mencari apa.


"Kamu cari ini." Satria menunjukkan ikat rambut berwarna hitam pada Amayra. "Atau ini?" tanya Satria sambil menunjukkan handuk kecil pada istrinya.


Buru-buru Amayra mengambil ikat rambut itu dan mengikat rambutnya, kemudian dia mengambil handuk itu dan membungkus rambutnya, dia terlihat malu. Ada pria yang melihatnya tanpa hijab. Tak hentinya dia mengucap istighfar, memohon ampunan kepada yang kuasa, karena seorang pria telah melihat aurat nya.


"Hey, kamu kenapa sih?" tanya Satria sambil menahan tawa, dia keheranan melihat istrinya menyembunyikan wajah.


"Ka-kakak sudah lihat melihat nya?" tanya Amayra sambil memalingkan wajahnya.


"Melihat apa?" tanya Satria sambil tersenyum.


"Rambutku!" Jawabnya cepat, dengan kondisi masih menutupi kepalanya dengan tangan.


"Iya, semalaman kamu tidur dengan rambut yang tergerai."


"Astagfirullah, kenapa kakak tidak memberitahu ku?" tanya Amayra dengan bibir mengerucut.


"Kenapa? Bukannya gak apa-apa? Kan hanya aku yang berada disini dan melihatnya."


"Justru karena itu kakak, makanya aku gak mau kakak lihat." Wanita itu menciut, dia semakin menunduk dan makin membungkus kepalanya dengan handuk kecil, tidak mau rambutnya terlihat.


"Aku kan suami kamu, apa gak boleh aku melihat istriku luar dan dalam?" Goda Satria pada wanita yang sedang malu-malu itu.


Psshh..


Kulitnya yang berwarna putih itu langsung memerah mendengar ucapan dari suaminya. Hatinya kembali berdebar, jantungnya berdegup kencang. Dia terpesona dan merasa tersanjung dengan ucapan lembut dari Satria. Belum lagi tentang ciuman kemarin, bibirnya masih terasa hangat dan ingatan itu masih terngiang di kepalanya. Bahkan sampai masuk ke dalam mimpinya.


Dia mengambil bantal, menenggelamkan wajahnya disana. Satria tersenyum, dia gemas dengan tingkah istrinya. Amayra yang selalu bersikap dewasa, masihlah tetap wanita berusia 17 tahun dan berbeda 10 tahun dengannya.


"Jangan lihat aku, rambutku kelihatan!" Seru Amayra malu.

__ADS_1


"Jadi, apa kalau suami yang melihat juga tidak boleh ya? Apa ada larangan menurut agama, seorang suami melihat aurat istrinya?" Satria mendekati istrinya, dia penasaran dengan wajah polos istrinya yang malu.


"Menurut agama, boleh kok!" jawabnya cepat.


"Lalu kenapa bersembunyi? Kamu malu?" Goda Satria sambil membuka bantal yang menutupi kepala Amayra. Amayra masih menggenggam erat bantal itu. Beberapa helai rambut nya terlihat disana.


"I-iya."


"Kita kan sudah muhrim," jawab Satria tegas.


Benar juga ya? Kenapa aku harus malu pada suamiku sendiri? Bukankah kami sudah muhrim? Aku akan berdosa jika aku menolak suamiku meminta melihat bagian tubuhku. Amayra teringat ajaran agama nya, jika melanggar perintah suami dan menolak keinginannya maka sebagai istri dia akan berdosa.


"Kakak mau lihat rambutku?" tanya Amayra dengan suara pelan.


"Kalau kamu memperbolehkan nya, aku mau lihat. Kalau kamu gak mau, aku juga gak bisa maksa,"jawab Satria jujur. Dia memang ingin melihat kecantikan istrinya.


Wanita itu patuh, dia membuka bantal dan handuk yang menutupi kepalanya itu. Perlahan-lahan, wajah dan rambut panjang nya mulai terlihat. Satria terpana melihat cantik natural istrinya di pagi hari, wajah malu-malu Amayra membuat pria itu semakin terpesona. Pandangan nya terfokus pada Amayra. Wanita cantik itu, tanpa hijab menutupi kepalanya. Rambut hitam panjang nya, tergerai sampai ke pinggang.


"Bukan astaga, tapi Masya Allah kak." Amayra membenarkan ucapan suaminya.


Sesuai dengan arti masya Allah, diucapkan saat melihat hal yang indah atas kuasa Allah SWT. Berbeda dengan masya Allah, kalau Tabarakallah diucapkan ketika seorang Muslim mendapatkan rezeki dan berkah yang melimpah dari Allah SWT.


"Ma- ma apa?" Satria kesulitan mengucapkan lafadz Masya Allah.


"Masya Allah, kak." Amayra tersenyum.


"Masya Allah, kamu cantik sekali May." Satria memuji istrinya dengan tulus. Setelah mendengar ucapan Amayra, Satria ingin belajar lebih banyak lagi soal agama.


Dia mulai berfikir mencari seseorang untuk mengajarinya tentang agama dan tugas-tugas sebagai suami. Dia ingin menjadi imam yang baik untuk Amayra, wanita yang sudah membuat dirinya jatuh hati.


Setelah Diana memastikan Amayra dan bayinya baik-baik nya. Saat itu juga mereka sudah boleh pulang, Satria mengantar Amayra pulang lebih dulu ke rumah keluarga Calabria sebelum dia masuk bekerja dan kembali sibuk. Kini mereka sudah mulai terbuka satu sama lain, Satria bahkan memberitahu Amayra semua jadwalnya di rumah sakit.


"Aku harus kembali ke rumah sakit siang ini, ada jadwal operasi." Ucap Satria sambil membaringkan Amayra di ranjang kamar mereka, yang sudah pindah ke lantai bawah.

__ADS_1


"Iya kak, kakak semangat ya. Oh ya, aku buatkan makan siang dulu untuk kakak." Amayra hendak beranjak dari ranjangnya, namun Satria kembali membaringkan nya.


"Tidak usah, kamu kan masih sakit. Bi Dewi atau bi Lulu bisa menyiapkan nya untukku, kamu istirahat saja. Ingat kata dokter kalau kamu harus bedrest selama 3 hari. Jadi, jangan lakukan pekerjaan berat. Ingat lah kalau kamu bukan satu tubuh lagi." jelas Satria perhatian pada Amayra.


"Iya baiklah kak. Terimakasih sudah menjagaku."


"Itu sudah kewajiban ku, jadi tidak usah berterimakasih. Dan, aku ingin kamu mengandalkan ku jika kamu memiliki masalah yang tidak bisa kamu selesaikan sendiri. Kamu punya aku, suami mu." Satria mengelus kepala Amayra.


Suami? Kak Satria mengakui kalau dia suamiku? Ya Allah.. hatiku senang sekali. Padahal sebelumnya dia sangat cuek padaku. Amayra tersenyum manis, hatinya berbunga-bunga dengan perhatian Satria padanya.


"Aku pergi ya, kalau ada apa-apa panggil saja bi Dewi. Jangan dulu buat kue, kalau kamu mau jajan atau beli sesuatu ada uang dan ATM di dompetku." Ucapnya sambil menyerahkan dompetnya pada Amayra. Dia mempercayakan dompetnya pada Amayra.


"Ta-tapi, aku punya uang sendiri kok! Gak usah kak!" Amayra menolak menyimpan dompet Satria.


"Uang suami juga uang istri kan? Jangan menolak." Satria tersenyum, dia sudah memakai setelan jas berwarna putih di badannya. Bersiap melakukan pekerjaan mulia di rumah sakit, tugasnya menolong nyawa seseorang.


"Lalu kakak, kalau mau jajan bagaimana?" tanya Amayra polos.


"Aku ada uang simpanan di sakuku." jawab Satria.


Amayra hanya tersenyum, kemudian ketika suaminya akan berangkat. Amayra mengambil tangan Satria dan mencium tangan suaminya, diiringi ucapan salam. Satria menunjukkan bahwa dia bahagia, tidak seperti sebelumnya yang selalu berwajah datar.


Tak lupa Satria menitipkan Amayra pada Nilam dan orang-orang yang berada di rumahnya untuk menjaga istrinya. Seperti biasa, Nilam abai dan acuh pada Satria.


Di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Satria terus bergumam kata Masya Allah. "Oh jadi Masya Allah diucapkan ketika melihat sesuatu yang indah. Aku harus membiasakan diri mengucapkan lafadz lafadz Allah, aku juga harus belajar bacaan shalat. Terakhir kali aku belajar bacaan shalat, saat berada di sekolah dasar. Seperti nya aku harus mencari ustad untuk mengajariku. Ah, aku baru ingat, kalau aku punya kenalan seorang ustad di pesantren. Dia pasti bisa membantuku!" Satria tersenyum, tangannya sibuk menyetir.


Kemudian perhatian nya teralihkan ketika melihat sebuah toko buku di pinggir jalan. Satria menepikan mobilnya disana, dia membeli buku buku bernuansa islami. Tata cara shalat, doa-doa bacaan shalat, dan novel islami tentang suami istri. Dia berniat baik ingin menjadi imam yang baik untuk istrinya.


"Sebelum belajar dari ustad, aku belajar dari sini dulu saja." gumam Satria sambil memandangi buku yang dia simpan di jok mobilnya.


...---***---...


Author mau up lagi 😊😊❤️ tapi ramaikan komen dan like nya dong 👍😊😊

__ADS_1


__ADS_2