Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 216. Cepat siuman


__ADS_3

🍁🍁🍁


Selagi Bima sibuk melakukan sandiwara cinta bersama Clara. Setelah tiga hari menjalani perawatan, keadaan Amayra dan bayinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Amayra sudah boleh pulang dari rumah sakit, namun dia tidak langsung pulang ke rumah. Dia meminta semua keluarganya untuk mengantarkannya ke tempat dimana Satria berada.


Mereka sudah tidak bisa menghalang-halangi lagi seorang istri yang ingin bertemu dengan suaminya. Apalagi saat ini Satria sedang membutuhkan Amayra dan bayi didalam kandungannya.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lamanya, Amayra, Bram, Diana, Cakra dan Nilam sampai ke depan rumah sakit tempat Satria dirawat.


"Ma, pa, kenapa kita di rumah sakit? Memangnya mas Satria ada disini?" tanya Amayra kebingungan pada ibu dan ayah mertuanya.


"Kita masuk dulu ya, nanti kamu akan tau ketika kita sudah sampai di dalam." ucap Nilam pada menantunya.


"May, kamu jangan tegang. Saat kamu melihat Satria nanti, kamu harus kuat ya." kata Diana sambil memegang tangan Amayra.


Wanita hamil itu hanya mengangguk pelan. Kemudian mereka berlima masuk ke dalam rumah sakit, menaiki lift ke lantai 4 rumah sakit itu. Lalu sampailah mereka didepan kamar 207. "Bram, apa ini kamarnya?" tanya Cakra.


Didepan kamar itu ada dua pria bertubuh tahap yang menjaga. Bram yakin bahwa dua orang itu adalah anak buah Bima.


"Ya, Bima bilang kamarnya disini." jawab Bram sambil menatap nomor kamar didepan pintu.


"Oke, kalau begitu mari kita masuk." ucap Cakra sambil membuka pintu kamar itu.


Ceklet!


Keluarga Calabria termasuk Amayra tercengang saat melihat Satria terbaring diatas ranjang, tidak berdaya dan ada beberapa alat medis yang terpasang ditubuhnya. Suara mesin medis pendeteksi detak jantung, membuat Amayra semakin kaget.


Dia mendahului semua orang dan menghampiri Satria yang terbujur kaku diatas ranjang rumah sakit. "Mas...apa ini benar-benar kamu mas?!" Amayra memegang tangan Satria yang masih terasa sedikit kehangatan disana. Dia meneteskan air mata, saat melihat suami yang sangat ia cintai berada dalam keadaan tidak sadarkan diri. "Ya Allah, mas...kenapa ini bisa terjadi padamu? Ini aku mas...ini aku Mayra."


"May...tenang ya." Diana mengusap-usap punggung Amayra seraya menenangkannya.


Kini Amayra sudah bertemu dengan suaminya, walau keadaan Satria tidak baik. Amayra pun bertanya pada dokter yang ada disana, ada apa dengan Satria. Kenapa pria itu tidak sadarkan diri?


Dokter menjelaskan bahwa Satria dalam keadaan koma. Amayra terkejut bukan main, hatinya yang lega karena telah kembali bertemu dengan Satria, kini menjadi tak tenang lagi.


"Astagfirullah...koma? Lalu kapan suami saya akan siuman dokter?!" Amayra bertanya pada sang dokter dengan harapan besar bahwa suaminya akan segera siuman.

__ADS_1


"Maafkan saya Bu, saya tidak tahu kapan suami ibu akan siuman." jawab dokter itu tidak tahu kapan Satria akan siuman. "Kita berdoa saja semoga keajaiban datang," ucap dokter itu menyemangati Amayra.


Bukan hanya Amayra saja yang terpukul hatinya saat mendengar kabar kurang menyenangkan itu, Cakra, Nilam, Bram dan Diana juga terpukul dan terluka saat mendengar keadaan Satria. Apalagi pemeriksaan di bagian kepalanya kurang baik.


Semua orang pergi keluar dari ruangan itu, meninggalkan Amayra dan suaminya berdua saja disana.


"Mas, apa gak apa-apa Mayra ditinggalkan berdua saja dengan Satria disana?" Diana melihat pintu ruangan itu dengan khawatir.


"Diana, dia pasti perlu waktu bicara dengan suaminya. Sudahlah, biarkan saja... kita tunggu disini." Kata Bram sambil tersenyum.


"Iya mas." jawab Diana.


Keluarga Calabria yang lain menunggu diluar ruangan, sedangkan Amayra bersama suaminya didalam sana. Dia sedang mengadu pada suaminya, dia menangis sambil memegang tangannya.


"Mas...maafkan aku, aku telah berdosa mas! Aku bukan istri yang baik buat kamu, disaat kamu seperti ini, aku malah berada jauh darimu. Aku juga telah melakukan dosa tidak termaafkan...kamu akan memaafkanku, kan mas?"


Wanita hamil itu teringat bagaimana hari-harinya bersama Bima. Dia pernah bergandengan tangan, mencurahkan semua perhatian dan kasih sayang pada Bima, dia juga pernah mencium Bima yang dia pikir adalah Satria. Amayra benar-benar diliputi rasa bersalah, konflik batin yang menurutnya cukup besar.


Dia seperti melakukan sebuah dosa yang tidak termaafkan pada dirinya sendiri, terutama pada Satria yang sedang koma. "Aku minta maaf mas...aku mohon maafkan aku. Cepatlah bangun mas, kasihanilah aku dan anak-anak kita. Mereka sudah merindukan kamu mas..."


Amayra mengatupkan kedua tangannya seraya berdoa memohon pada yang kuasa, agar Satria kembali sehat seperti sedia kala.


Bismillah, bismillah, bismillah. U'idzuka bi izzatillahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru. As’alullahal 'adhima rabbal 'arsyil 'adhim an yasyfiyaka.


Artinya: "Dengan nama Allah, dengan nama Allah, dengan nama Allah, aku lindungi kamu berkat kemuliaan Allah dan qudrah-Nya dari kejahatan barang yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Besar, Tuhan Arasy yang maha besar agar Dia menyembuhkanmu."


Mulai sekarang aku akan kuat demi kamu dan anak-anak kita mas.


*****


Di Jakarta, Ken dan Anna baru saja pulang dari rumah sakit. Niat mereka menjenguk Amayra ternyata nihil, Amayra sudah pulang dari rumah sakit bahkan dia pergi ke Purwakarta untuk melihat Satria.


"Gimana An?" tanya Ken yang memegang setir kemudinya.


"Om Bram bilang, aku jangan kesana dulu karena om Satria akan dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta. Katanya keadaan om Satria tidak baik." jelas Anna, dia baru saja berbicara dengan Bram di telepon.

__ADS_1


"Oh ya udah, sekarang kita mau kemana?" tanya Ken pada Anna.


"Kita ke rumahku aja, aku lelah pengen istirahat." jawab Anna sambil tersenyum manis.


"Oke." Ken melihat sekilas pada kekasihnya yang cantik itu, kemudian dia menancapkan gas mobilnya.


Ken dan Anna terlihat memiliki hubungan yang baik, mereka sudah berpacaran sejak dua bulan yang lalu. Keduanya sering jalan bersama, rencananya Ken ingin bertunangan dulu dengan Anna. Dia tidak mau Anna yang cantik dan baik hati, diambil orang karena banyak teman-teman bandnya memuja Anna.


.


.


Mereka telah sampai dirumah, tidak ada siapapun di rumah itu. Anna mempersilahkan Ken untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Kok sepi ya? Pada kemana bi Lulu sama bi Dewi? Pintunya juga dikunci, mang Ujang sama pak Muin juga gak ada ya?" Anna bergumam keheranan. "Ken, kamu tunggu disini ya. Aku siapkan air minum dulu buat kamu."


Ken mengangguk. Sementara itu Anna pergi ke dapur dan bermaksud membuatkan sesuatu untuk Ken. "Kyaaakkk!!!"


Entah apa yang terjadi di dapur, Anna berteriak kencang. Ken berlari menghampiri Anna didapur, dia melihat air keran yang bocor, membasahi lantai dan tubuh Anna.


"Ken! Tolong dong!" Anna berusaha menghentikan air keran yang terus mengalir itu.


Ken menghalau keran air itu dengan plastik dan membungkusnya dengan karet. Air pun berhenti mengalir, Anna terlihat lega. "Makasih ya Ken, untung aja ada kamu...kalau engga...eh baju kamu basah, Ken?" Anna melihat tubuh Ken basah kuyup.


Ken menatap Anna dengan tatapan nanar, dia melihat baju Anna yang basah dan transparan itu menunjukkan d*lamannya. Rambut Anna yang basah membuat Ken tergoda. "Ken...kamu kenapa?"


Glup!


Saliva Ken naik turun melihat Anna yang basah kuyup, dia berjalan tak terkendali dan semakin mendekati Anna. "Ken..." lirih Anna.


Anna sangat cantik.


Entah setan apa yang merasukinya, Ken memeluk Anna dan mencium bibir Anna. Anna langsung terperangah, kedua matanya membulat.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2