Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 99. Perang dingin


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Malam itu Amayra tidak membukakan pintunya, sampai pada saat adzan subuh berkumandang. Amayra berniat mengambil sajadah yang ada di kamar sebelah, dia pun membuka pintu kamarnya yang terkunci.


Alangkah kagetnya dia melihat sang suami tidur di lantai dengan alas selimut saja, lengkap dengan bantal dan guling. "Kak Satria?" gumam Amayra heran mengapa Satria berada di depan kamar dan tidur dilantai.


Satria mendengar suara pintu yang dibuka, dia buru-buru beranjak bangun. Dia berdiri dan melihat istrinya yang memakai mukena atasannya sedang berdiri di hadapannya. Satria tersenyum menyambut istrinya. Namun senyuman itu tak berlangsung lama dan menghilang ketika dia melihat kedua mata sang istri sembab, disertai warna merah dibagian putihnya.


"May," Satria menatap Amayra dengan perasaan bersalah menumpuk di benaknya.


Dia pasti menangis semalaman. Ya Allah apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak bisa menjaga diri dan menjaga lisanku, aku mengungkit luka lama Amayra yang sedang berusaha dia lupakan.Perlahan dia mulai melupakannya dan memulai hidup baru denganku, tapi aku malah menambah luka di hatinya. Membuka luka itu kembali, ya Allah lidahku ini kenapa tidak bisa dijaga?


Apa penyesalan Satria sudah terlambat? Lidahnya sudah menjerumuskan dia pada luka di hati Amayra, mungkin akan membekas di hati wanita itu. Tidak mudah untuk membuat semuanya kembali normal.


Amayra tidak bicara apa-apa, dia memilih diam sebagai tanda kekesalannya. Dia takut jika bicara malah akan keluar kata yang tidak-tidak dari mulutnya. Salah-salah lidahnya bisa tergelincir sama seperti Satria kepadanya.


Belum juga menanyakan soal Afrika dan tentang keluarnya Satria dari rumah sakit, malah tambah masalah baru. Mungkin ini tak akan mudah selesai bagi mereka berdua.


Amayra berjalan melewati Satria sambil mengerjapkan matanya yang perih karena kebanyakan menangis. Satria sedih diabaikan oleh istrinya, padahal belum lama ini hubungan mereka sangat mesra. Apa ini namanya ketenangan sebelum badai?


"May, kita bicara ya? Please, jangan diamkan aku seperti ini," ucap Satria memelas seraya memohon untuk bicara dengan Amayra.

__ADS_1


"Aku mau shalat subuh kak," jawab Amayra yang tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh Satria. Jawaban yang dingin dan ketus.


"Kalau gitu, kita shalat bersama ya?" tanya Satria sambil menelan ludah. Berharap Amayra akan setuju.


"Iya," jawabnya singkat.


Pasangan suami istri yang sedang bertengkar itu, shalat berjamaah bersama di kamar yang ada Rey di dalamnya. Selesai shalat berjamaah, Amayra mencium tangan sang suami seperti biasa. Namun hatinya tidak menerima Satria saat itu, bibirnya membeku sama seperti perasaannya saat ini.


"May,"


Perih hati Satria, rasanya hati seperti tercekik rasa bersalah, saat pria itu akan menyentuh tangan istrinya. Amayra beranjak bangun dan membuka mukenanya. Dia meninggalkan Satria yang masih duduk di sajadahnya. Amayra menghampiri Rey yang terbangun, "Anak mama pup ya? Mama gantikan popok Rey, yah.." Amayra bicara penuh kasih sayang pada Rey.


Dia membuka celana dan popok Rey, saat Amayra akan mengambil air hangat. Tiba-tiba saja Satria sudah berdiri di belakangnya dengan membawa sebaskom air hangat. "Ini air hangatnya untuk Rey," Satria berusaha tersenyum.


Lagi-lagi hati Amayra masih beku, lidahnya masih kelu untuk bicara dengan suaminya. Dia mengambil celana dan popok itu, lalu memakaikan nya pada Rey dengan hati-hati. Bayi mungil itu memegang ibu jari Satria dengan erat.


"Ada apa jagoannya papa? Rey mau ditemani papa ya?" tanya Satria pada anak itu dengan lembut. "Rey, bantuin papa dong! Bilang sama mama, kalau papa ingin bicara sama mama. Kalau Rey yang bicara ,pasti mama mau dengar Rey," ucap Satria mengajak anaknya mengobrol.


Amayra yang sedang melipat baju Rey, mendengar ocehan suaminya. Satria juga melihat Amayra yang terlihat merespon ucapannya dengan tubuh, meski dia tidak bicara.


"Rey, bilangin sama mama ya. Kalau papa mau bicara.. papa menyesal sekali sudah menyakiti hati mama kamu, papa salah. Papa sudah membuat mama kamu menangis, padahal papa sudah berjanji akan membuat mama kamu bahagia dan selalu tersenyum. Tapi papa malah membuat mama kamu terluka," ucap Satria sambil melihat Amayra dengan sedih. Dia berharap Amayra melihatnya, tapi wanita itu masih membelakanginya.

__ADS_1


Satria hanya bisa menggendong Rey dan curhat pada bayi yang belum mengerti apa-apa itu. Bayi yang hanya tau tidur, makan, pup dan menangis.


...****...


Pagi itu di rumah Calabria, Bram sudah bersiap untuk berangkat bekerja. Bram sedang sarapan bersama Cakra dan Nilam.


"Bram, hari ini kamu ada waktu kosong gak?" tanya Nilam sambil memakan roti panggang berisi selai coklat ditangannya.


"Memangnya kenapa ma?" tanya Bram sambil meneguk air putih.


"Mama tanya kamu ada waktu gak? Malah tanya balik, kamu ini sebelas dua belas sama Satria dan papa kamu." Nilam menggeleng kesal.


"Hari ini Bram pulang lebih awal. Kenapa?" tanya Bram heran pada mamanya, yang tidak biasa menanyakan jadwal dirinya.


"Bagus deh, jadi malam kamu free kan?" tanya Nilam sambil tersenyum. Dia merogoh sesuatu di tas selempang miliknya. Kemudian dia menunjuk 3 foto seorang wanita cantik pada Bram. "Ini Bram, kamu suka yang mana?"


"Apa maksud kamu Nilam?" tanya Cakra yang juga penasaran kenapa Nilam menunjukkan foto wanita cantik kepada Bram.


"Bram kan sudah bercerai dari Alexis, Amayra juga sudah bahagia bersama Satria. Bukankah ini sudah waktunya Bram memulai hidup yang baru?" Nilam tersenyum.


Bram menghela napas, dia terlihat kesal pada ibunya yang berniat menjodohkan dia.

__ADS_1


...----****----...


Sesuai janji, author up dua.. please komen, like, gift nya ya 😭😭🙏 mohon maaf juga membuat kalian kesal karena up sehari cuma satu. Author akan berusaha up dua mulai hari Senin setiap harinya..🤧🤧 maaf ya.


__ADS_2