Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 206. Dalam penyamaran


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bima melirik ke belakangnya, begitu dia merasakan ada seseorang yang berdiri disana.Namun, tidak ada siapapun disana. "Aneh, aku yakin ada seseorang yang berdiri dibelakangku?" gumam Bima terlihat bingung.


Setelah menyadari ada yang aneh, Bima langsung menutup telponnya. Dia pun kembali ke kamarnya dan melihat Bram masih tertidur pulas di sofa.


"Huft... syukurlah dia masih tertidur pulas." ucap Bima dengan suara yang pelan. Dia naik kembali ke tempat tidur dan berbaring diatasnya. Sebelah tangan kanannya masih di perban dan tidak bisa bergerak bebas.


Bima menutup matanya, dia tertidur pulas setelah lelah seharian itu. Ketika Bima sedang tidur, Bram terbangun dan melihat ke arah Bima dengan tajam.


.


.


.


"May..." lirih Satria memanggil istrinya, pria itu memakai pakaian putih dan tersenyum padanya.


Sementara itu Amayra berdiri di jalan yang bersebrangan dengan jalan dimana tempat Satria berdiri.


"Mas Satria? Mas..." Amayra melambaikan tangannya pada Satria sambil tersenyum.


Satria yang berwajah pucat itu menatap Amayra dengan mata berkaca-kaca. Amayra berjalan ke arahnya. "Jangan May...jangan mendekat." Satria memintanya untuk tidak melanjutkan perjalanan.


Amayra mengernyitkan keningnya, "Mas...kalau aku tidak kesana, mas saja yang kesini? Sebrangi jalan untukku!"


"Kita tidak bisa sayang...jalan kita sudah berbeda."


"Apa maksudmu mas?" Amayra menatap suaminya yang semakin berjalan jauh darinya. "Kamu mau kemana mas! Mas!"


*****


Diana melihat Amayra yang wajahnya berkeringat dan terlihat resah. Wanita hamil itu memanggil manggil nama Satria dalam tidurnya. "Mas! Jangan pergi....jangan..." Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis.


"May, May bangun May! Amayra..." Diana menggoyangkan tubuh Amayra seraya membangunkannya. Diana memegang kening Amayra yang panas. "Astagfirullah, panas sekali."


Apa dia bermimpi buruk karena kecelakaan yang dia alami tadi sore?


Diana mencoba membangunkan Amayra, akhirnya wanita itu terbangun dengan kondisi tubuh yang tidak nyaman. "Kak...dimana mas Satria?"


"Satria gak apa-apa, dia ada di kamar sebelah. Dia baik-baik saja, kamu tenang ya. Aku akan ambilkan kamu air untuk kompres." Diana meminta Amayra untuk tenang.

__ADS_1


"Aku ingin melihat mas Satria, aku mau lihat suamiku kak!"


"Tapi kamu lagi sakit May, besok saja liatnya." ucap Diana cemas dengan keadaan Amayra yang sedang demam itu.


"Sekarang kak...aku mau lihat mas Satria sebentar saja, hatiku tidak tenang." ucap Amayra dengan nafas terengah-engah.


Diana tidak bisa melarangnya lagi, dia memapah Amayra dan mereka berjalan sampai depan kamar tempat Bram dan Bima berada. "Alhamdulillah...mas Satria baik-baik saja."


Tapi kenapa hatiku merasa kalau mas Satria tidak baik-baik saja ya? Apa arti mimpiku barusan? Padahal mas Satria ada disini.


"Kamu udah tenang kan? Ayo kita kembali ke kamar, aku akan merawat kamu." ucap Diana sambil memegangi tangan Amayra.


"Iya kak."


Diana dan Amayra kembali ke dalam kamar. Malam itu Amayra demam dan Diana yang merawatnya.


Tak terasa tiga hari berlalu sejak Bima menyamar menjadi Satria dan selama tiga hari itu juga Satria masih berada dalam keadaan koma.


Selama tiga hari itu, Amayra selalu berada disisi Bima. Semua orang juga memperhatikan Tangan Bima yang terluka juga sudah sembuh, dia masih berpura-pura menjadi Satria didepan semua orang. Di pagi yang cerah itu, Amayra sedang berjalan-jalan ditaman rumah Calabria seorang diri sambil menyiram tanaman.


Bima melihat wanita hamil itu dari dalam rumah dibalik jendela. "Sudah tau lagi hamil, kenapa dia jalan-jalan seperti itu dan melakukan aktivitas berat? Bukankah Diana sudah mengingatkan dia agar tidak boleh terlalu lelah... bagaimana kalau bayinya kenapa-napa?" Gumam Bima cemas pada Amayra.


"Gak ada. Tapi kamu ngapain disini? Biarkan saja bi Lula atau siapalah itu yang menyiramnya."


"Bi Lulu, mas..." Amayra tersenyum lembut.


Walau mas Satria sedang dalam keadaan hilang ingatan, tapi dia tetap perhatian padaku. Hanya saja selama tiga hari ini dia tidak mau tidur satu kamar denganku.


"Iya itulah...biarkan dia saja yang menyiramnya." kata Bima pada Amayra.


"Ini sudah selesai kok," jawab Amayra yang berjalan ke arah meja depan rumah sambil membawa penyiram tanaman itu. Langkahnya terlihat hati-hati, karena perutnya sudah membuncit.


Bima berinisiatif mengambilkan teko air itu lalu menyimpannya ke atas meja. "Hati-hati kamu jalannya."


"Makasih Mas..." Amayra tersenyum.


Deg!


Kenapa aku berdebar saat melihat senyumannya si wanita beban ini?


"Duduklah," ucap Bima seraya menunjuk ke arah kursi disana.

__ADS_1


Amayra berjalan hati-hati menuju ke kursi untuk, dia berniat untuk duduk disana sambil mengerjakan tugas kuliahnya. Terlihat ada beberapa kertas di atas meja itu dan bolpoin.


"Kamu mau mengerjakan tugas kuliah ya?" tanya Bima penasaran.


"Iya mas, aku sudah ketinggalan beberapa materi dan tugas." Amayra sudah duduk di kursi itu, Bima juga duduk di kursi yang ada didepannya.


Aku tidak pernah kuliah, jadi aku tidak tau apapun tentang belajar. Kalau Satria...dia berpendidikan tinggi dan dia pasti bisa membantunya. Aku ingin membantunya tapi aku tidak bisa.


Amayra tersenyum melihat pria yang terlihat bingung itu, "Mas, apa kamu mau membantuku?"


"Memangnya ada yang bisa aku bantu? Aku kak lupa bagaimana belajar, aku lupa segalanya." kata Bima lagi-lagi berbohong.


"Kamu bisa membantuku hal yang lain... contohnya menulis. Mas tidak lupa bagaimana cara menulis, kan?"


"Menulis? Tentu saja aku bisa, mau menulis apa?" tanya Bima sambil mengambil bolpoin di atas meja.


"Tolong bantu aku, salin catatan dari Lisa ke buku catatan ku. Tapi kalau mas tidak mau, gak apa-apa mas." Amayra tidak keberatan sama sekali jika Bima tidak mau membantunya, tapi dia akan sangat senang jika Bima mau membantunya.


"Aku mau, mana bukunya dan dimana aku harus menyalin?" tanya Bima dengan gaya cueknya. Berbeda dengan sikap Satria yang lembut, mereka memiliki sikap yang bertolak belakang.


"Ini!" Amayra menyerahkan dua buku kepada Bima untuk dia salin. Bima mengerjakan apa diminta oleh Amayra. Sementara itu Amayra sedang melihat ppt di laptopnya.


Amayra terkejut melihat tulisan Bima di bukunya, jauh berbeda dengan tulisan Satria. "Mas..."


Apa aku salah lihat? Mengapa tulisan mas Satria sangat berbeda?


"Ya?" sahut Bima.


"Boleh aku lihat bukunya," kata Amayra meminta buku yang sudah disalin oleh Bima.


"Bentar ya, tinggal beberapa kata lagi." Bima tanggung masih menulis di bukunya.


Beberapa detik kemudian, Bima menyerahkan buku itu pada Amayra. Dia melihat tulisan Bima baik-baik, dia membandingkan tulisan Satria yang ada pada buku satunya.


Apa hilang ingatan juga bisa merubah tulisan tangan?


Dia melihat tulisan tangan Bima yang rapi sedangkan tulisan Satria lebih ke kaligrafi. Kedua tulisan itu sangat berbeda jauh. Keningnya berkerut menatap Bima.


Bima bertanya saat melihat wajah Amayra yang terlihat heran itu."Ada apa May? Kenapa wajahmu begitu?"


...-----*****------...

__ADS_1


__ADS_2