Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 102. Baikan


__ADS_3

...๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€...


Satria deg degan ketika Amayra mengajaknya bicara ditempat lain yaitu bicara di luar kamar. Mereka berdua duduk di ruang tengah, Amayra langsung menyerahkan ponsel Satria pada suaminya.


"Ini kak,"


"Ah iya, tadi aku meninggalkan ponselku disini." Satria mengambil hp nya di atas meja.


"Maaf kak, aku buka pesan di hpmu." Amayra mendesah mengakui semuanya dengan jujur.


"Kenapa harus minta maaf? Kamu berhak membuka pesan di hp ku, dalam hubungan suami istri... buatku tidak ada yang namanya privasi," ucap Satria tegas. Dia tidak akan menyembunyikan apapun dari Amayra.


Amayra terdiam sejenak, air mata menggenang tinggal menunggu jatuh saja dari matanya yang cantik itu. "Kakak.."


"Ya? May kamu kenapa?" tanya Satria cemas melihat Amayra yang berkaca-kaca.


"Aku mau tanya sesuatu sama kakak,"


"Tanya saja May,"


"Apa aku ini beban untuk kakak? Apa kakak benar-benar mencintaiku?" tanya Amayra yang tak berani menatap wajah suaminya. Tangannya mengepal erat dengan gemas.


Deg


Satria dibuat kaget bukan main oleh pertanyaan istrinya itu. Dia pun segera beranjak dari tempat duduknya, dia menghampiri Amayra dan duduk berlutut di depannya. "Astagfirullah, may.. kok kamu nanyanya gini?"


"Karena banyak yang kakak sembunyikan dariku!" Serunya sedih.


"Apa yang aku sembunyikan?" tanya Satria tak paham.


"Kakak pergi ke Afrika karena ingin berduaan dengan wanita itu kan? Makanya kakak mengatakan kalau aku ini wanita kotor, itu karena kakak suka dia kan?" tanya Amayra sambil menangis. Lagi-lagi sisi kekanakannya sebagai anak remaja beranjak dewasa kembali muncul, disaat dirinya cemburu.


"Wanita siapa? Dan aku tidak pernah bilang kamu wanita kotor. Ya mungkin kamu akan berfikir begitu karena perkataan ku semalam, makanya aku minta maaf sama kamu," ucap Satria dengan satu tangan menyeka air mata sang istri.


Amayra memalingkan wajahnya dan malah menangis tanpa suara.


"May.. aku minta maaf sudah menyakiti kamu, aku kelepasan bicara. Aku rasa maaf saja tidak cukup, aku sudah membuat kamu menangis dan terluka. Aku benar-benar minta maaf ya sayang," Satria melancarkan bujukan dan rayuan dengan lembut, agar Amayra tidak marah lagi kepadanya. Hati Satria teriris melihat air mata luka jatuh dari sepasang mata yang selalu menatapnya dengan cinta itu.


"Aku tau aku bukan wanita sempurna, aku mempunyai banyak kekurangan. Aku tidak punya masa depan cerah seperti dia, aku tidak cantik, bahkan masa lalu ku juga penuh dengan noda. Aku memang tidak bisa dibandingkan dengannya. Kalau kakak ingin mengakhiri pernikahan ini dan bersama dia, lebih baik kakak tinggalkan saja aku-"


Satria mencondongkan tubuhnya, mengangkat sedikit kakinya. Dia merengkuh leher sang istri dengan mesra, kemudian membenamkan bibirnya dengan cepat pada bibir cantik Amayra, seraya menutup mulutnya. "Hmphh!"


Satria membentak, "Cukup! Darimana kamu punya pemikiran aneh seperti ini? Dan wanita yang kamu maksud itu siapa?" tanya Satria geram mendengar ocehan istrinya yang sedang menangis itu.


"Dokter Clara, kakak suka dia kan?" ucap Amayra jujur dengan wajah polosnya.


Satria ternganga, "Apa?"


"Semalam kakak pulang dengan dia dalam keadaan mabuk. Kakak juga tidak mengatakan apapun tentang resign dari rumah sakit, tapi kakak mengatakannya pada dia!"


"May, aku baru mau bilang sama kamu. Tapi semalam kita bertengkar kan? Ini baru mau aku jelaskan, kamu tenang dulu.." Satria memegang kedua bahu sang istri, dia menatap Amayra dengan lembut.


"Terus kenapa dia menjadi orang yang pertama tau? Dia juga tau semua tentang kakak, padahal aku adalah istri kakak. Tapi aku malah gak tau apapun tentang kakak," gerutu Amayra dengan bibir mengerucut.


"Memangnya apa yang dia tau?" tanya Satria ingin langsung bicara pada intinya.


"Lihat saja pesannya!" ujar Amayra menunjuk pada ponsel suaminya.


"Pesan? Hpku?" ucap Satria sambil mengerutkan kening.


Satria melepaskan pegangannya dari Amayra, dia melihat ponselnya dan membuka pesan masuk disana. Terlihat ada beberapa pesan dari Clara dan panggilan tak terjawab juga dari wanita itu.


...Kak, aku mencintai kakak...nanti kalau kakak di Afrika kita bisa bersama disana. Kakak lebih baik tinggalkan saja istri kakak yang kampungan itu. Kakak harusnya tidak menikahi barang bekas seperti dia kak, masih ada wanita lain yang lebih baik untuk kakak. Contohnya aku..peluk cium dariku โค๏ธโค๏ธ...

__ADS_1


Satria tercengang marah melihat isi pesan itu, ada beberapa pesan lainnya yang menceritakan tentang Satria di masa kuliah. Pesan yang isinya seperti sengaja ditujukan untuk membuat hati seseorang panas.


Apa dia sudah gila? Kenapa dia mengirim pesan pesan seperti ini padaku?


"May," panggilnya dengan suara rendah.


"......" Amayra terdiam hening.


"May, lihat aku sayang?" Satria duduk jongkok di depan istrinya. Namun wanita itu masih saja memalingkan wajahnya. "Amayra," ucap Satria sambil menyentuh dagu istrinya, hingga wajah mereka saling bertemu.


Satria menatap wajah merah dan mata yang masih berurai air mata. "May, aku akan mengklarifikasi semuanya. Menjelaskan semua sejelas-jelasnya, agar kesalahpahaman kita usai detik ini juga. Pertama-tama, aku minta maaf karena semalam aku sudah mengatakan hal yang menyakiti hati kamu. Kedua, aku tidak ada hubungan apapun dengan dokter Clara seperti apa yang tertulis di pesan ini dan ketiga.. aku hanya mencintaimu,"


Wanita itu tidak bicara apa-apa, dia terlihat bingung. Satria paham kenapa istrinya menjadi ragu dan bingung.


Amayra terlihat bingung. Ya, bagaimana mungkin dia tidak bingung dan ragu kepadaku. Setelah semalam aku mengucapkan kata-kata kasar padanya, lalu muncullah pesan ini.


"Lalu tentang ke Afrika bagaimana?" tanya Amayra. "Apa kakak benar-benar tidak akan pergi?" sambungnya lagi bertanya.


"Jadi kamu percaya? Kamu sudah memaafkan aku?" ucap Satria disertai wajah sumringah karena Amayra tidak membahas soal pertengkaran semalam.


Amayra sudah sedikit terlihat tenang.


"Belum," jawabnya singkat.


Jika aku membahasnya lagi, masalah hanya akan semakin berlarut-larut. Aku harus tenang.


"Haaahhh.. ya baiklah, aku tau ini gak akan mudah. Soal pengunduran diri, aku sudah yakin."


"Kakak!" sentak nya kaget


"May, keputusanku sudah bulat. Lagipula aku bisa mencari pekerjaan di rumah sakit lain, kamu jangan khawatir. Ini tidak sesulit itu," Satria menenangkan Amayra dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Bagaimana aku tidak khawatir kalau-" Amayra berhenti, dia memikirkan ucapan dokter Candra sebelumnya.


"Kalau apa May?"


Amayra masih melamun dengan wajah galau, entah apa yang dia pikirkan. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, "May.." lirih sang suami pada istrinya.


"Kalau kakak mau menarik lagi surat pengunduran diri dan tetap pergi ke Afrika, aku akan memaafkan kakak!"


"May, kenapa sih kamu-" Satria tercengang, dia juga ikut berdiri.


"Kak, maafkan aku tapi ini keputusanku sebagai istrimu. Jika kakak menghargai aku sebagai istri, tolong hargai keputusanku juga!" Amayra melangkah pergi dengan sedih.


Satria memegang tangan Amayra,"Kenapa sih kamu begini? Kamu juga gak mau kan kalau aku pergi? Jadi, kumohon kamu juga hargai keputusanku yang tidak mau pergi!"


Satria tidak mau mengalah dengan Amayra, dia tetap tidak mau pergi.


"Kalau kakak tidak pergi karena aku dan Rey, aku akan merasa bersalah. Cobalah berfikir secara logika kak, apakah akan ada rumah sakit yang menerima kakak setelah kakak keluar dari rumah sakit terbesar di negara ini? Pasti mereka akan mempertanyakan apa yang terjadi pada kakak, kenapa kakak keluar dari rumah sakit itu? Mereka tidak akan percaya pada kinerja kakak. Masa depan kakak dipertaruhkan disini,"


"Oke... aku tau kamu bicara begini karena kamu memikirkan karirku. Tapi, aku gak mungkin meninggalkan kamu dan Rey disini selama dua bulan!"


"Kakak tidak akan pergi lama kan? Hanya dua bulan saja, tidak apa-apa. Aku bisa menunggu, nanti kita bisa saling berkomunikasi satu sama lain walaupun kita berjauhan. Masih banyak alternatif lain yang bisa dilakukan," Amayra mengatakan pikiran logisnya, tapi Satria memakai hatinya. Itu sebabnya dia memutuskan untuk tidak pergi.


"May," Satria menggenggam tangan Amayra, dia menatap sayu ke arah istrinya.


"Kakak pergi kesana demi kebaikan aku dan Rey juga, belum lagi kakak akan mendapatkan pahala karena kakak membantu orang-orang yang terkena musibah disana. Aku dan Rey bisa menunggu kakak, selama kakak pergi.. ada banyak orang yang akan bersama kami. Ada ayah, papa Cakra, mama Nilam, kak Bram, bi Dewi, bi Lulu.. juga..."


GREP!


Satria mendekap erat memeluk Amayra dengan kasih sayang. "Kakak," suara Amayra mengalun lembut memanggil Satria.


"Beri aku waktu dua hari, aku akan mempertimbangkan semuanya. Jika kamu memang maunya begitu," ucap Satria yang masih merengkuh tubuh istrinya.

__ADS_1


Amayra membalas pelukan Satria dengan lembut, dia tersenyum dan menahan tangis disaat bersamaan. "Iya kak, terimakasih."


"Jadi kamu sudah memaafkan aku May? Ini kejadian semalam kata-kata ku,"


"Lidah bisa saja terpeleset dan mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati. Jujur, aku emang sakit hati pada ucapan kakak. Tapi itu karena kakak marah padaku dengan sikapku yang abai, makanya ucapan itu tak sengaja kakak ucapkan padaku. Namun, jangan diulangi lagi ya kak.. tolong jaga lisan kakak dengan baik," Amayra mendongakkan kepala melihat ke arah suaminya dengan pandangan berkaca-kaca.


Satria mengangguk setuju dan tersenyum.


Kemudian Amayra membacakan hadist dan ayat Alquran tentang menjaga lisan.


"ุณู„ุงู…ุฉ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ููŠ ุญูุธ ุงู„ู„ุณุงู†


Artinya: โ€œKeselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.โ€


Selain itu, Allah SWT turut memperingatkan kita sebagai umat muslim mengenai pentingnya menjaga ucapan atau lisan. Pasalnya, di setiap aktivitas kita, ada malaikat yang mencatat amal baik dan buruk yang dilakukan. Hal tersebut termuat dalam surah Qaaf ayar 18. Begini bacaan:


ู…ูŽุง ูŠูŽู„ู’ููุธู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ุฑูŽู‚ููŠุจูŒ ุนูŽุชููŠุฏูŒ


Artinya: โ€œTiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.โ€


"Baik, baiklah Bu guru.. aku akan menjaga lisanku mulai sekarang. Dalam keadaan marah, aku akan berusaha mengontrol diriku, makasih kamu sudah mengingatkan aku," ucap Satria sambil mengelus kepala Amayra dengan lembut.


"Iya kak, maaf juga ya aku menggurui kakak!"


"Hehe gak kok, kamu emang cocok jadi guru." Satria memuji istrinya.


Seandainya saja tidak ada kejadian itu, pasti masa depanmu tidak akan terhambat. Tak apa walau terlambat, aku akan membantumu mewujudkannya.


Mereka pun berbaikan dan tidak mau memperpanjang masalah. Namun, masalah Afrika masih belum usai.


"May, jadi kita baikan nih?"


"Iyah, begitu lah."


Satria tiba-tiba menangkup dan menggendong tubuh istrinya. "Ah! Kakak!"


"May," Satria menatap istrinya dengan nanar seolah mengisyaratkan sesuatu.


Amayra menelan ludah dengan gugup." May, mau dimana? Kamar Rey atau kamar KITA?" tanya Satria sambil tersenyum.


"Kak, ini masih siang." ucap Amayra malu-malu.


"Terus kenapa? Apa dalam agama cuma boleh malam?" goda Satria dengan senyuman manisnya.


"Ti-tidak sih,"


"Hem.. gak baik lho nolak suami,"


"Ya, ya udah deh. Di kamar KITA aja,"


"Sesuai permintaan tuan putri," Satria membuka pintu kamar sebelah sambil menggendong istrinya.


"Kak, jangan lama-lama ya.."


"Aku akan selesaikan ini dengan cepat," Satria mencium kening istrinya dengan mesra.


"Hehe, iya kak.." Amayra tersenyum malu.


Mereka masuk ke dalam kamar lalu bersatu dalam kedamaian, setelah pertengkaran itu mereka menjadi semakin mesra.


...----****----...


Author up lagi sore atau malaman ya guys ๐Ÿฅฐ author mau berobat dulu, tangannya lagi sakit...๐Ÿคง

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, gift seperti biasanya.๐Ÿฅฐ๐Ÿ™โ˜บ๏ธ mampir juga ke audiobook nya Cinta suci Amayra ya, tekan fav, like, kasih gift nya juga boleh ๐Ÿฅฐ


__ADS_2