
...🍀🍀🍀...
Setelah menyusu pada ibunya, Rey yang tadinya akan pulang bersama ibunya, malah tertidur di dekapannya.
"Aduh Rey, kok malah bobok sih?" Tanya Amayra pada anaknya yang tertidur pulas itu.
"Biarin aja tidur May. Tidurin dulu di sofa kalau kamu mau shalat dhuhur." Ucap Nilam pada Amayra, agar gadis itu membaringkan Rey di sofa. Dia tau jika Rey dipindahkan ke kamar ketika sedang tidur pulas, ketika bangun anak itu akan mengamuk.
"Iya Ma," jawab Amayra patuh.
Dia melepaskan pelukannya dari Rey, perlahan-lahan dia membaringkan Rey di atas sofa hangat. Tak lupa Amayra memberikan bantalan kecil di kepala Rey dan guling kecil disampingnya.
"Ya udah gih sana! Shalat duhur dulu, biar mama yang jaga Rey."
"Iya Ma, makasih ya Ma.."
"Sekalian makan siang sana!" Ujar Nilam yang tau bahwa Amayra baru pulang kuliah dan belum makan siang sama sekali.
Amayra tersenyum lembut dan mengangguk. Dia pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu, saat dia menyingkap lengan bajunya yang panjang. Dia terkejut karena gelang pemberian suaminya tidak ada di tangannya itu. "Astagfirullahaladzim! Kemana gelangnya? Apa aku menjatuhkan gelang itu?"
Gadis itu kelimpungan mencari gelang pemberian Satria yang biasanya selalu ada di pergelangan tangan, tak pernah dia lepas. Kini kemana gelang itu? Bagaimana bisa jatuh? Astagfirullah! Kepanikan mulai melanda Amayra.
Karena waktu yang terbatas dan takut Rey akan bangun, akhirnya Amayra memutuskan untuk melanjutkan wudhunya kembali dari awal. Setelahnya dia pergi melaksanakan shalat dhuhur.
Selesai shalat duhur, Amayra membuka mukenya dan melipatnya di atas ranjang. Wajahnya masih bingung, memikirkan gelang hadiah anniversary dari Satria.
"Apakah aku membuka gelang itu lalu lupa menyimpannya? Astagfirullah.. aku benar-benar gak ingat kalau aku pernah melepasnya. Aku tidak pernah melepaskannya, lalu kemana gelang itu? Apa jatuh di kampus atau saat aku berada di perjalanan menuju kemari?" Gumam wanita itu kebingungan.
Benda yang dianggapnya sangat berharga itu kini entah kemana. Amayra bingung, pasalnya dia merasa tidak pernah melepaskan gelang itu dari tangannya, karena benda itu sangat berharga.
Setelah mencari di sekitar rumah sampai lupa makan siang, Amayra berjalan kembali ke ruang tengah. Dia melihat Anna sedang menuruni tangga dengan celana pendek dan tengtop yang dikenakannya. Gadis itu melihat ke arah Amayra dengan mata yang sembab.
"An.." Tatap Amayra cemas pada Anna yang matanya sembab itu. "Kamu kenapa?"
Anna menatap Amayra dengan dingin. "Kenapa sih harus Amayra? Kenapa semua cowok pada nempel sama dia? Dulu kak Iqbal, om Bram, om Satria.. sekarang Ken juga suka sama dia. Aku jadi sebel!
Anna mengacuhkan Amayra yang menyapanya, dia berjalan melewati suami omnya itu dan berjalan ke arah dapur. Amayra terlihat bingung dengan sikap Anna, tapi dia tidak bertanya pada Anna. Mungkin saja Anna sedang suntuk karena tugas kuliah, pikirnya husnadzan.
Amayra kembali ke ruang tengah, dia melihat Nilam sedang menggendong Rey yang sudah bangun dari tidurnya. "Rey sudah bangun?"
"Hmm..baru aja," jawab Nilam.
"Ya sudah Ma, May sama Rey pamit pulang dulu ya. May belum masak makan malam buat Mas Satria." Kata Amayra sambil mengambil anaknya dari tangan Nilam.
"Ya udah, kamu diantar pak Muin ya." Ucap wanita paruh baya itu ramah pada menantunya.
"Makasih Ma,"
__ADS_1
Pak Muin mengantar Amayra dan Rey ke rumah mereka. Di sepanjang perjalanan, Amayra terlihat tidak fokus dan hanya melamun saja.
"Non, non Amayra?" Pak Muin memanggil Amayra berkali-kali.
"Ah.. ya pak? Ada apa?" Tanya Amayra pada Pak Muin.
"Sudah sampai Non," jawab Pak Muin sambil membukakkan pintu belakang mobil.
"Oh ya, udah sampai ya." Sahut Amayra linglung.
Astagfirullah, aku sampai gak fokus kayak gini.
Amayra turun dari mobil sambil menggendong Rey dan membawa tas perlengkapan Rey yang selalu dibawanya. "Makasih ya pak Muin. Bapak mau minum dulu?" Ajak Amayra sebagai bentuk kesopanan pada pria paruh baya itu.
"Tidak usah non, saya langsung pulang aja. Bu Nilam minta diantar ke butik sama non Diana." Jelas pak Muin sambil tersenyum.
"Oh ya, ya udah pak. Makasih sekali lagi ya pak," senyuman mengembang dari bibirnya.
Pak Muin langsung kembali ke rumah Calabria setelah mengantar Amayra dan Rey. Sementara itu Amayra dan Rey masuk ke dalam rumahnya. Dia masih tak tenang karena tak tau keberadaan gelangnya, dia takut Satria tau kalau gelangnya hilang entah kemana.
Malam itu Satria pulang ke rumah, dia terlihat lelah. Tak lupa dia mengucapkan salam dan menyapa istri dan anaknya.
"Assalamualaikum, May...Rey..papa pulang."
"Waalaikumsalam Mas," Amayra menyambut suaminya, dia mencium punggung tangan sang suami. Kemudian dia mengambil tas hitam berbentuk persegi panjang itu dari tangan suaminya.
"Papa..pa..papapa.." Rey meraih mainan tamborin itu dari tangan papanya. Dengan mata polosnya dia menatap Satria.
"Kamu suka ya? Uhh.. anak papa gemesin," Satria mencubit gemas pipi anaknya yang chubby itu.
Satria melihat ke arah Amayra yang masih berdiri didekat pintu sambil memegang tasnya. Wanita itu melamun disana.
"May.. sayang?"
Satu kali Satria memanggil istrinya, namun dia tak mendengar. "Sayang, Mayra?!"
Saat Satria meninggikan suaranya, barulah Amayra mendengar dan menoleh ke arah suaminya. "Ya Mas," sahut wanita itu yang tersadar dalam lamunannya.
Astagfirullah! Apa aku melamun barusan?. Pekik wanita itu dalam hatinya.
"Kamu kenapa?" Satria bertanya sambil menghampiri istrinya itu.
"Aku gak apa-apa Mas," jawab Amayra sambil tersenyum.
Gimana ini kalau Mas Satria tau gelangnya ilang. Dia pasti marah.
"Sayang...kenapa?" Tatap Satria cemas melihat Amayra yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Aku siapkan air hangat dulu untuk Mas. Mas tolong jaga Rey sebentar ya," ucap Amayra sambil melangkah pergi meninggalkan Satria disana.
Sehabis makan malam bersama, shalat isya berjamaah dan Rey tidur. Amayra dan Satria juga bersiap untuk tidur. Sesekali Amayra melihat-lihat di sekitar ranjangnya. Berharap kalau dia menemukan gelangnya.
Duh, kemana ya? Aku sudah susuri semua tempat di rumah. Tapi gelangnya gak ada! Apa jatuh di kampus? Ya udah besok aku kasih deh.
"May, dari tadi kamu kenapa sih? Kayak nyari sesuatu? Kamu cari apa?" Tanya Satria yang menyadari bahwa istrinya sedari tadi mondar-mandir dengan resah.
"Ah...aku gak cari apa-apa kok. Aku cuma lagi lihat-lihat, takutnya ada kecoa atau apa gitu.." Amayra menggaruk kepalanya dengan resah.
Satria menatap istrinya dengan kening berkerut. "Kenapa aku merasa kamu sedang beralasan ya?"
"Haha.. alasan apa Mas? Gak ada apa-apa kok, hehe." Amayra terkekeh dengan terpaksa sambil melambaikan tangannya.
Satria memegang kedua tangan Amayra, dia melihat pergelangan tangan istrinya itu. "Mas, ada apa?"
"Kok gelangnya gak ada?" Tanya Satria.
Deg!
Jantung Amayra berdebar kencang begitu Satria menanyakan hal yang dia khawatirkan sedari tadi. Yaitu keberadaan gelang pemberiannya.
"Sayang, aku lagi nanya kamu loh!"
"Gelangnya...aku simpan Mas. Iya aku simpan dulu kalau mau tidur, aku gak pakai dulu karena takutnya hilang."
Kok aku jadi bohong ya?
"Oh gitu, padahal kamu selalu memakainya. Ya sudah kalau gelangnya ada, besok kamu pakai lagi ya." Satria tersenyum, dia mengusap rambut istrinya dengan lembut. Dia percaya pada ucapan Amayra.
"I-iya Mas."
Cup!
Satria mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Bobok yuk, udah malam." Kata Satria pada Amayra.
"Iya Mas,"
Satria menyodorkan bibirnya pada Amayra. Wanita itu tersenyum, kemudian dia mengecup bibir suaminya dengan lembut. "Udah kan Mas?" Amayra agak sedikit geli karena brewok yang berada di sekitar wajah Satria.
"Yuk, bobok."
Satria merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pria itu langsung tertidur, sementara Amayra masih terjaga. Dia menatap suaminya dengan penuh rasa bersalah.
"Maafin aku ya Mas, aku bohong.." gumam wanita itu sambil menarik selimut ke tubuhnya. Lalu dia pergi tidur.
__ADS_1
...----****----...