
Bima memgang pipinya yang baru saja tersentuh oleh bibir Amayra. Wanita polos yang tidak tahu apa-apa itu masih mengira Bima adalah suaminya.
Wajah Bima merah merona mendapatkan kecupan dari Amayra. Namun dia merasakan adanya tanda bahaya.
Satria! Aku benar-benar minta maaf, istrimu yang menciumku...bukan aku!
"Mas, tidur yuk?" Amayra sudah selesai melipat mukenanya, dia mengajak Bima untuk tidur bersama.
Ini gila! Sangat berbahaya, aku harus mencari cara untuk keluar dari sini. Aku tidak boleh melakukan ini pada saudaraku, seharusnya aku tidak menerima ajakannya untuk tidur bersama.
"May, maaf...kamu tidur duluan saja. Aku mau pergi keluar dulu."
"Mau kemana mas malam-malam begini? Apa mas Satria lapar? Mau kubuatkan makanan?" tanya Amayra perhatian.
"Ah tidak...aku hanya ingin berdiam diri di luar dulu." Bima menjawab dengan gelagapan seperti punya salah.
"Mau aku temani?" tanya Amayra sambil menghampiri pria itu.
Bima semakin grogi dibuatnya, dia pun memalingkan wajahnya dan tanpa sadar dia kembali ke sikap aslinya yang kasar dan ketus."Kamu tuh kenapa sih cerewet banget, aku bilang mau keluar kemanapun kan bukan urusan kamu!"
"Mas..." Amayra menatap Bima dengan kening berkerut.
"Pokoknya aku keluar dulu! Kamu tidur saja duluan dan jangan ikuti aku!" Bima menunjukkan jarinya pada wajah Amayra.
Aku harus menenangkan diriku.
Bima keluar dari kamar Amayra begitu saja, dia pergi ke halaman belakang rumah yang tidak ada siapapun disana. Diam-diam Bima merokok, dia duduk untuk menenangkan hatinya yang dibuat kesetrum oleh Amayra.
"Sialan! Lebih baik pergi menyiksa orang daripada harus berpura-pura seperti ini. Berpura-pura baik dan menjadi orang beriman, ini benar-benar melelahkan." Bima mendesah sambil mengisap rokoknya, pria itu tampak terlihat lelah karena berpura-pura sebagai Satria walau baru 3 hari. "Si wanita menyebalkan itu, kenapa dia terus bersikap manis didepanku? Aku kan jadi..."
Pria itu menutup matanya sejenak, dia melihat Amayra saat dia menutup matanya. "Astaga! Kampret! Kenapa kamu yang muncul didepanku, bahkan saat aku menutup mata?"
Wajah Bima memerah, dia terus teringat Amayra yang mencium pipinya untuk pertama kali. Bima berusaha menyingkirkan pikiran yang tidak-tidak dari otaknya.
"Tidak! Tidak boleh begini Bima, kamu tidak boleh begini..." Pria itu menggelengkan kepalanya beberapa kali, menepis semua perasaan aneh yang mulai tumbuh di hatinya.
Dreet... Dreett...
Bima merasakan ada getaran di saku celananya. Dia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Kemudian dia melihat ada panggilan masuk dari Jack.
"Halo."
__ADS_1
"Bos Bim!" panggil Jack.
"Apa ada kabar baik hingga kamu menelpon ku malam-malam begini?" tanya Bima dengan gaya premannya.
"Bos, pria itu sudah mengaku."
Bima terperanjat mendengarnya, dia tersenyum menyeringai. Baginya kabar ini adalah kabar baik, kabar dimana pria yang mencelakai Satria dan Amayra mengaku.
"Bagus, aku akan langsung kesana dan langsung apa yang akan dikatakan si baj*ngan itu!" Bima tersenyum sinis.
"Baik bos, apa bos Bim akan ke sini sekarang atau nanti?" tanya Jack pada bosnya.
"Besok saja, saat ini aku tidak bisa...Amayra akan mencariku kalau dia tau aku hilang."
"Woah... sekarang bos Bim perhatian sekali ya pada wanita yang selalu bos Bim panggil wanita beban itu." Jack tidak menyangka bahwa bosnya yang berdarah dingin itu, akan mempedulikan perasaan orang lain.
"Siapa yang perhatian padanya? Aku hanya perhatian pada keponakanku yang ada didalam perutnya, tidak lebih dari itu! Ah...dan jangan panggil dia wanita beban." Bima marah dengan ucapan Jack.
"Tapi kan bos yang selalu bilang di wanita beban." Jack menggoda bosnya itu.
"A-aku... pokoknya dia bukan wanita beban, dia itu hanya...hanya..." Bima bingung memberikan jawaban pada Jack, dia tidak tahu bagaimana tanggapannya tentang sikap Amayra. "Dia wanita yang baik, itulah intinya."
*****
Malam itu, Bima tidur di sofa ruang tengah tidak di kamar bersama Amayra. Amayra menyadari bahwa Bima tidak kembali ke kamar, dia pun mengambil selimut dari kamarnya setelah tau bahwa Bima tidur di sofa.
"Apa kamu masih belum mengingatku mas? Itu sebabnya kamu tidak mau tidur denganku dan anak kita?" Amayra menatap Bima dengan sedih. "Cepat ingat aku mas...aku rindu kamu yang dulu." tanpa dia sadari air matanya jatuh, dia merindukan Satria yang dulu. Dia memakaikan selimut ke tubuh Bima dengan penuh perasaan.
Setelah itu Amayra kembali ke kamarnya dan meninggalkan Bima disana sendiri. Beberapa detik kemudian, Bima beranjak duduk di sofa itu. Dia mengusap air mata Amayra yang jatuh ke pipinya. "Maafin aku Amayra, maaf...tapi tunggulah sebentar lagi, Satria pasti akan segera sadar...aku berbohong demi kebaikan kamu dan anakmu juga." Ucap Bima dengan rasa bersalah di hatinya kepada wanita hamil itu. Dengan alasan dia berbohong demi kebaikan.
*****
.
.
.
Keesokan harinya, siang itu Amayra berencana untuk pergi ke supermarket dan berbelanja keperluan dapur yang sudah habis. "Non, biar bibi aja yang belanja." kata Lulu pada Amayra.
"Gak apa-apa bi, sekalian aku jalan-jalan keluar. Sudah lama aku tidak jalan-jalan keluar."
__ADS_1
"Iya ya, pasti non sangat bosan karena terus-terusan berada di rumah. Si utun juga pasti mau jalan-jalan...ya sudah, bibi temani ya non?" Lulu menawarkan diri untuk mengantar Amayra ke supermarket.
"Iya boleh bi,"
"Gak usah bi, biar saya saja yang menemani Amayra." ucap Bima sambil tersenyum, dia sudah berdiri dibelakang Amayra.
Semalam aku sudah membuatnya menangis, hari ini aku harus menyenangkan dia.
"Mas, kamu mau menemani aku?" Amayra menatap suaminya dengan mata berbinar-binar.
Mereka berdua pun pergi naik mobil menuju ke supermarket. Amayra dan Bima belanja keperluan dapur, termasuk cemilan yang selalu dimakan Amayra.
"Kamu suka yang mana? Coklat apa Stroberi?" Bima meminta Amayra memilih cemilan coklat atau stoberi.
"Aku suka coklat mas,"
"Biasanya perempuan suka stoberi, tapi kamu suka coklat ya?" ucap Bima sambil menyimpan cemilan coklat itu ke atas troli.
"Hahaha...kamu lucu deh mas, emangnya aku gak boleh suka coklat?" tanya Amayra sambil tertawa.
Amayra hendak mengambil troli itu, namun Bima mendahuluinya. Dialah yang membawa trolinya.
Ketika sedang berbelanja, tiba-tiba Bima kebelet dan meminta izin pada Amayra untuk pergi ke kamar mandi lebih dulu. "Aku ke toilet dulu sebentar ya May, kebelet nih."
"Baik mas, aku bayar dulu di kasir ya."
"Iya, kamu duduk aja disitu. Nanti barang belanjaannya biar aku yang bawa." pesan Bima pada Amayra.
Amayra mengangguk patuh. Bima pergi ke toilet pria, sementara Amayra menunggunya disana sambil duduk setelah membayar barang belanjaannya.
Setelah menyelesaikan urusannya di toilet pria, saat Bima keluar dari sana. Seseorang menodongkan senjata api pada kepalanya. "Ikuti perintahku kalau tidak mau mati!"
Bima melirik ke arah pria yang menodongkan pistol padanya dengan tajam. "Kamu?"
"Kalau kamu tidak mau terjadi sesuatu pada wanita hamil itu, kamu menurut saja." ucap pria itu sambil tersenyum menyeringai.
Deg!
Seketika Bima gemetar dan berdebar mendengar ucapan pria misterius itu.
...----****----...
__ADS_1