Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 92. Jadi milikku seutuhnya


__ADS_3

Bab ini untuk khusus untuk yang sudah menikah ya 🙏


...🍁🍁🍁...


Amayra menatap suaminya dengan wajah polos itu, dia tidak paham apa yang sedang Satria minta darinya. Dia pun bertanya, "Boleh apa kak?"


"Meminta hak ku sebagai suamimu," jawab Satria sambil membelai wajah sang istri penuh kelembutan.


"Hak apa kak?" tanya nya lagi bingung.


"Hem, emang ya bicara sama kamu tuh harus jelas.." Satria menyunggingkan senyuman jahil dibibirnya, tangannya mengambil tangan cantik Amayra. Dia memasukan jari-jari Amayra dan menggigitnya dengan gemas.


"Auw.. kakak, kenapa jariku digigit?" tanya Amayra bingung.


Wajah Amayra yang polos, selalu membuat Satria tergoda setiap saat. Hanya saja Satria selalu berusaha menahan hasrat didalam hatinya itu. Mungkinkah kini saatnya benteng diantara mereka diruntuhkan? Ya, perilaku Satria saat ini adalah sebuah kode, isyarat, bahwa dia ingin memiliki sang istri seutuhnya. Menagih haknya, memberikan nafkah batin kepada sang istri yang belum dia tunaikan sejak pertama mereka menikah, sampai sekarang.


"Kakak..auw.. geli kak," Amayra menggelinjang kegelian, ketika Satria memainkan lidah untuk menyapu jari-jari cantik istrinya.


Kak Satria ini kenapa ya? Kenapa dia seperti sedang kelaparan?


"May, Rey udah tidur kan? Apa dia pulas?" tanya Satria sambil mencium kening sang istri dengan gemas.


"Insya Allah pulas kak, tadi siang soalnya Rey tidak tidur siang. Jika Rey bangun.. auw.. ughh.. mungkin hanya karena ingin minum susu saja," Amayra meringis kegelian dengan sentuhan Satria yang mulai membuat hawa panas ditubuhnya.


Tiba-tiba saja Amayra sudah berada didalam gendongan suaminya. "Kak! Kak Satria!" pekiknya terkejut.


"May, kamu masih belum paham? Apa yang akan aku lakukan selanjutnya?" tanya Satria sambil tersenyum manis, dia menggendong sang istri masuk ke dalam rumah.


Tak lupa dia mengunci pintu rumahnya, menutup semua jendela dengan tirai. Amayra semakin berdebar dengan tingkah suaminya, apa yang akan dilakukan Satria padanya?


"Kak, kenapa aku digendong kayak gini? Terus.. kenapa kakak-" Amayra tak berani melanjutkan kata-katanya, ketika dia melihat sang suami sudah menatapnya dengan nanar. Wajah Satria memerah.


"May..."


Satria buru-buru membawa Amayra ke kamar lain, bukan kamar tempat Rey tidur. Satria merebahkan tubuh sang istri ke atas ranjang, pakaian mereka masih lengkap. Amayra juga masih memakai hijabnya.


Tepat saat Satria mendekat ke arah sang istri, Amayra mendorong suaminya. Satria kecewa, dia merasa Amayra menolaknya. "Tung-tunggu kak!"


"Kenapa May? Kamu tidak mau?" Satria yang sudah bersiap, kembali duduk di ranjang. Dia memandang sang istri dengan wajah kecewa.


"Aku ingat kalau kakak belum shalat isya," ucapnya mengingatkan.

__ADS_1


Enggak bisa gini, malam pertamaku dan kak Satria gak boleh mendadak seperti ini. Aku harus melakukan persiapan dulu.


"Benar, aku belum shalat isya!" Satria memegang kepalanya. Satria kesal sendiri karena perasaannya yang sudah diakhir, harus dia tahan lagi. Memang dia belum shalat isya, maka dia harus melaksanakan kewajibannya lebih dulu.


"A-aku juga harus menjaga Rey," Amayra beranjak turun dari ranjang itu, dia berlari menuju ke kamar sebelah. Tempat Rey sedang tidur.


Larinya Amayra dari sana, dianggap Satria sebagai penolakan dari istrinya. "Mungkin bukan malam ini," gumam Satria yang selama beberapa hari ini gelisah karena banyak masalah. Dia ingin melampiaskan semua itu, dengan cara menuntaskan hasratnya yang terpendam.


Berada didalam rasa kecewa, Satria pun mengambil air wudhu. Dia bersiap melaksanakan shalat isya. Sementara Amayra berada di kamarnya. Dia mondar-mandir kesana kemari, tidak karuan.


"Ya Allah aku harus bagaimana, aku belum siap malam ini. Tapi, aku akan sangat berdosa kalau menolak keinginan suamiku," gumam wanita itu kebingungan. Pasalnya dia belum mempersiapkan segala hal untuk malam pertamanya bersama sang suami, sedangkan pria itu sudah mengajak Amayra melakukannya. Hati Amayra berdebar, jantungnya berdegup sangat kencang. Walaupun belum melakukan apa-apa dengan suaminya.


Amayra melihat bayi mungilnya tertidur pulas. Kemudian dia membuka lemari baju di kamarnya, dia duduk jongkok dan mengambil sesuatu dibawah sana dengan buru-buru. Tampak seperti sebuah kain tipis yang digulung rapi, "Bismillahirrahmanirrahim, kamu bisa Amayra.. kamu harus bisa menunaikan kewajiban mu sebagai istri yang sempurna," gumam nya dengan hati berdebar.


Beberapa menit kemudian, Satria selesai menunaikan ibadah shalat Isya dan langsung kembali ke kamarnya. Dia pikir dia harus menenangkan dirinya sendiri di kamar kosong itu, karena dianggapnya sang istri sudah menolak dirinya.


Alangkah terkejutnya Satria begitu dia membuka pintu kamar itu. Dia melihat Amayra tengah berdiri tanpa hijabnya, memakai baju tidur transparan, rambut hitam yang terurai panjang, bibirnya sedikit memakai pemarah, wajahnya memakai sedikit bedak. Wanita itu memberanikan dirinya, berpenampilan cantik didepan suaminya.


Ranjang kamar itu juga tampak rapi dan bersih. Satria terpesona melihat kamar itu, tapi dia lebih terpesona melihat istrinya. "May.. kamu..." Satria membeku, matanya terbelalak nanar menatap Amayra.


"Kak, aku sudah siap," ucap Amayra sambil menundukkan kepalanya malu-malu.


Apa aku terlalu berani ya? Kak Satria sampai diam membeku begitu?


Amayra memang sedang mempraktekkan adab malam pertama menurut agama Islam yang dia baca dari buku, pertama adalah meluruskan niat, berhias mempercantik diri untuk pasangan. Amayra sudah meluruskan niat dan berhias untuk suaminya.


Niat itu sendiri merupakan hal pokok yang sangat penting dalam Islam. Karena setiap amalan yang dilakukan oleh manusia dinilai dari niatnya. Suami istri yang menikah hendaknya diniatkan untuk menjaga kehormatannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW : ”Tiga orang yang memiliki hak atas Allah menolong mereka : seorang yang berjihad di jalan Allah, seorang budak (berada didalam perjanjian antara dirinya dengan tuannya) yang menginginkan penunaian dan seorang menikah yang ingin menjaga kehormatannya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim dari hadits Abu Hurairoh).


Kemudian Satria mengecup lembut kening sang istri dan berkata, "Assalamualaikum sayang,"


Satria melakukan adab malam pertama yang berikutnya, yaitu mengucapkan salam dengan lembut pada istri yang akan dia gauli. Untuk memecah ketegangan diantara mereka berdua. "Waalaikumsalam kak," jawab Amayra lembut.


"Kamu sudah pastikan Rey tidur pulas?" tanya Satria sambil membuka bajunya perlahan-lahan.


"I-iya kak," jawab Amayra patuh.


"Jangan tegang, aku akan lembut dan ini gak akan lama. Aku juga takut Rey bangun, kemudian mencari ibunya," ucap Satria sambil memeluk sang istri dengan keadaan telanjang dada.


"Iyah kak," Amayra mengangguk pelan.


"Bilang ya kalau sakit, aku akan menghentikannya saat itu juga," ucap Satria dengan tangan yang menyentuh dagu Amayra. Kedua mata mereka bertemu, mengisyaratkan cinta yang dalam dan ingin segera mereka salurkan.

__ADS_1


Satria memulai aktivitasnya perlahan, tak lupa dia membaca doa sebelum memulainya. Basmalah sudah menjadi kewajiban untuk dirinya, pada setiap waktu saat dia akan melaksanakan kegiatan apapun dan masuk kemanapun. Amayra dan Satria kini berada di dalam ranjang yang sama dengan posisi Satria berada diatas tubuh Amayra.


Kedua tubuh itu sudah tanpa sehelai benang yang terpasang, Amayra menyilangkan tangan menutup bagian tubuh depannya yang menonjol dengan malu-malu.


"May, tunjukkan padaku semuanya," Satria meraih lembut tangan Amayra, dia mengecup tangan itu perlahan-lahan. Amayra semakin malu berhadapan dengan suaminya, dia tak pernah menemukan pria sebaik dan selembut Satria.


Cup!


Cup!


Kecupan kecupan ringan dan lembut dikontrak Satria pada tubuh wanita itu. Dia menelusuri tubuh istrinya dengan bibir panas tanpa terkecuali. Satria benar-benar memperlakukan Amayra dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian. Takut wanita itu sakit, takut dia lelah.


Ketika kedua nya sudah mencapai akhir dari pemanasan, Satria bersiap dengan permainan intinya. Kini dia tidak bermain solo lagi, bisa dikatakan duet. "Kakak, apa kakak ada yang lupa?" tanya Amayra sambil mendorong tubuh sang suami dengan tangannya.


"Benar aku hampir lupa," Satria tersenyum, dia meletakkan tangannya di kening sang istri lalu dia berdoa, “Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih”


Arti doa tersebut ialah : "Wahai Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya.”


Amayra tersenyum lembut mendengar doa yang diucapkan suaminya. Satria mengambil napas dalam-dalam, dia berdoa lagi didalam hati. Doa ketika melakukan Jima.


Bismillahirrahmanirrahim...


Allahumma Jannibna asy Syaithon wa Jannib asy Syaithon Ma Rozaqtana.


Artinya, “Wahai Allah jauhilah kami dari setan dan jauhilah setan dari apa-apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Sesungguhnya Allah Maha Mampu memberikan buat mereka berdua seorang anak yang tidak bisa di celakai setan selamanya.”


"May, aku mulai ya?" tanya Satria seraya mengusap lembut rambut sang istri. Amayra mengangguk pelan, tanda persetujuan.


Satria memulai aksinya dengan perlahan, sesekali dia bertanya pada sang istri. Apakah dia sakit atau tidak saat melakukannya. "May, apa sakit? Aku kecepatan ya?" tanya Satria dengan keringat di wajah yang mulai bercucuran.


Amayra menggeleng, "Tidak kak, teruskan saja. Aku ingin menjadi milik kakak seutuhnya, jadi tolong berikan aku banyak cinta," tangan Amayra membelai wajah sang suami dengan tatapan penuh cinta.


Deg


Satria terhenyak dengan lirih sang istri yang begitu lembut. "Baik, aku akan berikan semua cintaku sampai kamu kenyang akan cintaku," Satria tersenyum, dia memulai kembali aktivitasnya menafkahi sang istri. Amayra menerima semua cinta suaminya dengan penuh keikhlasan dan terbuka. Ciuman di kening, ciuman dibibir, semua sentuhan itu sangat lembut.


Malam itu akhirnya Satria sukses meruntuhkan benteng besar diantara mereka berdua. Amayra dan Satria sudah semakin menjadi suami istri yang sesungguhnya. Amayra jatuh tertidur di tangan kekar suaminya, setelah melaksanakan kewajibannya. Padahal tadinya dia ingin kembali ke kamar dan tidur bersama Rey, kemudian menjelang subuh dia akan mandi bersama Satria.


"Masyaallah istriku cantik sekali, dia pasti sangat lelah sampai tidur," Satria menatap wanita cantik yang tertidur di lengannya itu. Kemudian dia melihat jam yang menunjukkan pukul 21 malam. "Sayang, sebentar ya.. aku lihat Rey dulu," bisiknya pada Amayra.


Pelan-pelan Satria turun dari ranjangnya, dia menyelimuti sang istri dengan selimut hangat.

__ADS_1


...-----****-----...


__ADS_2