
...🍀🍀🍀...
"Mas..i-itu.."
Saking emosinya dia, Satria melempar gelang ke wajah Amayra dengan kasar.
"Mas!" Teriak Amayra terkejut dengan sikap kasar suaminya.
"Tuh gelangnya, mau kamu buang ke tempat sampah atau kamu berikan pada orang lain. Aku gak peduli!" Satria menatap Amayra dengan kesal. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
"Mas, aku bisa jelaskan! Mas Satria, dengarkan aku Mas!" Kata Amayra menyusul suaminya sambil menggendong Rey.
Ya Allah, Mas Satria sepertinya sudah tau kalau aku bohong.
Kini mereka bertiga berada di kamar. Amayra berusaha bicara dengan Satria untuk menjelaskan semuanya. "Mas, aku akan jelaskan semuanya.."
"Kamu mending diem dulu! Urus sana Rey!"
Deg!
Amayra terpukul mendengar ucapan kasar dan ketus dari Satria. Kemarahan Satria sudah mencapai tingkat yang tinggi. Dia sampai melempar gelang ke wajah istrinya.
Kemarahan yang dilandasi cemburu dan kecewa. Membuat Satria marah melebihi batas normal dan menuju rasa murka.
"Mas.. dengerin aku dulu, gelang ini-" Amayra hampir menangis dengan sikap Satria.
Satria masuk ke dalam kamar mandi setelah dia mengambil handuknya. Pintu kamar mandi dia dorong dan dia tutup dengan keras hingga menimbulkan suara yang keras.
BRAK!
"Mas..." wanita itu melihat suaminya dengan bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya. Hatinya sangat merasa bersalah karena sudah berbohong pada Satria.
Selagi Rey bermain di atas roda bayi, Amayra pergi membuat makanan kesukaan suaminya dan juga teh susu hangat yang selalu diminum oleh Satria. Tak lupa dia menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya.
"Mas, minum teh hangat dulu ya?" Tanya Amayra sambil tersenyum. Dia berusaha menenangkan Satria sebelum bicara dan menjelaskan semuanya.
"Rey mana?" Satria bertanya sambil menggesek rambutnya yang basah dengan handuk kering.
"Rey lagi main diluar Mas,"
"Terus ngapain kamu disini? Kamu tuh gimana sih? Anak ditinggal sendirian?!" Bentak Satria pada istrinya itu.
"Ma-maaf Mas, aku keluar dulu. Teh nya sudah aku si-simpan diatas meja." Amayra bicara dengan suara serak dan bibir gemetar. Air matanya tinggal menunggu jatuh saja.
Sakit hatinya dibentak oleh sang suami, pasalnya Satria adalah sosok suami yang lemah lembut dimatanya. Dipenuhi dengan kehangatan dan kasih sayang. Kini dia malah terlihat sangat marah pada Amayra.
Wanita itu keluar dari kamarnya dan pergi ke ruang tengah untuk bersama Rey. Sementara Satria mendesah karena marah pada Amayra.
Sebelumnya dia mendapat kabar dari Anna, kalau Amayra dan Ken bicara berduaan di kampus. Ken juga menyatakan cintanya pada Amayra, awalnya Satria sudah lega dan paham kenapa Amayra berbohong bahwa gelangnya hilang.
Wanita itu pasti takut akan kemarahan Satria, makanya dia berbohong. Tapi, karena hal ini ada sangkut pautnya dengan Ken. Kemarahan Satria kembali memuncak.
"Astagfirullahaladzim!! Kenapa kesalku gak hilang juga sih?!" Satria mendengus kesal sambil duduk diatas ranjang.
Setelah Satria makan malam dan minum teh buatan istrinya, seusai shalat isya. Dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang, tanpa bicara sepatah katapun pada Amayra.
Rey sudah tidur di ranjang bayinya, sementara Amayra masih terjaga dan berada dalam kegelisahan karena diabaikan suaminya.
"Mas...apa Mas udah tidur?"
Satria tidak bergerak, namun matanya masih terbuka. Wajahnya terlihat kesal, tapi Amayra tak bisa melihat wajah suaminya karena Satria membelakangi Amayra.
"Mas...aku minta maaf sudah bohong soal gelang. Ya, aku salah...aku juga tau kalau alasanku tidak dapat dibenarkan. Karena aku sudah berbohong. Aku takut kalau mas marah jika tau gelangnya hilang, aku minta maaf ya Mas."
Meski tak tahu Satria sudah tidur atau belum, Amayra tetap mencoba bicara dengan suaminya. Meminta maaf karena sudah berbohong.
__ADS_1
"Hiks.. hiks.. aku gak tau kalau kamu akan semarah ini. Kalau aku tau kamu akan marah seperti ini, aku pasti...hiks...hiks..tidak akan berbohong, aku menyesal. Aku takut sekali waktu gelang itu hilang..."
"Gelang itu hilang apa kamu berikan pada Ken?" Satria tiba-tiba saja beranjak duduk, dia membalikkan badannya. Matanya menatap Amayra yang sedang menangis.
"Kenapa jadi Ken? Emangnya apa hubungannya gelangku yang hilang sama Ken?" Amayra bertanya karena dia tak tahu apa-apa tentang Ken yang mengembalikan gelang itu.
"Ken yang mengembalikan gelang ini padaku,"
"Mas, aku benar-benar gak tau kenapa gelang itu ada sama Ken. Aku juga gak tau kenapa dan kapan aku kehilangan gelang itu!"
"Oh gitu ya," Satria tersenyum tipis.
"Mas gak percaya?"
"Kamu terlalu banyak bohong, gimana aku mau percaya? Hal kecil kayak gini aja kamu bohong. May aku udah pernah bilang sama kamu, kalau hal yang paling penting dalam sebuah hubungan adalah kejujuran dan kepercayaan. Tapi kamu gak menerapkan semua ini,"
"Astagfirullah, Mas...aku gak banyak bohong. Aku bohong apalagi selain masalah gelang?"
"Kamu bohong tentang pertemuan kamu sama Ken. Kamu bicara berduaan kan sama dia?"
Deg!
Amayra tercekat, dia menatap ke arah suaminya. Tangannya menyeka air mata di pipinya.
Kenapa Mas Satria bisa tau tentang ini? Aku kan bicara dengan Ken berdua saja saat itu.
"Kenapa diam May? Benar kamu bicara berduaan sama dia?"
"Iya Mas, tapi kami gak berduaan saja kok. Aku sama Ken ada diruangan terbuka. Di lorong kampus, kami gak berduaan diruangan tertutup." Jelas Amayra pada Satria.
Satria menatap istrinya dengan tatapan curiga.
Kenapa Anna bilangnya, kalau Amayra berduaan sama Ken di kelas? Siapa yang bohong?
"Beneran Mas, aku gak bohong. Kalau Mas gak percaya Mas tanya Lisa aja." Kata Amayra sambil mengangguk-angguk.
"Kami bicara tentang tugas kampus!" Jawab Amayra beralasan.
"Bohong!" Satria menyentil kening Amayra dengan cukup keras. "Berani bohong lagi setelah masalah gelang yang hilang?"
"Sakit Mas.. uhhh.." Amayra memegang keningnya yang baru saja disentil itu.
"Makanya jujur, jangan bohong terus!" Ujar Satria kesal.
"Kalau aku jujur, Mas janji gak akan marah ya?"
"Tergantung," Satria menyilangkan kedua tangannya didada.
"Janji jangan marah," Amayra menunjukkan jari kelingkingnya pada Satria. Bibirnya mengerucut disertai dengan kening yang berkerut.
"Kan aku bilang tergantung,"
"Janji dulu Mas!" Seru Amayra meminta dengan cara memelas.
Satria menghela napasnya, padahal dia yang sedang marah dan sedang mengintrogasi. Tapi malah dia yang dipermainkan oleh Amayra. Satria kalah oleh wajah memelas dan mata sembab istrinya itu.
"Oke, aku janji."
Jari kelingking Satria dan Amayra terikat terpaut satu sama lain. "Ayo bilang, apa yang kamu bicarakan sama Ken?"
"Ken bilang kalau dia suka sama aku," jawab wanita itu dengan suara yang pelan.
"Hah! Jadi benar? Si bocah tengil itu.. beraninya dia bilang cinta pada istriku? Dasar gila!" Satria mendengus kesal.
"Mas..."
__ADS_1
"Apa?!" Tanya Satria dengan suara yang sedikit membentak.
"Mas kan udah janji gak akan marah."
"Heh! Gimana aku gak marah? Kalau ada wanita yang mengatakan cinta sama aku kayak gitu, apa kamu gak akan marah?"
"Gak,"
"Apa?"
"Aku gak akan marah Mas, tapi aku hanya cemburu."
"Hah?"
"Aku gak akan marah karena aku tau Mas hanya cinta sama aku dan tidak suka wanita lain selain aku," jawab Amayra pelan.
Eh? Kenapa aku mengatakan seperti itu ya?
"Apa kamu bilang?" Satria yang tadinya kesal, langsung tersenyum mendengar ucapan percaya diri dari Amayra.
"Mas hanya mencintaiku."
"Benar, aku hanya mencintai kamu. Dan harusnya kamu percaya padaku, jujur padaku..jangan ada yang disembunyikan sekecil apapun itu bisa jadi celah salah paham. Jadi May, jangan bohong lagi ya?"
"Mas, mau maafin aku? Mas udah gak salah paham lagi sama aku kan?" Amayra menatap suaminya dengan memelas.
"Iyah dan aku minta maaf karena sudah melempar gelang itu ke wajah kamu dan buat kamu menangis. Maaf May, maafin aku...sungguh tadi aku sangat emosi." Ucap Satria sambil memegang tangan Amayra dengan lembut.
"Hiks..hiks... huuuhuuu..." Amayra menangis terisak-isak ketika Satria meminta maaf padanya.
"Eh May, kok malah nangis lagi sih? Aku kan udah minta maaf..."
"Aku kira Mas Satria gak akan maafin aku, apalagi gelangnya hilang. Tambah lagi aku bohong soal Ken, tapi aku beneran gak ngapa-ngapain sama Ken..benaran Mas.." Amayra menangis sampai sesegukan.
"Sayang maafin aku ya, maaf...jangan nangis lagi dong. Kita baikan ya? Kita baikan yuk?" Ajak Satria sambil memeluk Amayra seraya menenangkannya.
"Iya, kita baikan ya Mas...jangan berantem lagi, gak boleh. Aku takut Mas," ucap Amayra sambil menyeka air matanya.
"Oke, Insyaallah kita jangan berantem lagi. Tapi kamu tau gak May? Dengan berantem kayak gini, itu menambah kekuatan hubungan kita dan mengajarkan kita untuk lebih saling percaya."
Amayra mengangguk-angguk setuju, dia membalas pelukan suaminya dengan erat. Kemudian Satria memakaikan kembali gelang itu pada pergelangan tangan Amayra. "Gak masalah kalau seandainya gelang ini hilang, ini kan hanya benda, sayang. Yang penting kamu jujur."
"Iya Mas, maafin aku. Maaf ya sekali lagi,"
"Udah jangan minta maaf terus, kita bobok ya." Satria membelai rambut panjang istrinya itu, dia kasihan melihat Amayra yang menangis karena dirinya.
Malam itu Amayra tidur di pelukan Satria. Saat Rey terbangun, Satria dsngan sigap menjaga anak itu karena kasihan pada istrinya yang tertidur pulas.
Dia menyeduhkan susu formula, menggendong menimang Rey dengan penuh kasih sayang. Hingga bayi mungil itu kembali tertidur. Setelah permasalahan itu, hubungan Amayra dan Satria menjadi semakin mesra.
...******...
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, pernikahan Bram dan Diana akhirnya tiba. Hari itu bertepatan dengan hari Sabtu, bulan Juli akhir. Pada hari itu mereka akan melangsungkan janji suci seumur hidup.
Di sebuah hotel mewah, tempat pernikahan itu akan dilangsungkan. Diana duduk di sebuah kursi dalam sebuah ruangan yang mewah, tempat pengantin wanita beristirahat dan menunggu sang pengantin pria, sebelum memulai pernikahan.
Karena Diana sudah tidak ada keluarga kecuali bibinya, dia juga ditemani oleh Amayra dan Rey disana.
"Masyaallah kakak, kakak cantik sekali. Sampai pangling aku lihatnya." Amayra memuji Diana yang tampak cantik dengan mengenakan kebaya putih dengan rambut yang disanggul, diatas sanggul itu terpasang mahkota permata yang indah.
"Makasih ya May, aku sangat deg-degan." Diana tidak banyak bicara, dia memegang dadanya dengan resah. Hatinya berdebar seolah ini adalah pernikahan pertamanya.
Ya Allah, lancarkanlah pernikahan kami.
...-----*****----...
__ADS_1
Assalamualaikum hai Readers! Selamat hari raya idul Fitri untuk kalian semua 😍😍 mohon maaf lahir dan batin ya👍👍😉